Selasa, 02 Oktober 2012
Pengertian Tentang Diri
Diri Depresi:Apakah Diri Depresi karena Ada yang Salah dengan Dirinya, atau Apakah Depresi Justru adalah respon Normal terhadap Dunia yang Sudah Gila.
Didalm beberapa kejadian yang banyak terjadi di dunia ini, seperti kasus bunuh diri dan hal lainnya yang di akibatkan oleh Depresi. Dalam pembahasan ini terdapat dua pertanyaan besar.
Pertanyaan (I): Apakah orang mengalami depresi meskipun mempunyai banyak sekali kesempatan yang tak pernah diperoleh di masa sebelumnya, dalam hal pendidikan,pekerjaan,pengembangan diri,pengkayaan budaya, wisata dan rekreasi
(a) Sebab kehidupan modern jauh lebih sulit, lebih kompleks, lebih membuat tertekan, ketimbang kehidupan yang sudah-sudah?
(b) Sebab, bagi para pria, kompetisi dalalm pasar bebas jauh lebih dahsyat ketimbang yang sudah-sudah?
(c) Sebab, bagi para wanita, kehidupan sebagai ibu rumah tangga ternyata jauh lebih sepi dari yang sudah-sudah, apalagi dengan hilangnya komunitas tradisional ibu-ibu yang berkumpul di teras rumah, tau bergosip di pagar rumah?
(d) Sebab, bagi orang-orang muda, pendidikan kini standarnya jauh lebih rendah dari yang sudah-sudah, sehingga lulusannya tak siap menghadapi dunia nyata?
(e) Sebab, kepercayaan terhadap Tuhan dan agama telah mulai runtuh, dan bersama itu runtuh pula keyakinan orang akan posisi dirinya dalam jagat raya, dalam dunia makhluk ciptaan lainnya, dan dalam relasinya dengan yang lain?
(f) Sebab, diri belakangan ini telah berorientasi pada pihak lain(other-directed) dari pada berorientasi pada batinnya sendiri (inner-directed) sehingga harga dirinya bergantung pada persepsinya atas bagaimana orang lain menilainya seperti seorang pengemis dalam kerumunan dengan tangan menengadah?
(g) Sebab, diri meski mempunyai segala kemakmuran yang lebih dari cukup, dalam kenyataannya justru termiskinkan dan sengsara, seperti Lazarus menderita kesengsaraan yang mendasar serta hilangnya kedaulatan? Dengan kemajuan teknologi yang belipat ganda serta kenaikan para pakar disegala kehidupan,diri terpaksa menyetujui pengambilalihan segala sector kehidupanya oleh para pakarnya yang sesuai bahkan pengambilalihan dari kehidupan dirinya sendiri.
(h) Sebab, kehidupan modern itu sendiri sudah cukup untuk membuat depresi setiap orang? Setiap orang, pria, wanita, atau anak-anak, yang tidak mengalami depresi dari beberapa faktor, justru ia sendiri yang sudah sinting.
Pertanyaan (II): Mengapa begitu banyak remaja, dan bahkan anak-anak yang lebih mudah lagi, menggunakan obat-obatan terlarang?
(a) Sebab ada tekanan dari kelompok sosialnya, kegagalan berkomunikasi, gangguan psikologis, pemberontakan terhadap orang tua, dan kemunduran nilai-nilai religious.
(b) Sebab hidup itu sulit, membosankan, mengecewakan, dan tidak membahagiakan, namun obat-obatan membuat kita merasa lebih baik.
Dari beberapa kasus tentang banyaknya depresi, dapat dikatakan bahwa obat yang bisa menghilangkan depresi adalah bunuh diri.
Diri Termiskinkan: Bagaimana Diri Bisa Menjadi Miskin Dengan Kaya
BUNDA TERESA dari Kalkutta permah mengatakan sesuatu tentang beberapa orang Barat yang pernah beliau temui, yang hidupnya penuh berlimpah kemakmuran termasuk orang Amerika, Eropa, kapitalis, Marxis – bahwa mereka bagi beliau kelihatan murung dan miskin, bahkan lebih miskin ketimbang orang miskin Kalkutta, yang termiskin diantara yang termiskin, yang dilayani oleh beliau.
Pertanyaan: Kemiskinan semacam apa yang bisa dinisbatkan kepada warga masyarakat teknologis Barat dalam pandangan kemakmuran yang jelas nyata dalam masyarakat semacam itu dalam hal-hal seperti makanan, tempat tinggal, barang-barang, pelayanan, pendidikan, teknologi, serta institusi budaya?
(a) Tak ada kemurungan dan kemiskinan semacam itu.
(b) Kemurungan dan kemiskinan itu memang ada, setidaknya sebagian akibat lenyapnya penghargaan atas kehidupan manusia seperti yang terbukti bukan hanya melalui penerimaan masyarakat Barat terhadap aborsi tapi juga melalui meningkatnya kasus penganiayaan anak, euthanasia, serta rendahnya kepedulian terhadap penderitaan sesama manusia.
(c) Terdapat kemurungan dan kemiskinan semacam itu karena dalam masyarakat yang berlimpah kemakmuran, dimana lahir kejenuhan terhadap berbagai barang dan layanan, muncul semacam devaluasi yang berkaitan dengan hal itu.
(d) Sebab orang miskin dalam hati mereka diberkati, yakni, menerima Warta Ilahi, sementara orang kaya mungkin memperoleh seluruh kekayaan yang ada di dunia namun kehilangan jiwa mereka.
(e) Sebab masyarakat modern terbentuk dari sekumpulan prinsip kekuasaan dan manipulasi serta mementingkan kepentingan diri sendiri, dengan mengorbankan nilai-nilai dalam masyarakat, kasih sayang, kepolosan, kesederhanaan, dan semua nilai yang dijumpai dalam masa kanak-kanak maupun dalam masyarakat yang non-agresif.
(f) Sebab masyarakat Barat sendiri adalh tanah gersang yang terabaikan, nilai-nilainya semakin buruk, komunitasnya terfragmentasi, moralnya rusak, kota-kotanya berantakan.
(g) Tak satu pun di antaranya. Seluruh argumen antara pandangan ilmiah tradisional manusia sebagai organism, tempat kebutuhan dan dorongan, serta pandangan Kristen atas manusia sebagai makhluk spiritual bukan saja tak terselesaikan pada taraf diskursus ini, namun juga sangat luar biasa membosankan – contributor utama terhadap kejemuan dan kemuraman masyarakat Barat secara umum kini. Bahkan, yang disebut-sebut sebagai rekonsiliasi antara “Sains” dan “Agama” jauh lebih sopan.
Diri Transenden: Bagaimana Diri secara Khas Menempatkan Dirinya dalam Berhadapan dengan Dunia, Khususnya melalui Modus Transendensi dan Imanensi
Beberapa orang yang menokohi dalam upacara ritual Corn Dance merasa bahwa mereka mentransendensi (melebihi) yang lainnya. Artinya, ada beberapa orang yang merasa bahwa karena pendidikan tertentu, karena kebijaksanaan tertentu, karena Pengalaman spiritual tertentu, ia berada dalam posisi tertentu yang mengakibatkan relasinya dengan yang lainnya sedemikian rupa sehingga ia bisa memahami mereka dan mereka tak akan bisa memahaminya.
Misalnya, sastrawan Inggris itu barangkali bisa dikatakan mentransendensi wisatawan dari Illionois, karena ia merasa memahami wisatawan dan kameranya – malah, sudah bisa menulis sesuatu tentangnya – dalam berbagai aspek di mana wisatawan itu tak akan bisa memahami sang sastrawan.
Ada tiga pertanyaan yang perlu senantiasa diingat sambil membaca ringkasan selanjutnya tentang berbagai modus transendensi dan imanensi dari kesepuluh tokoh ini nanti.
Pertanyaan (I): Apakah ada semacam logika dimana bisa dikatakan dengan sebenarnya bahwa tokoh ini atau itu memang mentransendensi atau melebihi tokoh yang lainnya? Atau apakah kesepuluh tokoh ini tak lebih dan tak kurang sebagaimana telah dideskripsikan, sama-sama sekedar tokoh, sehingga tak bisa diperoleh penilaian yang objektif tentang keunggulan transenden atau keminderan imanen diantara mereka?
Pertanyaan (II): Tapi, dalam suatu drama tentu bisa dikatakan bahwa satu tokoh lebih baik atau lebih buruk ketimbang yang lain. Lagi pula, tentu pada akhirnya ada ornag yang baik dan yang buruk. Maka, apakah Anda bisa katakan bahwa beberapa tokoh ini lebih baik atau lebih buruk ketimbang tokoh lainnya? Jika demikian, apakah yang terbaik itu juga merupakan yang paling transenden, paling melebihi yang lainnya?
Pertanyaan (III): Tokoh mana yang Anda kenali paling mirip dengan Anda? Anda ingin menjadi tokoh yang mana?
(a) Seorang fisikawan nuklir: seorang ilmuwan yang tampak masih muda, bekerja pada Manhattan Project di Los Alamos. Ia sedang mengalami – meminjam ungkapan Freeman Dyson (fisikawan AS) – masa paling cemerlang dalam hidupnya, mengawali karir pada proyek paling rahasia di pelosok paling terpencil bersama kalangan ilmuwan yang paling elit diantara yang paling elit, para pemikir sains paling pandai di Barat, meskipun ia tahu ia sedang membuat sanjata yang nyaris bisa dipastikan bakal membunuh ribuan manusia, dan sangat besar kemungkinannya mentakdirkan penghancuran terakhir umat manusia. Tapi, bagaimanapun juga, ia bukn seorang ilmuwan denga pendidikan yang sempit dan picik. Jangkuan minatnya sangat luas. Ia sedang mencoba menjadi seorang etnolog amatir, mempelajari filsafat Timur, dengan gemar bermain music bersama kelompok string quartet yang cukup kompoten, jika tak dibilang professional. Ia bisa bicara tentang Ramakrishna dan komposisi quartet terakhir Beethoven sama lancarnya dengan bicara soal Planck dan Fermi.
(b) Asistennya, seorang gadis pirang yang tinggi semampai, mahasiswa pasca sarjana dari Berkeley yang punya ketertarikan yang sama terhadap semua minat sang fisikawan.
Kedua conoth ini memberikan kita cara bagaimana menepatkan diri dalamberhadapan dengan dunia, khususnya melalui transendensi dan Imanensi.
Diri Orbit: Persoalan Re-entri Diri Transenden, atau Mengapa Para Seniman dan Sastrawan, Beberapa Teknokrat, dan Sebetulnya Kebanyakan Orang, Begitu Bermasalah Hidup di Dunia Biasa
Di ERA sains kini, para ilmuwan adalah pangerannya. Para seniman bukan. Jadi, meskipun ilmuwan maupun seniman mencapai transendensi melampui dunia biasa melalui sains dan seni mereka, hanya sang ilmuwan yang didukung dalam transedensinya oleh pengagungan spirit kejayaan sains dan melalui komunitasnya sendiri.
Barangkali bukan kebetulan bahwa pada saat kebangkitan fisika modern abad ke-19 dan awal abad ke-20, para fisikawan revolusioner besar – seperti misalnya, Faraday, Maxwell, Bohr, Einstein – juga dikenal sebagai tokoh dengan integritas yang luar biasa dan karakter utuh dengan kehidupan yang tampak bahagia.
Dengan lenyapnya berbagai mitos kosmologis kuno serta kemunduran kepercayaan Yudeo-Kristiani dan bangkitnya diri otonom, maka sains dan seni – yang pertama mengkaji sebab-sebab sekunder, yang lain pembantu ornamental dalam ritual dan agama – diambil alih dan diangkat menuju jalan transendensinya utama dalam dirinya sendiri. Transendensi semacam itu tersedia bukan hanya bagi para ilmuwan dan seniman itu sendiri tapi juga bagi komunitas sesama ilmuwan dan para pelajar, dan bagi para pembaca dan pendengar dan penonton yang menjadi sasaran kemana berbagai pernyataan seni, musik, dan sastra itu ditujukan.
Namun, satu hal yang umumnya terluput untuk dikenali adalah bahwa suksesnya peluncuran diri menuju orbit transendensi meniscayakan hadirnya persoalan re-entri.
Satu-satunya pengecualian dari hokum gravitasi psikis ini tampaknya bukan hanya para fisikawan besar dipuncak perkembangan fisika modern, namun juga setiap ilmuwan yang tersedot dalam sainsnya ketika pemujaan terhadap sains mempertahankan seseorang dalam orit transendensi yang kurang-lebih permanent – atau barangkali beberapa kasus langka seperti Schubert yang ketika santap makannya menulis komposisi lieder di taplak meja atau Picasso di restoran yang ketimbang memakan rotinya yang lebih asyik mengukirnya menjadi patung-patung kecil.
Tapi berbagai persoalan yang paling spektakuler terkait pulang kembali (re-entry) ini tampaknya dialami oleh para seniman dan sastrawan. Mereka, apalagi yang terakhir, tampaknya lebih banyak menjadi korban – dari pada kebanyakan orang lainnya – terhadap keterpisahan dari masyarakat sekitar mereka, terhadap neurosis, psikosis, alkoholisme, ketergantungan obat bius, epilepsi, perilaku seksual warna-warni, keterpencilan, depresi, kecendrungan prilaku agresif, dan bunuh diri.
Diri Luput:Mengapa Ilmuwan Tidak Harus Mengingat Diri Mereka Sendiri dan Diri Lainnya dalam Sains Mereka dan Beberapa Persoalan yang Muncul Ketika Mereka Harus Melakukannya
MENGAPA PARA Ilmuwan agaknya kurang menyukai fakta, bahwa Homo sapiens sapiens muncul baru-baru ini saja dan secara begitu tiba-tiba, dalam beberapa ratus ribu tahun, kurang/lebih masa Pleistosen Akhir, atau malah mungkin kurang – ringkasnya, dalam waktu yang lebih singkat, berbicara dalam skala waktu kosmologis, ketimbang waktu yang dibutuhkan waktu untuk menceritakan kisah penciptaan Biblikal.
Dua dogma:
Satu, teori neo-Darwinian: Manusia muncul melalui pertemuan kebetulan antarmolekul serta keberlangsungan dari gabungan molekul-molekul tersebut, yakni, berbagai organisme yang melalui akumulasi acak dari berbagai mutasi kecil menjadi terlengkapi secara paling baik untuk hidup dalam lingkungan yang berubah-ubah.
Dua, yang sering disebut kreasionisme ilmiah: nenek moyang spesies tidak muncul melalui evolusi selama jutaan tahun namun melalui tindakan Tuhan tersendiri.
Darwin betul soal fakta evolusi, dan kontribusinya tak tersandingi. Evolusi bukanlah teori namun fakta. Faktanya, manusia muncul dari hominid yang lebih primitive. Namun, teori evolusi saat ini masih punya banyak masalah dalam menjelaskan berbagai fakta evolusi.
Pertanyaan: Mengapa fakta bahwa Homo sapiens sapiens, makhluk berbahasa dan berkesadaran, tampaknya muncul secara tiba-tiba dan relative baru, malah membuat para ilmuwan merasa tidak nyaman – justru ketika para ilmuwan sendiri mengaku tertarik pada faktanya, yakni, bukti itu?
(a) Sebab para ilmuwan begitu jijik, bisa dimaklumi, dengan teoru penciptaan khusus manusia oleh Tuhan, dalam waktu Biblikal, katakanlah 6004 S.M. pukul 11 pagi hari Rabu.
(b) Sebab para ilmuwan menganggap sebagai hal yang wajar untuk mengurusi interaksi materi dan pertukaran energi, dan tak tahu mesti diurusi dengan cara bagaimana barang-barang semacam kesadaran, diri, dan symbol, dan bahkan mereka terkadang menolak bahwa barang-barang semacam itu memang ada, meskipun mereka, para ilmuwan itu, bertingkah persis memperlihatkan bahwa mereka adalah diri yang berkesadaran dan menghabiskan hidup mereka bertransaksi dengan simbol-simbol.
(c) Sebab para ilmuwan selalu merasa tidak nyaman dengan diskontinuitas, bahkan meskipun ada bukti eksistensi diskontinuitas semacam itu dalam kemunculan manusia dengan segala perbedaanya. Agama wahyu punya dogmanya masing-masing.
(d) Sebab para ilmuwan dalam praktik metode ilmiah, suatu pengetahuan yang tak radikal tentang interaksi materi, seringkali tidak puas dengan ketakradikalan metode ilmiah sehingga mendapati diri mereka berada dalam sikap transendensi diam-diam atas data mereka, yang dengan gerak yang sama ditaruh pada dunia imanensi. Sehingga, para ilmuwan bekerja dalam orbit transendensi yang tidak cukup untuk diurusi oleh sains mereka.
Bagaimana mungkin suatu teori evolusi yang imanen, yang disimpan dari posisi sains yang transenden, bisa menjelaskan munculnya di Jagat Raya suatu makhluk asing, yang berjaya, seperti dewa, yang sangat rumit, satu-satunya makhluk asing di Jagat Raya, Homo sapiens sapiens, yakni, sang ilmuwan itu sendiri?
Dengan kata lain, Darwin memang seorang ilmuwan yang sangat hebat, bahwa Wallace agak sedikit sinting, kadang agak klenik dan menjengkelkan, tapi pada akhirnya mungkin lebih dekat dengan kebenaran tentang manusia.
Diri Kesepian: Mengapa Diri Otonom Merasa Begitu Kesepian di Jagat Raya, Sehingga Ia akan Berupaya dengan Segala Cara untuk Bisa Mengobrol dengan Simpanse, Lumba-lumba, dan Ikan Paus Bongkok
DALAM BEBERAPA tahun belakangan ini sejumlah upaya dan dana yang sangat besar telah dialokasikan oleh pemerintah AS dan para pakar hewan primate dalam usaha untuk memperlihatkan bahwa simpanse dan kera lainnya bisa mempelajari bahasa manusia. Ketika berbagai upaya untuk mengajari simpanse berbicara telah gagal, upaya ini diganti dengan bahasa tanda. Beberapa keberhasilan yang memunculkan harapan telah dilaporkan. Beberapa simpanse menjadi terkenal.
Namun beberapa evaluasi terkini yang dilakukan oleh para ilmuwan yang lebih bertanggung jawab menyimpulkan bahwa para pakar hewan primate itu telah menipu diri mereka sendiri atau, setidaknya, membuat klaim yang dibesar-besarkan. Kini jelas bahwa semua simpanse itu selama ini ternyata tidak menggunakan bahasa, namun lebih pada menggunakan berbagai tanda dan respons untuk memperoleh hadiah. Berbagai unsure dasar bahasa tak dijumpai disini. Bahkan kini beberapa di antara para pakar primatologi yang paling antusias sekalipun telah mengubah klaim mereka.
Singkat cerita, ternyata simpanse tak bisa bicara, baik dengan suara mereka ataupun dengan tangan mereka. Atau, seperti dikatan Sebeok, hewan memiliki komunikasi namun bukan bahasa.
Pertanyaan: Mengapa orang secara umum ingin mempercayai bahwa simpanse dan lumba-lumba dan ikan paus bisa berbicara, dan mengapa beberapa ilmuwan secara khusus begitu ingin mempercayai bahwa simpanse bisa bicara sampai mereka bersedia mengkompromikan sains mereka sendiri?
(a) Sebab siapa pun yang telah menginvestasikan reputasi, upaya keras luar biasa, waktu, dan uang dalam suatu eksperimen ingin eksperimen itu sukses.
(b) Sebab tiga ratus tahun terakhir ini telah menjadi saksi penjungkirbalikkan singgasana manusia dari apa yang ia yakini sebagai posisi sentralnya di Jagat Raya menjadi planet kecil yang tiada artinya(oleh Copernicus, Galileo), dari keunikannya di antara spesies lain sebagai satu-satunya makhluk yang memiliki jiwa dan yang diciptakan Tuhan dalam citra-Nya(oleh Darwin), dan bahkan dari kedaulatannya atas kesadarannya sendiri(oleh Freud).
(c) Sebab manusia adalah spesies yang kesepian dan banyak masalah, yang tak tahu siapa dirinya atau apa yang mesti ia lakukan dengan dirinya sendiri, merasa dirinya entah bagaimana berbeda dari makhluk lain, baik superior maupun inferior – superior karena, lagi pula, ia meneliti hewan-hewan lain dan menulis berbagai makalah ilmiah tentang mereka, sedangkan hewan-hewan itu tidak meneliti dirinya; inferior karena ia bukanlah hewan yang baik, seringkali bodoh, irasional, serta cenderung menghancurkan dirinya sendiri – dan menyendiri di Jagat Raya.
(d) Sebab seorang pakar primatologi sedang bersaing dengan pakar primatologi lainnya sehingga merasa sendirian bahkan ketika berada di antara para koleganya. Jika ia sukses bercakap-cakap dengan simpansenya, ia akan memperoleh yang terbaik dari kedua dunia itu: (1) mengalahkan ilmuwan lainnya, dan (2) punya kawan untuk diajak bercakap-cakap.
Diri Kesepian (II): Mengapa Carl Sagan Begitu Ingin Menjalin Komunikasi dengan ETI(Extraterrestrial Intelligence)
CRAL SAGAN sudah benar dalam upayanya mencela pseudo-sains absurd yang kini begitu populer. Ia patut dikagumi dalam pembelaannya terhadap sains sebagai metode yang bisa diandalkan dan bisa memperbaiki dirinya sendiri(self-correcting) dalam rangka mencapai kebenaran.
Pertanyaan: Mengapa orang belakangan ini secara umum tak terlalu menghiraukan sains tapi justru bersedia mempercayai setiap klaim absurd apa pun dan setiap bajingan yang mengemukakannya.
(a) Sebab terdapat semacam kebutuhan manusia akan mitos, dan symbol, untuk menafsirkan serta menata lingkungan yang tampak memusuhi dan membingungkan – sama seperti kebutuhan akan makan, air, tempat berlindung, dan seks – sedangkan kebenaran abstrak dalam sains tidak menyediakan mitos ini.
(b) Sebab, seperti pernah dikatakan oleh Chesterton, ketika manusia berhenti mempercayai Tuhan, ia akan mempercayai apa pun juga.
Sagan sudah benar ketika mengatakan bahwa meskipun ada berbagai klaim tentang penampakan dan perjumpaan dengan UFO, makhluk ekstraterestrial, dan sebangsanya, namun tak ada satu artefak pun tentang keberadaan UFO tersebut. Tapi Sagan justru menulis sekian buku yang mengajukan gagasan peluang akan adanya kehidupan berkecerdasan di milyaran planet yang mengorbit milyaran dan milyaran bintang di galaksi kita.
Pertanyaan: Mengapa Carl Sagan meras begitu kesepian?
(a) Sebab sebagai pengikut setia sains, suatu metode yang mulia dan bisa diandalkan untuk mencapai pengetahuan, ia merasa semakin terisolir dalam dunia kita.
(b) Sebab, setelah pengharapan yang begitu besar, ia belum juga menjumpai ETI di Jagat Raya, karena para hewan primate (simpanse) tak bisa diajak bercakap-cakap, dan ia pun belum pernah mendengar apa pun selain derau acak dari Jagat Raya, dan sebab Viking 1 dan 2 gagal bahkan sekedar untuk menemukan bukti akan adanya kehidupan organic yang paling sederhana di tanah planet Mars.
(c) Sebab, segera setelah segala sesuatu di Jagat Raya, termasuk manusia, direduksi ke dalam dunia imanensi, materi yang berinteraksi, tak ada lagi satu pun yang tertinggal untuk diajak bercakap-cakap kecuali kecerdasan transenden lain dari dunia lain.
Diri Kesurupan Ruh: Mengapa Diri Otonom Kesurupan Ruh Erotis dan CInta Rahasia pada Kekerasan, dan Sayang Hal Ini Mesti Berlangsur pada Zaman Nuklir
SOREN KIERKEGAARD pernah membuat satu pernyataan yang sangat aneh. Ia mengatakan bahwa Kristianitas adalah yang pertama kali membawa ruh erotis ke dunia. Dalam gayanya yang misterius, yang seringkali tampaknya sengaja ia rencanakan untuk membingungkan sama halnya untuk mencerahkan pembacanya, ia menulis: “Sensualisme, dipandang dari sudut pandang Ruh, pertama kali dirancang oleh Kristianitas.” Dengan kata lain, bukan artinya sensualitas belum ada di dunia seperti halnya dalam budaya paganisme, malah barangkali ekspresinya yang paling sempurna adalah dalam budaya Yunani Kuno, “namun bukan sebagai suatu kategori spiritual/ruhaniah.”
Ekspresi tertinggi dari kecerdasan erotis-sensual, dalam pandangan Kierkegaard, adalah opera Don Giovanni karya Mozart: “Mozart adalah komponis klasik yang terbesar dan Don Giovanni layak menempati posisi tertinggi diantara seluruh karya seni klasik lainnya.”
Sejarah Singkat Tentang Ruh Erotis
Rasul Paulus: Kemengan Ruh atas tubuh, namun masih terganggu “duri dalam daging”.
Santo Agustinus: Kemenangan cinta ilahiah di kotaTuhan, atas syahwat di kota manusia, namun – “Berilah hamba kemampuan untuk nerpantang, tapi jangan dulu.”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar