BAB I
PENGANTAR
Prestasi sekolah saat ini merupakan ukuran dari keberhasilan anak dalam menempuh pelajaran di sekolah. Meskipun demikian, tidak semua anak mencapai hasil belajar yang memuaskan. Hal ini dapat diterima jika memang anak memiliki keterbatasan dalam menyerap pelajaran dan gagal untuk berprestasi dengan baik. Namun, hal ini menjadi masalah jika anak memiliki kecerdasan yang tinggi dan seharusnya memiliki prestasi yang tinggi, malahan menunjukkan prestasi yang rendah.
Keadaan seperti pencapaian prestasi yang rendah oleh anak seringkali tidak selalu disebabkan oleh kecerdasan yang mereka miliki. Akan tetapi banyak faktor yang menyebabkan anak mengalami hal seperti ini. Ada faktor internal dan ada pula faktor eksternal. Pola asuh yang diterapkan oleh orang tua terhaap anak juga menjadi faktor utama yang menyebabkan anak mengalami hal pencapaian prestasi . kita juga sudah mengetahui bahwasannya dalam pola asuh sendiri ada tiga macam, yakni pola asuh otoriter, pola asuh domokratis, dan pola asuh permisif. Ketiga pola asuh itu kiranaya kita sudah mengatahui dengan begitu gambalang. Dengan adanya berbagai pola asuh yang ada tadi maka kita akan bisa mengetahui efek dari penerapan pola asuh, sehingga dalam hal ini apabila pola asuh yang diterapkan itu sesuai dengan kebutuhan anak, maka hasil yang akan dicapai nantinya sangat baik bagi perkembangan anak. Dan dalam hal ini anak tidak akan menjadi korban dalam penerapan pola asuh yang salah. Istilah lain yang bisa digunakan adalah korban child abuse orang tua.
Dalam psikologi pendidikan, anak dengan tingkat kecerdasan yang tingi, tetapi menghasilkan prestasi belajar yang rendah biasa disebut dengan underachiever. Kasus-kasus underachiever banyak terjadi, baik pada siswa SD, SMP, SMA, maupun perguruan tinggi. Sering kali terjadi pemahaman yang keliru dari orang tua terhadap anaknya yang mengalami underachiever. Orang tua menganggap anaknya sebagai anak yang bodoh dan tidak dapat menyerap pelajaran. Pemahaman yang salah akan membuat keadaan anak hasil korban child abuse menjadi tidak tertangani dengan baik. Hal ini akan membuat anak kehilangan potensinya untuk mencapai hasil terbaik. Untuk mencegah dan menangani permasalahan tersebut, maka dibutuhkan suatu pemahaman yang utuh mengenai anak hasil child abuse dan bagaimana mencegah serta menanganinya.
Usia rata-rata anak Indonesia saat masuk sekolah dasar adalah 6 tahun dan selesai pada usia 12 tahun. Berdasarkan pembagian tahapan perkembangan anak, ada dua masa perkembangan pada anak usia sekolah, yaitu pada usia 6-9 tahun atau masa kanak-kanak tengah dan pada usia 10-12 atau masa kanak-kanak akhir. Setelah menjalani masa kanak-kanak akhir, anak akan memasuki usia remaja.
Pada usia sekolah, anak memiliki karakteristik yang berbeda dengan anak-anak yang usianya lebih muda. Perbedaan ini terlihat pada aspek fisik, mental-intelektual, dan social-emosional anak.
Apabila masalah ini tidak cepat di tangani maka nantinya hal tersebut akan mempengaruhi kesehatan mental sang anak. Dan pada akhirnya akan membuat anak mengalami gangguan kejiwaan setelah dia dewasa.
1.1. Masalah Penelitian
A. Apa yang melatarbelakangi anak mengalami child abuse?
B. Faktor-faktor apa saja yang bisa mempertinggi kemungkinan anak terkena child abuse?
C. Potensi-potensi apa yang mungkin dikembangkan pada anak yang menjadi korban child abuse?
D. Proses apa yang sudah ditempuh untuk mengembangkan potensi anak yang sudah menjadi korban child abuse?
1.2. Tujuan Penelitian
A. Mengetahui dan memahami latar belakang atau faktor-faktor penyebab terjadinya child abuse.
B. Mengetahi dan memahami faktor-faktor yang bisa mempertinggi kemungkinan anak mengalami child abuse.
C. Mengetahui berbagai potensi yang mungkin dikembangkan pada anak korban child abuse
D. Mengetahui proses yang telah ditempuh untuk mengembangkan potensi anak korban child abuse.
BAB II
DESKRIPSI DATA DI LAPANGAN
Penelitian dilakukan di Sekolah Dasar Negeri 5 Kota Lama Malang. Terdapat 6 kelas untuk kegiatan sekolah. 1 ruang guru dan 1 gedung kantor kepala sekolah dan 1 gudang. Terdapat 4 kamar mandi dan 1 tempat untuk kamar buang air kecil yang berada 1 gedung kamar mandi. Terdapat 1 buah lapangan olah raga yang juga di gunakan untuk apel hari Senin yang selalu diadakan pada hari senin. Dan terdapat beberapa taman bunga yang berada di depan masing-masing gedung sekolah.
Sekolah Dasar Negeri 5 Kota Lama, berada di Kota Lama Malang. Tempat sekolahan ini berada di permukiman masyarakat. Dan berada di pojok tikungan. Suasana di sekolah sangat nyaman, karena tempat sekolah jauh dari jalan raya, sehingga proses pembelajaran tidak terganggu oleh suasana ramai dari kendaraan bermotor yang berlalu lalang.
Walaupun suasananya sangat nyaman, ada beberapa gedung yang kurang perawatan. Seperti tempat kamar mandi yang kurang begitu terawat. Banyak lumut dan tidak adanya penerangan, penerangan satu-satunya dari jendela ventilasi. Ada beberapa kamar mandi yang tidak terisi air. Jadi ada beberapa siswa yang masih mengantri apa bila mau kekamar mandi. Dan tempat kantin para siswa berada di belakang kelas yang untuk pembelajaran. Sehingga banyak siswa yang terganggu pada saat sistem pembelajaran berlangsung, akibat dari kegiatan yang di lakukan oleh pemilik kantin.
Pada kelas siang berbeda dengan kelas yang pagi. Karena di kelas siang ini, tidak ada pembagian waktu, sehingga siswa-siswanya bisa keluar masuk kelas dan datang terlambat karena tidak adanya bunyi bel yang memberi peringatan untuk siswa masuk sekolah.
2.1. Data Subjek
Nama : Andi
Jenis kelamin : Laki-laki
Berdasarkan hasil pemeriksaan psikologis, Andi adalah anak yang memiliki kemampuan di atas rata-rat (IQ 117). Namun, ia selalu mendapatkan nilai rendah dan menjadi anak yang suka usil terhadap teman-temannya. Andi tidak pernah memperhatikan ketika gurunya sedang menjelaskan pelajaran. Andi terlihat menganggap remeh pelajaran yang diberikan oleh gurunya. Ia lebih senang bermain dan mengganggu teman-temannya yang sedang belajar.
Sebelum memasuki Taman Kanak-kanak, Andi telah pandai membaca. Orang tua Andi memberikan kesempatan dan membimbing anaknya untuk mempelajari hal-hal yang memungkinkan si anak untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.
Kedua orang tua Andi adalah pekerja. Dengan pertimbangan kemudahan dan kedekatan dengan rumah, Andi di sekolahkan ke sekolah yang dekat dengan rumahnya.
2.2. Latar Belakang Persoalan Anak Korban Child Abuse
Secara fisik tidak ditemukan adanya gangguan-gangguan yang dapat menghambat Andi untuk menyerap pelajaran. Di rumah, Andi memiliki tempat belajar yang nyaman dan orang tuanya selalu menyediakan fasilitas untuk belajar.
Permasalahan yang dialami Andi ternyata berasal dari lingkungan sekolah. Andi mendapatkan sekolah yang rata-rata kemampuan siswanya dibawah Andi. Dengan daya tangkap yang baik, Andi dapat menerima pelajaran dengan cepat. Namun, karena anak didik lainnya tidak secerdas Andi, guru memberikan pelajaran dengan menggunakan standart bagi anak yang kemampuannya rata-rata.
Dengan kecerdasan yang dimiliki Andi, tanpa perlu memperhatikan secara seksama. Andi mampu menyerap pelajaran. Namun, ia merasa bosan dan memiliki banyak waktu yang terbuang percuma. Untuk mengatasi rasa bosan, Andi melakukan kenakalan-kenakalan yang membuatnya mendapat label anak nakal.
Pola belajar Andi pun menjadi buruk karena ia merasa tidak perlu belajar untuk memahami pelajaran. Hal ini membuatnya tertinggal ketika pelajaran sekolah mulai menuntut konsentrasi dan cara belajar yang baik.
2.3. Faktor-Faktor Resiko yang Mempertinggi Persoalan Anak Korban Child Abuse
Anak yang merupakan korban dari child abuse erat sekali kaitannya dengan raihan prestasi. Sementara itu kita juga tahu bahwasannya anak yang mengalami child abuse belum tentu juga bertipe kecerdasan yang rendah (bersifat inferior). Terkadang juga kita mengetahui dan menjumpai kalau anak korban child abuse memiliki kemampuan intelektual yang rata-rata bahkan di atas rata-rata. Anak yang menjadi korban child abuse akan mengalami berbagai masalah, mulai dari kurangnya minat terhadap hal yang berhubungan dengan pendidikan, rendahnya daya konsentrasi, kesulitan belajar, tekanan mental karena di sebabkan oleh pemberian labeling oleh orang sekitar dan lain-lain. Raihan prestasi yang rendah (underachiever) yang dicapai oleh seorang anak karena disebabkan oleh berbagai faktor, ada faktor lingkungan baik lingkungan di luar rumah, lingkungan rumah, maupun dari individu itu sendiri. Masing-masing faktor tersebut atau secara kombinasi dapat menyebabkan anak mengalami child abuse.
Setelah observer melakukan pengamatan serta analisa ternyata ada banyak faktor yang mempertinggi anak mengalami child abuse. Fakta yang terjadi di SDN V Kota Lama Malang bahwasannya metode pengajaran yang diterapkan tidak sesuai dengan kebutuhan dan kondisi para siswa atau peserta didik. Metode pengajaran yang diterapkan disini adalah penggabungan. Yang dimaksud dengan penggabungan adalah percampuran semua siswa atau peserta didik dalam satu kelas tanpa melihat dan meninjau para siswa atau peserta didik itu kelas berapa. Singkatnya mereka para siswa atau peserta didik dijadikan satu dengan tanpa melihat mereka dari kelas berapa. Sehingga dalam hal ini materi yang diberikan tidak ada spesifikasi. Artinya dalam hal ini bentuk materi yang diberikan semua setara baik itu materi yang lebih sulit diberikan kepada para siswa yang belum memperoleh bekal dasar materi, begitu juga sebaliknya. Hal inilah yang menyebabkan para peserta didik mengalami kebingungan dan kemalasan meskipun salah satu diantara mereka sebenarnya ada yang bisa dibilang mampu mengerjakan soal yang diberikan. Suasananya pun dalam hal ini juga tidak kondusif guna menunjang berlangsungnya proses belajar mengajar.
Selain itu pula guru yang ada (tersedia) di SDN V Kota Lama Malang ini sangat kurang. Guru hanya berjumlah satu atau dua orang saja. Seorang guru dalam hal ini juga tidak akan sanggup mengkondisikan situasi yang ada dimana proses pembelajarannya pun berlangsung secara menyeluruh atau penggabungan, sehingga guru pun sangat sulit untuk bisa menciptakan karena disisi lain dalam penggaubungan kelas tersebut terdapat para siswa yang kelas satu sampai kelas lima SD. Belum juga ada faktor jam sekolah yang mempertinggi child abuse, dimana mereka masuk sekolah pada siang hari.
Pendek kata dalam hal ini (faktor eksternal) yang menjadi penyebab seorang anak mengalami child abuse adalah dari pihak petinggi sekolah. Kita juga mengetahui bahwasannya sekolah merupakan faktor yang berperan penting dalam proses pencapaian prestasi belajar anak didik. Akan tetapi dalam hal ini fenomena yang terjadi adalah para pihak petinggi sekolah seakan bisa dibilang membiarkan masalah ini terus berlanjut dan tidak ada jalan penyelesaian masalah. Hal ini bisa terlihat dari sangat minimnya pendidik atau guru yang disediakan. Seorang guru disini seoalah-olah mampu menjadi orang yang selalu dapat menjadi pengatur segalanya padahal dari mindset yang seperti itu belum tentu seorang guru mampu menjadi seorang yang ideal terhadap tuntutan yang disematkan kepadanya. Intinya sekolah dalam hal ini kurang tanggap terhadap problem yang ada disekitar.
Observer juga sempat bertanya kepada ibu subjek mengenai kegiatan di rumah pasca pulang sekolah, dan ibu subjek mengatakan bahwa setelah pulang sekolah tidak ada tindak lanjut belajar (pemantauan atau control belajar). Dalam hal pemberian makanan pun subyek kurang mendapatkan yang sesuai dengan kebutuhan yang mampu menunjang kemampuan daya fikir anak, padahal keluarga subyek dalam hal materi bisa dibilang rata-rata. Sementara kita mengetahui bahwa pemberian makanan yang mengandung protein tinggi, seperti telur bisa meningkatkan energi, kemudian juga sayur-sayuran atau buah-buahan.
2.4. Potensi-Potensi yang Mungkin Dikembangkan pada Anak Korban Child Abuse
Walaupun seorang anak menjadi korban child abuse, sebagaian besar dari mereka (subyek tertentu) rupanya memiliki kemampuan yang besar dalam hal bersosial, bahkan ada yang memiliki tingkat kecerdasan yang di atas rata-rata. Sebagain besar dari mereka cepat sekali dalam bersosial. Disamping itu pula sebagian dari mereka mempunyai kelebihan dalam menangkap informasi serta mengingat informasi secara detil dan akurat. Ingatan visual mereka juga sangat baik dan mampu berkonsentrasi terhadap apa yang mereka lihat(dalam hal ini pelajaran) tertentu dalam periode yang lama. Singkat kata sebagian besar dari mereka memiliki kelebihan dari segi akademik.
2.5. Proses yang Sudah Ditempuh Untuk Mengembangkan Potensi Anak Child Abuse
Di saat para siswa mau masuk sekolah, terlebih dahulu dilakukan pengenalan tentang semua hal yang bersangkutpaut dengan sekolah dan data pribadi serta kondisi keluarga dengan tujuan untuk mempermudah dalam memberikan materi pokok dalam proses pemberian pelajaran sewaktu di sekolah.
Setelah diketahui riwayat dari calon siswa, kemudian guru akan merancang metode pembelajaran yang akan diberikan kepada para peserta didik. Pemberian materi pembelajaran selama berlangsungnya proses pendidikan yang didasarkan pada satu program umum biasa disebut Program Belajar Anak dengan Kebutuhan Khusus. Rancangan khusus tersebut disebut Program Individu yang mana disesuaikan kebutuhan anak, program individu merupakan program yang telah dipilih dari program umum.
Pertamakali subjek terdaftar sebagai siswa SDN V Kota Lama Malang telah memperlihatkan ciri-ciri anak yang kurang semangat, dan antusias seperti datang sering kali terlambat, keluar masuk kelas dengan enaknya
Guru seringkali memberikan tugas-tugas yang manantang bagi anak baik di sekolah maupun di rumah, selain pelajaran-pelajaran yang diterima di kelas memberikan gairah pada anak untuk belajar. Tugas yang diberikan oleh sang guru pada akhirnya diharapkan memunculkan rasa gairah bersekolah sehingga tugas yang menantang tersebut akan menjadikan anak terpacu untuk berfikir memecahkan persoalan-persoalan yang ada. Tugas yang diberikanpun sebenarnya tidak terlalu banyak. Pemberian tugas dalam hal ini lebih menekankan pada ukuran kualitas para peserta didik dalam menyelesaikan tugas, bukan kuantitas. Guru pun menyadari bahwasannya pemberian tugas-tugas yang banyak dan tidak menantang hanya akan membuat anak cerdas merasa bosan dan membuat mereka malas. Akhirnya, mereka para peserta didik akan menganggap tidak ada manfaatnya dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.
Sekolah SDN V Kota Lama Malang juga menerapkan standar prestasi yang tinggi, karena keberhasilan anak didik di sekolah juga ditentukan oleh standar keberhasilan di sekolah. Standart yang tinggi akan memacu anak peserta didik untuk berprestasi lebih baik dan tidak sekedar secukupnya. Standar yang ditentukan adalah hal yang mungkin dicapai oleh murid. Jika standar yang ditetapkan terlalu tinggi maka hal tersebut hanya akan menyebabkan anak peserta didik menjadi frustasi dan tidak memiliki motivasi untuk mencapai prestasi yang di inginkan. Begitu juga jika standar yang ada sangat rendah tanpa berusaha dengan keras pun anak dapat mencapai prestasi yang baik. Hal ini hanya akan membentuk sikap belajar yang salah dalam diri anak.
Disamping sekolah SDN V Kota Lama Malang memiliki standar yang tinggi, sekolah ini juga sering melakukan ujian (ulangan) pada hasil belajar. Karena fungsi ulangan adalah sebagai bahan evaluasi pencapaian dan pengukuran terhadap anak para peserta didik dalam proses belajar. Ujian (ulangan) dalam hal ini tidak hanya dilakukan tiga bulan sekali atau setiap akan pembagian rapor saja seperti yang kita ketahui, tetapi dilaksanakan berdasarkan materi-materi yang telah diberikan. Melalui pemberian ujian (ulangan), guru dapat memberikan masukan-masukan pada anak untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada. Melalui ujian (ulangan) ini pula seorang guru akhirnya juga dapat mengetahui apakah anak dapat menerima pelajaran yang diberikan atau mengalami hambatan.
Sekolah SDN V Kota Lama Malang juga menerapkan pola disiplin yang kuat. Sekolah yang baik memang harus memiliki disiplin yang tepat, bukan yang ketat apalagi longgar. Disiplin yang tepat biasanya disertai sanksi yang efektif bagi anak peserta didik. Sanksi yang diberikan oleh sekolah yang baik adalah sanksi yang mendidik, bukan yang menghilangkan kesempatan pada anak peserta didik untuk belajar, seperti memberikan skorsing atau disuruh keluar kelas. Pada sekolah yang baik, sanksi diberikan untuk perilaku yang ditampilkan bukan pada keseluruhan sikap anak. Jika anak melanggar sanksi missal karena tidak berpakaian rapi maka sanksi yang sekiranya diberikan harus mengenai tingkah laku anak yang tidak berpakaian rapi bukan pada tingkah laku yang lain. Sekolah yang kurang baik biasanya longgar dalam masalah disiplin atau sebaliknya terlalu ketat yang menyebabkan anak cemas dan cenderung melarikan diri.
BAB III
PEMBAHASAN
Pendekatan terhadap child maltreatment merupakan sesuatu yang rumit karena informasi didapatkan dari berbagai sumber. Beberapa pendekatan telah dirumuskan untuk memudahkan dalam memahami kekerasan pada anak.
1. Pandangan Sejarah
Sejarah telah menunjukkan bahwa kekerasan pada anak telah terjadi di berbagai kebudayaan. Semakin berkembangnya toleransi dalam suatu masyarakat, anak mendapatkan perlakuan dan perlindungan yang lebih baik. Sejarah juga menunjukkan bahwa masyarakat telah berusaha untuk mengatasi masalah ini, walaupun hasil akhir tidak selalu baik.
2. Model Medis
Penegakan diagnosis terhadap luka disengaja merupakan langkah awal untuk memahami kekerasan pada anak. Diagnosis seperti ‘ parent-infant stress disorder’ dari Caffey (1946) atau ‘battered baby syndrome’ dari Kempe (1962) yang fokus terhadap kekerasan pada anak dan mengadopsi model medis dapat dilanjutkan dengan pendekatan terapeutik. Dalam dunia medis, diagnosis terutama terhadap anak. Diagnosis terhadap orang tua dari segi kejiwaan lebih sulit, karena kebanyakan orang tua tidak mengakui bahwa mereka sakit.
3. Teori Psikologis
Tidak ada teori psikologis tunggal yang menerangkan kekerasan pada anak. Teori yang ada telah fokus terhadap perilaku orang tua dan anak. Lynch & Roberts (1977) mengemukakan bahwa bayi prematur beresiko lebih tinggi untuk mengalami perilaku kekerasan karena kurangnya ikatan. Teori lain mengatakan bahwa pelaku kekerasan pada anak tidak mengalami gangguan kejiwaan. Faktor-faktor seperti pengangguran, kemiskinan, perumahan yang buruk, masa lalu sebagai korban kekerasan, kurang pendidikan, atau depresi tidak menjamin seseorang menjadi pelaku kekerasan pada anak. Teori lain seperti teori attachment (ikatan) dari Bowlby (1969) mengemukakan bahwa bayi dapat mengeluarkan sinyal yang dapat diterima oleh orang yang terikat dengan bayi tersebut dan akan memancing suatu respon. Proses ini terjadi pada masa awal kehidupan dan terkait dengan perilaku dan respon ibu.
4. Teori Sosiologi
Sosiolog menganggap bahwa keluarga sebagai dasar masyarakat. Adanya suatu kesenjangan sosial dapat berisiko terjadinya kekerasan pada anak dan penelantaran.
3.1. Konsep Anak Child Abuse
Anak adalah titipan Allah SWT, jadi orangtua harus menerima keadaan anak seperti adanya sebagai konsekuensi selama anak masih dalam kandungan dan merawat serta menjaganya dengan sebaik-baiknya. Ketika anak memunculkan suatu perilaku yang begitu beda dengan anak pada umumnya, hendaknya sebagai orang tua memahami dan memaklumi karena memang seperti itulah anak semasa kecil. Dan orang tua hendaknya bersyukur karena telah memiliki anak yang cepat, tanggap, dan kreatif terhadap berbagai hal. Oleh sebab itu sebagai orang tua janganlah pernah mengeluh dengan perilaku anak yang seperti itu, terlebih lagi emosi orang tua terpancing dengan perilaku yang dilakukan oleh sang anak. Karena memang seperti itulah sifat dan perilaku anak semasa menjadi anak. Ketika orang tua melakukan tindakan yang mengarah pada child abuse maka sebenarnya orang tua tersebut belum siap menjadi orang tua.
Seorang anak yang mengalami child abuse seringkali tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya terhadap lingkungan. Mereka seringkali merasa tertekan. Berbagai tekanan yang ada tersebut berpengaruh terhadap perkembangan pribadi anak yang sehat. Berbagai hal yang sering nampak pada anak yang mengalami child abuse biasanya, diantaranya:
1. Komunikasi : kualitas komunikasi dari anak yang mengalami child abuse biasanya tidak seperti komunikasi anak normal pada umumnya, seperti ditunjukkan dibawah ini :
• Tidak mampu untuk memulai suatu pembicaraan atau memelihara suatu pembicaraan dua arah yang baik.
• Perkembangan bicaranya terlambat, atau sama sekali tidak berkembang (bawaannya murung).
• Tidak adanya usaha untuk berkomunikasi dengan gerak atau mimik muka untuk mengatasi kekurangan dalam kemampuan bicara.
• Bahasa yang tidak lazim yang diulang-ulang atau stereotipik.
• Tidak mampu untuk bermain secara imajinatif, biasanya permainannya kurang variatif.
2. Interaksi social
• Ketidak mampuan untuk secara spontan mencari teman untuk berbagi kesenangan dan melakukan sesuatu bersama-sama.
• Kegagalan untuk membina hubungan sosial dengan teman sebaya, dimana mereka bisa berbagi emosi, aktivitas, dan interes bersama.
• Ketidak mampuan untuk berempati, untuk membaca emosi orang lain.
3. Perilaku : aktivitas, perilaku dan interesnya sangat terbatas.
• Adanya suatu preokupasi yang sangat terbatas pada suatu pola perilaku yang tidak normal, misalnya duduk dipojok sambil murung.
• Adanya gerakan-gerakan motorik yang diulang-ulang, seperti mengepak-ngepak lengan, menggerak-gerakan jari dengan cara tertentu dan mengetok-ngetokkan sesuatu.
Sebagaian besar dari mereka ini sering juga menunjukkan emosi yang tak wajar, menjaili temen sebayanya, dan rasa takut yang tak wajar. Gangguan emosi lain juga terkadang muncul pada anak-anak seperti tak suka kalau dipeluk atau dielus.
Dalam psikopatologi secara developmental ada semacam faktor resiko, itu yang dialami oleh subyek (sebagian besar dari anak-anak pula). Ia dan sebagian besar dari mereka mengalami child abuse dari lingkungan terdekat mereka yang kurang bisa memahami posisi dan keadaan anak. Itu kelihatan dari orangtua saat menemani si anak dimana sewaktu anak memiliki banyak waktu luang baik di sekolah maupun setelah sekolah. Terkadang meskipun si ibu menemani subjek dan sebagian besar anak mereka di sekolah, mereka para ibu berbincang-bincang sendiri dengan anggota ibu-ibu yang lain. Sehingga pengawasannya pun tidak sepenuhnya diawasi.
3.2. Terapi (Treatment) Bagi Anak Child Abuse
Tujuan terapi pada anak adalah untuk mengurangi dampak dari child abuse serta meningkatkan kemampuan belajar dan perkembangannya yang mencakup kemampuan kognitif, motorik, dan afektif. Tujuan ini dapat tercapai dengan baik melalui suatu program yang menyeluruh dan bersifat individual maupun klasikal.
• Uji Konsentrasi
Dilakukan pada saat bimbingan social dan setiap kegiatan, misalnya pada waktu luang dan pada saat anak bermain. Tujuan dari latihan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan konsentrasi anak.
• Brain Gym
Adalah suatu gerakan alami yang sehat untuk menghadapi ketegangan dan tantangan pada diri sendiri dan orang lain. Brain gym digunakan untuk menstimulusi (dimensi lateralis atau belahan otak kiri dan kanan), meringankan (dimensi pemfokusan atau brainstem), atau merelaksasikan (dimensi pemusatan atau limbic dan serebral kortex) otak.
• Energizing
Atau yang biasa disebut dengan pemanasan. Cara ini dilakukan sebelum anak didik memulai aktivitas atau kegiatan belajar. Energizing ini dilakukan agar anak-anak didik dapat menjadi bersemangat atau termotivasi untuk memulai aktivitas belajar. Energizing ini idealnya dilaksanakan secara bersama-sama. Kegiatan ini bisa dilaksanakan di luar maupun di dalam kelas sebelum anak-anak memulai kegiatan belajarnya.
• Reward dan Punishment
Merupakan salah satu terapi untuk memperbaiki tingkah laku anak dengan melibatkan figure disekeliling anak sehari-hari, khususnya orang tua dan guru. Kesemua pihak disini diharapkan bekerjasama guna mengaplikasikan metode ini. Sebuah hadiah diberikan ketika anak melakukan tingkah laku yang dikehendaki. Tingkah laku dan bentuk reward atau punishment direncanakan secara teliti, dipilih yang paling member dampak efektif terhadap perubahan ke arah yang progress, dan begitu juga sebaliknya.
• Penanaman Normatif
Merupakan salah satu metode yang dipakai dalam bentuk ceramah atau diskusi. Penanaman normative ini berlangsung secara kondisional dan informal. Dalam artian ketika anak didik melakukan kesalahan, maka dengan segera anak didik di beri pengarahan.
• Sharring Session
Merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mengungkapkan dan menggali permasalahan yang dihadapi oleh anak didik. Sharing ini bisa dilakukan secara individu atau kelompok. Dalam kegiatan ini nantinya juga akan menumbuhkan rasa solidaritas pada anak-anak.
3.3. Alternatif Mekanisme Protektif yang Diberikan
Agar lebih efektif, seharusnya subjek atau sebagian besar dari para peserta didik diberikan mekanisme protektif tambahan dan meningkatkan intensitas terapi yang sebelumnya telah dilakukan. Berikut ini mekanisme protektif yang diberikan kepada para peserta didik, diantaranya:
Sensory Integration theraphy merupakan suatu proses neurologi dalam mengatur dan menterjemahkan input sensori, untuk dapat memberikan respon sesuai dengan input tersebut.
Bagian-bagian syaraf yang sangat banyak bekerja sama, sehingga seseorang dapat berinteraksi dengan lingkungannya secara efektif. Tubuh kita dan lingkungan mengirim pesan ke otak melalui indera kita, informasi tersebut diproses dan diorganisasi sehingga kita merasa nyaman dan aman serta kita mampu merespon secara tepat sesuai situasi dan kondisi.
Pada sebagian besar anak, kemampuan SI akan berkembang dengan sendirinya seiring dengan aktivitas yang dilakukan oleh anak tersebut setiap hari. Anak akan banyak mendapat pengalaman dan pembelajaran dari apa yang setiap hari dilakukannya. Akan tetapi hal ini terkadang tidak berlaku pada beberapa anak yang kemampuan SI-nya tidak berkembang seefisien seharusnya. Ketika proses tersebut terganggu, sejumlah masalah dalam proses belajar, perkembangan, ataupun tingkah laku bisa muncul.
Orang tua biasanya lebih mengenal dan mengerti anak mereka lebih daripada orang lain. Oleh karena itu, mereka juga akan lebih tahu daripada orang lain ketika anak mereka sedang menghadapi masalah ataupun mengalami hambatan. Jika seorang anak diduga memiliki gangguan SI, maka sebuah assessment dapat dilaksanakan oleh seorang Occupational Therapist. Assessment biasanya terdiri dari beberapa test standard dan observasi yang terstruktur sesuai usia perkembangan anak.
Assessmen tersebut akan mengevaluasi kemampuan anak dalam merespon rangsangan sensori, postur, keseimbangan, koordinasi, dll. Setelah hasil riset dan observasi dianalisa, terapis akan membuat rekomendasi mengenai terapi yang dibutuhkan. Anak dengan SI Dysfunction dikarenakan adanya gangguan dalam fungsi otak yang menghambat kemampuan mengatur dan menterjemahkan informasi sensori motor.
SI Dysfunction mungkin menjadi sebagai penyebab dari adanya masalah seperti kesulitan bicara, kesulitan konsentrasi, kekacauan social-emosional, gangguan perilaku dan masalah-masalah lain. Jika terapi Sensory Integration direkomendasikan, maka anak akan dituntun melalui berbagai aktivitas yang akan menantang kemampuan anak dalam memberikan respon yang sesuai terhadap input sensori yang diterimanya.
Melatih keahlian-keahlian khusus bukanlah merupakan fokus dari jenis terapi ini. Dalam melakukan suatu aktivitas terapi SI, yang menjadi fokus bukanlah hasil/end product, melainkan proses anak dalam melakukan aktivitas tersebut. Dalam mengikuti sesi terapi SI, maka aktivitas-aktivitas terapi hanyalah sebagai suatu media dan bukan menjadi target terapi. Terapi SI akan melibatkan aktifitas yang memberikan rangsangan yang dirancang sesuai dengan kebutuhan anak untuk berkembang. Aktivitas tersebut juga dirancang untuk beangsur-angsur meningkatkan tuntutan terhadap anak Anda untuk mampu membuat respon yang lebih teratur dan lebih terstruktur.
Penekanan lebih difokuskan pada bagaimana kualitas proses sensorimotor yang dilakukan oleh anak dalam melakukan aktifitas tersebut, daripada mengajarkan atau melatih anak tersebut tentang bagaimana cara memberikan respon atau bagaimana cara mendapatkan hasil aktifitas yang sebaik mungkin.
Melatih suatu keterampilan khusus jarang menjadi fokus dari terapi jenis ini. Akan tetapi pada beberapa kasus, anak dilatih untuk melakukan keterampilan khusus bisa menjadi tujuan utama, sehubungan dengan adanya kebutuhan untuk meningkatkan perkembangan harga diri anak atau untuk menunjang kemampuan bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Salah satu aspek penting dari terapi yang menggunakan pendekatan SI adalah motivasi anak. Physiology otak yang dilibatkan anak pada saat melakukan gerakan aktif, responsive, berbeda dengan physiology otak yang dilibatkan pada saat anak hanya melakukan peragan pasif.
Aktivitas aktif akan sangat bergantung pada kemampuan inisiatif, perencanaan gerak, pelaksanaan gerakan, dan kontrol gerakan, sehingga secara kualitas tampak lebih terkoordinasi. Sedangkan pada aktifitas pasif, terkadang hanya memberikan sensasi ataupun gerakan yang tidak sepenuhnya menuntut adanya respon dari anak. Keterlibatan aktif anak akan memberikan pengalaman dan pembelajaran yang terbaik untuk menuntun ke arah pertumbuhan proses belajar dan pengaturan tingkah laku yang lebih baik.
Ketika anak dilibatkan secara aktif, dia memiliki kontrol yang lebih terhadap situasi dan kondisi diri serta lingkungan. Dengan aktifitas pasif, kebalikannya, kita harus lebih hati-hati sebab anak terkadang kurang dapat menunjukan tanda-tanda kesulitan dan tidak mempedulikan lingkungannya. Oleh karena itu, untuk memberikan pengalaman dan pembelajaran yang efektif bagi anak maka biasanya akan lebih menekankan pada partisipasi aktif dari anak.
Terapi yang menggunakan pendekatan Sensory Integration pada umumnya menarik bagi anak. Ruang yang penuh dengan alat-alat yang menarik, lerengan untuk meluncur, ayunan, guling besar untuk dipanjat, terowongan, tangga tali, berbagai macam ukuran bola, dll. akan sangat menarik bagi seorang anak.
Bagi anak, terapi SI merupakan bermain dan dapat kelihatan seperti bermain bagi orang dewasa juga. Tetapi hal tersebut merupakan pekerjaan yang tidak mudah sebab terapis harus sangat kreatif dan inovatif, sebab apabila aktivitas yang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhan anak maka hal tersebut hanya akan bersifat bermain dan tujuan dari terpi SI menjadi tidak tercapai. Banyak anak dengan gangguan sensori integration belum mampu bermain secara tepat tanpa adanya arahan dari terapis. Menciptakan suasana bermain selama terapi SI dilakukan bukan hanya untuk bergembira. Suasana tersebut sangatlah berguna sebab anak akan lebih tertarik dan menikmati aktifitas terapi yang diberikan, dan dengan demikianlah efektifitas pelaksanaan sesi terapi SI akan jauh lebih maksimal dibandingkan dengan anak yang kurang termotivasi dalam mengikuti jalannya sesi terapi SI.
Terapi SI haruslah mampu memberikan pengalaman dan pembelajaran yang terus berkembang sehingga terus mampu memberikan pengalaman positif bagi anak. Namun demikian, tidak setiap sesi terapi akan berjalan seperti yang kita harapkan, yaitu berjalan dengan efektif dan efisien. Setiap anak pernah mengalami hari sulit.
Orang tua sangat mengerti anak mereka, sehingga sangat berperan dalam memantau perkembangan dan hambatan yang dialami anak. Orang tua juga sangat diharapkan untuk mampu memberikan lingkungan yang kaya dengan stimulasi, sehingga anak akan terus mendapatkan pengalaman dan pembelajaran dari lingkungannya. Arahan dan tuntunan sangat dibutuhkan oleh orang tua supaya mampu mewujudkan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan anak.
Sebuah home program harus diberikan oleh terapis untuk membantu orang tua di rumah dalam melatih kembali anaknya. Ketika pendekatan sensori integration berhasil, anak akan mampu secara otomatis memproses informasi sensori secara kompleks dengan cara yang lebih efektif dari pada sebelumnya. Hal ini memiliki sejumlah hasil penting. Peningkatan pada koordinasi gerak dapat dilihat dari kemampuan anak untuk melakukan tugas motorik kasar atau halus dengan keterampilan yang lebih baik dan pada tingkat kesulitan yang lebih tinggi dari yang diharapkan ketika anak belum mengikuti terapi.
Untuk anak yang pada mulanya menunjukkan masalah pada respon yang berlebihan atau kurang terhadap rangsangan, respon yang lebih normal dapat membimbing ke arah penyesuaian emosi yang lebih baik, meningkatkan keterampilan personal sosial, atau percaya diri yang lebih besar. Beberapa anak akan menunjukkan adanya perkembangan bicara dan bahasa, dll. Sangat sering, orangtua melaporkan bahwa anak mereka kelihatannya lebih tenang, lebih perhatian, lebih memiliki percaya diri, lebih cepat dalam mempelajari sesuatu kemampuan baru, serta sangat menunjang kemajuan di berbagai program terapi lainnya.
BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Kekerasan pada anak (child abuse) terjadi karena kurangnya interaksi antara anggota keluarga yang mengakibatkan perlukaan yang disengaja terhadap kondisi fisik dan emosi anak.
4.2. Saran
Adapun saran penulis bagi seluruh pihak yang terkait, yakni :
1. Adanya disiplin yang baik bagi orangtua untuk melaksanakan program yang sama seperti halnya di sekolah.
2. Maksimalisasi program terapi di sekolah dengan terus meningkatkan mutu ajar bagi siswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar