Berita tentang meningkatnya kasus-kasus HIV/AIDS di berbagai daerah di Indonesia saat ini, bukanlah hal yang mengejutkan bagi petugas medis yang selama ini mengikuti, mendalami, serta menangani pasien-pasien AIDS. Karena angka-angka yang diutarakan itu hanyalah sebagai puncak gunung pada ‘Fenomena Gunung Es’ yang dikenal selama ini. Kalau kita mau berbicara fakta, angka-angka itu seharusnya lebih dari dua kali lipat tingginya. Kenapa?. Jawabnya adalah:
1. Sumber penularannya adalah manusia, sehingga virus HIV yang menjadi penyebab penyakit menyebar di semua golongan umur, dari janin dalam kandungan sampai usia tertua. Juga tidak ada bangsa, ras, etnis, dan suku yang kebal terhadap penularan virus ini.
2. Penularannya berlangsung sepanjang masa, tidak dipengaruhi oleh iklim, musim, dan kondisi lingkungan lainnya.
2. Penyebaran kasus terjadi di semua wilayah, tanpa memandang keadaaan geografi tertentu. Setiap jengkal tanah yang dihuni manusia dapat menjadi tempat penyebaran virus HIV.
3. Infeksi virus terjadi seumur hidup, sehingga pengidap HIV menjadi sumber penularan selagi ia masih hidup.
4. Pengobatannya di Indonesia masih terbatas pada persediaan obat yang ada, belum pada tahap mencari standard yang terbaik, dan harus dilakukan dalam jangka yang sangat panjang, bahkan sampai saat ini masih dianut pengobatan seumur hidup.
5. Belum ditemukannya vaksin yang efektif untuk mencegah penularan HIV.
6. Diskriminasi internal dalam penanggulangan terjadi akibat kebijakan yang dijalankan oleh Pemerintah/Departemen Kesehatan RI dengan menentukan hanya Rumah Sakit Pemerintah yang bertanggung jawab untuk merawat pasien AIDS.
7. Masih dirahasiakannya kasus-kasus pengidap HIV di masyarakat, sehingga stigma tidak dapat dihapuskan, yang membuat diskriminasi eksternal tidak dapat dihilangkan.
8. Dana penanggulangan yang masih belum optimal, sehingga kita masih bergantung pada pihak luar/asing, yang membatasi kita untuk membuat sistim penanggulangan yang mandiri.
9. Hingga saat ini prostitusi masih menjadi lapangan kerja bagi komunitas tertentu dan menjadi komoditi bisnis di seluruh Kabupaten/Kota, terutama kota besar dan daerah tujuan wisata. Itulah sebabnya pelacuran tidak bisa dihapuskan di negeri ini.
10. Peredaran narkotik suntik memberikan sumbangan yang sangat besar dalam penyebaran virus HIV dikalangan pemakainya. Sementara narkotik di Indonesia masih melanda kaum muda, bahkan kaum remaja, dan belum dapat dikendalikan. Penanggulangan peredaran narkotik suntik sampai saat ini belum menunjukkan penurunan yang signifikan, bahkan terkesan semakin bertambah, karena kaitannya dengan bisnis yang menggiurkan.
Faktor Penghambat
Sama seperti pandangan zaman dahulu terhadap pasien kusta atau sakit jiwa, masih terdapatnya sikap diskriminasi masyarakat terhadap pengidap HIV dan penderita AIDS, sehingga dukungan untuk pasien sangat kurang di kalangan keluarga. Pasien layaknya orang yang terkutuk, tak bermoral, dan harus dijauhi. Padahal, dengan menangani satu pengidap HIV, berarti kita sudah menangani satu sumber penularan, dan dapat mencegah penularannya kepada orang lain.
Diskriminasi di kalangan medis sendiri, dimana rumah sakit swasta selalu menolak merawat pasien AIDS dan merujuk hanya ke rumah sakit pemerintah saja. Kelompok pengidap HIV sendiri tanpa mereka sadari telah membuat diskriminasi terhadap kelompoknya, dengan menuntut berbagai fasilitas di dalam pelayanan medis, tidak mau datang kontrol dengan teratur dengan berbagai alasan. Masih ada instansi/perusahaan yang menolak orang-orang yang diketahui mengidap HIV untuk bekerja, atau malah memecat karyawan yang diketahui HIV positip. Luasnya kelompok masyarakat yang menentang sosialisasi kondom bagi kelompok risiko tinggi tertular. Karena mereka langsung menuduh tindakan sosialisasi kondom sebagai tindakan sosialisasi seks bebas.
Oleh karena itulah, penanggulangan infeksi HIV di masyarakat memerlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari generasi muda, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, organisasi, lembaga swadaya masyarakat dan yang tak kalah pentingnya keterlibatan dari pemimpin masyarakat dan para pengambil keputusan dan kebijakan.
Yang Perlu Diubah
Untuk menanggulangi penyebaran virus HIV ini, diperlukan tindakan medis dan non medis. Sementara tindakan medis masih dalam tahap perkembangan dan penelitian, masalah non medis menjadi penghalang dalam upaya pencegahan penularannya di masyarakat. Masalah non medis ini terletak pada manusia, meliputi pola fikir yang tidak berubah dari manusia itu, sementara lingkungannya sudah berubah. Masyarakat Indonesia masih belum mampu menerima keberadaan virus HIV dan pengidap virus HIV ini. Termasuk petugas kesehatan yang masih ada yang belum mau dan belum mampu memahami virus HIV dan penyakit AIDS. Sudah saatnya kita merubah sikap terhadap pengidap HIV dan penderita AIDS, dengan cara:
1. Membuka tabir kerahasiaan pengidap HIV, dan memperlakukan infeksi virus HIV sama dengan infeksi virus dan penyakit infeksi lainnya. Dengan demikian masyarakat diharapkan menerima fakta fenomena penyakit yang berkaitan dengan perilaku ini.
2. Seluruh unit layanan kesehatan memperlakukan pengidap HIV dan pasien AIDS sama dengan pasien lainnya dan tidak dipisahkan tersendiri. Tidak boleh Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta menolak merawat pasien AIDS.
3. Memasukkan materi HIV/AIDS dalam kurikulum sekolah mulai pendidikan dasar melalui mata pelajaran Ilmu Kesehatan dan Perilaku Hidup Sehat, sehingga anak sudah mendapat pengetahuan sederhana tentang infeksi HIV sejak dini.
4. Sosialisasi kondom kepada kelompok-kelompok risiko tinggi tertular HIV, yaitu Pekerja Seks Komersil dan pelanggannya. Sosialisasi kondom jangan diartikan sebagai sosialisasi seks bebas, tapi sebagai benteng terakhir setelah sosialisasi pendidikan moral dan agama yang paling utama tidak berhasil. Kondom harus dipandang sebagai alat pelindung, sedangkan sasaran pengendaliannya adalah pada ’alat’ yang dilindungi kondom itu.
5. Meningkatkan program Harm Reduction (penggunaan jarum suntik steril) bagi pecandu narkotik suntik yang diawasi oleh petugas atau substitusi Methadone secara oral. Oleh karena itulah, penanggulangan infeksi HIV di masyarakat membutuhkan keterlibatan dan kesepakatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari generasi muda, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, organisasi, lembaga swadaya masyarakat dan yang tak kalah pentingnya keterlibatan dari pemimpin masyarakat dan para pengambil keputusan dan kebijakan.
6. Tidak harus menunggu, karena memang tidak ada yang ditunggu. Kekhawatiran untuk mengungkapkan fakta dan merahasiakan kasus infeksi menular HIV karena takut dikucilkan karena tidak bermoral, hanya mencerminkan kedangkalan wawasan dan akan menyembunyikan sumber penularan yang potensial. Fakta menunjukkan bahwa, meskipun kasus pengidap HIV dirahasiakan, namun perilaku berisiko tinggi tidak dapat dihentikan, terutama prostitusi dan seks bebas serta penggunaan narkotika suntik. Kepedulian dan kesiapan membuka tabir rahasia ini harus ”dipaksa” agar terjadi perobahan dalam pola fikir, dan pola tindak.
Tantangan dan hambatan sudah pasti ada. Tapi semuanya harus dihadapi dan diterobos, bukan dihindari, karena tantangan itu pada hakekatnya adalah anugerah. Yang akan kita tanggulangi ke depan ini adalah bayi-bayi yang dilahirkan dengan status HIV positip yang ditularkan dari ibunya yang mungkin tidak tahu sudah tertular dari suaminya yang berperilaku risiko tinggi. Lahirnya bayi dengan HIV positip harus dicegah untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa ini.
Maka dari itu, kami mencoba dan pengaplikasian teori sehat terhadap masyarakat Malang, khususnya di daerah Sumbersari. Karena kami beragapan bahwa, kemungkian masyarakat belum memahami apa kendala dari hubungan seks bebas atau bahaya HIV/AIDS. Karena itu, dengan sedikit memberikan penyuluhan dan pembagian alat kontrasepsi ini kami bisa mencoba untuk mengurangi penyebaran virus HIV/AIDS.
Dan dari hasil kerja aksi disana, ternyata banyak masyarakat yang antusias dan memahami bahaya virus HIV/AIDS, karena sewaktu membagikan alat kontrasepsi kami sedikit memberikan penjelasan tentang bahaya virus HIV walau hanya sedikit masyarakat yang ada pada saat itu. Mungkin disini kami akan menjelaskan urutan acara yang terjadi disana.
Kami sebagai para praktikan disana kami menunggu pegawai PUSKESMAS dan masyarakat Sumbersari. Karena kekurangan komunikasi dan jaringan, hanya sedikit masyarakat yang hadir pada saat pembagian alat kontrasepsi. Kira-kira pada pukul 10.00 baru kita dapat memulai acara. Acara yang pertama, masih diambil alih oleh para pegawai PUSKESMAS dengan tujuan kita dapat berkenalan langsung sebelum acara inti dimulai.
Setelah acara pembukaan dari pegawai PUSKESMAS dan perkenalan. Kami baru maju kedepan audiens dan memberitahukan tujuan kami kepada masyarakat. Dan memberi penjelasan tentang bahaya AIDS dan manfaat alat kontra sepsi sebagai alat pembantu KB (keluarga berencana).
Setelah penjelasan dari kami, pihak dari PUSKESMAS juga ikut serta menjelaskan apa guna KONDOM bagi masyarakat. Dan apa saja yang di serang oleh virus HIV bagi pengidapnya. Dengan bantuan beberapa foto-foto orang yang mengidap virus HIV. Setelah penjelasan kami membagikan alat kontrasepsi tersebut kepada pihak PUSKESMAS, dan membantu membagikannya pada masyarakat yang sedang mengikuti acara itu.
Setelah acara selesai, kita berpamitan untuk pulang dan sebelum pulang kita bersalam-salaman dengan masyarakatk sebagai tanda perpisahan. Dan setelah itu, kita berpamitan ke beberapa petugas PUSKESMAS karena sudah diperkenakan untuk melakukan tugas yang telah diberikan oleh dosen pembimbing mata kuliah Psikiatri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar