1. pubertas awal. Pubertas awal memberikan peluang yang besar kepada remaja putri untuk terlibat dengan berbagai perilaku beresiko ( mis; prilaku merokok, drugs, depresi, gangguan makan, over demanding tentang kebebasan, memilki teman2 yg lebih tua , tubuh mereka cenderung mengundang laki2 untuk berkencan shg seringkali mengalami pengalaman seksual lebih cepat (hamil di luar nikah, tertular penyakit kelamin).
Note : remaja putri yg mengalami kemasakan seksual terlalu cepat diasosiasikan dengan berbagai masalah di atas karena implikasi dari ketidak dewasaan emosi social dan kognitif mereka, dikombinasikan dengan perkembangan fisik yang terlalu cepat menyebabkan mereka mudah terlibat dengan tingkah laku bermasalah, kurang memahami efek jangka panjang yang mungkin terjadi selanjutnya.
2. hilangnya figure dan peran ayah dalam perkembangan remaja. Ayah memiliki peran yang besar dalam kehidupan seorang anak, terutama berkaitan perkembangan social anak. Ayah memperkenalkan anak dengan lingkungan, mengarahkan aktifitas anak dengan dunia luar, memperkenalkan tuntutan social, bagaimana harus bersikap, bagaimana melakukan antisipasi dan problem solving, menghadirkan rasa aman, dll. Hadirnya peran ayah dalam kehidupan anak akan sangat mempengaruhi anak dalam menghadapi perubahan social dan perkembangan kognit. Figur ayah juga dibutuhkan oleh remaja putri terutama terkait dengan usaha untif yang optimaluk mempelajari lawan jenisnya
3. egosentrisme remaja. Remaja awal memandang diri mereka tidak terkalahkan, kebal fisik, kebal sangsi hukum yang dikenakan pada orang lain.
4. pola negativitas yang berkembang pada diri remaja.
5. meningkatnya penalaran hipotetik deduktif remaja yang menyertai perkembangan kognitif operasional formal seharusnya membantu remaja untuk lebih mampu memahami resiko sebuah perilaku, memikirkan perilaku mereka, mempertimbangkan akibat jangka panjang dan memahami makna simbolik. Namun sayang, kemampuan berpikir abstrak dan minat terhadap makna simbolis remaja membuatnya lebih mudah terpengaruh iklan yang secara simbolik mengaitkan produk-produk yang tidak sehat; mis: rokok, alcohol, dengan daya tarik, penerimaan teman sebaya dan status kedewasaan
6. idealisme remaja. Remaja memiliki bayangan tentang dunia ideal yang bebas dari keburukan dunia nyata, hingga seakan-akan dunia nyata harus mengalah pada skema idealistic daripada kepada system nyata itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar