Laman

Jumat, 13 Juni 2025

PENELITIAN SKIZOFREN

PENDAHULUAN

Gangguan jiwa adalah penyakit yang pada umumnya terjadi pada remaja akhir dan dewasa awal. Biasanya ditandai dengan halusinasi yang berlebihan atau waham. Jika ada orang mengamuk di jalanan, menanggalkan pakaiannya, lalu berlari ke sana kemari, apa yang terjadi padanya? Apakah dia mengalami gangguan jiwa? Atau sakit jiwa?
Gangguan jiwa tak sama dengan sakit jiwa. Gangguan jiwa adalah gangguan pikiran, perasaan atau tingkah laku sehingga menimbulkan penderitaan dan terganggunya fungsi sehari-hari. Sedangkan sakit jiwa merupakan gangguan jiwa berat yang memerlukan pengobatan dan perawatn khusus.
Masyarakat menyebutnya sakit jiwa bagi mereka yang mengalami gangguan jiwa berat. Atau yang sering disebut gila
Gangguan jiwa, walaupun tak langsung menyebabkan kematian, tapi menimbulkan penderitaan yang mendalam bagi individu serta beban berat bagi keluarga. Gangguan jiwa terbagi beberapa golongan yakni berat (psikosis), ringan, kepribadian, penyalahgunaan zat, dan retardasi mental.
Kesehatan jiwa tidak hanya terkait dengan gangguan jiwa. Ada beberapa aspek yang mempengaruhi kesehatan jiwa, misalnya saja kualitas SDM dalam menguasai emosional. Lalu aspek sosial yakni kejadian di lingkungan yang berdampak pada gangguan jiwa seperti tindakan kekerasan dan, merasa tidak nyaman. Selain itu juga aspek gangguan jiwa itu sendiri.


KAJIAN TEORI

Skizofrenia telah hadir dalam sejarah manusia sejak zaman purba namun tetap menjadi misteri bagi para ahli. Oleh karena itu skizofrenia selalu menjadi bahan kajian yang menarik dan tak henti-hentinya memunculkan penelitian dari berbagai disiplin dan dari berbagai madzab yang ada.
Dalam sejarahnya, telah muncul berbagai usaha untuk memahami dan mengatasi Skizofrenia, dari cara yang ilmiah, cara yang bersifat coba-coba, hingga yang berbau tahayul namun hingga hari ini, tidak ada cara yang sungguh-sungguh efektif untuk mengatasi Skizofrenia.
Menurut Emil Kraepelin gangguan skizofrenia sebagai dementia praecox. Istilah ini diambil dari bahasa latin dementis, yang berarti di luar (de-) jiwa seseorang (mens), dan akar yang membentuk kata precocious, berarti sebelum tingkat kematangan dari seseorang. Dementia praecox selanjutnya mengacu pada hendaya prematur dari kemampuan mental. Kraeplin meyakini bahwa dementia praecox adalah sebuah proses penyakit yang disebabkan oleh patologi yang spesifik, tidak diketahui, di dalam tubuh.
Menurut Strauss et al, dalam Gabbard, 1994: Skizofrenia adalah gangguan mental yang sangat berat. Gangguan ini ditandai dengan gejala-gejala positif (berlebihan) seperti pembicaraan yang kacau, delusi, halusinasi, gangguan kognitif dan persepsi; gejala-gejala negatif seperti avolition (menurutnya minat dan dorongan), berkurangnya keinginan berbicara dan miskinnya isi pembicaraan, afek yang datar serta terganggunnya relasi personal.
Psikiatri Swiss Bleuler menyebutkan Skizofrenia atau jiwa yang terbelah sebab gangguan ini ditandai dengan disorganisasi proses berpikir, rusaknya koherensi antara pikiran dan perasaan, serta beriorentasi diri ke dalam dan menjauh dari realitas. Pendek kata, terjadi perpecahan antara intelek dan emosi.




PEMBAHASAN

Sejarah Rumah Sakit Jiwa DR Radjiman Wediodiningrat
Rumah Sakit Jiwa Lawang dibuka secara resmi pada tanggal 23 Juni 1902. Pengerjaan mendirikan rumah sakit ini dimulai tahun 1884 berdasarkan Surat Keputusan Kerajaan Belanda tertanggal 20 Desember 1865 No.100. Sebelum Rumah Sakit Jiwa Lawang dibuka, perawatan pasien mental diserahkan kepada Dinas kesehatan Tentara (Militaire Gezondheids Dienst).
Dalam rangka memperlancar penyaluran pasien ke masyarakat Hulshoff Pol mengajukan rencana perluasan Rumah Sakit Jiwa kepada Departemen Van Onderwijs en Eeredienst. Dimana pada tahun 1909 jumlah pasien mencapai 1.171 dan usaha-usaha perluasan rumah sakit untuk dapat menampung pasien amat mendesak. Pada waktu itu beratus-ratus pasien mental masih dititipkan di beberapa penjara sebelum dikirim ke rumah sakit jiwa. Dalam kurun waktu 1905 - 1906 tercatat salah seorang dokter Indonesia pertama yang bekerja di Rumah Sakit Jiwa Lawang adalah Dr. KRT. Radjiman Wediodiningrat , yang bersama-sama Dr. Soetomo melancarkan pergerakan bangsa pertama yaitu Boedi Oetomo. Pada saat itu Dr. KRT. Radjiman Wedio diningrat telah mengembangkan pendekatan terapi alternatif dengan pendekatan “ Rassen Psychologie “
Usaha perluasan mendapat ijin, dengan pembangunan anex. Rumah Sakit Jiwa Lawang di desa Suko, terletak lebih kurang 1 km ke arah timur di lereng kaki pegunungan Bromo ( Tengger ).
Antara tahun 1929 – 1935 kedua RSJ tersebut, Rumah Sakit Jiwa Lawang dan RSJ - anex Suko ditangani oleh 7 orang dokter dan seorang profesor wanita, dengan kapasitas tempat tidur masing-masing 1.200 tempat tidur. Pada waktu itu RSJ.Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang dikembangkan menjadi pusat penelitian otak. Tahun 1940 jumlah pasien mencapai 3.400 dan pada tahun 1941 meningkat menjadi 4.200 oleh karena harus menampung pengungsian pasien dari koloni di Jawa Timur. Usaha pengadaan fasilitas rumah sakit dan rumah perawatan (Doorganghuizen) merupakan suatu perkembangan yang penting dalam dunia psikiatri. Untuk meningkatkan pelayanan perawatan pasien di Rumah Sakit Jiwa Lawang, pada waktu itu mulai diadakan kegiatan terapi kerja dan bermacam-macam persiapan untuk usaha hiburan.
Dalam upaya memperlancar penyaluran pasien mental ke masyarakat, sejak tahun 1926 Rumah Sakit Jiwa Lawang mengantarkan kembali pasien yang sudah tenang ke desanya. Disusul dengan konsep Doorganghuizen yang diajukan oleh Travaglino. Bagi pasien yang mengalami defek/kronis dan sudah tenang, ditampung pada koloni pertanian ( Werkenrichtingen ).
Dalam kurun waktu 1942 - 1945, Rumah Sakit Jiwa Lawang mengalami penurunan pelayanan, karena kurangnya sarana perawatan dan adanya penyakit menular, jumlah pasien menurun sampai 800 orang. Tahun 1947 jumlah pasien : 1.200 orang, gabungan antara anex Suko dan Rumah Sakit Jiwa Lawang. Pada tahun 1950-1966 Rumah Sakit Jiwa Lawang menerima pengungsian pasien dari RSJ Pulau Laut (Kalimantan Selatan) sebanyak 120 pasien dan 40 orang pegawai.
Dalam kurun waktu 1966 sampai dengan sekarang, mulai terjadi beberapa pengembangan pengobatan dan perawatan pasien gangguan jiwa baik pada Unit Rawat Inap, maupun Rawat Jalan dan Keswamas. Pengembangan unit penunjang medik berupa pemeriksaan laboratorium(drug monitoring), radio diagnostik, elektromedik. Sejak tahun 1978, susunan organisasi dan tata kerja Rumah Sakit Jiwa Pusat Lawang diatur oleh SK. Menkes RI. No. 135/Men.Kes/SK/IV/1978.
Pada tahun 1998 – 2005 telah dibangun 3 gedung utama berlantai tiga untuk mendukung terwujudnya sistem pelayanan terpadu.Dengan tersedianya fasilitas tersebut diatas, maka kebutuhan pasien dan masyarakat terhadap pelayanan serta akses informasi dapat lebih cepat dan efisien.
Disamping peningkatan sarana fisik tersebut juga diikuti dengan peningkatan kwalitas SDM melalui program pendidikan berkelanjutan dan penyelenggaraan berbagai training, termasuk penyelenggaraan penelitian pelayanan kesehatan jiwa.
Dalam perkembangannya pelayanan kesehatan tidak hanya menangani gangguan mental, tetapi juga melayani kasus umum sederhana, kasus narkoba, pemeriksaan psikologi, gigi, laboratorium, radiologi, dan lain-lain.
Dengan beberapa upaya peningkatan pelayanan yang telah dilakukan, pada usianya yang ke 100 (satu abad) beberapa kendala masih dihadapi seperti kondisi bangunan yang sudah tua, sistem pendukung seperti saluran pipa air, salasar antar ruangan yang kurang berfungsi optimal. Namun demikian kondisi lingkungan, halaman antar ruangan yang luas, sisa lahan yang masih luas merupakan aset yang dapat dikembangkan serta mendukung pelayanan perawatan gangguan mental yang profesional sesuai dengan tuntutan masyarakat.
Diagnosis pasien
Pasien bernama Giman, usia 31 tahun yang diagnosisnya mengalami skizofrenia hebefrenik karena patah hati dan minimnya pendidikan. Pasien yang tinggal di puncu, kediri pernah patah hati lantaran ditolak oleh wanita yang disukainya selain itu pasien hanya mendapat pendidikan sampai kelas 5 SD. Dan terlihat tanda-tanda gangguan jiwa pada tahun 2001
Minimnya pendidikan yang didapat mengakibatkan pasien tidak mempunyai pekerjaan, sehari-harinya pasien hanya membantu kedua orang tuanya di sawah. Daripada itu pasien tidak mempunyai kesibukan dan lebih sering melamun sendiri. dan pasien juga mudah untuk bergaul dengan orang lain tapi karena pasien yang mengalami kemiskinan akhirnya pasien sering mendapat perlakuan fisik maupun psikis dari orang-orang yang tinggal di dekat rumahnya, selain itu pasien juga tinggal di rumah bersama kedua orangtuanya dan ke empat kakaknya.
Keterangan dari salah seorang perawat yang menjaganya pasien mengalami halusinasi di siang hari, pasien juga cenderung pendiam dan sering menyendiri, selain itu pasien juga mempunyai faktor keturunan yang diturunkan oleh neneknya.
Saat observer bertanya kepada pasien, pasien sedang berada di salah satu wisma berfungsi sebagai psikoterapi. Dan pasien sendiri sedang membuat kemoceng yang ditemani oleh beberapa perawat. Pertama kali ditanya oleh observer pasien bisa menjawabnya walaupun sering diulang-ulang dan berubah-ubah, ini terlihat saat observer bertanya pertanyaan yang sama pada jeda waktu yang berbeda.
Pasien diberi terapi membuat kemoceng , namun sebelumnya pasien di beri obat terlebih dahulu. Terapi yang digunakan untuk pasien bertujuan agar pasien tidak tergantung oleh obat-obatan yang dikonsumsi terlebih dahulu.

Pengertian Skizofrenia Hebefrenik
F20.1 Skizofrenia Hebefrenik; pedoman diagnostik:
• Memenuhi Kriteria umum diagnosis skizofrenia
• Diagnosis hebefrenik untuk pertama kali hanya ditegakkan pada usia remaja atau dewasa muda (onset biasanya 15-25 tahun).
• Kepribadian premorbid menunjukan pemalu dan senang menyendiri (solitary), namun tidak harus demikian untuk memastikan bahwa gambaran yang khas berikut ini
• Untuk meyakinkan umumnya diperlukan pengamatan kontinu selama 2 atau 3 bulan lamanya, untuk memastikan bahwa gambaran yang khas berikut ini memang benar bertahan :perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tidak dapat diramalkan, serta manerisme, ada kecenderungan untuk menyendiri (solitaris) dan perilaku menunjukan hampa tujuan dan hampa perasaan. Afek pasien yang dangkal (shallow) tidak wajar (inaproriate), sering disertai oleh cekikikan (gigling) atau perasaan puas diri (self-satisfied), senyum-senyum sendiri (self absorbed smiling) atau sikap tinggi hati (lofty manner), tertawa menyerigai, (grimaces), manneriwme, mengibuli secara bersenda gurau (pranks), keluhan hipokondriakalI dan ungkapan dan ungkapan kata yang diulang-ulang (reiterated phrases), dan proses pikir yang mengalamu disorganisasi dan pembicaraan yang tak menentu (rambling) dan inkoherens
• Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses pikir biasanya menonjol, halusinasi dan waham biasanya ada tapi tidak menonjol ) fleeting and fragmentaty delusion and hallucinations, dorongan kehendak (drive) dan yang bertujuan (determnation) hilang serta sasaran ditinggalkan, sehingga prilaku tanpa tujuan (aimless) dan tanpa maksud (empty of purpose) Tujuan aimless tdan tampa maksud (empty of puspose). Adanya suatu preokupasi yang dangkal, dan bersifat dibuat-buar terhadap agama, filsafat, dan tema abstrak lainnya, makin mempersukar orang memahami jalan pikirannya.
Penanganan
1. Pendekatan Biologis
Munculnya obat-obat antipsikotik pada 1950-an juga dikenal sebagai penenang mayor atau neuroleptik membawa perubahan dalam perawatan pasien skizofrenia dan memberikan dorongan terhadap dilepaskannya pasien penyakit mental dalam skala besar kembali ke komunitas. Pengobatan antipsikotik membantu mengendalikan pola perilaku yang lebih mencolok pada skizofrenia dan mengurangi kebutuhan untuk perawatan rumah sakit jangka panjang apabila dikonsumsi pada saat pemeliharaan atau secara teratur setelah episode akut.

Namun pada banyak pasien skizofrenia kronis, memasuki rumah sakit ibarat sedang melewati pintu putar. Artinya mereka berulang kali masuk dan keluar dalam jangka waktu yang relatif singkat. Beberapa orang hanya dilepaskan begitu saja ke jalanan mereka sudah stabil dalam pengobatan dan menerima sedikit, bila ada, perawatan lanjutan atau perumahan yang tersedia.
2. Terapi Psikodinamika
Freud tidak yakin bahwa psikoanalisis tradisional sesuai untuk penanganan skizofrenia. Tindakan menarik diri ke dalam dunia fantasi yang merupakan ciri skizofrenia mencegah penderita untuk membentuk hubungan yang bermakna dengan psikoanalisis. Teknik psikoanalisis klasik, tulis Freud, harus ”digantikan oleh yang lain; dan kita belum dapat mengetahui apakah kita akan berhasil menemukan pengganti”
3. Terapi-terapi Berdasarkan Belajar
Meskipun sedikit terapis perilaku yang meyakini bahwa belajar yang salah menyebabkan skizofrenia, intervensi berdasarkan pembelajaran telah menunjukkan efektivitas dalam memodifikasi perilaku skizofrenia dan membantu orang-orang yang mengalami gangguan ini untuk mengembangkan perilaku yang lebih adaptif yang dapat membantu mereka menyesuaikan diri secara lebih efektif untuk hidup dalam komunitas. Metode terapi meliputi teknik-teknik sepert:
• Reinforcement selektif terhadap perilaku
• Token ekonomi
• Pelatihan keterampilan sosial
4. Rehabilitasi Psikososial
Orang-orang yang mengalami skizofrenia biasanya mengalami kesulitan untuk berfungsi dalam peran-peran sosial maupun pekerjaan. Masalah-masalah ini membatasi kemampuan mereka untuk menyesuaikan diri terhadap kehidupan komunitas bahkan dalam keadaan tidak adanya perilaku psikotik yang tampak

5. Program Intervensi Keluarga
Konflik-konflik keluarga dan interaksi keluarga yang negatif dapat menumpuk stres pada anggota keluarga yang mengalami skizofrenia, meningkatkan risiko episode yang berulang. Para peneliti serta klinis telah bekerja dengan keluarga-keluarga dari orang-orang yang mengalami skizofrenia untuk membantu mereka menyesuaikan diri dengan beban untuk merawat dan membantu mereka dalam mengembangkan cara-cara yang lebih koopertif dan tidak terlalu konfrontatif dalam berhubungan dengan orang lain.
KESIMPULAN

Berdasarkan laporan di atas bisa disimpulkan sebagai berrikut:
1. Keluarga pada hakikatnya merupakan jalinan relasi anggota-anggotanya, merupakan ruang hidup bagi para anggotanya.
2. Ada kaitan yang erat anatara dinamika keluarga dengan proses kemunculan pasien skizofrenia
3. Ada kaitan yang erat antara dinamika keluarga dengan perkembangan selanjutnya dalam penyakit pasien skizofrenia


















HASIL PEMERIKSAAN PSIKOLOGIK

Diagnosis : diagnosis sementara menunjukkan bahwa pasien mengalami gangguan jiwa skizofrenia => F20.1. Skizofrenia Hebefrenik
Axis I : F 20.1 skizofrenia Hebefrenik
Axis II : Pendiam
Axis III :
Axis IV :
Axis V : GAF 51-60

Psikoterapi : Membuat kemoceng















DAFTAR PUSTAKA
• http://rsjlawang.com/
• Buku saku pedoman diagnosis jiwa PPDGJ.
• Nevid S, Jefrey Dkk, 2003. Psikologi Abnormal. Jakarta, Erlangga
• Arif Setiadi Iman, 2006. Skizofrenia Memahami Dinamika Keluarga Pasien. Bandung, PT Refika Aditama
• Supratiknya, 1995. Mengenal Perilaku Abnormal. Yogyakarta, Kanisius