Selasa, 02 Oktober 2012
PERKEMBANGAN EMOSI PADA ORANG DEWASA
A. Definisi Dewasa
Kedewasaan adalah kata yang sering kita dengar. Definisi tentang hal ini pun menjadi sesuatu yang diperdebatkan. Diperdebatkan tentang bagaimana mendefinisikan seseorang disebut sebagai sudah dewasa atau anak-anak (belum dewasa). Hal ini tentu akan terkait dengan sistem pendidikan yang diterapkan dan penempatan sikap serta penuntutan kewajiban atas seseorang. Pendidikan, penempatan sikap dan tuntutan kewajiban atas seseorang tentu tidak bisa disamakan antara yang belum dewasa serta yang sudah dewasa.
Jika kita mengkategorikan seseorang sebagai orang dewasa dengan tingkat usianya, tentunya harus ada batas minimum untuk seseorang dikelompokkan sebagai dewasa. Namun jika kita mengkategorikan seseorang sebagai orang dewasa dengan kemapanan intelektual, emosional dan spiritualnya, tentunya harus ada batasan minimum tingkat kecerdasan dari masing-masing komponen tersebut.
Standar seseorang dikelompokkan sebagai orang dewasa berdasarkan tingkat usianya, menurut Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (UUPA) pada Pasal 1 disebutkan bahwa anak adalah orang yang belum berusia 18 tahun. Seperti kita ketahui penetapan usia 18 tahun sebagai standar usia orang dewasa diadopsi dari Konvensi Hak Anak Dewan Umum PBB pada 20 November 1989 yang diratifikasi oleh perwakilan Indonesia pada tahun 1990 melalui Konvensi Hak Anak (KHA). Karenanya jangan heran kalau sekarang sudah tidak ada lagi petunjuk “film untuk 17 tahun keatas”. Jadi yang ada sekarang adalah “film untuk 18 tahun keatas” untuk kategori film untuk penonton dewasa.
Namun, pada umumnya psikologi menetapkan status kedewasaan sekitar usia 20-45 tahun. Namun, tingkat kedewasaan seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan usianya. Sedangkan tingkat perkembangan emosional, kecerdasan dan spiritual seseorang lebih ditentukan oleh pribadi masing-masing. Dari seluruh suku bangsa dan agama yang ada di Indonesia, menerapkan standar kedewasaan manusia berdasarkan nilai-nilai emosi, intelektual, serta spiritualnya.
1. Intelektual
Dari segi ini kita dikatakan dewasa dilihat dari kemampuan kita membentuk pendirian. Artinya, kita punya pendirian atau prinsip yang jelas sehingga tidak mudah terombang- ambing oleh situasi yang menuntut kita untuk bersikap. Tapi, tetap memerhatikan pendapat orang lain walaupun tidak bersandar pada pendapat itu. Kemampuan mengambil keputusan sendiri dengan tegas dan bebas berdasarkan bukti, alasan nyata, dan nasihat baik dari orang lain, serta bertanggung jawab dengan segala keputusan kita. Tidak bingung kalau ada masalah, tapi dianalisis sebab-sebabnya sehingga bisa dicari kemungkinan-kemungkinan penyelesaiannya
2. Emosional
Kita dikatakan sebagai orang dewasa secara emosional ditandai dengan kemampuan menerima emosi dan menguasainya secara wajar. Artinya, apa pun emosi yang sedang kita alami, kita tetap bisa menguasai dan mengelolanya dengan baik. Tidak dipengaruhi rasa takut dan gelisah. Kita bisa mengontrol emosi sehingga tidak merugikan orang lain. Dari sini dapat dilihat bahwa orang dewasa juga punya kecerdasan emosi yang cukup tinggi.
3. Spiritual
Kedewasaan dari segi ini bisa dilihat dari cara berkeyakinan yang tidak sempit. Kita mampu bergaul dan membina hubungan baik dengan orang- orang yang keyakinannya berbeda dari diri kita. Kalau sudah mencapai hal itu, kita mampu mencintai orang lain tanpa batas-batas agama, ras, suku, atau golongan.
Mereka yang lebih tua belum tentu lebih dewasa. Kita dikatakan sebagai orang dewasa secara emosional ditandai dengan kemampuan menerima emosi dan menguasainya secara wajar. Artinya, apa pun emosi yang sedang kita alami, kita tetap bisa menguasai dan mengelolanya dengan baik. Tidak dipengaruhi rasa takut dan gelisah. Kita bisa mengontrol emosi sehingga tidak merugikan orang lain. Dari sini dapat dilihat bahwa orang dewasa juga punya kecerdasan emosi yang cukup tinggi.
B. Karakteristik Kedewasaan.
a) Pribadi yang dewasa menerima dirinya sebagaimana Tuhan menciptakannya. Dia tidak merasa rendah diri dengan kekurangannya atau egosi terhadap kelebihannya. Dia mengenal tubuh, otak, dan kemampuannya diberikan kepadanya oleh Tuhan hanya untuk melakukan tujuannya. Karena itu dia tidak sombong atau terpuruk oleh kegagalannya.
b) Seorang pribadi yang dewasa diuntungkan dari kesalahannya dan usulan orang lain. Pribadi yang tidak dewasa mencoba mencari alasan kegagalan mereka. Mereka menyalahkan orang lain atau Tuhan. Saat mereka dikritik, mereka melihatnya sebagai serangan terhadap pribadi, menyerang balik dengan kemarahan seperti, berkata: “Baik, kamu juga tidak sehebat itu!”. Emosi yang masih bayi lebih mementingkan mempertahankan ego sendiri daripada bertumbuh. Dipihak lain, pribadi yang dewasa dengan baik menerima kritik, jujur menilai hidupnya. Dia melihat usulan orang lain sebagai bagian dari rencana Tuhan untuk mendewasakan dia. Jelas, pribadi dewasa juga hati-hati dalam mengusulkan sesuatu. Dia akan menunggu sebentar untuk saat yang tepat, menjaga sikap kasih dan menghargai, dan usulannya ditemani dengan pujian dan dorongan.
c) Pribadi yang dewasa menyesuaikan diri terhadap hal yang tidak bisa diubah. Mereka mampu menerima dunia nyata sebagai bagian dari rencana Tuhan untuk menolong mereka bertumbuh.
d) Pribadi yang dewasa menerima hal buruk, kekecewaan, atau tekanan dengan tenang dan stabil. Dia tahu hidupnya didalam tangan Tuhan, apapun yang Tuhan ijinkan adalah baik. Pribadi yang dewasa menjaga control diri saat keadaan tidak seperti yang diinginkan. Kadang, hal yang terkecil mengganggu kita dan menyebabkan kita bertindak egois dan tidak dewasa.
e) Pribadi yang dewasa menerima dan memenuhi tanggung jawabnya.
Kedewasaan melibatkan kemandirian. Pekerjaan yang tidak selesai, janji yang tidak dipenuhi, dan maksud baik yang tidak dilakukan merupakan contoh ketidak mandirian. Pribadi yang tidak dewasa tidak bisa melakukan tugas dengan baik yang merupakan tanggung jawabnya. Dia mengeluh, tidak puas atau tidak menikmati pekerjaannya.
f) Pribadi yang dewasa kepuasan terbesarnya adalah membuat orang lain bahagia. Kita tidak pernah menemukan kebahagiaan dengan mencarinya. Makin kita mencari, makin kita frustrasi dan kecewa. Mencari kesenangan sendiri hanya menghasilkan ketidak bahagiaan. Hanya bayi dan anak kecil yang menuntut apa yang mereka inginkan disaat itu juga. Mereka hidup untuk saat itu, menuntut cara mereka dalam setiap keadaan. Pribadi yang dewasa sering mengorbankan kesenangan pribadi agar bisa mendatangkan kesenangan bagi orang lain. Secara paradoks, ini juga akan membawa kebahagiaan bagi yang memberi.
Pelajaran penting ini butuh waktu untuk dipelajari. Kita semua kadang merasa memiliki hak untuk memuaskan keegoisan kita. Kita sudah lama melakukan itu, jadi kenapa mengubahnya sekarang? Tapi semakin sering kita berespon terhadap situasi itu, makin mudah praktek itu dan semakin cepat kita dewasa. Ketika kanak-kanak, kita berkata-kata seperti kanak-kanak, kita merasa seperti kanak-kanak, dan kita berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah menjadi dewasa, kita meninggalkan sifat kanak-kanak itu dan bersifat sebagaimana orang dewasa.
C. Perkembangan Emosi
Semula kita memang bertingkah laku sebagai anak-anak, ketika kita dalam tahap usia anak-anak, kemudian menjadi remaja, lalu serta-merta orang dewasa memosisikan kita bisa berperilaku dewasa, menyesuaikan diri dengan peran-peran dewasa dan melepaskan diri dari peran-peran sebagai anak-anak. Di sinilah titik pangkal yang menyebabkan kita berada dalam kondisi yang sulit. Maka, timbullah kebutuhan kita, misalnya akan identitas diri, individualitas bahkan kebutuhan akan kemandirian.
Emosi anak mirip dengan orang dewasa, tapi cara berpikir anak-anak dan orang dewasa berbeda. Anak menafsirkan peristiwa-peristiwa yang terjadi disekelilingnya dengan cara yang berbeda dengan orang dewasa. Jika dikaji lebih dalam, menurut ilmu psikologi, ekspresi seperti marah, frustasi, cemburu, iri hati, sedih, gembira, sayang adalah macam-macam emosi. Mengenali dan mampu mengendalikan emosi, adalah salah satu ciri manusia dewasa dan berkepribadian matang. Anak-anak belum punya kecakapan ini. Karena itu, wajar saja jika ada anak yang menunjukkan emosinya dengan meletup-letup, seperti menangis meraung-raung di tengah keramaian jika keinginannya tak terpenuhi.
Orang yang dewasa secara emosional mampu mengelola dan menguasai emosi secara wajar. Artinya, betapa pun letupan emosi yang sedang kita alami, namun tetap bisa mengendalikannya dengan baik. Tidak dipengaruhi rasa takut dan gelisah. Kita bisa mengontrol emosi sehingga tidak merugikan orang lain. Dari sini dapat dilihat bahwa orang dewasa juga punya kecerdasan emosi yang cukup tinggi.
Orang dewasa mempunyai kecenderungan mempunyai kesadaran dan kontrol yang lebih baik terhadap emosinya daripa anak-anak. Mereka mampu menahan emosi disaat yang tidak tepat atau menyalurkannya dengan cara yang lebih baik. Contoh, orang dewasa tidak akan menangis meraung-raung jika tidak mendapatkan keinginannya atau melompat-lompat jika keinginannya terpenuhi seperti yang dilakukan anak-anak.
Betapa besar pengaruh atau peran yang dimainkan oleh faktor emosi seseorang
di dalam melakukan aktivitas kognitif dan kinerja pada umumnya. Dengan demikian, seseorang akan mendapat gambaran yang lebih luas bahwa dalam menjalankan suatu tugas, keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh kapasitas kognitif (misalnya kecerdasan atau daya ingat) yang dimiliki, tetapi juga oleh keadaan emosi yang sedang dialami pada waktu itu. Keadaan emosi dapat mempengaruhi proses-proses kognitif dalam bentuk-bentuk atau cara-cara yang sangat penting, bahkan berakibat fatal. Oleh sebab itu, adalah suatu hal yang esensial bagi psikologi untuk memahami apa dan bagaimana emosi mempengaruhi aktivitas kognitif seseorang.
Orang-orang lebih cenderung mengingat informasi yang sesuai atau sama seperti keadaan suasana hati yang sedang dialami pada waktu mereka mempelajari suatu materi atau memproses informasi. Dengan begitu, orang yang dalam keadaan bahagia (happy) cenderung mengingat materi atau informasi yang berisikan hal-hal yang menyenangkan dari pada materi yang berhubungan dengan kesedihan. Sebaiknya, orang yang mengalami kesedihan (unhappy) cenderung mengingat materi belajar atau informasi yang mengandung kesedihan dari pada kesenangan.
D. Pengendalian Emosi
Menurut Peter Salovey dan John Mayer, psikolog dari Universitas Harvard dan New Hampshire di AS, kemampuan mengenali dan mengendalikan emosi itulah yang dinamakan kecerdasan emosi atau emotional intelligence (EI). Jadi, orang dewasa yang tidak dapat mengenali dan mengendalikan emosinya sendiri adalah orang-orang dengan EI rendah. Untuk pemetaan lebih jelas, ada lima wilayah kecerdasan emosi, yaitu: (1) mengenali emosi sendiri, (2) mampu mengelola emosi itu sesuai situasi dan kondisi, (3) bisa memotivasi diri dengan emosinya, (4) bisa mengenali emosi orang lain, dan (5) mampu membina hubungan baik dengan orang lain.
Emosi adalah sesuatu yang liar dalam diri manusia, karena itu harus dikendalikan. Pengendalian emosi dalam konteks ini bukan berarti menekan bahkan menghilangkan emosi, tapi bagaimana memenej emosi dengan baik. Caranya yaitu, pertama, dengan belajar menghadapi sesuatu dengan pertimbangan matang. Setiap kejadian harus dipikirkan plus minusnya. Jangan sekali-kali bertindak dengan asal-asalan tanpa landasan yang kokoh. Kedua, memberikan respons terhadap situasi yang dihadapi dengan pikiran maupun emosi yang proporsional. Emosi itu harus sesuai dengan situasi dan diekspesikan dengan cara yang dapat diterima lingkungan sosial. Jangan seenaknya sendiri. Kegagalan pengendalian emosi biasanya terjadi karena kita kurang mau bersusah payah menimbang sesuatu dengan “kepala dingin”.
Proses evaluasi pembelajaran, juga, berpotensi meningkatkan kecerdasan emosi. Secara garis besar ada dua hal utama dalam kecerdasan emosi, yaitu mengenali dan mengelola emosi. Apabila anak sedari dini usia telah sering dilatih untuk peka dalam mengenali emosi, maka semakin dewasa akan semakin mudah mengenali emosi, dan akhirnya dapat menyesuaikan sikapnya dengan situasi emosi yang ada.
Menurut Definisi yang dilontarkan oleh dua orang ahli, dalam bukunya mengenai EQ dan IQ? 1995, Daniel Goldman, Kecerdasan Emosi adalah:
1. Kemampuan untuk bisa mengenali emosi diri sendiri.
Mengenali emosi diri sendiri merupakan syarat utama untuk memahami 4 point lainnya. Mengenali emosi diri berarti mewaspadai terhadap suasana hati kita atau terhadap pikiran tentang suasana hati kita sendiri, artinya harus memosisikan diri kita sebagai pengontrol emosi, bukan kita yang dikontrol emosi. Diri kita ada di atas aliran emosi, bukan berada di dalam aliran emosi, sehingga tidak membuat kita terhanyut.
2. Mengelola dan mengekspresikan emosi diri dengan tepat.
Ketika kita mampu mengelola dan mengekspresikan emosi, maka keuntungannya kita akan mampu lebih cepat menguasai perasaan, dan kembali membangkitkan kehidupan emosi yang normal.
3. Memotivasi diri sendiri.
Diharapkan dapat memotivasi diri sendiri untuk dapat bekerja mencapai tujuan. Dalam suatu penelitian pada anak-anak, mereka yang mampu mengendalikan diri, atau bersabar untuk mencapai hasil yang lebih besar, terdapat korelasi dengan kesuksesan anak-anak tersebut di masa depan. Tidak mudah hancur, tidak mudah mengeluh, lebih rapih, lebih bahagia, lebih bisa berhubungan dengan orang lain, dan sebagainya. Dalam hal pekerjaan pun lebih berprestasi, dan lebih cakap.
4. Mengenali emosi orang lain.
Ketika kita bisa mengenali emosi diri sendiri, insya Allah kita akan bisa juga mengenali emosi orang lain. Bisa berempati, bisa merasakan apa yang orang lain rasakan tanpa harus terhanyut. Ini merupakan hal mendasar dan cukup penting, ketika kita ingin membangun kehidupan bersosial, bertetangga atau berorganisasi. Juga dalam hubungan suami-istri.
Emosi jarang terungkap dalam bentuk verbal. Jarang kita lihat orang yang sedang marah bisa mengatakan bahwa saya lagi marah atau lagi senang. Biasanya akan lebih mudah terlihat dari bahasa non-verbal yang mencakup sekitar hampir 90%. Bahasa non-verbal ini juga lebih bisa dipercaya. Ketika kita bisa mengenali emosi orang lain, merupakan modal kita untuk bisa hangat dengan orang lain, lebih peka, dan lebih bias menyesuaikan diri.
Untuk bisa mengenali emosi orang lain, bisa dimulai dengan mencoba sering mengomunikasikan perasaan kita pada anak-anak. Begitu pun sebaliknya. Misalnya beritahukan bahwa kita sedang sedih atau bahagia. Juga tanyakan apakah kakak atau adik sedang sedih, sedang gembira? kenapa sedih? dan seterusnya.
5. Membina hubungan dengan orang lain.
Jika keempat point di atas sudah bisa dilaksanakan dengan baik, akan lebih mudah untuk point yang terakhir ini yaitu membina hubungan dengan orang lain. Dalam hal ini point terpenting adalah mengajarkan prinsip-prinsip pada anak kita. Jangan takut untuk berbeda, bebeda itu tidak selamanya buruk. Jangan selalu berkorban atau mengalah untuk kepentingan orang lain. Saat besar nanti, jangan mengorbankan prinsip kita hanya untuk menyenangkan orang lain. Misalnya ikut-
ikutan merokok, minum-minum, dan lain sebagainya. Ajarkanlah pada anak tentang kejujuran. Utamakan ketulusan, kejujuran pada perasaan diri sendiri, dan pentingnya menghadirkan prinsip "menjadi diri sendiri".
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar