Pada dasarnya komunikasi digunakan untuk menciptakan atau meningkatkan aktivitas hubungan antarmanusia atau kelompok. Jenis komunikasi terdiri dari komunikasi verbal menggunakan kata-kata dan komunikasi nonverbal atau disebut dengan istilah bahasa tubuh.
Komunikasi Verbal mencakup beberapa aspek. Pertama aspek vocabulary (perbendaharaan kata-kata). Komunikasi tidak akan efektif bila pesan disampaikan dengan kata-kata yang tidak dimengerti, karena itu olah kata menjadi penting dalam berkomunikasi. Kedua, racing (kecepatan). Komunikasi akan lebih efektif dan sukses bila kecepatan bicara dapat diatur dengan baik, tidak terlalu cepat atau terlalu lambat. Ketiga, intonasi suara akan mempengaruhi arti pesan secara dramatik sehingga pesan akan menjadi lain artinya bila diucapkan dengan intonasi suara yang berbeda. Intonasi suara yang tidak proposional merupakan hambatan dalam berkomunikasi.
Keempat, humor dapat meningkatkan kehidupan yang bahagia. Dugan (1989), memberikan catatan bahwa dengan tertawa dapat membantu menghilangkan stress dan nyeri. Tertawa mempunyai hubungan fisik dan psikis dan harus diingat bahwa humor adalah merupakan satu-satunya selingan dalam berkomunikasi. Kelima adalah singkat dan jelas. Komunikasi akan efektif bila disampaikan secara singkat dan jelas, langsung pada pokok permasalahannya sehingga lebih mudah dimengerti. Aspek keenam adalah timing (waktu yang tepat) , yaitu hal kritis yang perlu diperhatikan karena berkomunikasi akan berarti bila seseorang bersedia untuk berkomunikasi, artinya dapat menyediakan waktu untuk mendengar atau memperhatikan apa yang disampaikan.
Komunikasi nonverbal (tanpa suara) dapat digunakan untuk menyampaikan isi pesan sepenuhnya. Komunikasi nonverbal dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pertama dengan ekspresi wajah. Wajah merupakan sumber yang kaya dengan komunikasi, karena ekspresi wajah merupakan cerminan suasana emosi seseorang. Kedua, kontak mata, merupakan sinyal alamiah untuk berkomunikasi. Dengan mengadakan kontak mata selama berinterakasi atau tanya jawab berarti orang tersebut terlibat dan menghargai lawan bicaranya dengan kemauan untuk memperhatikan bukan sekedar mendengarkan. Melalui kontak mata juga memberikan kesempatan pada orang lain untuk mengobservasi yang lainnya. Ketiga, sentuhan adalah bentuk komunikasi personal mengingat sentuhan lebih bersifat spontan dari pada komunikasi verbal. Beberapa pesan seperti perhatian yang sungguh-sungguh, dukungan emosional, kasih sayang atau simpati dapat dilakukan melalui sentuhan.
Cara keempat dalam melakukan komunikasi nonverbal adalah gaya berjalan dan pengaturan postur tubuh. Cara seseorang berjalan, duduk, berdiri dan bergerak memperlihatkan ekspresi dirinya. Postur tubuh dan gaya berjalan merefleksikan emosi, konsep diri, dan tingkat kesehatannya. Kelima, suara (sound). Rintihan, menarik nafas panjang, dan tangisan juga salah satu ungkapan perasaan dan pikiran seseorang yang dapat dijadikan komunikasi. Bila dikombinasikan dengan semua bentuk komunikasi nonverbal lainnya sampai desis atau suara dapat menjadi pesan yang sangat jelas. Terakhir, yang keenam adalah gerak isyarat yang dapat mempertegas pembicaraan. Menggunakan isyarat sebagai bagian total dari komunikasi seperti mengetuk-ngetukkan kaki atau menggerakkan tangan selama berbicara menunjukkan seseorang dalam keadaan stress bingung atau sebagai upaya untuk menghilangkan stress.
Berdasarkan pernyataan Konfusius lebih dari 2400 tahun yang lalu, Melvin L. Silberman (2004: 15) mengemukakan Paham Belajar Aktif sebagai berikut:
Yang saya dengar, saya lupa.
Yang saya dengar dan lihat, saya sedikit ingat.
Yang saya dengar, lihat, dan pertanyakan atau diskusikan dengan orang lain,saya mulai pahami.
Dari yang saya dengar, lihat, bahas, dan terapkan, saya dapatkan pengetahuan dan keterampilan.
Yang saya ajarkan kepada orang lain, saya kuasai.
Pernyataan Melvin L. Silberman tersebut didasarkan atas kenyataan bahwa sebagian besar orang cenderung lupa atas apa yang didengarnya. Hal itu berhubungan dengan tingkat kecepatan guru berbicara dan tingkat kecepatan pendengaran siswa. Jika siswa berkonsentrasi penuh, mereka hanya mampu mendengarkan dengan penuh perhatian setengah dari apa yang dibicarakan guru.
Pollio (1984) dalam penelitiannya sampai pada kesimpulan bahwa dalam perkuliahan gaya ceramah, mahasiswa kurang menaruh perhatian selama 40 % dari seluruh waktu kuliah, sedangkan penelitian McKeachie (1986) menghasilkan kesimpulan bahwa mahasiswa mampu mengingat materi kuliah sebesar 70 % pada sepuluh menit pertama dan hanya 20 % pada sepuluh menit terakhir (Melvin L. Silberman, 2004: 16-17)
Rose, Colin dan Malcolm J. Nicholl menyatakan, secara rata-rata manusia mampu mengingat 20 % dari yang dibaca, 30 % dari yang didengar, 40 % dari yang dilihat, 50 % dari yang dikatakan, 60 % dari sesuatu yang dikerjakan, dan meningkat menjadi 90 % apabila dilihat, didengar, dikatakan, dan sekaligus dikerjakan (Ichsan S. P. dan Ariyanti P., 2005: 29).
Serangkaian hasil penelitian tersebut menempatkan mata sebagai prasyarat bagi keberhasilan proses pembelajaran. Tanpa melibatkan mata, proses pembelajaran tidak akan berjalan sempurna seperti yang diharapkan. Namun, secara alamiah maupun akibat kelalaian manusia, fungsi mata semakin berkurang. Nutrisi makin diyakini perannya dalam membantu mempertahankan daya penglihatan, sehingga olah vitamin menjadi pilihan menarik.
Makanan berikut sangat dianjurkan untuk dikonsumsi, baik anak-anak maupun orang dewasa dengan segala keunggulan yang dipunyainya. Pertama, jeruk. Kaya vitamin C, berfungsi sebagai antioksidan yang berkhasiat melumpuhkan radikal bebas penyebab penuaan sel, sehingga berguna untuk mencegah katarak Kedua, Anggur. Ekstrak biji anggur mengandung proantosianidin. Lebih kuat dari vitamin C dan E, antioksidan ini bahkan bisa memperbaiki penglihatan dan mengembalikan fungsi retina, terutama yang rusak akibat perdarahan pembuluh darah di mata dan ketidakseimbangan gula darah. Ketiga, Nenas. Vitamin dan mineral utama yang terkandung dalam nenas adalah vitamin C, vitamin B-kompleks, beta-karoten (pro-vitamin A), Fe, Mg, Ca, Cu, Zn, Mn, dan K.
Selain buah-buahan tersebut, yang keempat adalah ubi jalar. UNICEF dan WHO menyarankan agar wanita dan anak-anak mengonsumsi ubi jalar merah secara rutin, untuk menangkal akibat buruk dari kekurangan vitamin A. Kelima, adalah ikan laut. Ikan sardin dan tuna adalah sumber DHA (docosahexaenoid acid), salah satu jenis asam lemak omega 3, yang berperan penting dalam pembentukan retina mata (http://www.kompas.com).
Manajemen cahaya dalam suatu ruangan kelas pun harus mempertimbangkan kecukupan sinar untuk membaca. Membaca atau bekerja dalam ruangan dengan penerangan yang buruk dapat menyebabkan sakit mata, begitu juga sebaliknya. Dan yang tidak kalah penting adalah mengistirahatkan mata sesering mungkin saat siswa atau guru bekerja di depan komputer, karena saat di depan komputer mata berkedip 25 % lebih sedikit, sehingga mata menjadi kering (Diyah Triarsari, 2007).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar