Laman

Jumat, 13 Juni 2025

PENELITIAN SKIZOFREN

PENDAHULUAN

Gangguan jiwa adalah penyakit yang pada umumnya terjadi pada remaja akhir dan dewasa awal. Biasanya ditandai dengan halusinasi yang berlebihan atau waham. Jika ada orang mengamuk di jalanan, menanggalkan pakaiannya, lalu berlari ke sana kemari, apa yang terjadi padanya? Apakah dia mengalami gangguan jiwa? Atau sakit jiwa?
Gangguan jiwa tak sama dengan sakit jiwa. Gangguan jiwa adalah gangguan pikiran, perasaan atau tingkah laku sehingga menimbulkan penderitaan dan terganggunya fungsi sehari-hari. Sedangkan sakit jiwa merupakan gangguan jiwa berat yang memerlukan pengobatan dan perawatn khusus.
Masyarakat menyebutnya sakit jiwa bagi mereka yang mengalami gangguan jiwa berat. Atau yang sering disebut gila
Gangguan jiwa, walaupun tak langsung menyebabkan kematian, tapi menimbulkan penderitaan yang mendalam bagi individu serta beban berat bagi keluarga. Gangguan jiwa terbagi beberapa golongan yakni berat (psikosis), ringan, kepribadian, penyalahgunaan zat, dan retardasi mental.
Kesehatan jiwa tidak hanya terkait dengan gangguan jiwa. Ada beberapa aspek yang mempengaruhi kesehatan jiwa, misalnya saja kualitas SDM dalam menguasai emosional. Lalu aspek sosial yakni kejadian di lingkungan yang berdampak pada gangguan jiwa seperti tindakan kekerasan dan, merasa tidak nyaman. Selain itu juga aspek gangguan jiwa itu sendiri.


KAJIAN TEORI

Skizofrenia telah hadir dalam sejarah manusia sejak zaman purba namun tetap menjadi misteri bagi para ahli. Oleh karena itu skizofrenia selalu menjadi bahan kajian yang menarik dan tak henti-hentinya memunculkan penelitian dari berbagai disiplin dan dari berbagai madzab yang ada.
Dalam sejarahnya, telah muncul berbagai usaha untuk memahami dan mengatasi Skizofrenia, dari cara yang ilmiah, cara yang bersifat coba-coba, hingga yang berbau tahayul namun hingga hari ini, tidak ada cara yang sungguh-sungguh efektif untuk mengatasi Skizofrenia.
Menurut Emil Kraepelin gangguan skizofrenia sebagai dementia praecox. Istilah ini diambil dari bahasa latin dementis, yang berarti di luar (de-) jiwa seseorang (mens), dan akar yang membentuk kata precocious, berarti sebelum tingkat kematangan dari seseorang. Dementia praecox selanjutnya mengacu pada hendaya prematur dari kemampuan mental. Kraeplin meyakini bahwa dementia praecox adalah sebuah proses penyakit yang disebabkan oleh patologi yang spesifik, tidak diketahui, di dalam tubuh.
Menurut Strauss et al, dalam Gabbard, 1994: Skizofrenia adalah gangguan mental yang sangat berat. Gangguan ini ditandai dengan gejala-gejala positif (berlebihan) seperti pembicaraan yang kacau, delusi, halusinasi, gangguan kognitif dan persepsi; gejala-gejala negatif seperti avolition (menurutnya minat dan dorongan), berkurangnya keinginan berbicara dan miskinnya isi pembicaraan, afek yang datar serta terganggunnya relasi personal.
Psikiatri Swiss Bleuler menyebutkan Skizofrenia atau jiwa yang terbelah sebab gangguan ini ditandai dengan disorganisasi proses berpikir, rusaknya koherensi antara pikiran dan perasaan, serta beriorentasi diri ke dalam dan menjauh dari realitas. Pendek kata, terjadi perpecahan antara intelek dan emosi.




PEMBAHASAN

Sejarah Rumah Sakit Jiwa DR Radjiman Wediodiningrat
Rumah Sakit Jiwa Lawang dibuka secara resmi pada tanggal 23 Juni 1902. Pengerjaan mendirikan rumah sakit ini dimulai tahun 1884 berdasarkan Surat Keputusan Kerajaan Belanda tertanggal 20 Desember 1865 No.100. Sebelum Rumah Sakit Jiwa Lawang dibuka, perawatan pasien mental diserahkan kepada Dinas kesehatan Tentara (Militaire Gezondheids Dienst).
Dalam rangka memperlancar penyaluran pasien ke masyarakat Hulshoff Pol mengajukan rencana perluasan Rumah Sakit Jiwa kepada Departemen Van Onderwijs en Eeredienst. Dimana pada tahun 1909 jumlah pasien mencapai 1.171 dan usaha-usaha perluasan rumah sakit untuk dapat menampung pasien amat mendesak. Pada waktu itu beratus-ratus pasien mental masih dititipkan di beberapa penjara sebelum dikirim ke rumah sakit jiwa. Dalam kurun waktu 1905 - 1906 tercatat salah seorang dokter Indonesia pertama yang bekerja di Rumah Sakit Jiwa Lawang adalah Dr. KRT. Radjiman Wediodiningrat , yang bersama-sama Dr. Soetomo melancarkan pergerakan bangsa pertama yaitu Boedi Oetomo. Pada saat itu Dr. KRT. Radjiman Wedio diningrat telah mengembangkan pendekatan terapi alternatif dengan pendekatan “ Rassen Psychologie “
Usaha perluasan mendapat ijin, dengan pembangunan anex. Rumah Sakit Jiwa Lawang di desa Suko, terletak lebih kurang 1 km ke arah timur di lereng kaki pegunungan Bromo ( Tengger ).
Antara tahun 1929 – 1935 kedua RSJ tersebut, Rumah Sakit Jiwa Lawang dan RSJ - anex Suko ditangani oleh 7 orang dokter dan seorang profesor wanita, dengan kapasitas tempat tidur masing-masing 1.200 tempat tidur. Pada waktu itu RSJ.Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang dikembangkan menjadi pusat penelitian otak. Tahun 1940 jumlah pasien mencapai 3.400 dan pada tahun 1941 meningkat menjadi 4.200 oleh karena harus menampung pengungsian pasien dari koloni di Jawa Timur. Usaha pengadaan fasilitas rumah sakit dan rumah perawatan (Doorganghuizen) merupakan suatu perkembangan yang penting dalam dunia psikiatri. Untuk meningkatkan pelayanan perawatan pasien di Rumah Sakit Jiwa Lawang, pada waktu itu mulai diadakan kegiatan terapi kerja dan bermacam-macam persiapan untuk usaha hiburan.
Dalam upaya memperlancar penyaluran pasien mental ke masyarakat, sejak tahun 1926 Rumah Sakit Jiwa Lawang mengantarkan kembali pasien yang sudah tenang ke desanya. Disusul dengan konsep Doorganghuizen yang diajukan oleh Travaglino. Bagi pasien yang mengalami defek/kronis dan sudah tenang, ditampung pada koloni pertanian ( Werkenrichtingen ).
Dalam kurun waktu 1942 - 1945, Rumah Sakit Jiwa Lawang mengalami penurunan pelayanan, karena kurangnya sarana perawatan dan adanya penyakit menular, jumlah pasien menurun sampai 800 orang. Tahun 1947 jumlah pasien : 1.200 orang, gabungan antara anex Suko dan Rumah Sakit Jiwa Lawang. Pada tahun 1950-1966 Rumah Sakit Jiwa Lawang menerima pengungsian pasien dari RSJ Pulau Laut (Kalimantan Selatan) sebanyak 120 pasien dan 40 orang pegawai.
Dalam kurun waktu 1966 sampai dengan sekarang, mulai terjadi beberapa pengembangan pengobatan dan perawatan pasien gangguan jiwa baik pada Unit Rawat Inap, maupun Rawat Jalan dan Keswamas. Pengembangan unit penunjang medik berupa pemeriksaan laboratorium(drug monitoring), radio diagnostik, elektromedik. Sejak tahun 1978, susunan organisasi dan tata kerja Rumah Sakit Jiwa Pusat Lawang diatur oleh SK. Menkes RI. No. 135/Men.Kes/SK/IV/1978.
Pada tahun 1998 – 2005 telah dibangun 3 gedung utama berlantai tiga untuk mendukung terwujudnya sistem pelayanan terpadu.Dengan tersedianya fasilitas tersebut diatas, maka kebutuhan pasien dan masyarakat terhadap pelayanan serta akses informasi dapat lebih cepat dan efisien.
Disamping peningkatan sarana fisik tersebut juga diikuti dengan peningkatan kwalitas SDM melalui program pendidikan berkelanjutan dan penyelenggaraan berbagai training, termasuk penyelenggaraan penelitian pelayanan kesehatan jiwa.
Dalam perkembangannya pelayanan kesehatan tidak hanya menangani gangguan mental, tetapi juga melayani kasus umum sederhana, kasus narkoba, pemeriksaan psikologi, gigi, laboratorium, radiologi, dan lain-lain.
Dengan beberapa upaya peningkatan pelayanan yang telah dilakukan, pada usianya yang ke 100 (satu abad) beberapa kendala masih dihadapi seperti kondisi bangunan yang sudah tua, sistem pendukung seperti saluran pipa air, salasar antar ruangan yang kurang berfungsi optimal. Namun demikian kondisi lingkungan, halaman antar ruangan yang luas, sisa lahan yang masih luas merupakan aset yang dapat dikembangkan serta mendukung pelayanan perawatan gangguan mental yang profesional sesuai dengan tuntutan masyarakat.
Diagnosis pasien
Pasien bernama Giman, usia 31 tahun yang diagnosisnya mengalami skizofrenia hebefrenik karena patah hati dan minimnya pendidikan. Pasien yang tinggal di puncu, kediri pernah patah hati lantaran ditolak oleh wanita yang disukainya selain itu pasien hanya mendapat pendidikan sampai kelas 5 SD. Dan terlihat tanda-tanda gangguan jiwa pada tahun 2001
Minimnya pendidikan yang didapat mengakibatkan pasien tidak mempunyai pekerjaan, sehari-harinya pasien hanya membantu kedua orang tuanya di sawah. Daripada itu pasien tidak mempunyai kesibukan dan lebih sering melamun sendiri. dan pasien juga mudah untuk bergaul dengan orang lain tapi karena pasien yang mengalami kemiskinan akhirnya pasien sering mendapat perlakuan fisik maupun psikis dari orang-orang yang tinggal di dekat rumahnya, selain itu pasien juga tinggal di rumah bersama kedua orangtuanya dan ke empat kakaknya.
Keterangan dari salah seorang perawat yang menjaganya pasien mengalami halusinasi di siang hari, pasien juga cenderung pendiam dan sering menyendiri, selain itu pasien juga mempunyai faktor keturunan yang diturunkan oleh neneknya.
Saat observer bertanya kepada pasien, pasien sedang berada di salah satu wisma berfungsi sebagai psikoterapi. Dan pasien sendiri sedang membuat kemoceng yang ditemani oleh beberapa perawat. Pertama kali ditanya oleh observer pasien bisa menjawabnya walaupun sering diulang-ulang dan berubah-ubah, ini terlihat saat observer bertanya pertanyaan yang sama pada jeda waktu yang berbeda.
Pasien diberi terapi membuat kemoceng , namun sebelumnya pasien di beri obat terlebih dahulu. Terapi yang digunakan untuk pasien bertujuan agar pasien tidak tergantung oleh obat-obatan yang dikonsumsi terlebih dahulu.

Pengertian Skizofrenia Hebefrenik
F20.1 Skizofrenia Hebefrenik; pedoman diagnostik:
• Memenuhi Kriteria umum diagnosis skizofrenia
• Diagnosis hebefrenik untuk pertama kali hanya ditegakkan pada usia remaja atau dewasa muda (onset biasanya 15-25 tahun).
• Kepribadian premorbid menunjukan pemalu dan senang menyendiri (solitary), namun tidak harus demikian untuk memastikan bahwa gambaran yang khas berikut ini
• Untuk meyakinkan umumnya diperlukan pengamatan kontinu selama 2 atau 3 bulan lamanya, untuk memastikan bahwa gambaran yang khas berikut ini memang benar bertahan :perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tidak dapat diramalkan, serta manerisme, ada kecenderungan untuk menyendiri (solitaris) dan perilaku menunjukan hampa tujuan dan hampa perasaan. Afek pasien yang dangkal (shallow) tidak wajar (inaproriate), sering disertai oleh cekikikan (gigling) atau perasaan puas diri (self-satisfied), senyum-senyum sendiri (self absorbed smiling) atau sikap tinggi hati (lofty manner), tertawa menyerigai, (grimaces), manneriwme, mengibuli secara bersenda gurau (pranks), keluhan hipokondriakalI dan ungkapan dan ungkapan kata yang diulang-ulang (reiterated phrases), dan proses pikir yang mengalamu disorganisasi dan pembicaraan yang tak menentu (rambling) dan inkoherens
• Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses pikir biasanya menonjol, halusinasi dan waham biasanya ada tapi tidak menonjol ) fleeting and fragmentaty delusion and hallucinations, dorongan kehendak (drive) dan yang bertujuan (determnation) hilang serta sasaran ditinggalkan, sehingga prilaku tanpa tujuan (aimless) dan tanpa maksud (empty of purpose) Tujuan aimless tdan tampa maksud (empty of puspose). Adanya suatu preokupasi yang dangkal, dan bersifat dibuat-buar terhadap agama, filsafat, dan tema abstrak lainnya, makin mempersukar orang memahami jalan pikirannya.
Penanganan
1. Pendekatan Biologis
Munculnya obat-obat antipsikotik pada 1950-an juga dikenal sebagai penenang mayor atau neuroleptik membawa perubahan dalam perawatan pasien skizofrenia dan memberikan dorongan terhadap dilepaskannya pasien penyakit mental dalam skala besar kembali ke komunitas. Pengobatan antipsikotik membantu mengendalikan pola perilaku yang lebih mencolok pada skizofrenia dan mengurangi kebutuhan untuk perawatan rumah sakit jangka panjang apabila dikonsumsi pada saat pemeliharaan atau secara teratur setelah episode akut.

Namun pada banyak pasien skizofrenia kronis, memasuki rumah sakit ibarat sedang melewati pintu putar. Artinya mereka berulang kali masuk dan keluar dalam jangka waktu yang relatif singkat. Beberapa orang hanya dilepaskan begitu saja ke jalanan mereka sudah stabil dalam pengobatan dan menerima sedikit, bila ada, perawatan lanjutan atau perumahan yang tersedia.
2. Terapi Psikodinamika
Freud tidak yakin bahwa psikoanalisis tradisional sesuai untuk penanganan skizofrenia. Tindakan menarik diri ke dalam dunia fantasi yang merupakan ciri skizofrenia mencegah penderita untuk membentuk hubungan yang bermakna dengan psikoanalisis. Teknik psikoanalisis klasik, tulis Freud, harus ”digantikan oleh yang lain; dan kita belum dapat mengetahui apakah kita akan berhasil menemukan pengganti”
3. Terapi-terapi Berdasarkan Belajar
Meskipun sedikit terapis perilaku yang meyakini bahwa belajar yang salah menyebabkan skizofrenia, intervensi berdasarkan pembelajaran telah menunjukkan efektivitas dalam memodifikasi perilaku skizofrenia dan membantu orang-orang yang mengalami gangguan ini untuk mengembangkan perilaku yang lebih adaptif yang dapat membantu mereka menyesuaikan diri secara lebih efektif untuk hidup dalam komunitas. Metode terapi meliputi teknik-teknik sepert:
• Reinforcement selektif terhadap perilaku
• Token ekonomi
• Pelatihan keterampilan sosial
4. Rehabilitasi Psikososial
Orang-orang yang mengalami skizofrenia biasanya mengalami kesulitan untuk berfungsi dalam peran-peran sosial maupun pekerjaan. Masalah-masalah ini membatasi kemampuan mereka untuk menyesuaikan diri terhadap kehidupan komunitas bahkan dalam keadaan tidak adanya perilaku psikotik yang tampak

5. Program Intervensi Keluarga
Konflik-konflik keluarga dan interaksi keluarga yang negatif dapat menumpuk stres pada anggota keluarga yang mengalami skizofrenia, meningkatkan risiko episode yang berulang. Para peneliti serta klinis telah bekerja dengan keluarga-keluarga dari orang-orang yang mengalami skizofrenia untuk membantu mereka menyesuaikan diri dengan beban untuk merawat dan membantu mereka dalam mengembangkan cara-cara yang lebih koopertif dan tidak terlalu konfrontatif dalam berhubungan dengan orang lain.
KESIMPULAN

Berdasarkan laporan di atas bisa disimpulkan sebagai berrikut:
1. Keluarga pada hakikatnya merupakan jalinan relasi anggota-anggotanya, merupakan ruang hidup bagi para anggotanya.
2. Ada kaitan yang erat anatara dinamika keluarga dengan proses kemunculan pasien skizofrenia
3. Ada kaitan yang erat antara dinamika keluarga dengan perkembangan selanjutnya dalam penyakit pasien skizofrenia


















HASIL PEMERIKSAAN PSIKOLOGIK

Diagnosis : diagnosis sementara menunjukkan bahwa pasien mengalami gangguan jiwa skizofrenia => F20.1. Skizofrenia Hebefrenik
Axis I : F 20.1 skizofrenia Hebefrenik
Axis II : Pendiam
Axis III :
Axis IV :
Axis V : GAF 51-60

Psikoterapi : Membuat kemoceng















DAFTAR PUSTAKA
• http://rsjlawang.com/
• Buku saku pedoman diagnosis jiwa PPDGJ.
• Nevid S, Jefrey Dkk, 2003. Psikologi Abnormal. Jakarta, Erlangga
• Arif Setiadi Iman, 2006. Skizofrenia Memahami Dinamika Keluarga Pasien. Bandung, PT Refika Aditama
• Supratiknya, 1995. Mengenal Perilaku Abnormal. Yogyakarta, Kanisius

Jumat, 06 Juni 2014

CONTOH LAPORAN PENELITIAN BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang Pada tahun 2013 tahun ini tepatnya 4 & 5 September2013, tim sukarelawan mata hati membantu terselenggaranya ospek dan out bond STIKES YARSIS SURABAYA yang merupakan kegiatan tahunan, yang mana kegiatan itu dilaksanakan bersama semua mahasiswa baru (Maba). Hal ini dimaksud kanuntuk memberikan refereshing serta penanaman karakter positif. Setelah kegiatan itu, maka saya berkewajiaban membuat buku laporan dari seluruh kegiatan tersebut. B. TujuanLaporan Tujuan pembuatan buku laporan ini adalah sebagai syarat untuk melengkapi tugas. Sedangkan tujuan yang lain adalah untuk melatih saya membuat karangan kegiatan yang berupa laporan. Selain itu pula, buku laporan ini dibuat dengan maksud memberikan penjelasan yang menyeluruh tentang semua apa yang terjadi dalam pelaksanaan kegiatan tersebut yang dilakukan oleh tim mata hati pada saat out bond, baik dari awal kegiatan maupun sampai akhir kegiatan. C. Peserta Mahasiswa Baru Sitkes Yarsis yang kurang lebih 450 peserta. D. Panitia Panitia outbond terdiri dari; 1 Tim Sukarelawan : 15 orang 2 BEM : 35 orang 3 Dosen : 7 orang E. Waktu Waktu kegiatan outbond berlansung pada tanggal 4 & 5 2013. Hari pertama menuju kampus STIKES YARSIS Surabanya untuk brifing, di hari kedua kami bersama sukarelawan menginap di villa kompleks ubaya tranning centre, di Trawas Mojokerto dan pada keesokan harinya kami melaksanakan kegiatan OUTBOND mulai pukul 07.00 sampai dengan pukul 14.00 WIB. BAB II ISI LAPORAN Kawasan Wisata Trawas yang terletakdi Mojokerto provinsi Jawa Timur. Daerah ini merupakan kawasan wisata out bound milik Ubaya. Namun sebelum berangkat ke lokasi, sehari sebelum kegiatan kami berada di kampus Stikes Yarsis Surabaya untuk memberikan brifing dan motivasi. Pemateri pertama adalah Bapak Andi Antono salah satu tim pendiri sekolah Madani di malang. Beliau berbagi ilmu bahwa the dreams comes true, maka ada langkah-langkah yang dilakukan adalah : 1. Pikirkan, pikirkan apa yang kamu inginkan masuk ke dalam dan ulang-ulang pikiran itu. Sebab saat kita mengulang terus menerus otak kita akan merus terangsang dan terbiasa dan terus berusaha untuk melakukannya, kita hanya butuh diam sejenak konsentrasi dan terus berpikir kita bisa serta yakin bisa. 2. Gambarkan, saatnya kita menuangkan mimpi kita dalam bentuk tulisan bahkan gambar semua itu sedetail mungkin sehingga buat itu seakan-akan nyata dan tercapai segera. 3. Ikrarkan, ucapkan dengan tegas dan penuh keyakinan didepan kaca ataupun saat ada banyak orang yang mendengarkan sekeras-kerasnya. 4. Tegaskan, kita mengucapkan saya harus mampu ….., saya wajib melakukan…., dan saya yakin untuk ….. dan lain-lain. 5. Ceritakan, ini penting yaitu ceritakan kepada teman dekat, orang yang dapat dipercaya dan jika ada bisa membantu kita mencapainya. 6. Lakukan, yang kita perlu lakukan yaitu apa kegiatan utama kita?, saya harus lakukan itu kalau tidak …., kapan mulai dan berakhir?, dimana dan bagaimana. 7. Yang terakhir ini sangat penting dan utama yaitu berdoa dan mendoakan berserah diri kepada Allah semoga segala usaha kita mendapat ridhonya. Setelah pemberian motivasi oleh Bapak Andi, acara selanjutnya di serahkan kepada Kak Acun yang memberi penjelasan dari materi yang di sampaikan Pak Andi. Dan memberikan arahan apa saja yang harus di bawa saat out bond di trawas. Setelah acara selesai, Tim Sukarelawan Matahati langsung menuju tempat yang akan dijadikan tempat kegiatan out bond. Agar tim matahati mengetahui tempat yang akan digunakan pada saat out bond berlangsung, dan membagi wilayah perpos agar nantinya tidak ada kesalahan sewaktu pembagian pos out bond. Setelah itu tim di bawa ketempat peristirahatan. Sesampainya di tempat peristirahatan kami mendapatkan briefing, tentang makna game dan cara penyampaiannya. Hal ini dilakukan agar dari tim mata hati tidak melakukan kesalahan pada waktu penyampaian atau arti game di setiap posnya. Kami mempersiapkan permainan outbond di antaranya : a. Trowongan kasa blangka Kami mempersiapkan tali raffia, area + 30 m, patok kayu. Lintasan pertama + 10 m menggunakan patok kayu untuk membuat jarring lompatan, 10 m kedua hanya pembatas untuk jalur berlari dan 10 m terakhir jarring-jaring setinggi lutut orang dewasa yang menjadi trowongan. b. Sandal raksasa Kami membuat sandal jepit yang dirangkai dengan tali berjarak sekitar 15 cm satu sama lain. Peserta membutuhkan + 9 anggota untuk bermain. Mereka berjalan sekitar 10 m untuk mencapai garis finish. c. Holahop dan pazzel Kami menyiapkan jalur kemudian menyediakan holahop dan pazzel yang berada di ujung jalur. Salah satu anggota akan melihat bentuk pazzel sebelum diacak. Peserta membutuhkan 3 anggotanya untuk mengambil satu bagian pazzel caranya 2 anak menahan holahop dengan hanya dengan badan dan 1 anak di tengah tak boleh terkena holahop serta bertugas membawa pazzel kembali untuk disusun. d. Salon Indonesia Semua peserta menututup mata serta membuat lingkaran kami memberi bedak selanjutnya mereka membedaki teman yang berada di sampingnya. Tantangan terakhir yaitu memberi lipstick yang akan mereka oleskan pada teman hingga sempurna. e. Magic water Kami menyiapkan botol aqua berisi air, yang telah terikat benang wal di bagaian botol, mereka memindahkan air ke dalam botol yang lebih kecil di sekitar area permainan. f. Stepping stone Peserta berjalan estafet menuju garis finish hanya dengan kertas manila coklat sekitar 10 m sambil mencari kata-kata positif di Koran yang sudah dibawa. g. Bland picture Kami menyiapkan kertas gambar dan spidol warna kemudian pera peserta yang bertugas menggambar akan ditutup matanya dan diikat badannya, peserta tersebut berjalan sesuai instruksi temannya menuju kertas gambar dan hanya menggoreskan satu garis tiap peserta dengan gambar yang sudah ditentukan. h. Pipa bocor Kami menyiapkan pipa bocor 100 lubang dan bola yang dimasukkan ke dalamnya agar bola keluar maka pipa harus diisi dengan air hingga penuh dan bola keluar, kemudian bola ditiup peserta secara bergantian hingga melewati gawang pada masing-masing jalur. Pada tanggal 5 September 2013, jam 05.30 WIB. Tim mata hati bersiap-siap menuju tempat yang nantinya akan di jadikan tempat out bond. Sesampainya di sana tim mata hati dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok 1 terdiri dari kakak-kakak perempuan yang bertugas untuk membangun 2 tenda kesehatan. Dan kelompok 2 terdiri dari kakak-kakak laki-laki yang menyiapkan pos-pos yang nantinya berisi game-game yang akan di gunakan sesuai briefing. BAB III KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dari laporan yang telah saya buat ini dapat di tarik kesimpulan bahwa kegiatan tim Mata Hati Care Centre dalam menyelenggarakan ospek dan outbond STIKES YARSIS SURABAYA, untuk memberi pengalaman baru pada Mahasiswa Baru (MABA) dalam hal penanaman karakter. Dan menghilangkan keegoisan diri di dalam organisasi, karena dengan kerja sama maka masalah dalam organisasi bisa cepat terselesaikan dengan cara mengenyampingkan ke egoisan yang kita miliki. Juga melatih para MABA agar tahu bagaimana cara memberikan pelayanan yang baik untuk pasien. Juga dilatih untuk membuat komitmen dalam hal apapun, agar tidak main-main dalam mengambil suatu keputusan. Dan pemahaman akan kekuatan impian yang bisa menjadi sugesti dan merubahnya menjadi kenyataan. B. Saran Kegiatan ini patut dilaksanakan kembali, karena hal ini sangat di butuhkan untuk menambah pengalaman bagi para Mahasiswa Baru. Juga agar tidak terjadi lagi kekerasan yang dilakukan panitia ospek kepada Mahasiswa Baru. Penanaman moral, karakter dan membuat komitmen sangatlah penting bagi calon penerus bangsa khususnya para Mahasiswa. Agar kelak setelah mereka lulus, bisa berguna bagi bangsa dan Negara.

Sabtu, 22 Juni 2013

Konsep Diri Pada Manusia

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Manusia adalah makhluk biopsikososial yang unik dan menerapkan system terbuka serta saling berinteraksi. Manusia selalu berusaha untuk mempertahankan keseimbangan hidupnya. Manusia dalam mewujudkan keadaannya untuk sehat berusaha untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Sedangkan seseorang disebut sakit apabila gagal dalam mempertahankan keseimbangan diri dan lingkungannya. Aktualisasi diri menurut Maslow merupakan tingkat kebutuhan yang paling tinggi dan untuk mencapainya diperlukan konsep diri yang sehat. Konsep diri adalah semua perasaan, kepercayaan dan nilai yang diketahui individu tantang dirinya dan memengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain. Konsep diri berkembang secara bertahap saat bayi mulai mengenal dan membedakan dirinya dengan orang lain. Masalah-masalah rumit yang dialami manusia, seringkali dan bahkan hampir semua, sebenarnya berasal dari dalam diri. Mereka tanpa sadar menciptakan mata rantai masalah yang berakar dari problem konsep diri. Dengan kemampuan berpikir dan menilai, manusia malah suka menilai yang macam-macam terhadap diri sendiri maupun sesuatu atau orang lain – dan bahkan meyakini persepsinya yang belum tentu obyektif. Dari situlah muncul problem seperti kurang percaya diri, dan hobi mengkritik diri sendiri. Makalah berikut akan mengulas tentang konsep diri, apa dan bagaimana konsep diri berpengaruh terhadap munculnya problem yang dialami manusia sehari-hari Identitas membentuk salah satu dari keempat prinsip yang terintigrasi dari konsep diri. Selain itu, citra tubuh yang merupakan gambaran dari mental kita adalah bagian konsep diri yang mencakup sikap dan pengalaman yang berkaitan dengan tubuh, termasuk pandangan tentang maskulinitas dan feminitas, kegagahan fisik, daya tahan dan kapabilitas. Citra tubuh berkembang secara bertahap dan dapat berubah dalam beberapa jam, hari, minggu dan bulan bergantung pada stimuli eksternal pada tubuh dan perubahan aktual dalam penampilan, struktur dan fungsi. Harga diri berasal dari dua sumber, yaitu diri sendiri dan orang lain. Harga diri bergantung pada kasih sayang dan penerimaan. Secara umum konsep diri adalah semua tanda, keyakinan dan pendirian yang merupakan suatu pengetahuan individu tentang dirinya yang dapat mempengaruhi hubungannya dengan orang lain, termasuk karakter, kemampuan, nilai, ide, dan tujuan. BAB II PEMBAHASAN A.Pengertian Konsep Diri Secara umum konsep diri (self-concept) merupakan cara keseluruhan informasi yang kompleks, yang secara keseluruhan membentuk diri seseorang. William mendifinisikan konsep diri sebagai pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Rahmad menyatakan konsep diri bukan hanya sekedar gambaran deskriptif saja, tetapi juga penilaian individu terhadap dirinya. Jadi konsep diri meliputi apa saja yang dipikirkan dan apa yang dirasakan tentang individu sendiri. Ada dua komponen konsep diri, yaitu : 1) Komponen kognitif disebut citra diri (self image) 2) Komponen afektif disebut harga diri (self esteem) Komponen kognitif merupakan pengetahuan individu, gambaran diri tersebut akan membentuk citra diri. Sedangkan komponen afektif merupakan penilaian individu terhadap dirinya sendiri. Mowen mendifinisikan konsep diri sebagai cerminan totalitas pemikiran dan perasaan individu yang merujuk pada diri sendiri sebagai sebuah objek. Sementara Atwater membedakan konsep diri menjadi empat, yaitu : 1) Subjective self (diri subjektif) yaitu cara seseorang memandang dirinya sendiri. 2) Body image (citra tubuh) yaitu cara seseorang memandang tubuhnya. 3) Ideal self (diri ideal) yaitu diri yang diinginkan seseorang, termaksud aspirasi, moral ideal dan nilai. 4) Social self yaitu persepsi diri berkaitan dengan pengaruh sosial yang ada. Menurut Carl Rogers dalam skripsi yang berjudul Konsep Diri dan Sikap Anak SMU 14 di Yogyakata karangan Yuni dwi Astuti menyatakan bahwa konsep diri seseorang dalam kehidupan secara bertahap berkembang. Seseorang berusaha menjadi dirinya sendiri (diri aktual atau real self) dengan patokan yang disebut ideal self, yaitu diri ideal yang ingin dicapai seseorang. Keseimbangan atau ketidakseimbangan antara diri aktual dan diri ideal inilah yang menentukan kedewasaan (motority) penyesuaian (adjustment) dan kesehatan mental seseorang. Calhoun dalam Yuni juga menyatakan bahwa konsep diri terdiri dari tiga dimensi, yaitu: 1) Pengetahuan terhadap diri sendiri. 2) Harapan terhadap diri sendiri. 3) Evaluasi terhadap diri sendiri. Menurut John Robert Powers (1977), konsep diri adalah ‘kesadaran dan pemahaman terhadap dirinya sendiri yang meliputi ; siapa aku, apa kemampuanku, apa kekuranganku, apa kelebihanku, apa perananku, dan apa keinginanku’ Self menurut Sulaeman (1995) adalah keseluruhan ide-ide dan sikap-sikap seseorang sebagai apa dan siapa dia. Self meliputi semua pengalaman yang membentuk kesadaran seseorang tentang keberadaannya. Ide-ide dan sikap telah berkembang pada awal masa kanak-kanak. Self juga sebagai suatu cara bagaimana seseorang bereaksi terhadap dirinya sendiri. Suryabrata (1995) menyatakan bahwa self mengandung empat aspek yaitu: (1) bagaimana orang mengamati dirinya sendiri, (2) bagaimana orang berpikir tentang dirinya sendiri, (3) bagaimana orang menilai dirinya sendiri, (4 bagaimana orang berusaha dengan berbagai cara untuk menyempurnakan dan mempertahankan diri. Sementara Brooks, mendefenisikan konsep diri sebagai "Those Physical, Social, and Psychological Perceptions of Ourselves That we Have Derived from Experiences and our Interaction with others". Pengertian ini menjelaskan bahwa konsep diri adalah pandangan seseorang mengenai dirinya sendiri, baik fisik, sosial maupun psikologis, yang bersumber dari berbagai pengalaman dan interaksinya dengan orang lain. Konsep diri dapat didefinisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan dan penilaian seseorang terhadap dirinya. Seseorang dikatakan mempunyai konsep diri negatif jika ia meyakini dan memandang bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, tidak kompeten, gagal, malang, tidak menarik, tidak disukai dan kehilangan daya tarik terhadap hidup. Mereka ini cenderung bersikap pesimistik terhadap kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya. Ia tidak melihat tantangan sebagai kesempatan, namun lebih sebagai halangan. Orang dengan konsep diri negatif, akan mudah menyerah sebelum berperang dan jika gagal, akan ada dua pihak yang disalahkan, entah itu menyalahkan diri sendiri (secara negatif) atau menyalahkan orang lain. Sebaliknya seseorang dengan konsep diri yang positif akan terlihat lebih optimis, penuh percaya diri dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan yang dialaminya. Kegagalan bukan dipandang sebagai kematian, namun lebih menjadikannya sebagai penemuan dan pelajaran berharga untuk melangkah ke depan. Orang dengan konsep diri yang positif akan mampu menghargai dirinya dan melihat hal-hal yang positif yang dapat dilakukan demi keberhasilan di masa yang akan datang. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konsep diri adalah persepsi individu terhadap dirinya sendiri. Persepsi terhadap diri sendiri itu bukan hanya penilaian terhadap diri sendiri melainkan juga penilaian atau penafsiran mengenai diri sendiri oleh individu yang bersangkutan. Persepsi terhadap diri sendiri ini dibentuk oleh pengalaman-pengalaman dan pendapat dari lingkungan yang dipengaruhi oleh penguatan, penilaian orang lain dan pribadi individu bagi tingkah lakunya, baik segi fisik, psikis dan sosial yang akan membentuk sikap, kepercayaan dan nilai diri individu. Oleh karena itu, konsep diri mempunyai pengaruh besar terhadap tingkah lakunya. B.Komponen konsep diri Konsep diri dapat digambarkan dalam istilah rentang dari kuat sampai lemah atau dari positif sampai negatif. Bergantung kepada kekuatan individu dari keempat komponen konsep dirinya. 1. Identitas Identitas mencakup rasa internal tentang individualitas, keutuhan dan konsistensi dari seseorang sepanjang waktu dan dalam berbagai situasi. Identitas menunjukkan menjadi lain dan terpisah dari orang lain, namun menjadi diri yang utuh dan unik. Pencapaian identitas diperlukan untuk hubungan yang intim karma identitas seseorang diekspresikan dalam berhubungan dengan orang lain. 2. Citra tubuh Citra tubuh membentuk persepsi seseorang tentang tubuh, baik secara internal maupun eksternal. Persepsi ini mencakup perasaan dan sikap yang ditujukan pada tubuh. Citra tubuh dipengaruhi oleh pandangan pribadi tentang karakteristik dan kemampuan fisik dan oleh persepsi dari pandangan orang lain. Citra tubuh juga dipengaruhi oleh pertumbuhan kognitif dan perkembangan fisik, sikap, nilai cultural dan sosial. 3. Harga diri Harga diri berdasarkan pada factor internal dan eksternal. Harga diri dapat dipahami dengan memikirkan hubungan antara konsep diri seseorang dan diri ideal. Diri ideal terdiri atas aspirasi, tujuan, nilai dan standar perilaku yang diupayakan untuk dicapai. Evaluasi diri adalah proses mental yang berkelanjutan. Nilai-nilai atau harga diri adalah kebutuhan dasar manusia yang dipengaruhi oleh sejumlah control yang mereka miliki terhadap tujuan dan keberhasilan dalam hidup. 4. Peran Peran mencakup harapan atau standar perilaku yang telah diterima oleh keluarga, komunitas dan kultur. Perilaku didasarkan pada pola yang ditetapkan melalui sosialisasi. Sosialisasi itu sendiri dimulai tepat setelah lahir, ketika bayi berespons terhadap orang dewasa dan orang dewasa berespons terhadap perilaku bayi. Anak belajar perilaku yang diterima oleh masyarakat melalui proses berikut : a. Reinforcement-extinction : perilaku tertentu menjadi umum atau dihindari, bergantung apakah perilaku ini diterima dan diharuskan atau tidak diperbolehkan dan dihukum. b. Inhibisi : seorang anak belajar memperbaiki perilaku, bahkan ketika berupaya untuk melibatkan diri mereka. c. Substitusi : seorang anak menggantikan satu perilaku dengan perilaku lainnya, yang memberikan kepuasan peribadi yang sama d. Imitasi : seorang anak mendapatkan pengetahuan, keterampilan atau perilaku dari anggota social atau kelompok cultural. e. Identifikasi : seorang anak menginternalisasikan keyakinan, perilaku, dan nilai dari model peran ke dalam ekspresi diri yang unik dan personal. Selama sosialisasi, seorang anak umumnya mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk berfungsi dalam banyak peran yang berbeda. Sosialisasi yang tidak berhasil adalah ketidakmampuan untuk berfungsi seperti yang dapat diterima oleh nilai masyarakat. C.Perkembangan konsep diri Perkembangan konsep diri adalah proses sepanjang hidup. Setiap tahap perkembangan mempunyai aktivitas spesifik yang membantu seseorang dalam mengembangkan konsep diri yang positif. 1. Bayi Apa yang pertama kali dibutuhkan seorang bayi adalah pemberi perawatan primer dan hubungan dengan pemberi perawatan tersebut. Bayi menumbuhkan rasa percaya dari konsistensi dalam interaksi pengasuhan dan pemeliharaan yang dilakukan oleh orang tua atau orang lain. Penyapihan, kontak dengan orang lain, dan penggalian lingkungan memperkuat kewaspadaan diri. Tanpa stimulasi yang adekuat dari kemampuan motorik dan penginderaan, perkembangan citra tubuh dan konsep diri mengalami kerusakan. Pengalaman pertama bayi dengan tubuh mereka yang sangat ditentukan oleh kasih sayang dan sikap ibu adalah dasar untuk perkembangan citra tubuh. 2. Todler Tugas psikososial utama mereka adalah mengembangkan otonomi. Anak-anak beralih dari ketergantungan total kepada rasa kemandirian dan keterpisahan diri mereka dari orang lain. Mereka mencapai keterampilan dengan makan sendiri dan melakukan tugas higien dasar. Anak usia bermain belajar untuk mengoordinasi gerakan dan meniru orang lain. Mereka belajar mengontrol tubuh mereka melalui keterampilan locomotion, toilet training, berbicara dan sosialisasi. 3. Usia prasekolah Pada masa ini seorang anak memiliki inisiatif, mengenali jenis kelamin, meningkatkan kesadaran diri, meningkatkan keterampilan berbahasa, dan sensitive terhadap umpan balik keluarga. Anak-anak belajar menghargai apa yang orang tua mereka hargai. Penghargaan dari anggota keluarga menjadi penghargaan diri. Kaluarga sangat penting untuk pembentukan konsep diri anak dan masukan negatif pada masa ini akan menciptakan penurunan harga diri dimana orang tersebut sebagai orang dewasa akan bekerja keras untuk mengatasinya. 4. Anak usia sekolah Pada masa ini seorang anak menggabungksn umpan balik dari teman sebaya dan guru. Dengan anak memasuki usia sekolah, pertumbuhan menjadi cepat dan lebih banyak didapatkan keterampilan motorik, sosial dan intelektual. Tubuh anak berubah, dan identitas seksual menguat, rentan perhatian meningkat dan aktivitas membaca memungkinkan ekspansi konsep diri melalui imajinasi ke dalam peran, perilaku dan tempat lain. Konsep diri dan citra tubuh dapat berubah pada saat ini karna anak terus berubah secara fisik, emosional, mental dan sosial. 5. Masa remaja Masa remaja membawa pergolakan fisik, emosional, dan sosial. Sepanjang maturasi seksual, perasaan, peran, dan nilai baru harus diintegrasikan ke dalam diri. Pertumbuhan yang cepat yang diperhatikan oleh remaja dan orang lain adalah faktor penting dalam penerimaan dan perbaikan citra tubuh. Perkembangan konsep diri dan citra tubuh sangat berkaitan erat dengan pembentukan identitas. Pengamanan dini mempunyai efek penting. Pengalaman yang positif pada masa kanan-kanak memberdayakan remaja untuk merasa baik tentang diri mereka. Pengalaman negatif sebagai anak dapat mengakibatkan konsep diri yang buruk. Mereka mengumpulkan berbagai peran perilaku sejalan dengan mereka menetapakan rasa identitas. 6. Masa dewasa muda Pada masa dewasa muda perubahan kognitif, sosial dan perilaku terus terjadi sepanjang hidup. Dewasa muda adalah periode untuk memilih. Adalah periode untuk menetapakan tanggung jawab, mencapai kestabilan dalam pekerjaan dan mulai melakukan hubungan erat. Dalam masa ini konsep diri dan citra tubuh menjadi relatif stabil. Konsep diri dan citra tubuh adalah kreasi sosial, penghargaan dan penerimaan diberikan untuk penampilan normal dan perilaku yang sesuai berdasarkan standar sosial. Konsep diri secara konstan terus berkembang dan dapat diidentifikasi dalam nilai, sikap, dan perasaan. 7. Usia dewasa tengah Usia dewasa tengah terjadi perubahan fisik seperti penumpukan lemak, kebotakan, rambut memutih dan varises. Tahap perkembangan ini terjadi sebagai akibat perubahan dalam produksi hormonal dan sering penurunan dalam aktivitas mempengarui citra tubuh yang selanjutnya dapat mengganggu konsep diri. Tahun usia tengah sering merupakan waktu untuk mengevaluasi kembali pengalaman hidup dan mendefinisikan kembali tentang diri dalam peran dan nilai hidup. Orang usia dewasa tengah yang manerima usia mereka dan tidak mempunyai keinginan untuk kembali pada masa-masa muda menunjukkan konsep diri yang sehat. 8. Lansia Parubahan pada lansia tampak sebagai penurunan bertahap struktur dan fungsi. Terjadi penurunan kekuatan otot dan tonus otot. Konsep diri selama masa lansia dipengaruhi oleh pengalaman sepanjang hidup. Masa lansia adalah waktu dimana orang bercermin pada hidup mereka, meninjau kembali keberhasilan dan kekecewaan dan dengan demikian menciptakan rasa kesatuan dari makna tentang diri makna tentang diri mereka dan dunia membentu generasi yang lebih muda dalam cara yang positif sering lansia mengembangkan perasaan telah meninggalkan warisan. D.Factor-faktor yang mempengaruhi konsep diri Adapun factor-faktor yang mempengaruhi pembentukan konsep diri adalah sebagai berikut : 1. Tingkat perkembangan dan kematangan Perkembangan anak seperti dukungan mental, perlakuan dan pertumbuhan anak akan mempengaruhi konsep dirinya. 2. Budaya Dimana pada usia anak-anak nilai-nilai akan diadopsi dari orang tuanya, kelompoknya dan lingkungannya. Orang tua yang bekerja seharian akan membawa anak lebih dekat pada lingkungannya. 3. Sumber eksternal dan internal Dimana kekuatan dan perkembangan pada individu sangat berpengaruh terhadap konsep diri. 4. Pengalaman sukses dan gagal Ada kecendrungan bahwa riwayat sukses akan meningkatkan konsep diri demikian pula sebaliknya. 5. Stresor Stresor menantang kapasitas adaptif seseorang. Selye (1956) menyatakan bahwa stres adalah kehilangan dan kerusakan normal dari kehidupan, bukan hasil spesifik tindakan seseorang atau respon khas terhadap sesuatu. Proses normal dari kematangan dan perkembangan itu sendiri adalah stresor. Stresor konsep diri adalah segala perubahan nyata atau yang diserap yang mengancam identitas, citra tubuh, harga diri, atau perilaku peran. a) Stresor identitas Identitas didefinisikan sebagai pengorganisasian prinsip dari system kepribadian yang bertanggung jawab terhadap kesatuan, kontinuitas, keunikan, dan konsistensi dari kepribadian. Identitas dipengaruhi oleh stresor seumur hidup. Bingung identitas terjadi ketika seseorang tidak mempertahankan identitas personal yang jelas, konsisten, dan terus sadar. Kebingungan identitas dapat terjadi kapan saja dalam kehidupan jika seseorang tidak mampu mengatasi stresor identitas. Dalam stress ekstrem seorang individu dapat mengalami depersonalisasi, yaitu suatu keadaan dimana realitas internal dan eksternal atau perbedaan antara diri dan orang lain tidak dapat ditetapkan. b) Stresor citra tubuh Perubahan dalam penampilan, struktus atau fungsi bagian tubuh akan membutuhkan perubahan dalam citra tubuh. Makna dari kehilangan fungsi atau perubahan dalam penampilan dipengaruhi oleh persepsi individu tentang perubahan yang dialaminya. Citra tubuh terdiri atas elemen ideal dan nyata. Seorang wanita yang memasukkan payudara sebagai citra tubuhnya dalam elemen ideal, maka kehilangan payudara akibat mastektomi dapat menjadi perubahan yang signifikan. Makin besar makna penting dari tubuh atau bagian spesifik, maka makin besar ancaman yang dirasakan akibat perubahan dalam citra tubuh. c) Stresor harga diri Harga diri adalah rasa dihormati, diterima, kompeten dan bernilai. Banyak stresor mempengaruhi harga diri seorang bayi, usia bermain, prasekolah dan remaja. Ketidakmampuan untuk memenuhi harapan orang tua, kritik tajam, hukuman yang yang tidak konsisten, persaingan antara saudara sekandung, dan kekalahan yanmg berulang dapat menurunkan tingkat nilai diri. Stresor pada orang dewasa mencakup ketidakberhasilan dalam pekerjaan dan kegagalan dalam hubungan. d) Stresor peran Peran membentuk pola perilaku yang diterima secara sosial yang berkaitan dengan fungsi seorang individu dalam berbagai kelompok sosial. Sepanjang hidup orang menjalani berbagai perubahan peran. Perubahan normal yang berkaitan dengan pertumbuhan dan maturasi mengakibatkan transisi perkembangan. Masing-masing dari transisi dapat mengancam konsep diri yang mengakibatkan konflik peran, ambiguitas peran atau ketegangan peran. 1) Konflik peran Konflik peran adalah tidak adanya kesesuaian harapan peran. Jika seseorang diharuskan untuk secara bersamaan menerima dua peran atau lebih yang tidak konsisten, berlawanan, atau sangat eksklusif maka dapat terjadi konflik peran. Terdapat tiga jenis dasar konflik peran yaitu : a. Konflik interpersonal terjadi ketika satu orang atau lebih mempunyai harapan yang berlawanan atau tidak cocok secara individu dalam peran tertentu. b. Konflik antar-peran terjadi ketika tekanan atau harapan yang berkaitan dengan satu peran melawan tekanan atau harapan yang saling berkaitan. c. Konflik peran personal terjadi ketika tuntutan peran melanggar nilai personal individu. 2) Ambiguitas peran Ambiguitas peran mencakup harapan peran yang tidak jelas. Ketika terdapat ketidakjelasan harapan, maka orang menjadi tidak pasti apa yang harus dilakukan, bagaimana harus melakukannya, atau keduanya. 3) Ketegangan peran Ketegangan peran adalah perpaduan antara konflik peran dan ambiguitas peran. Ketegangan peran dapat diekspresikan sebagai perasaan frustasi ketika seseorang merasakan tidak adekuat atau merasa tidak sesuai dengan peran. Kelebihan beban peran terjadi ketika seseorang individu tidak dapat memutuskan tekanan mana yang harus dipatuhi karna jumlah tuntutan yang banyak dan konflik prioritas. 6. Usia, keadaan sakit dan trauma Dimana usia tua dan keadaan sakit akan memengaruhi persepsi seseorang. E. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Konsep Diri 1) Orang Lain Harry Stack Sullivan menjelaskan bahwa jika kita diterima orang lain, dihormati, disenangi karena keadaan kita, kita akan cenderung bersikap menghormati dan menerima diri kita, bila orang lain selalu meremehkan kita, menyalahkan kita dan menolak kita, kita akan cenderung tidak akan menyenangi diri kita. 2) Kelompok Rujukan (reference group) Dalam pergaulan bermasyarakat, kita pasti menjadi anggota berbagai kelompok. Misalnya, kelompok organisasi yang ada dikampus. Setiap kelompok mempunyai norma-norma tertentu yang berpengaruh pada emosional kita dan menjadi pembentuk konsep diri kita. 3) Konsep Diri Positif Dan Negatif Setiap individu pasti memiliki konsep diri, baik konsep diri positif maupun konsep diri negatif. Dalam kenyataannya tidak ada individu yang sepenuhnya memiliki konsep diri yang positif atau sepenuhnya negatif. Seperti pendapat Hamachek dalam catur memberikan penegasan bahwa karakteristik individu yang memiliki konsep diri positif antara lain: 1. Konsep Diri Positif Konsep diri positif adalah seseorang yang memiliki prilaku antara lain: a. Ia meyakini betul nilai-nilai dan prinsip-prinsip tertentu serta bersedia mempertahankannya walaupun menghadapi pendapat kelompok yang kuat. b. Mampu bertindak berdasarkan penilaian yang baik tanpa merasa bersalah yang berlebihan atau menyesali tindakannya jika orang lain tidak setuju dengan tindakannya. c. Tidak menghabiskan waktu untuk hal yang tidak perlu. d. Merasa sama dengan orang lain. e. Memiliki keyakinan pada kemampuannya untuk mengatasi persoalannya. f. Sanggup menerima dirinya sebagai orang yang penting dan bernilai bagi orang lain. g. Dapat menerima pujian tanpa pura-pura rendah hati. h. Cenderung menolak usaha orang lain untuk mendominasinya. i. Sanggup mengaku pada orang lain bahwa ia mampu merasakan berbagai dorongan dan keinginan. j. Mampu menikmati dirinya secara utuh, dalam berbagai kegiatan meliputi pekerjaan, permainan, ungkapan diri yang kreatif, persahabatan atau sekedar mengisi waktu. Menurut William D. Brooks dan Philip Emmert individu yang memiliki konsep diri positif ditandai dengan lima hal, yaitu : a) Ia yakin akan kemampuannya mengatasi masalah. b) Ia merasa setara dengan orang lain. c) Ia menerima pujian tanpa rasa malu. d) Ia menyadari, bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak sepenuhnya disetujui masyarakat. e) Ia mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenangi dan berusaha mengubahnya. Ciri khas individu yang berkonsep diri positif adalah pengetahuan tentang dirinya sendiri yang luas dan bervariasi, harapan-harapan yang realistik dan harga diri yang tinggi. Individu yang berkonsep diri positif juga mempunyai pengetahuan yang seksama tentang dirinya sendiri dan ini menjadikan individu mempunyai penerimaan diri. Seseorang yang berkonsep diri positif menetapkan tujuan-tujuannya secara masuk akal. Dia dapat mengukur kemampuannya secara objektif dalam meraih tujuan yang hendak dicapainya. Mahasiswa Tunanetra yang berkonsep diri positif mempunyai kemampuan mentalnya, hal ini menyebabkan seseorang menerima dirinya sendiri sebagaimana adanya. Individu yang berkonsep diri positif akan mampu untuk bertindak mandiri, mampu bertanggung jawab, merasa bangga akan prestasi yang dicapainya dan mampu mempengaruhi orang lain. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konsep diri positif akan membawa kepribadian yang mantap, penerimaan diri sebagai seseorang yang sama berharga dengan orang lain, memberi kepuasan dalam kehidupannya dengan dunia sekitarnya tanpa harus menimbulkan gangguan mentalnya. 2.Konsep Diri Negatif Menurut William D. Brooks dan Philip Emmert ada lima tanda individu yang memiliki konsep diri negatif, yaitu : a) Ia peka pada kritik. Orang ini sangat tidak tahan kritik yang diterimanya, dan mudah marah dan naik pitam. b) Orang yang memiliki konsep diri negatif, responsif sekali terhadap pujian, ia tidak dapat menyembunyikan antusiasmenya pada waktu menerima pujian. c) Memiliki sikap hiperkritis terhadap orang lain. Ia selalu mengeluh, mencela atau meremehkan apapun dan siapapun. Mereka tidak mampu mengungkapkan penghargaan atau pengakuan pada kelebihan orang lain. d) Cenderung merasa tidak disenangi orang lain. Ia merasa tidak diperhatikan, dan ia bereaksi pada orang lain sebagai musuh sehingga tidak dapat melahirkan kehangatan dan keakraban persahabatan. e) Bersikap pesimis terhadap kompetisi seperti ia enggan untuk bersaing dengan orang lain dalam membuat prestasi. Ia menganggap tidak akan berdaya melawan persaingan yang merugikan dirinya. Ciri khas individu yang berkonsep diri negatif adalah ketidak akuratan pengetahuan tentang dirinya sendiri. Harapan-harapan yang tidak masuk akal dan harga diri yang rendah kadang-kadang menyebabkan mahasiswa Tunanetra kurang percaya diri akan kemampuannya. Individu yang mempunyai pemahaman atau pengetahuan yang kurang atau sedikit tentang dirinya, ia tidak sungguh-sungguh mengetahui siapa dia, apa kelebihan dan kekurangannya. Bagi mahaasiswa Tunanetra yang berkonsep diri negatif, evaluasi diri yang dimilikinya juga meliputi penilaian yang negatif terhadap dirinya, merasa tidak pernah cukup, baik dengan apa yang dirasakannya dan selalu membandingkan apa yang akan dicapai dengan yang dicapai orang lain. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konsep diri negatif akan cenderung membuat individu bersikap tidak efektif, ini akan terlihat dari kemampuan interpersonal dan penguasaan lingkungan dalam masyarakat. F.Konsep Diri dan Perilaku Konsep diri mempunyai peranan penting dalam menentukan tingkah laku seseorang. Bagaimana seseorang memandang dirinya akan tercermin dari keseluruhan perilakunya. Artinya, perilaku individu akan selaras dengan cara individu memandang dirinya sendiri. Apabila individu memandang dirinya sebagai orang yang tidak mempunyai cukup kemampuan untuk melakukan suatu tugas, maka seluruh perilakunya akan menunjukkan ketidakmampuannya tersebut. Menurut Felker (1974), terdapat tiga peranan penting konsep diri dalam menentukan perilaku seseorang, yaitu: Pertama, self-concept as maintainer of inner consistency. Konsep diri memainkan peranan dalam mempertahankan keselarasan batin seseorang. Individu senantiasa berusaha untuk mempertahankan keselarasan batinnya. Bila individu memiliki ide, perasaan, persepsi atau pikiran yang tidak seimbang atau saling bertentangan, maka akan terjadi situasi psikologis yang tidak menyenangkan. Untuk menghilangkan ketidakselarasan tersebut, individu akan mengubah perilaku atau memilih suatu sistem untuk mempertahankan kesesuaian antara individu dengan lingkungannya. Cara menjaga kesesuaian tersebut dapat dilakukan dengan menolak gambaran yang diberikan oleh lingkungannya mengenai dirinya atau individu berusaha mengubah dirinya seperti apa yang diungkapkan lingkungan sebagai cara untuk menjelaskan kesesuaian dirinya dengan lingkungannya. Kedua, self-concept as an interpretation of experience. Konsep diri menentukan bagaimana individu memberikan penafsiran atas pengalamannya. Seluruh sikap dan pandangan individu terhadap dirinya sangat memengaruhi individu tersebut dalam menafsirkan pengalamannya. Sebuah kejadian akan ditafsirkan secara berbeda antara individu yang satu dengan individu lainnya, karena masing¬masing individu mempunyai sikap dan pandangan yang berbeda terhadap diri mereka. Tafsiran negatif terhadap pengalaman hidup disebabkan oleh pandangan dan sikap negatif terhadap dirinya sendiri. Sebaliknya, tafsiran positif terhadap pengalaman hidup disebabkan oleh pandangan dan sikap positif terhadap dirinya. Ketiga, self-concept as set of expectations. Konsep diri juga berperan sebagai penentu pengharapan individu. Pengharapan ini merupakan inti dari konsep diri. Bahkan McCandless sebagaimana dikutip Fellcer (1974) menyebutkan bahwa konsep diri seperangkat harapan¬harapan dan evaluasi terhadap perilaku yang merujuk pada harapan-harapan tersebut. Siswa yang cemas dalam menghadapi ujian akhir dengan mengatakan "saya sebenarnya anak bodoh, pasti saya tidak akan mendapat nilai yang baik", sesungguhnya sudah mencerminkan harapan apa yang akan terjadi dengan hasil ujiannya. Ungkapan tersebut menunjukkan keyakinannya bahwa ia tidak mempunyai kemampuan untuk memperoleh nilai yang baik. Keyakinannya tersebut mencerminkan sikap dan pandangan negatif terhadap dirinya sendiri. Pandangan negatif terhadap dirinya menyebabkan individu mengharapkan tingkah keberhasilan yang akan dicapai hanya pada taraf yang rendah. Patokan yang rendah tersebut menyebabkan individu bersangkutan tidak mempunyai motivasi untuk mencapai prestasi yang gemilang (Pudjijogyanti, 1988). BAB III PENUTUP A.KESIMPULAN Konsep diri secara fisiologis, emosional dan social dibentuk berdasarkan reaksi orang lain terhadap seseorang dan kemudian oleh interpretasi individu tentang reaksi ini pada diri sendiri. Komponen konsep diri adalah identitas, citra tubuh, harga diri dan peran yang dapat dipengaruhi oleh peran kesehatan, pengalaman keluarga, social dan okupasi, serta aktivitas intelektual dan kesenangan. Identitas adalah rasa konsisten dari berbagai individu yang berbeda dari orang lain. Stresor identitas selama masa remaja dapat menimbulkan kebingungan identitas. Citra tubuh adalah gambaran mental tubuh seseorang yang dipengaruhi oleh pertumbuhan dan perkembangan, nilai dan sikap budaya dan social, dan persepsi individu tantang tubuh. Stresor citra tubuh mencakup perubahan dalam penampilan fisik, struktur atau fungsi tubuh. Harga diri bergantung pada persepsi seseorang tentang ideal diri dan stresor harga diri meliputi perkembangan dan hubungan, penyakit, pembedahan serta respon individu lain terhadap perubahan individu yang di akibatkan oleh kejadian ini.

Dapat Pahala Haji Mabrur, Tetapi Tidak Haji

Sa'id Ibnu Muhafah, Tukang Sol sepatu yang mendapatkan pahala haji mabrur padahal ia tidak haji. Suatu ketika Hasan Al-Basyri menunaikan ibadah haji. Ketika beliau sedang istirahat, beliau bermimpi. Dalam mimpinya beliau melihat dua Malaikat sedang membicarakan sesuatu. "Rasanya orang yang menunaikan haji tahun ini, banyak sekali" Komentar salah satu Malaikat "Betul" Jawab yang lainya "Berapa kira - kira jumlah keseluruhan?" "Tujuh ratus ribu" "Pantas" "Eh, kamu tahu nggak, dari jumlah tersebut berapa kira - kira yang mabrur", selidik Malaikat yang mengetahui jumlah orang - orang haji tahun itu . "Wah, itu sih urusan Allah" "Dari jumlah itu, tak satupun yang mendapatkan haji Mabrur" "Kenapa?" "Macam - macam, ada yang karena riya', ada yang tetangganya lebih memerlukan uang tapi tidak dibantu dan dia malah haji, ada yang hajinya sudah berkali-kali, sementara masih banyak orang yang tidak mampu, dan berbagai sebab lainnya." "Terus?" "Tapi masih ada, orang yang mendapatkan Pahala haji mabrur, tahun ini" "Lho, katanya tidak ada" "Ya, karena orangnya tidak naik haji" "Kok bisa" "Begitulah" "Siapa orang tersebut?" "Sa'id bin Muhafah, tukang sol sepatu di kota Damsyiq." Mendengar ucapan itu, Hasan Al-Basyri langsung terbangun. Sepulang dari Makkah, ia tidak langsung ke Mesir, melainkan langsung menuju kota Damsyiq (Siria). Sesampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa'id bin Muhafah. "Ada, ditepi kota," jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya. Sesampai disana Hasan Al-Basyri menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh. "Benarkah anda bernama Sa'id bin Muhafah?" tanya Hasan Al-Basyri. "Betul, kenapa?" Sejenak Hasan Al-Basyri kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaannya, akhirnya iapun menceritakan perihal mimpinya. "Sekarang saya tanya, adakah sesuatu yang telah anda perbuat,sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur, barangkali mimpi itu benar," selidik Hasan Al-Basyri sambil mengakhiri ceritanya. "Saya sendiri tidak tahu, yang pasti sejak puluhan tahun yang lalu saya memang sangat rindu Makkah, untuk menunaikan ibadah haji. Mulai saat itu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Dan pada tahun ini biaya itu sebenarnya telah terkumpul." "Tapi anda tidak berangkat haji" "Benar" "Kenapa?" "Waktu saya hendak berangkat ternyata istri saya hamil, dan saat itu dia ngidam berat." "Terus?" "Ngidamnya aneh, saya disuruh membelikan daging yang dia cium, saya cari sumberdaging itu, ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh, di situ ada seorang janda dan enam anaknya. Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin daging yang ia masak, meskipun secuil. Ia bilang tidak boleh, hingga saya bilang bahwa dijual berapapun akan saya beli, dia tetap mengelak. Akhirnya saya tanya kenapa?".. "Daging ini halal intuk kami dan haram untuk tuan," katanya. "Kenapa?" tanyaku lagi. "Karena daging ini adalah bangkai keledai, bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya tentulah kami akan mati kelaparan," jawabnya sambil menahan air mata. "Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang, saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis, akhirnya uang bekal hajiku kuberikan semuanya untuk dia." Mendengar cerita tersebut Hasan Al-Basyripun tak bisa menahan air mata."Kalau begitu engkau memang patut mendapatkannya," ucapnya. Wallahu a'lam. Kisah ini diceritakan oleh Imam dan Khotib Masjid Rohmah, Cairo Egypt. Shahih tidaknya tidak disebutkan. Meski demikian kisah ini perlu menjadi renungan.

Senin, 08 Oktober 2012

Dampak Masturbasi Terhadap Kesehatan Mental

Masturbasi adalah sebuah fenomena umum dan sering didiskusikan yang terdapat di mana-mana.. Pelakunya pun tidak terbatas pada jenis kelamin, usia maupun latar belakang sosial. Sebenarnya gejala masturbasi pada usia pubertas dan remaja, banyak sekali terjadi. Hal ini disebabkan oleh kematangan seksual yang memuncak dan tidak mendapat penyaluran yang wajar; lalu ditambah dengan rangsangan-rangsangan ekstern berupa buku-buku dan gambar porno, film biru, meniru kawan dan lain-lain Oleh sebagian orang, masturbasi dianggap sebagai sebuah kebiasaan yang menyenangkan. Tetapi pada kelompok lain justru dianggap merupakan aktivitas penodaan diri yang dapat menimbulkan kelainan psikosomatik dan aneka dampak buruk lainnya. Pada sebuah penelitian terungkap bahwa 95% pria dan 89% wanita dilaporkan pernah melakukan masturbasi Tujuan utama masturbasi adalah mencari kepuasan atau melepas keinginan nafsu seksual dengan jalan tanpa bersenggama. Akan tetapi masturbasi tidak dapat memberikan kepuasan yang sebenarnya. Berbeda dengan bersenggama yang dilakukan oleh dua orang yang berlawanan jenis. Mereka mengalami kesenangan, kebahagiaan, dan keasyikan bersama. Istilah masturbasi berasal dari kata latin “manasturbo” yang berarti rabaan atau gesekan dengan tangan (manu). Masturbasi secara umum didefenisikan sebagai rangsangan disengaja yang dilakukan pada organ genital untuk memperoleh kenikmatan dan kepuasan seksual. Namun pada kenyataannya, banyak cara untuk mendapatkan kepuasaan diri (self-gratification) tanpa mempergunakan tangan (frictionless masturbation), sehingga istilah masturbasi menjadi kurang mengena. Oleh karena itu, istilah “autoerotism” adalah istilah yang lebih mengena untuk menggambarkan fenomena ini. Berdasarkan cara melakukannya, masturbasi dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu : 1. Masturbasi sendiri (auto masturbation); stimulasi genital dengan menggunakan tangan, jari atau menggesek-gesekkannya pada suatu objek. 2. Masturbasi bersama (mutual masturbation); stimulasi genital yang dilakukan secara berkelompok yang biasanya didasari oleh rasa bersatu, sering bertemu dan kadang-kadang meluaskan kegiatan mereka pada pencurian (stealing) dan pengrusakan (vandalism). 3. Masturbasi psikis; pencapaian orgasme melalu fantasi dan rangsangan audio-visual. Sebagian besar pria yang melakukan masturbasi cenderung melakukannya lebih sering dibandingkan wanita, dan mereka cenderung menyatakan 'selalu' atau 'biasanya' mengalami orgasme ketika bermasturbasi (80 : 60). Ini adalah perilaku seksual yang paling umum nomor dua (setelah senggama), bahkan bagi mereka yang telah memiliki pasangan seksual tetap. Menurut penelitian, mereka yang biasanya melakukan masturbasi berumur antara tiga belas hingga dua puluh tahun. Pada umumnya yang melakukan masturbasi adalah mereka yang belum kawin, menjanda, menduda atau orang-orang yang kesepian atau dalam pengasingan. Anak laki-laki lebih banyak melakukan masturbasi daripada anak perempuan. Penyebabnya antara lain, pertama, nafsu seksual anak perempuan tidak datang melonjak dan eksplosit. Kedua, perhatian anak perempuan tidak tertuju kepada masalah senggama karena mimpi seksual dan mengeluarkan sperma (ihtilam) lebih banyak dialami laki-laki. Mimpi erotis yang menyebabkan orgasme pada perempuan terjadi jika perasaan itu telah dialaminya dalam keadaan terjaga. DAMPAK TERHADAP KESEHATAN MENTAL Impuls-impuls autoerotic (masturbasi) terdapat pada semua manusia. Perbedaannya hanya terletak pada bagaimana cara kita menyelesaikan dorongan-dorongan tersebut. Beberapa dari kita merepresikan dorongan tersebut untuk memuaskan dirinya, sementara yang lain mengekspresikan keinginannya untuk mendapatkan pemuasan seksual. Salah satu dorongan manusia yang sering menyebabkan manusia mendapat kesulitan pribadi dan sosial adalah dorongan seksual, yang pada kenyataannya sering menghadapkan manusia kepada suatu keadaan yang mendesak dan sangat membujuk untuk memperoleh pemuasan seksual dengan segera. Adanya persoalan seksual pada individu dapat menyebabkan individu yang bersangkutan sering dihadapkan pada keadaan yang seolah-olah ada kecenderungan untuk jatuh ke tingkat yang immature atau infantil dan setiap usaha untuk bertingkah laku seksual yang matur terhambat karenanya. Masturbasi memunculkan banyak mitos tentang akibatnya yang merusak dan memalukan. Citra negatif ini bisa dilacak jauh ke belakang ke kata asalnya dari bahasa Latin, mastubare, yang merupakan gabungan dua kata Latin manus (tangan) dan stuprare (penyalahgunaan), sehingga berarti “penyalahgunaan dengan tangan”. Anggapan memalukan dan berdosa yang terlanjur tertanam disebabkan karena porsi “penyalahgunaan” pada kata itu hingga kini masih tetap ada dalam terjemahan moderen – meskipun para aparatur kesehatan telah sepakat bahwa masturbasi tidak mengakibatkan kerusakan fisik maupun mental. Tidak juga ditemukan bukti bahwa anak kecil yang melakukan perangsangan diri sendiri bisa mengalami celaka. Yang terjadi adalah, sumber kepuasan seksual yang penting ini oleh beberapa kalangan masih ditanggapi dengan rasa bersalah dan kecemasan karena ketidaktahuan mereka bahwa masturbasi adalah kegiatan yang aman, juga karena pengajaran agama berabad-abad yang menganggapnya sebagai kegiatan yang berdosa. Terlebih lagi, banyak di antara kita telah menerima pesan-pesan negatif dari para orang tua kita, atau pernah dihukum ketika tertangkap basah melakukan masturbasi saat kanak-kanak. Pengaruh kumulatif dari kejadian-kejadian ini seringkali berwujud kebingungan dan rasa berdosa, yang juga seringkali sukar dipilah. Saat di mana masturbasi menjadi begitu berbahaya adalah ketika ia sudah merasuk jiwa (kompulsif). Masturbasi kompulsif – sebagaimana perilaku kejiwaan yang lain – adalah pertanda adanya masalah kejiwaan dan perlu mendapatkan penanganan dari dokter jiwa. Fase akhir jika masturbasi konfulsif tidak diselesaikan dengan tepat adalah munculnya fenomena sexual addicted, sebuah ketagihan akan kegiatan-kegiatan seksual. Secara fisik, masturbasi dapat menyebabkan kelecetan atau rusaknya mukosa dan jaringan lain dari organ genitalia yang bersangkutan, baik akibat penggunaan alat bantu masturbasi atau hanya dengan menggunakan tangan dan jemari. Masturbasi memerlukan pengobatan hanya apabila sudah ada gejala-gejala abnormal, bias berupa sikap yang tidak tepat dari orang tua yang telah banyak menimbulkan kecemasan, kegelisahan, ketakutan, perasaan bersalah/dosa, menarik diri atau adanya gangguan jiwa yang mendasari, seperti gangguan kepriadian neurosa, perversi maupun psikosa. a. Farmakoterapi: 1. Pengobatan dengan estrogen (eastration) Estrogen dapat mengontrol dorongan-dorongan seksual yang tadinya tidak terkontrol menjadi lebih terkontrol. Arah keinginan seksual tidak diubah. Diberikan peroral. Efek samping tersering adalah ginecomasti. 2. Pengobatan dengan neuroleptik a) Phenothizine Memperkecil dorongan sexual dan mengurangi kecemasan. Diberikan peroral. b) Fluphenazine enanthate Preparat modifikasi Phenothiazine. Dapat mengurangi dorongan sexual lebih dari dua-pertiga kasus dan efeknya sangat cepat. Diberikan IM dosis 1cc 25 mg. Efektif untuk jangka waktu 2 pekan. 3. Pengobatan dengan transquilizer Diazepam dan Lorazepam berguna untuk mengurangi gejala-gejalan kecemasan dan rasa takut. Perlu diberikan secara hati-hati karena dalam dosis besar dapat menghambat fungsi sexual secara menyeluruh. Pada umumnya obat-obat neuroleptik dan transquilizer berguna sebagai terapi adjuvant untuk pendekatan psikologik. b. Psikoterapi Psikoterapi pada kebiasaan masturbasi mesti dilakukan dengan pendekatan yang cukup bijaksana, dapat menerima dengan tenang dan dengan sikap yang penuh pengertian terhadap keluhan penderita. Menciptakan suasana dimana penderita dapat menumpahkan semua masalahnya tanpa ditutup-tutupi merupakan tujuan awal psikoterapi. Pada penderita yang datang hanya dengan keluhan masturbasi dan adanya sedikit kecemasan, tindakan yang diperlukan hanyalah meyakinkan penederita pada kenyataan yag sebenarnya dari masturbasi. Pada kasus-kasus adolescent, kadang-kadang psikoterapi lebih kompleks dan memungkinkan dilakukan semacam interview sex education. Psikotherapi dapat pula dilakukan dengan pendekatan keagamaan dan keyakinan penderita. c. Hypnoterapi Self-hypnosis (auto-hypnosis) dapat diterapkan pada penderita dengan masturbasi kompulsif, yaitu dengan mengekspose pikiran bawah sadar penderita dengan anjuran-anjuran mencegah masturbasi.

Gangguan Pada Kepribadian

A. Pengertian kepribadian Terdapat berbagai definisi atau pengertian mengenai kepribadian. Kusumanto Setyonegoro mengatakan: kepribadian ialah expresi keluar dari pengetahuan dan perasaan yang dialami secara subyektif oleh seseorang. Definisi lain mengemukakan bahwa kepribadian ialah pola perilaku yang khas bagi seseorang yang menyebabkan orang itu dapat dikenal dari pola perilakunya itu. Atau kepribadian menunjuk pada keseluruhan pola pikiran, perasaan dan perilaku yang sering digunakan oleh seseorang dalam usaha adaptasi yang terus-menerus dalam hidupnya. Jadi : kepribadian meliputi segala corak perilaku manusia yang terhimpun dalam dirinya dan yang digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan dirinya terhadap segala rangsang, baik yang datang dari lingkungannya (dunia luar-nya), maupun yang berasal dari dirinya sendiri (dunia dalam-nya), sehingga corak perilakunya itu merupakan suatu kesatuan fungsional yang khas bagi mereka itu. Terdapat tiga kelompok pengertian kepribadian, yait pengertian popular, falsafat, dan empiric. Kepribadian dalam arti kata popular sama dengan kualitas seseorang yang menyebabkan ia disenangi atau tidak disenangi oleh orang lain. Kepribadian dalam arti falsafat ialah sesuatu yang rasional (dapat berfikir, mempunyai daya penalaran) dan individual (merupakan kesatuana yang dapat berdiri sendiri, mempunyai cirri-ciri khas). Kepribadian itu merupakan inti manusia yang mengatur dan mengawasi perilakunya secara tidak dapat dilihat oleh orang lain dan yang merupakan penyebab utama segala sesuatu yang berhubungan dengan manusia itu. Kepribadian dalam arti empiris ialah jumlah perilaku yang dapat diamati dan yang mempunyai cirri-ciri biologic, psikologik, sosiologik dan moral yang khas baginya, yang dapat membedakannya dari kepribadian yang lain. Akan tetapi harus diingat bahwa jumlah perilaku atau jumlah sifat seseorang tidak sama dengan kepribadiannya yang sebenarnya. Perilaku dan sifat hanya merupakan manifestasi kepribadian orang itu. Dengan mempelajari perilaku atau sifat-sifat kepribadian seseorang, maka kita dapat menyelami kepribadian yang sebenarnya. 1. Berbagai jenis gangguan kepribadian Klasifikasi gangguan kepribadian disini memakai pedoman penggolongan diagnose gangguan jiwa ke-1 (PPDGJ-1) sebagai berikut: 1. Kepribadian paranoid Kepribadian paranoid ialah suatu gangguan kepribadian dengan sifat curiga yang menonjol; orang seperti ini mungkin agresif dan setiap orang yang lain dilihat sebagai seorang agresor terhadapnya, ia harus mempertahankan dirinya. Ia bersikap sebagai pemberontak dan angkuh untuk menahan harga diri, sering ia mengancam orang lain sebagai akibat proyeksi rasa bermusuhannya sendiri. Dengan demikian ia kehilangan teman-teman dan mendapatkan banyak musuh. Dalam kepribadian paranoid kita menemukan secara berlebihan kecenderungan yang sudah umum, yaitu suka melemparkan tanggung jawab kepada orang lain, menolak a priori sifat-sifat orang lain yang tidak memenuhi ukuran yang telah dibuatnya sendiri. Untuk mempertahankan rasa harga diri, dibuatnya keterangan yang tak masuk akal tentang kesalahan-kesalahannya, tetapi yang memuaskan emosinya sendiri. Sering di duganya bahwa orang lainlah yang tidak adil, bermusuhan dan agresif. PPDGJ-1 menyebutkan dua sub-jenis dalam jenis kepribadian paranoid, yaitu: 1) Kepribadian yang mudah tersinggung, yang bereaksi terhadap pengalaman tertentu sehari-hari secara berlebihan dengan rasa menyerah dan rendah diri, serta cenderung untuk menyalahkan orang lain mengenai pengalaman itu. 2) Kepribadian yang lebih agresif dan kasar serta yang sangat peka terhadap apa yang dianggap haknya. Biasanya individu ini mudah sekali tersinggung bila hak-nya dilanggar dan sangat gigih mempertahankan hak-nya itu. Persamaan utama kedua sub-jenis ini ialah sifat curiga serta terlalu lekas merasakan bahwa sesuatu hal tertuju pada dirinya dan mudah sekali tersinggung 2. Kepribadian afektif atau siklotimik Yang menonjol pada kepribadian afektif atau siklomatik ialah afek yang berubah-ubah antara depresi dan efori. Perubahan-perubahan ini tidak langsung karena penyebab dari luar. Individu ini dapat menarik banyak teman karena sifatnya yang ramah tamah, hangat dan gembira, tetapi ia terkenal sebagai orang yang tak dapat diramalkan. Semangatnya dapat mendekati rasa keagungan, tetapi ia tidak menyadari hal ini dan karenanya jarang meminta pertolongan pengobatan. Dalam keadaan depresi ia cemas, khawatir, pesimistik dan nihilistic. 3. Kepribadian schizoid Sifat-sifat kepribadian ini ialah pemalu, suka menyendiri, perasa, pendiam, menghindari hubungan jangka panjang dengan orang lain. Individu ini menunjukkan respons yang terbatas terhadap isyarat atau rangsangan social. Ciri utama cara menyesuaikan dan membela dirinya ialah menarik diri, mengasingkan diri, dan sering aneh (eksentrik). Terdapat juga cara pemikiran otistik, melamun berlebihan dan ketidak-mampuan menyatakan rasa permusuhan. 4. Kepribadian explosive Individu dengan kepribadian ini memperlihatkan sifa yang lain dari perilakunya sehari-hari, yaitu ledakan-ledakan amarah dan agresivitas terhadap stress yang kecil saja. Segera sesudahnya ia menyesal atas kejadian itu, tetapi hanya sebentar. Pada waktu kejadian itu ia tidak dapat menguasai dirinya, sebab mungkin karena ledakan afektif itu terjadi disorganisasi pada persepsi, penilaian dan pemikirannya. 5. Kepribadian anankastik atau obsesi-kompulsif Orang dengan kepribadia anankastik sering menangguhkan pernikahan karena harapan dan tuntutan yang berlebihan mengenai calon istri/suaminya dan juga karena ia sangat ragu-ragu dalam mengambil keputusan yang sangat penting (biasanya ia berani mengambil keputusan penting bila sudah merasa aman, tuntutan atau harapannya sangat tinggi). Bila ia sudah menikah, maka hidup emosi antara suami-istri sering terpisah jauh. Bila ia dipaksa bekerja dalam keadaan yang tidak dapat diawasinya, ia menjadi cemas, marah, benci dan curiga terhadap atasannya. Bila ia dilangkahi dalam promosi atau pujian, maka ia manjadi sangat iri-hati dan benciserta mengalami frustasi yang besar. Bila ia dinaikkan pangkat, ia mungkin menjadi bingung dalam menyerahkan tugas kepada orang lain yang kemampuannya dinilai kurang dari padanya. 6. Kepribadian histerik Kepribadian histerik (atau histrionik) biasanya sombong, egosentrik, tidak stabil emosinya, menarik perhatian dengan afek yang labil, lekas tersinggung, tetapi dangkal. Perilakunya yang dramatis dan menarik perhatian dapat mengakibatkan ia berdusta serta menunjukkan psedologia fantastika (menceritakan sesuatu secara luas dan terperinci tanpa dasar fakta). Ia sadar akan sex dan kelihatan provoaktif, menggairahkan, menggoda, tetapi ia mungkin disngin (frigid) dan menuntut secara dependent dalam hubungan antar-manusia. Dalam keadaan stress ia mungkin menunjukkan gangguan daya menguji kenyataan, fantasi yang hebat dan keyakinan tentang motif lain yang sudah mendekati waham. Ia tidak dapat menyatakan perasaan secara tepat dan sering menggunakan gerakan badaniah dalam komunikasi. Kepribadian lebih sering terjadi pada kaum wanita. 7. Kepribadian astenik Tidak terdapat gairah untuk menikmati kehidupan pada orang ini. Ia seumur hidup merasa lelah, lesu, tak bertenaga dan lemah untuk memulai sesuatu. Terdapat abulia (kekurangan kemauan) dan anhedonia (kekurangan kemampuan menikmati sesuatu). Orang ini tidak sanggup menahan hidup yang normal sehari-hari. Vitalitas, emosionalitas dan motilitasnya sangat kurang. Libidonya lemah. Karir pekerjaan atau pernikahan dielakkan atau hanya dengan susah payah dipertahankan. 8. Kepribadian antisocial PPDGJ-1 memberikan pengertian individu dengan kepribadian antisocial sebagai orang yang pada dasarnya tidak tersosialisasi. Perilakunya berulang-ulang membawanya ke dalam konflik dengan masyarakat. Ia tidak mempunyai loyalitas terhadap kelompoknya ataupun terhadap norma-norma social. Ia pada umumnya egosentrik, tidak bertanggung jawab, impulsive, tidak mampu mengubah diri, baik karena pengalaman maupun karena hukuman. Toleransinya terhadap kekecewaan rendah dan cenderung menyalahkan orang lain atau member alas an yang masuk akal mengenai perilakunya. 9. Kepribadian pasif-agresif Dalam jenis ini terdapat dua sub-jenis, yaitu : pasif-dependent dan pasif-agresif. Orang yang pasif-dependent senantiasa berfikir, bertindak dan merasa bahwa kebutuhannya akan ketergantungan itu akan dipenuhi secara menakjubkan. Orang yang pasif-agresif merasa bahwa kebutuhannya akan ketergantungan tidak pernah dipenuhi. Ia menunjukkan penangguhan (penundaan) dan sikap keras, agar diterima dan diberi dengan murah hati apa yang diharapkannya dengan sangat. Kepribadian pasif-agresif ini di tandai oleh sifat pasif dan agresif. Agresivitas ini dapat dinyatakan secara pasif dengan cara menghambat, bermuka-asam, malas, menyabot dan keras kepala. Perilakunya biasanya merupakan pencerminan rasa permusuhan yang tidak pernah dinyatakan secara terang-terangan atau pencerminan rasa tidak puas terhadap seseorang ataupun situasi yang padanya individu sangat menggantungkan dirinya. 10. Kepribadian inadequate Penderita dengan gangguan kepribadian ini berkali-kali tidak memenuhi harapan para teman dan kenalannya dalam hal respons terhadap tuntutan emosional, intelektual, social dan fisik. Menurut penderita sendiri kemampuannya yang rendah ini wajar dan tidak dapat dielakkan. Penilaian penderita ini sering kurang, ia tidak dapat membuat rancangan jangka panjang dan tak mampu melaksanakan tugas. Penyesuian dirinya pada taraf perbatasan, sering ia pindah pekerjaan dengan hanya sedikit keprihatinan tentang masa depannya atau ia tetap pada satu pekerjaan yang tidak mempunyai tuntutan terlalu banyak. B. Sistematika dalam melakukan teknik analisa terhadap berbagai bentuk gangguan kepribadian. a) Diagnosis a. Kepribadian paranoid  Kepekaan berlebihan terhadap kegagalan dan penolakan  Kecenderungan untuk tetap menyimpan dendam, misalnya menolak untuk memaafkan suatu penghinaan dan luka hati atau masalah kecil  Kecurigaan dan kecenderungan yang mendalam untuk mendistorsi-kan pengalaman dengan menyalah-artikan tindakan orang lain yang netral atau bersahabat sebagai suatu sikap permusuhan atau penghinaan.  Perasaan bermusuhan dan ngotot tentang hak pribadi tanpa memperhatikan situasi yang ada (actual situation)  Kecurigaan yang berulang, tanpa dasar (justification), tentang kesetiaan seksual dari pasangannya  Kecenderungan untuk merasa dirinya penting secara berlebihan, yang bermanifestasi dalam sikap yang selalu merujuk ke diri sendiri (self-referential attitude)  Preokupasi dengan penjelasan-penjelasan yang bersekongkol dan tidaknsubstantif dari suatu peristiwa, baik yang menyangkut diri pasien sendiri maupun dunia pada umumya. b. Kepribadian afektif  Gangguan ini tersifat oleh episode berulang (sekurang-kurangnya dua episode) dimana afek pasien dan tingkat aktivitasnya jelas terganggu, pada waktu tertentu terdiri dari peningkatan afek disertai penambahan energy dan aktivitas (mania atau hipomania), dan pada waktu lain berupa penurunan afek disertai pengurangan energy dan aktivitas (depresi). c. Kepribadian schizoid  Sedikit (bila ada) aktivitas yang memberikan kesenangan  Emosi dingin, afek mendatar atau tak peduli (detachment)  Kurang mampu untuk meng-ekspresi-kan kehangatan, kelembutan atau kemarahan terhadap orang lain  Tampak nyata ketidak-pedulian baik terhadap pujian maupun kecaman  Kurang tertarik untuk mengalami pengalaman seksual dengan orang lain (perhitungan usia penderita)  Hamper selalu memilih aktivitas yang dilakukan sendiri  Preokupasi dengan fantasi dan introspeksi yang berlebihan  Tidak mempunyai teman dekat atau hubungan pribadi yang akrab (kalau ada hanya satu) dan tidak ada keinginan untuk menjalin hubungan seperti itu  Sangat tidak sensitive terhadap norma dan kebiasaan social yang berlaku d. Kepribadian explosive  Terjadinya ledakan-ledakan amarah dan agresivitas terhadap stress yang kecil saja  Penyesalan yang bersifat sesaat  Terdapat kecenderungan yang mencolok untuk bertindak secara impulsive tanpa mempertimbangkan konsekuensinya, bersamaan dengan ketidak-stabilan emosi  Dua varian yang khas adalah berkaitan dengan impulsivitas dan kekurangan pengendalian diri. e. Kepribadian anankastik atau obsesi-kompulsif  Perasaan ragu-ragu dan hati-hati yang berlebihan  Preokupasi dengan hal-hal yang yang rinci (details), peraturan, daftar, urutan, organisasi atau jadwal  Perfeksionisme yang mempengaruhi penyelesaian tugas  Ketelitian yang berlebihan, terlalu berhati-hati, dan keterikatan yang tidak semestinya pada produktivitas sampai mengabaikan kepuasan dan hubungan interpersonal  Keterpakuan dan keterikatan yang berlebihan pada kebiasaan social  Kaku dan keras kepala  Pemaksaan yang tak beralasan agar orang lain mengikuti persis caranya mengerjakan sesuatu, atau keengganan yang tak beralasan untuk mengizinkan orang lain mengerjakan sesuatu  Mencampur-adukan pikiran atau dorongan yang memaksa dan yang enggan. f. Kepribadian histerik  Ekspresi emosi yang dibuat-buat (self-dramatization), seperti bersandiwara (thatricality), yang dibesar-besarkan (exaggerated)  Bersifat sugestif, mudah dipengaruhi oleh orang lain atau oleh keadaan  Keadaan afektif yang dangkal dan labil  Terus-menerus mencari kegairahan (excitement), penghargaan (appreciation) dari orang lain, dan aktivitas dimana pasien menjadi pusat perhatian.  Penampilan atau perilaku merangsang (seductive) yang tidak memadai  Terlalu peduli dengan daya tarik fisik. g. Kepribadian astenik  Tidak memiliki gairah dalam menikmati kehidupan  Sering merasa lelah, lesu, tak bertenaga dan lemah dalam melakukan sesuatu  Kurang memiliki kemauan menikmati sesuatu  Vitalitas, emosionalitas dan motilitas sangat kurang  Daya seksualnya lemah. h. Kepribadian antisocial  Bersikap tidak peduli dengan perasaan orang lain  Sikap yang amat tidak bertanggung jawab dan berlangsung terus menerus, serta tidak peduli terhadap norma, peraturan, dan kewajiban social  Tidak mampu memelihara suatu hubungan agar berlangsung lama, meskipun tidak ada kesulitan untuk mengembangkannya.  Toleransi terhadap frustasi sangat rendah dan ambang yang rendah untuk melampiaskan agresi, termasuk tindakan kekerasan.  Tidak mampu mengalami rasa salah dan menarik manfaat dari pengalaman, khususnya dari hukuman.  Sangat cenderung menyalahkan orang lain, atau menawarkan rasionalisasi yang masuk akal, untuk perilaku yang membuat pasien konflik dengan masyarakat. i. Kepribadian pasif-agresif  Kepribadian pasif-agresif ini di tandai oleh sifat pasif dan agresif. Agresivitas ini dapat dinyatakan secara pasif dengan cara menghambat, bermuka-asam, malas, menyabot dan keras kepala. Perilakunya biasanya merupakan pencerminan rasa permusuhan yang tidak pernah dinyatakan secara terang-terangan atau pencerminan rasa tidak puas terhadap seseorang ataupun situasi yang padanya individu sangat menggantungkan dirinya. j. Kepribadian inadequate  Kecenderungan senantiasa tidak bisa memenuhi harapan teman dan kenalannya terhadap tuntutan emosional, intelektual, social, dan fisik  Merasa kemampuannya rendah  Kecenderungan kurang bisa membuat rancangan jangka panjang  Kurang bisa meyelesaikan tugas  Mempunyai sifat yang tidak menuntut terlalu banyak pekerjaan. b) Assesment  Kepribadian paranoid Psikoterapi suportif (sugesti dapat menghilangkan gejala-gejala secara dramatis), menemukan konflik, memakai dan menganalisa transferensi, pengertian tentang keadaan dan psikodinamikanya ditambah dengan tranquilaizer dapat membantu menghilangkan sebagaian besar kecurigaan. Penjaminan kembali hipnosa, terapi kelompok dan manipulasi lingkungan.  Kepribadian afektif Psikoterapi suportif dan pendidikan.  Kepribadian schizoid Psikoterapi suportif yang dalam hal ini penderita dibantu menjadi lebih bebas dalam perbuatannya supaya memiliki rasa percaya diri.  Kepribadian explosive Psikoterapi suportif  Kepribadian anankastik atau obsesi-kompulsif Psikoterapi suportif, penerangan dan pendidikan serta terapi perilaku.  Kepribadian histerik Psikoterapi suportif  Kepribadian astenik Psikoterapi suportif  Kepribadian antisocial Terapi individual maupun terapi kelompok  Kepribadian pasif-agresif Bimbingan, penerangan dan pendidikan  Kepribadian inadequate Terapi individual maupun terapi kelompok, bimbingan, penerangan dan pendidikan. c) Treatment  Kepribadian paranoid Bila diminta bantuan, maka dalam bimbingan dititik-beratkan pada pengalaman subyektif dalam pribadinya dan pada interaksi dengan dokter.  Kepribadian afektif Psikoterapi suportif dan pendidikan. yang dalam hal ini penderita perlu dibantu menjadi lebih percaya pada diri sendiri, dan bebas dalam perbuatannya  Kepribadian schizoid Psikoterapi suportif, bimbingan dalam cara hidup, anjuran untuk mengambil bagian dalam kegiatan social dan hubungan antar manusia.  Kepribadian explosive Individu ini sukar memahami bahwa perilakunya tidak wajar, rasa menyesalnya hanya sepintas lalu segera sesudah ledakan itu. Ia sering merasionalisasikan perilakunya dan menentang campur tangan orang lain. Hal ini semua menghambat pengobatan dan membuat prognosa menjadi jelek. Pada waktu episoda akut, bila perlu dimasukkan rumah sakit. Dengan bimbingan, anjuran, ventilasi, nasehat dan obat anti-cemas ada kemungkinan penderita pelan-pelan menjadi lebih matang.  Kepribadian anankastik atau obsesi-kompulsif Individu seperti ini sama sekali tidak merasa ia sakit, abnormal atau menyimpang. Ia tidak dapat dibawa untuk berobat oleh orang-orang di lingkungan yang menderita karenanya, juga karena perilakunya sering berguna dalam masyarakat atau pekerjaan. Bila ia mengalami gangguan badaniah atau gangguan psikiatrik yang lain sehingga ia mengunjungi seorang dokter, maka hubungan pasien dokter ini dapat dijadikan hubungan yang dependent pada dokter dalam jangka panjang. Dan dengan nasehat-nasehat serta efek placebo obat apa saja, maka paling sedikit keadaannya dan akibat pada lingkungannya dapat dicegah jangan sampai bertambah buruk.  Kepribadian histerik Dokter harus waspada bila pada permulaan pengobatan sudah kelihatan perbaikan, karena ini mungkin hanya untuk menyenagkannya. Karena kemampuan komunikasinya kurang, maka yang dibimbing ialah perilaku yang nyata saja. Perlu dibedakan dfari nervosa histerik yang timbul sesudah suatu stres.  Kepribadian astenik Perlu dibedakan dengan gangguan fisik yang dapat menyebabkan kelesuan umum, juga dengan nerosa nerastenik yang dimulai dengan suatu stress. Dilakukan manipulasi lingkungan agar lingkungan hidup penderita sesuai dengan daya tahan stresnya. Sugesti dan persuasi dapat menambah sedikit kemampuannya, tetapi dokter harus ingat akan keterbatasannya. Dapat dipakai obat stimulant. Bila terdapat depresi atau gejala-gejala skizofrenia, maka diberi anti depressant atau neroleptik.  Kepribadian antisocial Belum diketahui pengobatan yang optimal, tetapi dokter dapat membantu penderita dan keluarganya dalam mengambil keputusan tentang penanganan. Bila perlu dapat diadakan institusionalisasi untuk sementara waktu. Pada umumnya dapat dianjurkan kedua-duanya, baik terapi individual, maupun terapi kelompok.  Kepribadian pasif-agresif Nasehat dan bimbingan perilaku sehari-hari dapat mengurangi akibatnya pada diri sendiri dan lingkungannya. Bila perlu dapat diberi antidepressant atau obat neroleptik.  Kepribadian inadequate Kemampuan individu ini terbatas dan ia sering tidak mau berusaha untuk mengubah cara hidupnya. Psikoterapi individual dapat menimbulkan kecemasan yang tidak dapat ditahan dengan baik olehnya. d) Terminasi Dalam hal ini terapis berusaha untuk melepaskan penderita dalam terapinya. Artinya bahwa terapis disini dituntut supaya menjauhkan diri dari penderita, dan hal ini tidak semata-mata terapis sudah selesai dalam tugasnya. Akan tetapi terapis disini masih dituntut untuk memantau penderita yang sudah dilepaskan tanpa selalu ditemani oleh terapis. Hal ini diharapkan agar penderita tidak mengalami ketergantungan terhadap terapis dan supaya penderita sedikit demi sedikit bisa mandiri dan pastinya diharapkan bisa memperoleh progress dalam perkembangan selanjutnya. C. Facilitating dan restraining force pada gangguan kepribadian Berbicara terkait dengan hal-hal apa saja yang menjadi pendukung dan penghambat gangguan kepribadian ada begitu banyak, diantaranya sebagai berikut : 1. perkembangan badaniah yang salah perkembangan badaniah mempunyai suatu urut-urutan tertentu. Suatu halangan dalam hal ini dapat mengakibatkan gangguan perkembangan. Perilaku kita berdasarkan juga pada kualitas dan keutuhan fungsi susunan saraf dan perlengkapan badaniah lain. Setiap factor yang mengganggu perkembangan badaniah yang normal dapat dianggap sebagai suatu factor yang dapat menjadi penyebab perilaku yang abnormal. Factor-faktor ini mungkin dari : 1) factor keturunan gangguan yang berhubunga dengan kromosom sex dikatakan terikat pada sex, artinya bahwa defek genetic itu hanya terdapat pada kromosom sex. Kaum wanita ternyata lebih kurang peka terhadap gangguan yang terikat pada sex., karena mereka mempunyai dua kromosom X : bila satu tidak baik, maka yang lain biasanya akan melakukan pekerjaannya. Akan tetapi seorang pria hanya mempunyai satu kromosom X dan satu kromosom Y, dan bila salah satu tidak baik, maka terganggulah ia. 2) factor konstitusi hal ini pada umumnya menunjukkan kepada keadaan biologic seluruhnya, termasuk baik yang diturunkan, maupun yang didapati kemudian; umpamanya bentuk badan, sex. Tempramen, fungsi endokrin dan urat saraf serta jenis darah. 3) cacat congenital cacat congenital atau sejak lahir dapat mempengaruhi perkembangan anak, terlebih yang berat, seperti retardasi mental yang berat. Gangguan badaniah dapat mengganggu fungsi biologic atau psikologik secara langsung atau dapat mempengaruhi daya tahan terhadap stres. Akan tetapi pada umumnya pengaruh cacat ini tergantung pada individu itu, bagaimana ia menilai dan menyesuaikan diri terhadap keadaan hidupnya yang cacat. 2. perkembangan psikologik yang salah pada umumnya perkembangan psikologik yang salah mencakup : a. ketidakmatangan atau fiksasi, yaitu individu gagal berkembang lebih lanjut ke fase berikutnya b. tempat-tempat lemah yang ditinggalkan oleh pengalaman yang traumatic sebagai kepekaan terhadap jenis stress tertentu c. distorsi, yaitu bila individu mengembangkan sikap atau pola reaksi yang tidak sesuai atau gagal mencapai integrasi kepribadian yang normal.  Deprivasi dini Deprivasi maternal atau kehilangan asuhan ibu di rumah sendiri, terpisah dengan ibu atau di asrama, dapat menimbulkan perkembangan yang abnormal. Deprivasi rangsangan umum dari lingkungan bila sangat berat, ternyata berhubungan dengan retardasi mental. Deprivasi atau frustasi dini dapat menimbulkan tempat-tempat yang lemah pada jiwa, dapat mengakibatkan perkembangan yang salah ataupun perkembangan yang berhenti. Untuk perkembangan psikologik rupanya ada masa-masa gawat. Dalam masa ini rangsangan dan pengalaman belajar yang berhubungan dengannya serta pemuasan berbagai kebutuhan sangat perlu bagi urut-urutan perkembangan intelektual, emosional dan social yang normal.  Pola keluarga yang patogenik Dalam masa kanak-kanak keluarga memegang peranan penting dalam pembentukan kepribadian. Hubungan orang tua anak yang salah atau interaksi yang patogenik dalam keluarga sering merupakan sumber gangguan penyesuaian diri. Kadang-kadang orang tua berbuat terlalu banyak untuk anak dan tidak memberi kesempatan anak itu berkembang sendiri. Ada kalanya orang tua berbuat terlalu sedikit dan tidak merangsang anak itu atau tidak member bimbingan dan anjuran yang dibutuhkannya. Akan tetapi pengaruh cara asuhan anak tergantung pada keadaan social secara keseluruhan dimana hal itu dilakukan. Dan juga, anak-analk bereaksi secara berlainan terhadap cara yang sama dan tidak semua akibat adalah tetap; kerusakan dini sering diperbaiki sebagian oleh pengalaman di kemudian hari. Akan tetapi beberapa jenis hubungan orangtua-anak sering terdapat dalam latar belakang anak-anak yang terganggu, umpamanya penolkaan, perlindungan berlebihan, manja berlebihan, tuntutan perfeksionistik, standart moral yang kaku dan tidak realistic, disiplin yang salah, persaingan antarsaudara yang tidak sehat, contoh orang tua yang salah, ketidaksesuaian perkawinan dan rumahtangga yang berantakan, tuntutan yang bertentangan. 3. factor sosiologik dalam perkembangan yang salah Dalam kehidupan modern terdapat tidak sedikit bahaya terhadap pengarahan diri yang baik. Sukar untuk memperoleh dan mempertahankan identitas diri yang stabil di tengah-tengah perubahan-perubahan yang kompleks dan cepat. Alfin Toffler mengemukakan bahwa yang paling berbahaya di zaman modern, ialah kecepatan perubahan dan pergantian yang semakin cepat dalam hal ke-sementara-an, ke-baru-an dan ke-aneka-ragaman. Dengan demikian individu menerima rangsangan yang berlebihan sehingga kemungkinan terjadinya kekacauan mental lebih besar. Karena hal ini lebih besar kemungkinannya dalam masa depan, maka dinamakannya shock masa depan (future shock). Telah diketahui bahwa seseorang yang mendadak berada di tengah-tengah kebudayaan asing, dapat mengalami gangguan karena pengaruh kebudayaan yang serba baru dan asing baginya. Hal ini dinamakan shock kebudayaan (culture shock). Lebih ringkasnya factor-faktor yang mendukung dan menghammbat terjadinya gangguan dipengaruhi oleh dan saling mempengaruhi, diantaranya : 1. factor-faktor somatic (somatogenik) 1.1 neroanatomi 1.2 nerofisiologi 1.3 nerokimia 1.4 tingkat kematangan dan perkembangan organic 1.5 faktor-faktor pre-dan peri-natal 2. factor-faktor psikologik (psikogenik) 2.1 interaksi ibu-anak : normal (rasa percaya dan rasa aman) atau abnormal berdasarkan kekurangan, distorsi dan keadaan yang terputus (perasaan tak percaya dan kebimbangan). 2.2 peranan ayah 2.3 persaingan antar saudara kandung 2.4 intelegensi 2.5 hubungan dalam keluarga, pekerjaan, permainan dan masyarakat 2.6 kehilangan yang menakibatkan kecemasan, depresi, rasa malu atau rasa salah 2.7 konsep dini : pengertian identitas diri sendiri lawan peranan yang tidak menentu 2.8 ketrampilan, bakat dan kreativitas 2.9 pola adaptasi dan pembelaan sebagai reaksi terhadap bahaya 2.10 tingkat perkembangan emosi 3. factor-faktor sosio-budaya (sosiogenik) 3.1 kestsabilan keluarga 3.2 pola mengasuh anak 3.3 tingkat ekonomi 3.4 perumahan : perkotaan lawan pedesaan 3.5 masalah kelompok minoritas yang meliputi prasangka dan fasilitas kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan yang tidak memadai 3.6 pengaruh rasial dan keagamaan 3.7 nilai-nilai D. Konsep gangguan kepribadian menurut teori psikologi Ditinjau dari sudut pandang teori psikologi, maka gangguan kepribadian dapat dikategorikan atau diklasifikasikan ke dalam berbagai teori psikologi, diantarnya : 1. Sigmund freud memelopori dengan teori psikoanalisanya yang berkisar pada libido sebagai pendorong utama pada perilaku manusia. Freud mengemukakan pula suatu model topografik dan structural tentang kepribadian itu. 2. Beberapa murid freud, yang kemudian tidak setuju dengan tempat utama yang diberikan kepada libido itu, mengemukakan teori mereka itu sendiri, misalnya Adler dengan psikologi individualnya dan Jung dengan alam tak-sadar pribadi dan tipologinya. 3. Karen Horney, Sullivan dan Erick Fromm memasukkan unsure kebudayaan dan unsure hubungan antar-manusia ke dalam teori mereka, sebagai hal yag sangat penting dalam membangkitkan motivasi perilaku manusia. 4. Adolf Meyer mengetengahkan interpretasi psikologiknya yang melihat gejala-gejala gangguan jiwa sebagai reaksi terhadap lingkungan atau pengalaman. 5. Psikologi existensial mengemukakan konsep “ada-di-dunia” dan “keaslian ada-di-situ” yang berarti “keberanian untuk ada”. 6. Teori Allport yang menganggap sifat sebagai elemen dasar kepribadian; Kurt Lewin yang melihat manusia sebagai suatu system energy yang kompleks; Maslow dengan hirarki kebutuhan dan teori stimulus-respons (S-R) yang menganggap kebiasaan itu sebagai elemen structural utama padakepribadian serta tidak akan adsa respons, bila tidak ada stimulus. DAFTAR PUSTAKA Maramis, W.F. 2005. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press . Maslim, Rasdi. 2001. Diagnosis Gangguan Jiwa. Jakarta: PT Nuh Jaya. Sumadi, Suryabrata. 1990. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajawali Press

Pemimpin dan Kepemimpinan

A. PENGERTIAN PEMIMPIN DAN KEPEMIMPINAN Istilah “Kepemimpinan” merupakan terjemahan dari “Leadership” kata ini sering kita jumpai didalam percakapan sehari-hari. Pemimpin adalah seseorang yang dapat mempengaruhi kelompok yang dipimpinnya untuk menyerahkan usaha bersama guna mencapai sasaran atau tujuan yang telah ditentukan. Menurut “Ensklopedia Administrasi” menyebutkan bahwa kepemimpinan adalah proses pengaruh-mempengaruhi antar pribadi atau orang dalam suatu situasi tertentu, melalui proses komunikasi yang terarah untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Jadi kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi mengorganisasi, menggerakkan, mengarahkan atau mempengaruhi orang lain(bawahan) untuk melaksanakan sesuatu dalam rangka mencapai tujuan. Menurut Drs. Pandji Anoraga dalam bukunya “Psikologi Kepemimpinan” mengatakan bahwa, seseorang pemimpin adalah seorang yang mempunyai wewenang untuk memerintah orang lain. Sebagai seorang pemimpin ia mempunyai peranan yang aktif dan senantiasa ikut campur tangan dalam segala masalah yang berkenaan dengan kebutuhan anggota kelompoknya. Sedangkan kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain. Keberhasilan seorang pemimpin tergantung kepada kemampuannya untuk mempengaruhi itu. Dengan kata lain kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain, melalui komunikasi baik langsung maupun tidak langsung dengan maksud untuk menggerakkan orang-orang tersebut agar dengan penuh pengertian, kesadaran dan senang hati bersedia mengikuti kehendak-kehendak pemimpin itu. Kepemimpinan lebih berhubungan dengan efektivitas, sedangkan memanajemeni lebih berhubungan dengan efisiensi. Bennis mengatakan bahwa pemimpin do the right things, sedangkan manajer do the things right. Kepemimpinan merupakan sesuatu yang penting bagi manajer. Para manajer merupakan pemimpin (dalam organisasi mereka), sebaliknya pemimpin tidak perlu menjadi manajer. Seorang manajer, menurut Drucker (1966) adalah seorang ‘pekerja berpengetahuan’ (knowledge worker), yaitu: the man who puts to work what he has between his ears rather than the brawn of his muscles or the skill of his hands. Pemimpin adalah pribadi yang dimiliki kecakapan khusus, dengan atau tanpa pengangkatan resmi dapat mempengaruhi kelompok yang dipimpinnya, untuk melakukan usaha bersama mengarah pada pencapaian sasaran-sasaran tertentu. Kepemimpinan merupakan pengertian yang meliputi segala macam situasi yang dinamis, yang berisi: a. Seorang manajer sebagai pemimpin yang mempunyai wewenang untuk memimpin. b. Bawahan yang dipimpin, yang membantu manajer sesuai dengan tugas mereka masing-masing. c. Tujuan atau sasaran yang harus dicapai oleh manajer bersama-sama dengan bawahannya. B. UNSUR-UNSUR DALAM KEPEMIMPINAN DAN KEGIATAN PEMIMPIN Unsur-unsur yang penting dalam kepemimpinan: 1. Tujuan dan cita-cita Inti kepemimpinan adalah fungsi atau tugas. Dia ada demi sesuatu yang lain. Bukan demi dirinya sendiri. Titik perhatiannya adalah tujuan dan cita-cita yang dicapai. Bukan kepentingannya sendiri. 2. Organisasi kerja Sadar bahwa tujuan dan cita-cita itu demi kesejahteraan orang banyak, seorang pemimpin berusaha mempengaruhi, mengajak, mengumpulkan dan menggerakkan banyak orang untuk bersama-sama bekerja mencapai tujuan dan cita-cita itu. Kalau pemimpin beserta seluruh orang yang ada di bawah kepemimpinannya sudah yakin akan kebaikan tujuan dan cita-cita itu bagi kehidupan bersama, mereka dapat membentuk suatu organisasi kerja. Dalam bentuk organisasi, kegiatan para anggota yang sepakat mengenai kepentingan tujuan dan cita-cita itu dipersatukan. 3. Kepribadian dan keahlian Pada pokoknya, sifat-sifat kepribadian dan macam-macam keahlian dituntut agar dalam diri mereka yang dipimpinnya tumbuh kepercayaan. Kepercayaan itu baik berhubungan tujuan dan cita-cita maupun dengan pemimpin sendiri. Pemimpin yang mempunyai kepribadian yang baik dan keahlian yang unggul menciptakan kepercayaan dalam hati mereka yang dipimpinnya. C. GAYA KEPEMIMPINAN Pada umumnya gaya kepemimpinan dapat dibagi menjadi 3 jenis: 1. Kepemimpinan OTOKRATIK. Yaitu kepemimpinan yang berdasarkan atas kekuasaan mutlak segala keputusan berada di satu tangan. Gaya kepemimpinan ini sering membuat pengikutnya tidak senang dan sering frustasi. 2. Kepemimpinan DEMOKRATIK. Yaitu kepemimpinan berdasarkan Demokrasi, dalam arti bukan dipilihnya si pemimpin itu secara demokratik, melainkan cara yang dilaksanakan sipemimpin yang demokratik. Sipimpinan melaksanakan kegiatan sedemikian rupa sehingga setiap keputusan merupakan hasil musyawarah. 3. Kepemimpinan BEBAS. Bahwa seorang pemimpin sebagai penonton bersifat pasif. 4. Gaya kepemimpinan Kontinum. Pertama pemimpin menggunakan otoritasnya, disini baawahan belum banyak diikutkan dalam pembuatan keputusan. Kedua pemimpin menunjukkan gaya yang demokratis (pemimpin dan bawahan bekerja sama dalam pembuatan keputusan. 5. Gaya Managerial Grid. Gaya kepemimpinan ini tidak secara langsung berhubungan dengan efektivitas. 6. Gaya Kepemimpinan Tiga Dimensi. Gaya kepemimpinan yang mempunyai pengaruh terhadap lingkungan. D. WEWENANG KEPEMIMPINAN Berbagai studi tentang kepemimpinan bisa dikelompokkan menjadi tiga pendekatan, yaitu yang mendasarkan atas traits (sifat, perangai) atau kualitas yang diperlukan seseorang untuk menjadi pemimpin, kedua yang mempelajari perilaku (behavior) yang diperlukan untuk menjadi pimpinan yang efektif. Apabila seorang pemimpin ingin mencapai tujuannya, dengan efektif, maka ia haruslah mempunyai wewenang untuk memimpin para bawahannya dalam usaha untuk mencapai tujuan tersebut. Wewenang ini disebut wewenang kepemimpinan, yang merupakan hak untuk bertindak atau mempengaruhi tingkah laku orang yang dipimpinnya. Mengenai hal ini paling sedikit ada dua pendapat tentang sumber wewenang yaitu: 1. Top down authority. Wewenang ini berasal dari atasan yang berarti seorang Presiden Direktur misalnya menunjuk seseorang yang dianggap mampu untuk menjadi kepala bagian penjualan, dan kemudian diberi wewenang apa yang dianggap perlu untuk seseorang kepala bagian penjualan. Jadi di dalam hal ini seorang pimpinan diberi wewenang untuk memerintah dari atasannya. 2. Bottom up authority. Wewenang ini berasal sari bawahan yaitu pimpinan (diterima) oleh karena yang akan menjadi bawahannya. Apabila seseorang diterima sebagai pimpinan diberi wewenang untuk memimpin, maka para bawahan akan menghargai wewenang itu sebab mereka punya respek pribadi untuk menghargai orang tersebut atau orang tersebut merupakan seorang wakil yang mewakili nilai-nilai yang mereka anggap penting. E. KRITERIA UNTUK MEMILIH SEORANG PEMIMPIN 1. Keinginan untuk menerima tanggung jawab Apabila seorang pemimpin menerima kewajiban untuk mencapai suatu tujuan berarti ia bersedia untuk bertanggung jawab kepada pimpinannya terhadap apa yang dilakukan bawahannya. 2. Kemampuan untuk bisa “perceptive” Perception (persepsi) menunjukkan kemampuan untuk mengamati atau menemukan kenyataan dari suatu lingkungan. 3. Kemampuan untuk bersikap objektif Objektivitas adalah kemampuan untuk melihat suatu peristiwa atau masalah secara rasional. 4. Kemampuan untuk menentukan prioritas Kemampuan ini sangat diperlukan karena pada kenyataannya sering masalah-masalah yang harus dipecahkan bukanlah datang satu persatu, tetapi bersamaan dan berkaitan antara satu dengan lainnya. 5. Kemampuan untuk berkomunikasi Seorang pemimpin adalah orang yang bekerja dengan menggunakan bantuan orang lain. Karena itu pemberian perintah, penyampaikan informasi kepada orang lain mutlak perlu dikuasai. F. KEPEMIMPINAN DALAM ORGANISASI Dalam mempelajari Kepemimpinan di dalam organisasi tidak terlepas dari manajemen untuk memberikan rumusan tentang yang dipelajari tadi seharusnya mencakup total sistem daripada organisasi yang menjadi obyek untuk dipimpin oleh manajer. Tujuan daripada organisasi adalah untuk memperoleh hasil guna dan daya guna untuk itu manajer harus berfikir secara rasional. Tergantung pada situasinya, maka manajer dapat bertindak secara otoriter atau demokratis. Bagaimana cara bertindak seorang manajer akan dipengaruhi kekuatan-kekuatan yang ada pada dirinya sendiri, bawahan yang harus dipimpinnya dan lingkungannya. G. SEBAB-SEBAB TIMBULNYA SEORANG PEMIMPIN Ada 3 teori yang menjelaskan munculnya kepemimpinan yaitu: 1. Teori Genetis Menyatakan sebagai berikut: Pemimpin itu tidak dibuat, akan tetapi lahir jadi pemimpin oleh bakat-bakatnya yang luar biasa sejak lahir. 2. Teori Sosial Menyatakan sebagai berikut: Pemimpin-pemimpin itu harus disiapkan dan dibentuk, tidak terlahirkan saja. Setiap orang dapat menjadi pemimpin, melalui usaha penyiapan dan pendidikan. 3. Teori Ekologis Menyatakan sebagai berikut: Seseorang akan sukses menjadi pimpinan, bila sejak lahirnya dia telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan dan bakat-bakat ini sempat dikembangkan melalui pengalaman dan usaha pendidikan, sesuai dengan tuntutan lingkungannya. H. CARA MEMILIH PEMIMPIN Sebagai seorang pimpinan, seringkali dituntut untuk memilih siapa yang akan menjadi pembantu-pembantunya untuk memimpin kelompok-kelompok kerja di bidang, bagian, seksi atau urusan yang merupakan bagian dari organisasi yang di pimpinnya. Seorang pemimpin menerima tanggung jawab untuk mencapai juga harus menerima risiko-risiko yang mungkin timbul. Setiap pemimpin perlu mempunyai daya pengamatan terhadap semua bawahan, agar pemimpin dapat melihat kemampuan, kelemahan dan semangat yang ada pada para bawahan, sehingga dapat memberikan perhatian atas pelaksanaan kerja para bawahan. Bila ada suatu keputusan, maka pemimpin akan mengetahui alternatif mana yang dipilih. Kemampuan untuk memberi dan menerima informasi dengan cara yang baik dan berguna menjadi suatu keharusan bagi seorang calon pemimpin. I. KEPEMIMPINAN YANG EFEKTIF Pemimpin-pemimpin yang efektif merupakan orang-orang yang bermotivasi tinggi. Untuk menjadi pemimpin yang baik sesuai dengan apa yang akan dibahas yaitu bagaiman seseorang dapat menjadi seorang pemimpin yang dapat mempengaruhi pihak lain untuk bekerja sama secara sukarela dalam usaha mengerjakan tugas-tugas yang berhubungan untuk mencapai apa yang diharapkan dan dapat mengembangkan kelompok yang dipimpinnya, harus memenuhi syarat-syarat seperti apa yang disebutkan di bawah ini: 1. Realistis 2. Banyak akal 3. Merupakan seorang komunikator yang terampil 4. Percaya pada diri sendiri 5. Emosional stabil 6. Dapat mengambil inisiatif 7. Partisipasi dalam bidang sosial J. CORAK INTERAKSI PEMIMPIN DENGAN BAWAHANNYA 1. Kepemimpinan Transaksional Dalam bentuk kepemimpinan ini pemimpin berinteraksi dengan bawahannya melalui proses transaksi. Bass dan Avolio (1994) membahas empat macam transaksi, yaitu: a. Contigent Reward b. Management By Exception-Active c. Management By Exception-Passive d. Laissez-Faire 2. Kepemimpinan Transformasional Interaksi antara pemimpin dan pengikutnya, manajer dengan bawahannya ditandai oleh pengaruh pemimpin/bawahannya menjadi seseorang yang merasa mampu dan bermotivasi tinggi dan berupaya mencapai prestasi kerja yang tinggi dan bermutu. Pemimpin mengubah bawahannya, sehingga tujuan kelompok kerjanya dapat dicapai bersama. Lima aspek kepemimpinan tranformasional ialah: a. Attributed Charisma b. Inspirational Leadership/Motivation c. Intellectual Stimulation d. Individualized Consideration e. Idealized Influence K. TEORI-TEORI KEPEMIMPINAN Stephen J. Carrol dan Henry L. Tosi, mengungkapkan tiga macam pendekatan teori kepemimpinan, yaitu: 1. Pendekatan Sifat-sifat. Menurut teori ini, seseorang menjadi pemimpin karena sifat-sifatnya yang dibawa sejak lahir, bukan karena dibuat atau dilatih, karena itu teori ini menyatakan bahwa seorang pemimpin itu dilahirkan bukan dibuat, dilatih atau dibentuk. Keberhasilan atau kegagalan seorang pemimpin banyak ditentukan atau dipengaruhi oleh sifat-sifat yang dimiliki oleh pribadi pemimpin. 2. Pendekatan Perilaku. Merupakan teori yang berdasarkan pemikiran bahwa keberhasilan atau kegagalan pemimpin ditentukan oleh sikap dan gaya kepemimpinan yang dilakukan pemimpin yang bersangkutan, dimana sikap dan gaya kepemimpinan itu tampak dalam kegiatan sehari-hari, dalam hal bagaimana cara pemimpin itu memberi perintah, membagi tugas dan wewenang, cara berkomunikasi, cara memotivasi, cara memimbing dan mengawasi, mengambil keputusan, dll. 3. Pendekatan Situasional. Teori ini sering juga disebut teori kontingensi(kemungkinan). Teori ini didasarkan pada asumsi (anggapan) bahwa keberhasilan kepemimpinan suatu organisasi atau lembaga tidak hanya bergantung pada atau dipengaruhi perilaku dan sifat-sifat pemimpin saja, tapi juga dipengaruhi oleh situasi. Teori ini menyatakan bahwa suatu kepemimpinan akan berhasil bila pemimpin itu menggunakan perilaku(gaya) yang sesuai dengan situasi, organisasi. L. PENTINGNYA KEPEMIMPINAN Kepemimpinan sangat dibutuhkan manusia, karena adanya suatu keterbatasan dan kelebihan-kelebihan tertentu pada manusia. Di satu sisi manusia terbatas kemampuannya untuk memimpin, sisi lain ada yang mempunyai kelebihan kemampuan untuk memimpin. Pentingnya pemimpin dan kepemimpinan dalam suatu kelompok adalah bisa terjadi konflik atau perselisihan di antara orang-orang dalam kelompok, maka orang-orang mencari penyelesaiannya supaya terjamin keteraturan dan dapat ditaati bersama. Dari hal ini akan terbentuk aturan-aturan atau norma-norma tertentu untuk ditaati agar konflik tidak terulang. Oleh karena itu peranan pemimpin sangat dibutuhkan. Kepemimpinan diartikan sebagai pelaksanaan otorita danpembuatan keputusan. Atau dapat juga merupakan kegiatan untuk mempengaruhi agar bisa tercapai tujuan organisasi. Jadi agar dapat mencapai tujuan organisasi harus melewati suatu proses kegiatan kepemimpinan, kegiatan demikian dinamakan manajemen dan pelaksanaan manajemen itu berbeda dalam tanggung jawab manajer. Karena itulah tugas seorang manajer/pemimpin adalah mengatur dan mengkoordinir karyawan agar bisa diintegrasikan secara efektif ke dalam berbagai yang diperlukan oleh perusahan, sehingga dapat merumuskan suatu tata kerja organisasi yang baik menuju kearah efisiensi dan kerja yang maksimun. Fungsi-fungsi atau tugas seorang pemimpin yaitu umumnya melaksanakan fungsi-fungsi manajemen, antara lain: a. Fungsi perencanaan. b. Fungsi pengorganisasian. c. Fungsi pengarahan dan motivasi. d. Fungsi memandang kedepan. e. Fungsi pengembangan loyalitas. f. Fungsi pengawasan. g. Fungsi mengambil keputusan. h. Fungsi memberi hadiah, dll. Fungsi-fungsi manajemen ini secara sederhana, dapat disingkat POAC (Planning, Organizing, Actuating dan Controlling). Sedangkan peranan seorang pemimpin dalam kepemimpinannya, yaitu sebaiknya berperan: 1. Sebagai seorang pencipta. 2. Sebagai seorang perencana. 3. Sebagai seorang wakil kelompok. 4. Sebagai seorang ahli. 5. Sebagai seorang pengawas. 6. Sebagai seorang wasit. 7. Sebagai seorang penanggung jawab kelompok. 8. Sebagai seorang ayah. 9. Sebagai seorang korban atau tumpuan kesalahan. 10. Sebagai seorang pendidik. DAFTAR PUSTAKA Anorogo, Panji, Ninik Widiyanti. 1993. Psikologi Dalam Perusahaan. Jakarta: PT Rineka Cipta. Anorogo, Pandji. 1992. Psikologi Kepemimpinan. Jakarta: PT Rineka Cipta. Munandar, Ashar Sunyoto. 2006. Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press).