Laman

Senin, 08 Oktober 2012

Gangguan Pada Kepribadian

A. Pengertian kepribadian Terdapat berbagai definisi atau pengertian mengenai kepribadian. Kusumanto Setyonegoro mengatakan: kepribadian ialah expresi keluar dari pengetahuan dan perasaan yang dialami secara subyektif oleh seseorang. Definisi lain mengemukakan bahwa kepribadian ialah pola perilaku yang khas bagi seseorang yang menyebabkan orang itu dapat dikenal dari pola perilakunya itu. Atau kepribadian menunjuk pada keseluruhan pola pikiran, perasaan dan perilaku yang sering digunakan oleh seseorang dalam usaha adaptasi yang terus-menerus dalam hidupnya. Jadi : kepribadian meliputi segala corak perilaku manusia yang terhimpun dalam dirinya dan yang digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan dirinya terhadap segala rangsang, baik yang datang dari lingkungannya (dunia luar-nya), maupun yang berasal dari dirinya sendiri (dunia dalam-nya), sehingga corak perilakunya itu merupakan suatu kesatuan fungsional yang khas bagi mereka itu. Terdapat tiga kelompok pengertian kepribadian, yait pengertian popular, falsafat, dan empiric. Kepribadian dalam arti kata popular sama dengan kualitas seseorang yang menyebabkan ia disenangi atau tidak disenangi oleh orang lain. Kepribadian dalam arti falsafat ialah sesuatu yang rasional (dapat berfikir, mempunyai daya penalaran) dan individual (merupakan kesatuana yang dapat berdiri sendiri, mempunyai cirri-ciri khas). Kepribadian itu merupakan inti manusia yang mengatur dan mengawasi perilakunya secara tidak dapat dilihat oleh orang lain dan yang merupakan penyebab utama segala sesuatu yang berhubungan dengan manusia itu. Kepribadian dalam arti empiris ialah jumlah perilaku yang dapat diamati dan yang mempunyai cirri-ciri biologic, psikologik, sosiologik dan moral yang khas baginya, yang dapat membedakannya dari kepribadian yang lain. Akan tetapi harus diingat bahwa jumlah perilaku atau jumlah sifat seseorang tidak sama dengan kepribadiannya yang sebenarnya. Perilaku dan sifat hanya merupakan manifestasi kepribadian orang itu. Dengan mempelajari perilaku atau sifat-sifat kepribadian seseorang, maka kita dapat menyelami kepribadian yang sebenarnya. 1. Berbagai jenis gangguan kepribadian Klasifikasi gangguan kepribadian disini memakai pedoman penggolongan diagnose gangguan jiwa ke-1 (PPDGJ-1) sebagai berikut: 1. Kepribadian paranoid Kepribadian paranoid ialah suatu gangguan kepribadian dengan sifat curiga yang menonjol; orang seperti ini mungkin agresif dan setiap orang yang lain dilihat sebagai seorang agresor terhadapnya, ia harus mempertahankan dirinya. Ia bersikap sebagai pemberontak dan angkuh untuk menahan harga diri, sering ia mengancam orang lain sebagai akibat proyeksi rasa bermusuhannya sendiri. Dengan demikian ia kehilangan teman-teman dan mendapatkan banyak musuh. Dalam kepribadian paranoid kita menemukan secara berlebihan kecenderungan yang sudah umum, yaitu suka melemparkan tanggung jawab kepada orang lain, menolak a priori sifat-sifat orang lain yang tidak memenuhi ukuran yang telah dibuatnya sendiri. Untuk mempertahankan rasa harga diri, dibuatnya keterangan yang tak masuk akal tentang kesalahan-kesalahannya, tetapi yang memuaskan emosinya sendiri. Sering di duganya bahwa orang lainlah yang tidak adil, bermusuhan dan agresif. PPDGJ-1 menyebutkan dua sub-jenis dalam jenis kepribadian paranoid, yaitu: 1) Kepribadian yang mudah tersinggung, yang bereaksi terhadap pengalaman tertentu sehari-hari secara berlebihan dengan rasa menyerah dan rendah diri, serta cenderung untuk menyalahkan orang lain mengenai pengalaman itu. 2) Kepribadian yang lebih agresif dan kasar serta yang sangat peka terhadap apa yang dianggap haknya. Biasanya individu ini mudah sekali tersinggung bila hak-nya dilanggar dan sangat gigih mempertahankan hak-nya itu. Persamaan utama kedua sub-jenis ini ialah sifat curiga serta terlalu lekas merasakan bahwa sesuatu hal tertuju pada dirinya dan mudah sekali tersinggung 2. Kepribadian afektif atau siklotimik Yang menonjol pada kepribadian afektif atau siklomatik ialah afek yang berubah-ubah antara depresi dan efori. Perubahan-perubahan ini tidak langsung karena penyebab dari luar. Individu ini dapat menarik banyak teman karena sifatnya yang ramah tamah, hangat dan gembira, tetapi ia terkenal sebagai orang yang tak dapat diramalkan. Semangatnya dapat mendekati rasa keagungan, tetapi ia tidak menyadari hal ini dan karenanya jarang meminta pertolongan pengobatan. Dalam keadaan depresi ia cemas, khawatir, pesimistik dan nihilistic. 3. Kepribadian schizoid Sifat-sifat kepribadian ini ialah pemalu, suka menyendiri, perasa, pendiam, menghindari hubungan jangka panjang dengan orang lain. Individu ini menunjukkan respons yang terbatas terhadap isyarat atau rangsangan social. Ciri utama cara menyesuaikan dan membela dirinya ialah menarik diri, mengasingkan diri, dan sering aneh (eksentrik). Terdapat juga cara pemikiran otistik, melamun berlebihan dan ketidak-mampuan menyatakan rasa permusuhan. 4. Kepribadian explosive Individu dengan kepribadian ini memperlihatkan sifa yang lain dari perilakunya sehari-hari, yaitu ledakan-ledakan amarah dan agresivitas terhadap stress yang kecil saja. Segera sesudahnya ia menyesal atas kejadian itu, tetapi hanya sebentar. Pada waktu kejadian itu ia tidak dapat menguasai dirinya, sebab mungkin karena ledakan afektif itu terjadi disorganisasi pada persepsi, penilaian dan pemikirannya. 5. Kepribadian anankastik atau obsesi-kompulsif Orang dengan kepribadia anankastik sering menangguhkan pernikahan karena harapan dan tuntutan yang berlebihan mengenai calon istri/suaminya dan juga karena ia sangat ragu-ragu dalam mengambil keputusan yang sangat penting (biasanya ia berani mengambil keputusan penting bila sudah merasa aman, tuntutan atau harapannya sangat tinggi). Bila ia sudah menikah, maka hidup emosi antara suami-istri sering terpisah jauh. Bila ia dipaksa bekerja dalam keadaan yang tidak dapat diawasinya, ia menjadi cemas, marah, benci dan curiga terhadap atasannya. Bila ia dilangkahi dalam promosi atau pujian, maka ia manjadi sangat iri-hati dan benciserta mengalami frustasi yang besar. Bila ia dinaikkan pangkat, ia mungkin menjadi bingung dalam menyerahkan tugas kepada orang lain yang kemampuannya dinilai kurang dari padanya. 6. Kepribadian histerik Kepribadian histerik (atau histrionik) biasanya sombong, egosentrik, tidak stabil emosinya, menarik perhatian dengan afek yang labil, lekas tersinggung, tetapi dangkal. Perilakunya yang dramatis dan menarik perhatian dapat mengakibatkan ia berdusta serta menunjukkan psedologia fantastika (menceritakan sesuatu secara luas dan terperinci tanpa dasar fakta). Ia sadar akan sex dan kelihatan provoaktif, menggairahkan, menggoda, tetapi ia mungkin disngin (frigid) dan menuntut secara dependent dalam hubungan antar-manusia. Dalam keadaan stress ia mungkin menunjukkan gangguan daya menguji kenyataan, fantasi yang hebat dan keyakinan tentang motif lain yang sudah mendekati waham. Ia tidak dapat menyatakan perasaan secara tepat dan sering menggunakan gerakan badaniah dalam komunikasi. Kepribadian lebih sering terjadi pada kaum wanita. 7. Kepribadian astenik Tidak terdapat gairah untuk menikmati kehidupan pada orang ini. Ia seumur hidup merasa lelah, lesu, tak bertenaga dan lemah untuk memulai sesuatu. Terdapat abulia (kekurangan kemauan) dan anhedonia (kekurangan kemampuan menikmati sesuatu). Orang ini tidak sanggup menahan hidup yang normal sehari-hari. Vitalitas, emosionalitas dan motilitasnya sangat kurang. Libidonya lemah. Karir pekerjaan atau pernikahan dielakkan atau hanya dengan susah payah dipertahankan. 8. Kepribadian antisocial PPDGJ-1 memberikan pengertian individu dengan kepribadian antisocial sebagai orang yang pada dasarnya tidak tersosialisasi. Perilakunya berulang-ulang membawanya ke dalam konflik dengan masyarakat. Ia tidak mempunyai loyalitas terhadap kelompoknya ataupun terhadap norma-norma social. Ia pada umumnya egosentrik, tidak bertanggung jawab, impulsive, tidak mampu mengubah diri, baik karena pengalaman maupun karena hukuman. Toleransinya terhadap kekecewaan rendah dan cenderung menyalahkan orang lain atau member alas an yang masuk akal mengenai perilakunya. 9. Kepribadian pasif-agresif Dalam jenis ini terdapat dua sub-jenis, yaitu : pasif-dependent dan pasif-agresif. Orang yang pasif-dependent senantiasa berfikir, bertindak dan merasa bahwa kebutuhannya akan ketergantungan itu akan dipenuhi secara menakjubkan. Orang yang pasif-agresif merasa bahwa kebutuhannya akan ketergantungan tidak pernah dipenuhi. Ia menunjukkan penangguhan (penundaan) dan sikap keras, agar diterima dan diberi dengan murah hati apa yang diharapkannya dengan sangat. Kepribadian pasif-agresif ini di tandai oleh sifat pasif dan agresif. Agresivitas ini dapat dinyatakan secara pasif dengan cara menghambat, bermuka-asam, malas, menyabot dan keras kepala. Perilakunya biasanya merupakan pencerminan rasa permusuhan yang tidak pernah dinyatakan secara terang-terangan atau pencerminan rasa tidak puas terhadap seseorang ataupun situasi yang padanya individu sangat menggantungkan dirinya. 10. Kepribadian inadequate Penderita dengan gangguan kepribadian ini berkali-kali tidak memenuhi harapan para teman dan kenalannya dalam hal respons terhadap tuntutan emosional, intelektual, social dan fisik. Menurut penderita sendiri kemampuannya yang rendah ini wajar dan tidak dapat dielakkan. Penilaian penderita ini sering kurang, ia tidak dapat membuat rancangan jangka panjang dan tak mampu melaksanakan tugas. Penyesuian dirinya pada taraf perbatasan, sering ia pindah pekerjaan dengan hanya sedikit keprihatinan tentang masa depannya atau ia tetap pada satu pekerjaan yang tidak mempunyai tuntutan terlalu banyak. B. Sistematika dalam melakukan teknik analisa terhadap berbagai bentuk gangguan kepribadian. a) Diagnosis a. Kepribadian paranoid  Kepekaan berlebihan terhadap kegagalan dan penolakan  Kecenderungan untuk tetap menyimpan dendam, misalnya menolak untuk memaafkan suatu penghinaan dan luka hati atau masalah kecil  Kecurigaan dan kecenderungan yang mendalam untuk mendistorsi-kan pengalaman dengan menyalah-artikan tindakan orang lain yang netral atau bersahabat sebagai suatu sikap permusuhan atau penghinaan.  Perasaan bermusuhan dan ngotot tentang hak pribadi tanpa memperhatikan situasi yang ada (actual situation)  Kecurigaan yang berulang, tanpa dasar (justification), tentang kesetiaan seksual dari pasangannya  Kecenderungan untuk merasa dirinya penting secara berlebihan, yang bermanifestasi dalam sikap yang selalu merujuk ke diri sendiri (self-referential attitude)  Preokupasi dengan penjelasan-penjelasan yang bersekongkol dan tidaknsubstantif dari suatu peristiwa, baik yang menyangkut diri pasien sendiri maupun dunia pada umumya. b. Kepribadian afektif  Gangguan ini tersifat oleh episode berulang (sekurang-kurangnya dua episode) dimana afek pasien dan tingkat aktivitasnya jelas terganggu, pada waktu tertentu terdiri dari peningkatan afek disertai penambahan energy dan aktivitas (mania atau hipomania), dan pada waktu lain berupa penurunan afek disertai pengurangan energy dan aktivitas (depresi). c. Kepribadian schizoid  Sedikit (bila ada) aktivitas yang memberikan kesenangan  Emosi dingin, afek mendatar atau tak peduli (detachment)  Kurang mampu untuk meng-ekspresi-kan kehangatan, kelembutan atau kemarahan terhadap orang lain  Tampak nyata ketidak-pedulian baik terhadap pujian maupun kecaman  Kurang tertarik untuk mengalami pengalaman seksual dengan orang lain (perhitungan usia penderita)  Hamper selalu memilih aktivitas yang dilakukan sendiri  Preokupasi dengan fantasi dan introspeksi yang berlebihan  Tidak mempunyai teman dekat atau hubungan pribadi yang akrab (kalau ada hanya satu) dan tidak ada keinginan untuk menjalin hubungan seperti itu  Sangat tidak sensitive terhadap norma dan kebiasaan social yang berlaku d. Kepribadian explosive  Terjadinya ledakan-ledakan amarah dan agresivitas terhadap stress yang kecil saja  Penyesalan yang bersifat sesaat  Terdapat kecenderungan yang mencolok untuk bertindak secara impulsive tanpa mempertimbangkan konsekuensinya, bersamaan dengan ketidak-stabilan emosi  Dua varian yang khas adalah berkaitan dengan impulsivitas dan kekurangan pengendalian diri. e. Kepribadian anankastik atau obsesi-kompulsif  Perasaan ragu-ragu dan hati-hati yang berlebihan  Preokupasi dengan hal-hal yang yang rinci (details), peraturan, daftar, urutan, organisasi atau jadwal  Perfeksionisme yang mempengaruhi penyelesaian tugas  Ketelitian yang berlebihan, terlalu berhati-hati, dan keterikatan yang tidak semestinya pada produktivitas sampai mengabaikan kepuasan dan hubungan interpersonal  Keterpakuan dan keterikatan yang berlebihan pada kebiasaan social  Kaku dan keras kepala  Pemaksaan yang tak beralasan agar orang lain mengikuti persis caranya mengerjakan sesuatu, atau keengganan yang tak beralasan untuk mengizinkan orang lain mengerjakan sesuatu  Mencampur-adukan pikiran atau dorongan yang memaksa dan yang enggan. f. Kepribadian histerik  Ekspresi emosi yang dibuat-buat (self-dramatization), seperti bersandiwara (thatricality), yang dibesar-besarkan (exaggerated)  Bersifat sugestif, mudah dipengaruhi oleh orang lain atau oleh keadaan  Keadaan afektif yang dangkal dan labil  Terus-menerus mencari kegairahan (excitement), penghargaan (appreciation) dari orang lain, dan aktivitas dimana pasien menjadi pusat perhatian.  Penampilan atau perilaku merangsang (seductive) yang tidak memadai  Terlalu peduli dengan daya tarik fisik. g. Kepribadian astenik  Tidak memiliki gairah dalam menikmati kehidupan  Sering merasa lelah, lesu, tak bertenaga dan lemah dalam melakukan sesuatu  Kurang memiliki kemauan menikmati sesuatu  Vitalitas, emosionalitas dan motilitas sangat kurang  Daya seksualnya lemah. h. Kepribadian antisocial  Bersikap tidak peduli dengan perasaan orang lain  Sikap yang amat tidak bertanggung jawab dan berlangsung terus menerus, serta tidak peduli terhadap norma, peraturan, dan kewajiban social  Tidak mampu memelihara suatu hubungan agar berlangsung lama, meskipun tidak ada kesulitan untuk mengembangkannya.  Toleransi terhadap frustasi sangat rendah dan ambang yang rendah untuk melampiaskan agresi, termasuk tindakan kekerasan.  Tidak mampu mengalami rasa salah dan menarik manfaat dari pengalaman, khususnya dari hukuman.  Sangat cenderung menyalahkan orang lain, atau menawarkan rasionalisasi yang masuk akal, untuk perilaku yang membuat pasien konflik dengan masyarakat. i. Kepribadian pasif-agresif  Kepribadian pasif-agresif ini di tandai oleh sifat pasif dan agresif. Agresivitas ini dapat dinyatakan secara pasif dengan cara menghambat, bermuka-asam, malas, menyabot dan keras kepala. Perilakunya biasanya merupakan pencerminan rasa permusuhan yang tidak pernah dinyatakan secara terang-terangan atau pencerminan rasa tidak puas terhadap seseorang ataupun situasi yang padanya individu sangat menggantungkan dirinya. j. Kepribadian inadequate  Kecenderungan senantiasa tidak bisa memenuhi harapan teman dan kenalannya terhadap tuntutan emosional, intelektual, social, dan fisik  Merasa kemampuannya rendah  Kecenderungan kurang bisa membuat rancangan jangka panjang  Kurang bisa meyelesaikan tugas  Mempunyai sifat yang tidak menuntut terlalu banyak pekerjaan. b) Assesment  Kepribadian paranoid Psikoterapi suportif (sugesti dapat menghilangkan gejala-gejala secara dramatis), menemukan konflik, memakai dan menganalisa transferensi, pengertian tentang keadaan dan psikodinamikanya ditambah dengan tranquilaizer dapat membantu menghilangkan sebagaian besar kecurigaan. Penjaminan kembali hipnosa, terapi kelompok dan manipulasi lingkungan.  Kepribadian afektif Psikoterapi suportif dan pendidikan.  Kepribadian schizoid Psikoterapi suportif yang dalam hal ini penderita dibantu menjadi lebih bebas dalam perbuatannya supaya memiliki rasa percaya diri.  Kepribadian explosive Psikoterapi suportif  Kepribadian anankastik atau obsesi-kompulsif Psikoterapi suportif, penerangan dan pendidikan serta terapi perilaku.  Kepribadian histerik Psikoterapi suportif  Kepribadian astenik Psikoterapi suportif  Kepribadian antisocial Terapi individual maupun terapi kelompok  Kepribadian pasif-agresif Bimbingan, penerangan dan pendidikan  Kepribadian inadequate Terapi individual maupun terapi kelompok, bimbingan, penerangan dan pendidikan. c) Treatment  Kepribadian paranoid Bila diminta bantuan, maka dalam bimbingan dititik-beratkan pada pengalaman subyektif dalam pribadinya dan pada interaksi dengan dokter.  Kepribadian afektif Psikoterapi suportif dan pendidikan. yang dalam hal ini penderita perlu dibantu menjadi lebih percaya pada diri sendiri, dan bebas dalam perbuatannya  Kepribadian schizoid Psikoterapi suportif, bimbingan dalam cara hidup, anjuran untuk mengambil bagian dalam kegiatan social dan hubungan antar manusia.  Kepribadian explosive Individu ini sukar memahami bahwa perilakunya tidak wajar, rasa menyesalnya hanya sepintas lalu segera sesudah ledakan itu. Ia sering merasionalisasikan perilakunya dan menentang campur tangan orang lain. Hal ini semua menghambat pengobatan dan membuat prognosa menjadi jelek. Pada waktu episoda akut, bila perlu dimasukkan rumah sakit. Dengan bimbingan, anjuran, ventilasi, nasehat dan obat anti-cemas ada kemungkinan penderita pelan-pelan menjadi lebih matang.  Kepribadian anankastik atau obsesi-kompulsif Individu seperti ini sama sekali tidak merasa ia sakit, abnormal atau menyimpang. Ia tidak dapat dibawa untuk berobat oleh orang-orang di lingkungan yang menderita karenanya, juga karena perilakunya sering berguna dalam masyarakat atau pekerjaan. Bila ia mengalami gangguan badaniah atau gangguan psikiatrik yang lain sehingga ia mengunjungi seorang dokter, maka hubungan pasien dokter ini dapat dijadikan hubungan yang dependent pada dokter dalam jangka panjang. Dan dengan nasehat-nasehat serta efek placebo obat apa saja, maka paling sedikit keadaannya dan akibat pada lingkungannya dapat dicegah jangan sampai bertambah buruk.  Kepribadian histerik Dokter harus waspada bila pada permulaan pengobatan sudah kelihatan perbaikan, karena ini mungkin hanya untuk menyenagkannya. Karena kemampuan komunikasinya kurang, maka yang dibimbing ialah perilaku yang nyata saja. Perlu dibedakan dfari nervosa histerik yang timbul sesudah suatu stres.  Kepribadian astenik Perlu dibedakan dengan gangguan fisik yang dapat menyebabkan kelesuan umum, juga dengan nerosa nerastenik yang dimulai dengan suatu stress. Dilakukan manipulasi lingkungan agar lingkungan hidup penderita sesuai dengan daya tahan stresnya. Sugesti dan persuasi dapat menambah sedikit kemampuannya, tetapi dokter harus ingat akan keterbatasannya. Dapat dipakai obat stimulant. Bila terdapat depresi atau gejala-gejala skizofrenia, maka diberi anti depressant atau neroleptik.  Kepribadian antisocial Belum diketahui pengobatan yang optimal, tetapi dokter dapat membantu penderita dan keluarganya dalam mengambil keputusan tentang penanganan. Bila perlu dapat diadakan institusionalisasi untuk sementara waktu. Pada umumnya dapat dianjurkan kedua-duanya, baik terapi individual, maupun terapi kelompok.  Kepribadian pasif-agresif Nasehat dan bimbingan perilaku sehari-hari dapat mengurangi akibatnya pada diri sendiri dan lingkungannya. Bila perlu dapat diberi antidepressant atau obat neroleptik.  Kepribadian inadequate Kemampuan individu ini terbatas dan ia sering tidak mau berusaha untuk mengubah cara hidupnya. Psikoterapi individual dapat menimbulkan kecemasan yang tidak dapat ditahan dengan baik olehnya. d) Terminasi Dalam hal ini terapis berusaha untuk melepaskan penderita dalam terapinya. Artinya bahwa terapis disini dituntut supaya menjauhkan diri dari penderita, dan hal ini tidak semata-mata terapis sudah selesai dalam tugasnya. Akan tetapi terapis disini masih dituntut untuk memantau penderita yang sudah dilepaskan tanpa selalu ditemani oleh terapis. Hal ini diharapkan agar penderita tidak mengalami ketergantungan terhadap terapis dan supaya penderita sedikit demi sedikit bisa mandiri dan pastinya diharapkan bisa memperoleh progress dalam perkembangan selanjutnya. C. Facilitating dan restraining force pada gangguan kepribadian Berbicara terkait dengan hal-hal apa saja yang menjadi pendukung dan penghambat gangguan kepribadian ada begitu banyak, diantaranya sebagai berikut : 1. perkembangan badaniah yang salah perkembangan badaniah mempunyai suatu urut-urutan tertentu. Suatu halangan dalam hal ini dapat mengakibatkan gangguan perkembangan. Perilaku kita berdasarkan juga pada kualitas dan keutuhan fungsi susunan saraf dan perlengkapan badaniah lain. Setiap factor yang mengganggu perkembangan badaniah yang normal dapat dianggap sebagai suatu factor yang dapat menjadi penyebab perilaku yang abnormal. Factor-faktor ini mungkin dari : 1) factor keturunan gangguan yang berhubunga dengan kromosom sex dikatakan terikat pada sex, artinya bahwa defek genetic itu hanya terdapat pada kromosom sex. Kaum wanita ternyata lebih kurang peka terhadap gangguan yang terikat pada sex., karena mereka mempunyai dua kromosom X : bila satu tidak baik, maka yang lain biasanya akan melakukan pekerjaannya. Akan tetapi seorang pria hanya mempunyai satu kromosom X dan satu kromosom Y, dan bila salah satu tidak baik, maka terganggulah ia. 2) factor konstitusi hal ini pada umumnya menunjukkan kepada keadaan biologic seluruhnya, termasuk baik yang diturunkan, maupun yang didapati kemudian; umpamanya bentuk badan, sex. Tempramen, fungsi endokrin dan urat saraf serta jenis darah. 3) cacat congenital cacat congenital atau sejak lahir dapat mempengaruhi perkembangan anak, terlebih yang berat, seperti retardasi mental yang berat. Gangguan badaniah dapat mengganggu fungsi biologic atau psikologik secara langsung atau dapat mempengaruhi daya tahan terhadap stres. Akan tetapi pada umumnya pengaruh cacat ini tergantung pada individu itu, bagaimana ia menilai dan menyesuaikan diri terhadap keadaan hidupnya yang cacat. 2. perkembangan psikologik yang salah pada umumnya perkembangan psikologik yang salah mencakup : a. ketidakmatangan atau fiksasi, yaitu individu gagal berkembang lebih lanjut ke fase berikutnya b. tempat-tempat lemah yang ditinggalkan oleh pengalaman yang traumatic sebagai kepekaan terhadap jenis stress tertentu c. distorsi, yaitu bila individu mengembangkan sikap atau pola reaksi yang tidak sesuai atau gagal mencapai integrasi kepribadian yang normal.  Deprivasi dini Deprivasi maternal atau kehilangan asuhan ibu di rumah sendiri, terpisah dengan ibu atau di asrama, dapat menimbulkan perkembangan yang abnormal. Deprivasi rangsangan umum dari lingkungan bila sangat berat, ternyata berhubungan dengan retardasi mental. Deprivasi atau frustasi dini dapat menimbulkan tempat-tempat yang lemah pada jiwa, dapat mengakibatkan perkembangan yang salah ataupun perkembangan yang berhenti. Untuk perkembangan psikologik rupanya ada masa-masa gawat. Dalam masa ini rangsangan dan pengalaman belajar yang berhubungan dengannya serta pemuasan berbagai kebutuhan sangat perlu bagi urut-urutan perkembangan intelektual, emosional dan social yang normal.  Pola keluarga yang patogenik Dalam masa kanak-kanak keluarga memegang peranan penting dalam pembentukan kepribadian. Hubungan orang tua anak yang salah atau interaksi yang patogenik dalam keluarga sering merupakan sumber gangguan penyesuaian diri. Kadang-kadang orang tua berbuat terlalu banyak untuk anak dan tidak memberi kesempatan anak itu berkembang sendiri. Ada kalanya orang tua berbuat terlalu sedikit dan tidak merangsang anak itu atau tidak member bimbingan dan anjuran yang dibutuhkannya. Akan tetapi pengaruh cara asuhan anak tergantung pada keadaan social secara keseluruhan dimana hal itu dilakukan. Dan juga, anak-analk bereaksi secara berlainan terhadap cara yang sama dan tidak semua akibat adalah tetap; kerusakan dini sering diperbaiki sebagian oleh pengalaman di kemudian hari. Akan tetapi beberapa jenis hubungan orangtua-anak sering terdapat dalam latar belakang anak-anak yang terganggu, umpamanya penolkaan, perlindungan berlebihan, manja berlebihan, tuntutan perfeksionistik, standart moral yang kaku dan tidak realistic, disiplin yang salah, persaingan antarsaudara yang tidak sehat, contoh orang tua yang salah, ketidaksesuaian perkawinan dan rumahtangga yang berantakan, tuntutan yang bertentangan. 3. factor sosiologik dalam perkembangan yang salah Dalam kehidupan modern terdapat tidak sedikit bahaya terhadap pengarahan diri yang baik. Sukar untuk memperoleh dan mempertahankan identitas diri yang stabil di tengah-tengah perubahan-perubahan yang kompleks dan cepat. Alfin Toffler mengemukakan bahwa yang paling berbahaya di zaman modern, ialah kecepatan perubahan dan pergantian yang semakin cepat dalam hal ke-sementara-an, ke-baru-an dan ke-aneka-ragaman. Dengan demikian individu menerima rangsangan yang berlebihan sehingga kemungkinan terjadinya kekacauan mental lebih besar. Karena hal ini lebih besar kemungkinannya dalam masa depan, maka dinamakannya shock masa depan (future shock). Telah diketahui bahwa seseorang yang mendadak berada di tengah-tengah kebudayaan asing, dapat mengalami gangguan karena pengaruh kebudayaan yang serba baru dan asing baginya. Hal ini dinamakan shock kebudayaan (culture shock). Lebih ringkasnya factor-faktor yang mendukung dan menghammbat terjadinya gangguan dipengaruhi oleh dan saling mempengaruhi, diantaranya : 1. factor-faktor somatic (somatogenik) 1.1 neroanatomi 1.2 nerofisiologi 1.3 nerokimia 1.4 tingkat kematangan dan perkembangan organic 1.5 faktor-faktor pre-dan peri-natal 2. factor-faktor psikologik (psikogenik) 2.1 interaksi ibu-anak : normal (rasa percaya dan rasa aman) atau abnormal berdasarkan kekurangan, distorsi dan keadaan yang terputus (perasaan tak percaya dan kebimbangan). 2.2 peranan ayah 2.3 persaingan antar saudara kandung 2.4 intelegensi 2.5 hubungan dalam keluarga, pekerjaan, permainan dan masyarakat 2.6 kehilangan yang menakibatkan kecemasan, depresi, rasa malu atau rasa salah 2.7 konsep dini : pengertian identitas diri sendiri lawan peranan yang tidak menentu 2.8 ketrampilan, bakat dan kreativitas 2.9 pola adaptasi dan pembelaan sebagai reaksi terhadap bahaya 2.10 tingkat perkembangan emosi 3. factor-faktor sosio-budaya (sosiogenik) 3.1 kestsabilan keluarga 3.2 pola mengasuh anak 3.3 tingkat ekonomi 3.4 perumahan : perkotaan lawan pedesaan 3.5 masalah kelompok minoritas yang meliputi prasangka dan fasilitas kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan yang tidak memadai 3.6 pengaruh rasial dan keagamaan 3.7 nilai-nilai D. Konsep gangguan kepribadian menurut teori psikologi Ditinjau dari sudut pandang teori psikologi, maka gangguan kepribadian dapat dikategorikan atau diklasifikasikan ke dalam berbagai teori psikologi, diantarnya : 1. Sigmund freud memelopori dengan teori psikoanalisanya yang berkisar pada libido sebagai pendorong utama pada perilaku manusia. Freud mengemukakan pula suatu model topografik dan structural tentang kepribadian itu. 2. Beberapa murid freud, yang kemudian tidak setuju dengan tempat utama yang diberikan kepada libido itu, mengemukakan teori mereka itu sendiri, misalnya Adler dengan psikologi individualnya dan Jung dengan alam tak-sadar pribadi dan tipologinya. 3. Karen Horney, Sullivan dan Erick Fromm memasukkan unsure kebudayaan dan unsure hubungan antar-manusia ke dalam teori mereka, sebagai hal yag sangat penting dalam membangkitkan motivasi perilaku manusia. 4. Adolf Meyer mengetengahkan interpretasi psikologiknya yang melihat gejala-gejala gangguan jiwa sebagai reaksi terhadap lingkungan atau pengalaman. 5. Psikologi existensial mengemukakan konsep “ada-di-dunia” dan “keaslian ada-di-situ” yang berarti “keberanian untuk ada”. 6. Teori Allport yang menganggap sifat sebagai elemen dasar kepribadian; Kurt Lewin yang melihat manusia sebagai suatu system energy yang kompleks; Maslow dengan hirarki kebutuhan dan teori stimulus-respons (S-R) yang menganggap kebiasaan itu sebagai elemen structural utama padakepribadian serta tidak akan adsa respons, bila tidak ada stimulus. DAFTAR PUSTAKA Maramis, W.F. 2005. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press . Maslim, Rasdi. 2001. Diagnosis Gangguan Jiwa. Jakarta: PT Nuh Jaya. Sumadi, Suryabrata. 1990. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajawali Press

Tidak ada komentar:

Posting Komentar