BAB I
PENGANTAR
Prestasi sekolah saat ini merupakan ukuran dari keberhasilan anak dalam menempuh pelajaran di sekolah. Meskipun demikian, tidak semua anak mencapai hasil belajar yang memuaskan. Hal ini dapat diterima jika memang anak memiliki keterbatasan dalam menyerap pelajaran dan gagal untuk berprestasi dengan baik. Namun, hal ini menjadi masalah jika anak memiliki kecerdasan yang tinggi dan seharusnya memiliki prestasi yang tinggi, malahan menunjukkan prestasi yang rendah.
Keadaan seperti pencapaian prestasi yang rendah oleh anak seringkali tidak selalu disebabkan oleh kecerdasan yang mereka miliki. Akan tetapi banyak faktor yang menyebabkan anak mengalami hal seperti ini. Ada faktor internal dan ada pula faktor eksternal. Pola asuh yang diterapkan oleh orang tua terhaap anak juga menjadi faktor utama yang menyebabkan anak mengalami hal pencapaian prestasi . kita juga sudah mengetahui bahwasannya dalam pola asuh sendiri ada tiga macam, yakni pola asuh otoriter, pola asuh domokratis, dan pola asuh permisif. Ketiga pola asuh itu kiranaya kita sudah mengatahui dengan begitu gambalang. Dengan adanya berbagai pola asuh yang ada tadi maka kita akan bisa mengetahui efek dari penerapan pola asuh, sehingga dalam hal ini apabila pola asuh yang diterapkan itu sesuai dengan kebutuhan anak, maka hasil yang akan dicapai nantinya sangat baik bagi perkembangan anak. Dan dalam hal ini anak tidak akan menjadi korban dalam penerapan pola asuh yang salah. Istilah lain yang bisa digunakan adalah korban child abuse orang tua.
Dalam psikologi pendidikan, anak dengan tingkat kecerdasan yang tingi, tetapi menghasilkan prestasi belajar yang rendah biasa disebut dengan underachiever. Kasus-kasus underachiever banyak terjadi, baik pada siswa SD, SMP, SMA, maupun perguruan tinggi. Sering kali terjadi pemahaman yang keliru dari orang tua terhadap anaknya yang mengalami underachiever. Orang tua menganggap anaknya sebagai anak yang bodoh dan tidak dapat menyerap pelajaran. Pemahaman yang salah akan membuat keadaan anak hasil korban child abuse menjadi tidak tertangani dengan baik. Hal ini akan membuat anak kehilangan potensinya untuk mencapai hasil terbaik. Untuk mencegah dan menangani permasalahan tersebut, maka dibutuhkan suatu pemahaman yang utuh mengenai anak hasil child abuse dan bagaimana mencegah serta menanganinya.
Usia rata-rata anak Indonesia saat masuk sekolah dasar adalah 6 tahun dan selesai pada usia 12 tahun. Berdasarkan pembagian tahapan perkembangan anak, ada dua masa perkembangan pada anak usia sekolah, yaitu pada usia 6-9 tahun atau masa kanak-kanak tengah dan pada usia 10-12 atau masa kanak-kanak akhir. Setelah menjalani masa kanak-kanak akhir, anak akan memasuki usia remaja.
Pada usia sekolah, anak memiliki karakteristik yang berbeda dengan anak-anak yang usianya lebih muda. Perbedaan ini terlihat pada aspek fisik, mental-intelektual, dan social-emosional anak.
Apabila masalah ini tidak cepat di tangani maka nantinya hal tersebut akan mempengaruhi kesehatan mental sang anak. Dan pada akhirnya akan membuat anak mengalami gangguan kejiwaan setelah dia dewasa.
1.1. Masalah Penelitian
A. Apa yang melatarbelakangi anak mengalami child abuse?
B. Faktor-faktor apa saja yang bisa mempertinggi kemungkinan anak terkena child abuse?
C. Potensi-potensi apa yang mungkin dikembangkan pada anak yang menjadi korban child abuse?
D. Proses apa yang sudah ditempuh untuk mengembangkan potensi anak yang sudah menjadi korban child abuse?
1.2. Tujuan Penelitian
A. Mengetahui dan memahami latar belakang atau faktor-faktor penyebab terjadinya child abuse.
B. Mengetahi dan memahami faktor-faktor yang bisa mempertinggi kemungkinan anak mengalami child abuse.
C. Mengetahui berbagai potensi yang mungkin dikembangkan pada anak korban child abuse
D. Mengetahui proses yang telah ditempuh untuk mengembangkan potensi anak korban child abuse.
BAB II
DESKRIPSI DATA DI LAPANGAN
Penelitian dilakukan di Sekolah Dasar Negeri 5 Kota Lama Malang. Terdapat 6 kelas untuk kegiatan sekolah. 1 ruang guru dan 1 gedung kantor kepala sekolah dan 1 gudang. Terdapat 4 kamar mandi dan 1 tempat untuk kamar buang air kecil yang berada 1 gedung kamar mandi. Terdapat 1 buah lapangan olah raga yang juga di gunakan untuk apel hari Senin yang selalu diadakan pada hari senin. Dan terdapat beberapa taman bunga yang berada di depan masing-masing gedung sekolah.
Sekolah Dasar Negeri 5 Kota Lama, berada di Kota Lama Malang. Tempat sekolahan ini berada di permukiman masyarakat. Dan berada di pojok tikungan. Suasana di sekolah sangat nyaman, karena tempat sekolah jauh dari jalan raya, sehingga proses pembelajaran tidak terganggu oleh suasana ramai dari kendaraan bermotor yang berlalu lalang.
Walaupun suasananya sangat nyaman, ada beberapa gedung yang kurang perawatan. Seperti tempat kamar mandi yang kurang begitu terawat. Banyak lumut dan tidak adanya penerangan, penerangan satu-satunya dari jendela ventilasi. Ada beberapa kamar mandi yang tidak terisi air. Jadi ada beberapa siswa yang masih mengantri apa bila mau kekamar mandi. Dan tempat kantin para siswa berada di belakang kelas yang untuk pembelajaran. Sehingga banyak siswa yang terganggu pada saat sistem pembelajaran berlangsung, akibat dari kegiatan yang di lakukan oleh pemilik kantin.
Pada kelas siang berbeda dengan kelas yang pagi. Karena di kelas siang ini, tidak ada pembagian waktu, sehingga siswa-siswanya bisa keluar masuk kelas dan datang terlambat karena tidak adanya bunyi bel yang memberi peringatan untuk siswa masuk sekolah.
2.1. Data Subjek
Nama : Andi
Jenis kelamin : Laki-laki
Berdasarkan hasil pemeriksaan psikologis, Andi adalah anak yang memiliki kemampuan di atas rata-rat (IQ 117). Namun, ia selalu mendapatkan nilai rendah dan menjadi anak yang suka usil terhadap teman-temannya. Andi tidak pernah memperhatikan ketika gurunya sedang menjelaskan pelajaran. Andi terlihat menganggap remeh pelajaran yang diberikan oleh gurunya. Ia lebih senang bermain dan mengganggu teman-temannya yang sedang belajar.
Sebelum memasuki Taman Kanak-kanak, Andi telah pandai membaca. Orang tua Andi memberikan kesempatan dan membimbing anaknya untuk mempelajari hal-hal yang memungkinkan si anak untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.
Kedua orang tua Andi adalah pekerja. Dengan pertimbangan kemudahan dan kedekatan dengan rumah, Andi di sekolahkan ke sekolah yang dekat dengan rumahnya.
2.2. Latar Belakang Persoalan Anak Korban Child Abuse
Secara fisik tidak ditemukan adanya gangguan-gangguan yang dapat menghambat Andi untuk menyerap pelajaran. Di rumah, Andi memiliki tempat belajar yang nyaman dan orang tuanya selalu menyediakan fasilitas untuk belajar.
Permasalahan yang dialami Andi ternyata berasal dari lingkungan sekolah. Andi mendapatkan sekolah yang rata-rata kemampuan siswanya dibawah Andi. Dengan daya tangkap yang baik, Andi dapat menerima pelajaran dengan cepat. Namun, karena anak didik lainnya tidak secerdas Andi, guru memberikan pelajaran dengan menggunakan standart bagi anak yang kemampuannya rata-rata.
Dengan kecerdasan yang dimiliki Andi, tanpa perlu memperhatikan secara seksama. Andi mampu menyerap pelajaran. Namun, ia merasa bosan dan memiliki banyak waktu yang terbuang percuma. Untuk mengatasi rasa bosan, Andi melakukan kenakalan-kenakalan yang membuatnya mendapat label anak nakal.
Pola belajar Andi pun menjadi buruk karena ia merasa tidak perlu belajar untuk memahami pelajaran. Hal ini membuatnya tertinggal ketika pelajaran sekolah mulai menuntut konsentrasi dan cara belajar yang baik.
2.3. Faktor-Faktor Resiko yang Mempertinggi Persoalan Anak Korban Child Abuse
Anak yang merupakan korban dari child abuse erat sekali kaitannya dengan raihan prestasi. Sementara itu kita juga tahu bahwasannya anak yang mengalami child abuse belum tentu juga bertipe kecerdasan yang rendah (bersifat inferior). Terkadang juga kita mengetahui dan menjumpai kalau anak korban child abuse memiliki kemampuan intelektual yang rata-rata bahkan di atas rata-rata. Anak yang menjadi korban child abuse akan mengalami berbagai masalah, mulai dari kurangnya minat terhadap hal yang berhubungan dengan pendidikan, rendahnya daya konsentrasi, kesulitan belajar, tekanan mental karena di sebabkan oleh pemberian labeling oleh orang sekitar dan lain-lain. Raihan prestasi yang rendah (underachiever) yang dicapai oleh seorang anak karena disebabkan oleh berbagai faktor, ada faktor lingkungan baik lingkungan di luar rumah, lingkungan rumah, maupun dari individu itu sendiri. Masing-masing faktor tersebut atau secara kombinasi dapat menyebabkan anak mengalami child abuse.
Setelah observer melakukan pengamatan serta analisa ternyata ada banyak faktor yang mempertinggi anak mengalami child abuse. Fakta yang terjadi di SDN V Kota Lama Malang bahwasannya metode pengajaran yang diterapkan tidak sesuai dengan kebutuhan dan kondisi para siswa atau peserta didik. Metode pengajaran yang diterapkan disini adalah penggabungan. Yang dimaksud dengan penggabungan adalah percampuran semua siswa atau peserta didik dalam satu kelas tanpa melihat dan meninjau para siswa atau peserta didik itu kelas berapa. Singkatnya mereka para siswa atau peserta didik dijadikan satu dengan tanpa melihat mereka dari kelas berapa. Sehingga dalam hal ini materi yang diberikan tidak ada spesifikasi. Artinya dalam hal ini bentuk materi yang diberikan semua setara baik itu materi yang lebih sulit diberikan kepada para siswa yang belum memperoleh bekal dasar materi, begitu juga sebaliknya. Hal inilah yang menyebabkan para peserta didik mengalami kebingungan dan kemalasan meskipun salah satu diantara mereka sebenarnya ada yang bisa dibilang mampu mengerjakan soal yang diberikan. Suasananya pun dalam hal ini juga tidak kondusif guna menunjang berlangsungnya proses belajar mengajar.
Selain itu pula guru yang ada (tersedia) di SDN V Kota Lama Malang ini sangat kurang. Guru hanya berjumlah satu atau dua orang saja. Seorang guru dalam hal ini juga tidak akan sanggup mengkondisikan situasi yang ada dimana proses pembelajarannya pun berlangsung secara menyeluruh atau penggabungan, sehingga guru pun sangat sulit untuk bisa menciptakan karena disisi lain dalam penggaubungan kelas tersebut terdapat para siswa yang kelas satu sampai kelas lima SD. Belum juga ada faktor jam sekolah yang mempertinggi child abuse, dimana mereka masuk sekolah pada siang hari.
Pendek kata dalam hal ini (faktor eksternal) yang menjadi penyebab seorang anak mengalami child abuse adalah dari pihak petinggi sekolah. Kita juga mengetahui bahwasannya sekolah merupakan faktor yang berperan penting dalam proses pencapaian prestasi belajar anak didik. Akan tetapi dalam hal ini fenomena yang terjadi adalah para pihak petinggi sekolah seakan bisa dibilang membiarkan masalah ini terus berlanjut dan tidak ada jalan penyelesaian masalah. Hal ini bisa terlihat dari sangat minimnya pendidik atau guru yang disediakan. Seorang guru disini seoalah-olah mampu menjadi orang yang selalu dapat menjadi pengatur segalanya padahal dari mindset yang seperti itu belum tentu seorang guru mampu menjadi seorang yang ideal terhadap tuntutan yang disematkan kepadanya. Intinya sekolah dalam hal ini kurang tanggap terhadap problem yang ada disekitar.
Observer juga sempat bertanya kepada ibu subjek mengenai kegiatan di rumah pasca pulang sekolah, dan ibu subjek mengatakan bahwa setelah pulang sekolah tidak ada tindak lanjut belajar (pemantauan atau control belajar). Dalam hal pemberian makanan pun subyek kurang mendapatkan yang sesuai dengan kebutuhan yang mampu menunjang kemampuan daya fikir anak, padahal keluarga subyek dalam hal materi bisa dibilang rata-rata. Sementara kita mengetahui bahwa pemberian makanan yang mengandung protein tinggi, seperti telur bisa meningkatkan energi, kemudian juga sayur-sayuran atau buah-buahan.
2.4. Potensi-Potensi yang Mungkin Dikembangkan pada Anak Korban Child Abuse
Walaupun seorang anak menjadi korban child abuse, sebagaian besar dari mereka (subyek tertentu) rupanya memiliki kemampuan yang besar dalam hal bersosial, bahkan ada yang memiliki tingkat kecerdasan yang di atas rata-rata. Sebagain besar dari mereka cepat sekali dalam bersosial. Disamping itu pula sebagian dari mereka mempunyai kelebihan dalam menangkap informasi serta mengingat informasi secara detil dan akurat. Ingatan visual mereka juga sangat baik dan mampu berkonsentrasi terhadap apa yang mereka lihat(dalam hal ini pelajaran) tertentu dalam periode yang lama. Singkat kata sebagian besar dari mereka memiliki kelebihan dari segi akademik.
2.5. Proses yang Sudah Ditempuh Untuk Mengembangkan Potensi Anak Child Abuse
Di saat para siswa mau masuk sekolah, terlebih dahulu dilakukan pengenalan tentang semua hal yang bersangkutpaut dengan sekolah dan data pribadi serta kondisi keluarga dengan tujuan untuk mempermudah dalam memberikan materi pokok dalam proses pemberian pelajaran sewaktu di sekolah.
Setelah diketahui riwayat dari calon siswa, kemudian guru akan merancang metode pembelajaran yang akan diberikan kepada para peserta didik. Pemberian materi pembelajaran selama berlangsungnya proses pendidikan yang didasarkan pada satu program umum biasa disebut Program Belajar Anak dengan Kebutuhan Khusus. Rancangan khusus tersebut disebut Program Individu yang mana disesuaikan kebutuhan anak, program individu merupakan program yang telah dipilih dari program umum.
Pertamakali subjek terdaftar sebagai siswa SDN V Kota Lama Malang telah memperlihatkan ciri-ciri anak yang kurang semangat, dan antusias seperti datang sering kali terlambat, keluar masuk kelas dengan enaknya
Guru seringkali memberikan tugas-tugas yang manantang bagi anak baik di sekolah maupun di rumah, selain pelajaran-pelajaran yang diterima di kelas memberikan gairah pada anak untuk belajar. Tugas yang diberikan oleh sang guru pada akhirnya diharapkan memunculkan rasa gairah bersekolah sehingga tugas yang menantang tersebut akan menjadikan anak terpacu untuk berfikir memecahkan persoalan-persoalan yang ada. Tugas yang diberikanpun sebenarnya tidak terlalu banyak. Pemberian tugas dalam hal ini lebih menekankan pada ukuran kualitas para peserta didik dalam menyelesaikan tugas, bukan kuantitas. Guru pun menyadari bahwasannya pemberian tugas-tugas yang banyak dan tidak menantang hanya akan membuat anak cerdas merasa bosan dan membuat mereka malas. Akhirnya, mereka para peserta didik akan menganggap tidak ada manfaatnya dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.
Sekolah SDN V Kota Lama Malang juga menerapkan standar prestasi yang tinggi, karena keberhasilan anak didik di sekolah juga ditentukan oleh standar keberhasilan di sekolah. Standart yang tinggi akan memacu anak peserta didik untuk berprestasi lebih baik dan tidak sekedar secukupnya. Standar yang ditentukan adalah hal yang mungkin dicapai oleh murid. Jika standar yang ditetapkan terlalu tinggi maka hal tersebut hanya akan menyebabkan anak peserta didik menjadi frustasi dan tidak memiliki motivasi untuk mencapai prestasi yang di inginkan. Begitu juga jika standar yang ada sangat rendah tanpa berusaha dengan keras pun anak dapat mencapai prestasi yang baik. Hal ini hanya akan membentuk sikap belajar yang salah dalam diri anak.
Disamping sekolah SDN V Kota Lama Malang memiliki standar yang tinggi, sekolah ini juga sering melakukan ujian (ulangan) pada hasil belajar. Karena fungsi ulangan adalah sebagai bahan evaluasi pencapaian dan pengukuran terhadap anak para peserta didik dalam proses belajar. Ujian (ulangan) dalam hal ini tidak hanya dilakukan tiga bulan sekali atau setiap akan pembagian rapor saja seperti yang kita ketahui, tetapi dilaksanakan berdasarkan materi-materi yang telah diberikan. Melalui pemberian ujian (ulangan), guru dapat memberikan masukan-masukan pada anak untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada. Melalui ujian (ulangan) ini pula seorang guru akhirnya juga dapat mengetahui apakah anak dapat menerima pelajaran yang diberikan atau mengalami hambatan.
Sekolah SDN V Kota Lama Malang juga menerapkan pola disiplin yang kuat. Sekolah yang baik memang harus memiliki disiplin yang tepat, bukan yang ketat apalagi longgar. Disiplin yang tepat biasanya disertai sanksi yang efektif bagi anak peserta didik. Sanksi yang diberikan oleh sekolah yang baik adalah sanksi yang mendidik, bukan yang menghilangkan kesempatan pada anak peserta didik untuk belajar, seperti memberikan skorsing atau disuruh keluar kelas. Pada sekolah yang baik, sanksi diberikan untuk perilaku yang ditampilkan bukan pada keseluruhan sikap anak. Jika anak melanggar sanksi missal karena tidak berpakaian rapi maka sanksi yang sekiranya diberikan harus mengenai tingkah laku anak yang tidak berpakaian rapi bukan pada tingkah laku yang lain. Sekolah yang kurang baik biasanya longgar dalam masalah disiplin atau sebaliknya terlalu ketat yang menyebabkan anak cemas dan cenderung melarikan diri.
BAB III
PEMBAHASAN
Pendekatan terhadap child maltreatment merupakan sesuatu yang rumit karena informasi didapatkan dari berbagai sumber. Beberapa pendekatan telah dirumuskan untuk memudahkan dalam memahami kekerasan pada anak.
1. Pandangan Sejarah
Sejarah telah menunjukkan bahwa kekerasan pada anak telah terjadi di berbagai kebudayaan. Semakin berkembangnya toleransi dalam suatu masyarakat, anak mendapatkan perlakuan dan perlindungan yang lebih baik. Sejarah juga menunjukkan bahwa masyarakat telah berusaha untuk mengatasi masalah ini, walaupun hasil akhir tidak selalu baik.
2. Model Medis
Penegakan diagnosis terhadap luka disengaja merupakan langkah awal untuk memahami kekerasan pada anak. Diagnosis seperti ‘ parent-infant stress disorder’ dari Caffey (1946) atau ‘battered baby syndrome’ dari Kempe (1962) yang fokus terhadap kekerasan pada anak dan mengadopsi model medis dapat dilanjutkan dengan pendekatan terapeutik. Dalam dunia medis, diagnosis terutama terhadap anak. Diagnosis terhadap orang tua dari segi kejiwaan lebih sulit, karena kebanyakan orang tua tidak mengakui bahwa mereka sakit.
3. Teori Psikologis
Tidak ada teori psikologis tunggal yang menerangkan kekerasan pada anak. Teori yang ada telah fokus terhadap perilaku orang tua dan anak. Lynch & Roberts (1977) mengemukakan bahwa bayi prematur beresiko lebih tinggi untuk mengalami perilaku kekerasan karena kurangnya ikatan. Teori lain mengatakan bahwa pelaku kekerasan pada anak tidak mengalami gangguan kejiwaan. Faktor-faktor seperti pengangguran, kemiskinan, perumahan yang buruk, masa lalu sebagai korban kekerasan, kurang pendidikan, atau depresi tidak menjamin seseorang menjadi pelaku kekerasan pada anak. Teori lain seperti teori attachment (ikatan) dari Bowlby (1969) mengemukakan bahwa bayi dapat mengeluarkan sinyal yang dapat diterima oleh orang yang terikat dengan bayi tersebut dan akan memancing suatu respon. Proses ini terjadi pada masa awal kehidupan dan terkait dengan perilaku dan respon ibu.
4. Teori Sosiologi
Sosiolog menganggap bahwa keluarga sebagai dasar masyarakat. Adanya suatu kesenjangan sosial dapat berisiko terjadinya kekerasan pada anak dan penelantaran.
3.1. Konsep Anak Child Abuse
Anak adalah titipan Allah SWT, jadi orangtua harus menerima keadaan anak seperti adanya sebagai konsekuensi selama anak masih dalam kandungan dan merawat serta menjaganya dengan sebaik-baiknya. Ketika anak memunculkan suatu perilaku yang begitu beda dengan anak pada umumnya, hendaknya sebagai orang tua memahami dan memaklumi karena memang seperti itulah anak semasa kecil. Dan orang tua hendaknya bersyukur karena telah memiliki anak yang cepat, tanggap, dan kreatif terhadap berbagai hal. Oleh sebab itu sebagai orang tua janganlah pernah mengeluh dengan perilaku anak yang seperti itu, terlebih lagi emosi orang tua terpancing dengan perilaku yang dilakukan oleh sang anak. Karena memang seperti itulah sifat dan perilaku anak semasa menjadi anak. Ketika orang tua melakukan tindakan yang mengarah pada child abuse maka sebenarnya orang tua tersebut belum siap menjadi orang tua.
Seorang anak yang mengalami child abuse seringkali tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya terhadap lingkungan. Mereka seringkali merasa tertekan. Berbagai tekanan yang ada tersebut berpengaruh terhadap perkembangan pribadi anak yang sehat. Berbagai hal yang sering nampak pada anak yang mengalami child abuse biasanya, diantaranya:
1. Komunikasi : kualitas komunikasi dari anak yang mengalami child abuse biasanya tidak seperti komunikasi anak normal pada umumnya, seperti ditunjukkan dibawah ini :
• Tidak mampu untuk memulai suatu pembicaraan atau memelihara suatu pembicaraan dua arah yang baik.
• Perkembangan bicaranya terlambat, atau sama sekali tidak berkembang (bawaannya murung).
• Tidak adanya usaha untuk berkomunikasi dengan gerak atau mimik muka untuk mengatasi kekurangan dalam kemampuan bicara.
• Bahasa yang tidak lazim yang diulang-ulang atau stereotipik.
• Tidak mampu untuk bermain secara imajinatif, biasanya permainannya kurang variatif.
2. Interaksi social
• Ketidak mampuan untuk secara spontan mencari teman untuk berbagi kesenangan dan melakukan sesuatu bersama-sama.
• Kegagalan untuk membina hubungan sosial dengan teman sebaya, dimana mereka bisa berbagi emosi, aktivitas, dan interes bersama.
• Ketidak mampuan untuk berempati, untuk membaca emosi orang lain.
3. Perilaku : aktivitas, perilaku dan interesnya sangat terbatas.
• Adanya suatu preokupasi yang sangat terbatas pada suatu pola perilaku yang tidak normal, misalnya duduk dipojok sambil murung.
• Adanya gerakan-gerakan motorik yang diulang-ulang, seperti mengepak-ngepak lengan, menggerak-gerakan jari dengan cara tertentu dan mengetok-ngetokkan sesuatu.
Sebagaian besar dari mereka ini sering juga menunjukkan emosi yang tak wajar, menjaili temen sebayanya, dan rasa takut yang tak wajar. Gangguan emosi lain juga terkadang muncul pada anak-anak seperti tak suka kalau dipeluk atau dielus.
Dalam psikopatologi secara developmental ada semacam faktor resiko, itu yang dialami oleh subyek (sebagian besar dari anak-anak pula). Ia dan sebagian besar dari mereka mengalami child abuse dari lingkungan terdekat mereka yang kurang bisa memahami posisi dan keadaan anak. Itu kelihatan dari orangtua saat menemani si anak dimana sewaktu anak memiliki banyak waktu luang baik di sekolah maupun setelah sekolah. Terkadang meskipun si ibu menemani subjek dan sebagian besar anak mereka di sekolah, mereka para ibu berbincang-bincang sendiri dengan anggota ibu-ibu yang lain. Sehingga pengawasannya pun tidak sepenuhnya diawasi.
3.2. Terapi (Treatment) Bagi Anak Child Abuse
Tujuan terapi pada anak adalah untuk mengurangi dampak dari child abuse serta meningkatkan kemampuan belajar dan perkembangannya yang mencakup kemampuan kognitif, motorik, dan afektif. Tujuan ini dapat tercapai dengan baik melalui suatu program yang menyeluruh dan bersifat individual maupun klasikal.
• Uji Konsentrasi
Dilakukan pada saat bimbingan social dan setiap kegiatan, misalnya pada waktu luang dan pada saat anak bermain. Tujuan dari latihan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan konsentrasi anak.
• Brain Gym
Adalah suatu gerakan alami yang sehat untuk menghadapi ketegangan dan tantangan pada diri sendiri dan orang lain. Brain gym digunakan untuk menstimulusi (dimensi lateralis atau belahan otak kiri dan kanan), meringankan (dimensi pemfokusan atau brainstem), atau merelaksasikan (dimensi pemusatan atau limbic dan serebral kortex) otak.
• Energizing
Atau yang biasa disebut dengan pemanasan. Cara ini dilakukan sebelum anak didik memulai aktivitas atau kegiatan belajar. Energizing ini dilakukan agar anak-anak didik dapat menjadi bersemangat atau termotivasi untuk memulai aktivitas belajar. Energizing ini idealnya dilaksanakan secara bersama-sama. Kegiatan ini bisa dilaksanakan di luar maupun di dalam kelas sebelum anak-anak memulai kegiatan belajarnya.
• Reward dan Punishment
Merupakan salah satu terapi untuk memperbaiki tingkah laku anak dengan melibatkan figure disekeliling anak sehari-hari, khususnya orang tua dan guru. Kesemua pihak disini diharapkan bekerjasama guna mengaplikasikan metode ini. Sebuah hadiah diberikan ketika anak melakukan tingkah laku yang dikehendaki. Tingkah laku dan bentuk reward atau punishment direncanakan secara teliti, dipilih yang paling member dampak efektif terhadap perubahan ke arah yang progress, dan begitu juga sebaliknya.
• Penanaman Normatif
Merupakan salah satu metode yang dipakai dalam bentuk ceramah atau diskusi. Penanaman normative ini berlangsung secara kondisional dan informal. Dalam artian ketika anak didik melakukan kesalahan, maka dengan segera anak didik di beri pengarahan.
• Sharring Session
Merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mengungkapkan dan menggali permasalahan yang dihadapi oleh anak didik. Sharing ini bisa dilakukan secara individu atau kelompok. Dalam kegiatan ini nantinya juga akan menumbuhkan rasa solidaritas pada anak-anak.
3.3. Alternatif Mekanisme Protektif yang Diberikan
Agar lebih efektif, seharusnya subjek atau sebagian besar dari para peserta didik diberikan mekanisme protektif tambahan dan meningkatkan intensitas terapi yang sebelumnya telah dilakukan. Berikut ini mekanisme protektif yang diberikan kepada para peserta didik, diantaranya:
Sensory Integration theraphy merupakan suatu proses neurologi dalam mengatur dan menterjemahkan input sensori, untuk dapat memberikan respon sesuai dengan input tersebut.
Bagian-bagian syaraf yang sangat banyak bekerja sama, sehingga seseorang dapat berinteraksi dengan lingkungannya secara efektif. Tubuh kita dan lingkungan mengirim pesan ke otak melalui indera kita, informasi tersebut diproses dan diorganisasi sehingga kita merasa nyaman dan aman serta kita mampu merespon secara tepat sesuai situasi dan kondisi.
Pada sebagian besar anak, kemampuan SI akan berkembang dengan sendirinya seiring dengan aktivitas yang dilakukan oleh anak tersebut setiap hari. Anak akan banyak mendapat pengalaman dan pembelajaran dari apa yang setiap hari dilakukannya. Akan tetapi hal ini terkadang tidak berlaku pada beberapa anak yang kemampuan SI-nya tidak berkembang seefisien seharusnya. Ketika proses tersebut terganggu, sejumlah masalah dalam proses belajar, perkembangan, ataupun tingkah laku bisa muncul.
Orang tua biasanya lebih mengenal dan mengerti anak mereka lebih daripada orang lain. Oleh karena itu, mereka juga akan lebih tahu daripada orang lain ketika anak mereka sedang menghadapi masalah ataupun mengalami hambatan. Jika seorang anak diduga memiliki gangguan SI, maka sebuah assessment dapat dilaksanakan oleh seorang Occupational Therapist. Assessment biasanya terdiri dari beberapa test standard dan observasi yang terstruktur sesuai usia perkembangan anak.
Assessmen tersebut akan mengevaluasi kemampuan anak dalam merespon rangsangan sensori, postur, keseimbangan, koordinasi, dll. Setelah hasil riset dan observasi dianalisa, terapis akan membuat rekomendasi mengenai terapi yang dibutuhkan. Anak dengan SI Dysfunction dikarenakan adanya gangguan dalam fungsi otak yang menghambat kemampuan mengatur dan menterjemahkan informasi sensori motor.
SI Dysfunction mungkin menjadi sebagai penyebab dari adanya masalah seperti kesulitan bicara, kesulitan konsentrasi, kekacauan social-emosional, gangguan perilaku dan masalah-masalah lain. Jika terapi Sensory Integration direkomendasikan, maka anak akan dituntun melalui berbagai aktivitas yang akan menantang kemampuan anak dalam memberikan respon yang sesuai terhadap input sensori yang diterimanya.
Melatih keahlian-keahlian khusus bukanlah merupakan fokus dari jenis terapi ini. Dalam melakukan suatu aktivitas terapi SI, yang menjadi fokus bukanlah hasil/end product, melainkan proses anak dalam melakukan aktivitas tersebut. Dalam mengikuti sesi terapi SI, maka aktivitas-aktivitas terapi hanyalah sebagai suatu media dan bukan menjadi target terapi. Terapi SI akan melibatkan aktifitas yang memberikan rangsangan yang dirancang sesuai dengan kebutuhan anak untuk berkembang. Aktivitas tersebut juga dirancang untuk beangsur-angsur meningkatkan tuntutan terhadap anak Anda untuk mampu membuat respon yang lebih teratur dan lebih terstruktur.
Penekanan lebih difokuskan pada bagaimana kualitas proses sensorimotor yang dilakukan oleh anak dalam melakukan aktifitas tersebut, daripada mengajarkan atau melatih anak tersebut tentang bagaimana cara memberikan respon atau bagaimana cara mendapatkan hasil aktifitas yang sebaik mungkin.
Melatih suatu keterampilan khusus jarang menjadi fokus dari terapi jenis ini. Akan tetapi pada beberapa kasus, anak dilatih untuk melakukan keterampilan khusus bisa menjadi tujuan utama, sehubungan dengan adanya kebutuhan untuk meningkatkan perkembangan harga diri anak atau untuk menunjang kemampuan bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Salah satu aspek penting dari terapi yang menggunakan pendekatan SI adalah motivasi anak. Physiology otak yang dilibatkan anak pada saat melakukan gerakan aktif, responsive, berbeda dengan physiology otak yang dilibatkan pada saat anak hanya melakukan peragan pasif.
Aktivitas aktif akan sangat bergantung pada kemampuan inisiatif, perencanaan gerak, pelaksanaan gerakan, dan kontrol gerakan, sehingga secara kualitas tampak lebih terkoordinasi. Sedangkan pada aktifitas pasif, terkadang hanya memberikan sensasi ataupun gerakan yang tidak sepenuhnya menuntut adanya respon dari anak. Keterlibatan aktif anak akan memberikan pengalaman dan pembelajaran yang terbaik untuk menuntun ke arah pertumbuhan proses belajar dan pengaturan tingkah laku yang lebih baik.
Ketika anak dilibatkan secara aktif, dia memiliki kontrol yang lebih terhadap situasi dan kondisi diri serta lingkungan. Dengan aktifitas pasif, kebalikannya, kita harus lebih hati-hati sebab anak terkadang kurang dapat menunjukan tanda-tanda kesulitan dan tidak mempedulikan lingkungannya. Oleh karena itu, untuk memberikan pengalaman dan pembelajaran yang efektif bagi anak maka biasanya akan lebih menekankan pada partisipasi aktif dari anak.
Terapi yang menggunakan pendekatan Sensory Integration pada umumnya menarik bagi anak. Ruang yang penuh dengan alat-alat yang menarik, lerengan untuk meluncur, ayunan, guling besar untuk dipanjat, terowongan, tangga tali, berbagai macam ukuran bola, dll. akan sangat menarik bagi seorang anak.
Bagi anak, terapi SI merupakan bermain dan dapat kelihatan seperti bermain bagi orang dewasa juga. Tetapi hal tersebut merupakan pekerjaan yang tidak mudah sebab terapis harus sangat kreatif dan inovatif, sebab apabila aktivitas yang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhan anak maka hal tersebut hanya akan bersifat bermain dan tujuan dari terpi SI menjadi tidak tercapai. Banyak anak dengan gangguan sensori integration belum mampu bermain secara tepat tanpa adanya arahan dari terapis. Menciptakan suasana bermain selama terapi SI dilakukan bukan hanya untuk bergembira. Suasana tersebut sangatlah berguna sebab anak akan lebih tertarik dan menikmati aktifitas terapi yang diberikan, dan dengan demikianlah efektifitas pelaksanaan sesi terapi SI akan jauh lebih maksimal dibandingkan dengan anak yang kurang termotivasi dalam mengikuti jalannya sesi terapi SI.
Terapi SI haruslah mampu memberikan pengalaman dan pembelajaran yang terus berkembang sehingga terus mampu memberikan pengalaman positif bagi anak. Namun demikian, tidak setiap sesi terapi akan berjalan seperti yang kita harapkan, yaitu berjalan dengan efektif dan efisien. Setiap anak pernah mengalami hari sulit.
Orang tua sangat mengerti anak mereka, sehingga sangat berperan dalam memantau perkembangan dan hambatan yang dialami anak. Orang tua juga sangat diharapkan untuk mampu memberikan lingkungan yang kaya dengan stimulasi, sehingga anak akan terus mendapatkan pengalaman dan pembelajaran dari lingkungannya. Arahan dan tuntunan sangat dibutuhkan oleh orang tua supaya mampu mewujudkan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan anak.
Sebuah home program harus diberikan oleh terapis untuk membantu orang tua di rumah dalam melatih kembali anaknya. Ketika pendekatan sensori integration berhasil, anak akan mampu secara otomatis memproses informasi sensori secara kompleks dengan cara yang lebih efektif dari pada sebelumnya. Hal ini memiliki sejumlah hasil penting. Peningkatan pada koordinasi gerak dapat dilihat dari kemampuan anak untuk melakukan tugas motorik kasar atau halus dengan keterampilan yang lebih baik dan pada tingkat kesulitan yang lebih tinggi dari yang diharapkan ketika anak belum mengikuti terapi.
Untuk anak yang pada mulanya menunjukkan masalah pada respon yang berlebihan atau kurang terhadap rangsangan, respon yang lebih normal dapat membimbing ke arah penyesuaian emosi yang lebih baik, meningkatkan keterampilan personal sosial, atau percaya diri yang lebih besar. Beberapa anak akan menunjukkan adanya perkembangan bicara dan bahasa, dll. Sangat sering, orangtua melaporkan bahwa anak mereka kelihatannya lebih tenang, lebih perhatian, lebih memiliki percaya diri, lebih cepat dalam mempelajari sesuatu kemampuan baru, serta sangat menunjang kemajuan di berbagai program terapi lainnya.
BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Kekerasan pada anak (child abuse) terjadi karena kurangnya interaksi antara anggota keluarga yang mengakibatkan perlukaan yang disengaja terhadap kondisi fisik dan emosi anak.
4.2. Saran
Adapun saran penulis bagi seluruh pihak yang terkait, yakni :
1. Adanya disiplin yang baik bagi orangtua untuk melaksanakan program yang sama seperti halnya di sekolah.
2. Maksimalisasi program terapi di sekolah dengan terus meningkatkan mutu ajar bagi siswa.
Rabu, 20 Oktober 2010
MAHDHAH DAN GHAIRU MAHDHAH
PENDAHULUAN
Agama adalah suatu sistem nilai yang diakui dan diyakini kebenarannya dan merupakan jalan menuju keselamatan hidup. Agama merupakan suatu hakikat eksternal, dapat dikatakan agama merupakan kumpulan hukum dan ketentuan ideal yang mendiskripsikan sifat-sifat dari kekuatan Ilahiah itu dan kumpulan kaidah-kaidah praktis yang menggariskan cara beribadah kepada-Nya.
Islam berasal dari kata aslama, yuslimu yang berarti menyerah, tunduk dan damai. Islam dalam arti terminologi berarti agama yang ajaran-ajarannya diberikan oleh Allah kepada manusia melalui para Rasul-Nya untuk keselamatan hidup manusia. Dalam al-Quran dikatakan bahwa agama Allah adalah Islam yang telah diturunkan melalui perantara para Rasul.
Agama merupakan ibadah dan konsekuensi ibadah manusia hanya kepada Allah. Islam dijelaskan dalam Al Qur’an sebagai agama. Kata ini merupakan bentuk masdhar dari dana-yadinu, yang memiliki beberapa arti yaitu: taat atau patuh, wara’, agama, mazhab, keadaan, cara, atau kebiasaan, raja’, paksaan dan pembalasan atau perhitungan.
Apabila makna-makna di atas dikaitkan dengan arti yang dikandung oleh Islam, maka hubungan yang erat terdapat pada makna kepatuhan atau ketaatan. Dengan demikian, seorang muslim (pemeluk agama Islam) adalah orang yang telah menyatakan tunduk dan patuh kepada perintah Allah. Dalam makalah ini akan dibahas beberapa hal yang berkaitan dengan ibadah yang didasari oleh hadits dan ayat al-Qur’an.
PEMBAHASAN
Tentang Ibadah
Pilar islam yang pertama yaitu akidah dan pilar Islam yang kedua adalah ibadah. Ibadah berasal dari kata ‘abada, ya’budu, yang berarti menghamba atau tunduk dan patuh. ‘abdun berarti budak atau hamba sahaya, alma’bad berarti mulia dan agung, ‘abada bih berarti selalu mengikutinya, alma’budberarti yang memiliki, yang dipatuhi dan diagungkan. Jika makna kata-kata tersebut diurutkan akan menjadi susunan kata-kata yang logis, yaitu: “Jika seseorang menghambakan diri terhadap yang lain, ia akan mengikuti, mengagungkan, memuliakan, mematuhi dan tunduk“
.حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْه
Terjemah: Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu tergantung pada niatnya dan dianggap bagi tiap manusia apa yang dia niatkan. Maka yang hijrahnya tulus ikhlas kepada Allah dan Rasulnya maka akan diterima. Sedangkan yang hijrahnya untuk dunia “kekayaan” maka itulah yang akan diperoleh. Atau wanita yang akan dinikahi maka hijrah itu terhenti pada niat hijrah yang dia tuju.
Hadits diatas marfu’ dan ittishal sanad kepada Nabi, akan tetapi hadits tersebut tergolong hadits ahad karena pada tingkatan hanya diriwayatkan oleh shahabat Umar ibn al-Khattab sehingga Umar tidak memiliki syawahid. Pada riwayat Bukhari ini ditemukan 7 [tujuh] sanad namun rangkaian sanad tersebut memiliki mutabi’ pada tingkatan tabi’in maupun tabi’ tabi’in.Dijelaskan dalam fath al-Bari syarh Shahih Bukhori, bahwa niat merupakan kunci dari semua ibadah dan perbuatan. Bahwa niat menentukan segala perbuatan yang dilakukan dan melandasi setiap bentuk ibadah baik yang nampak maupun yang tidak nampak. Dalam riwayat yang lain:
حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ ذَرٍّ عَنْ يُسَيِّعٍ الْكِنْدِيِّ عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قَوْلِهِ وَقَالَ رَبُّكُمْ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ قَالَ الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ وَقَرَأَ وَقَالَ رَبُّكُمْ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِلَى قَوْلِهِ دَاخِرِينَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
Hadits diatas di kutip dari Turmudzi. Dilihat dari sanadnya merupakan hadits marfu’ dan ittishal kepada Nabi. Akan tetapi dalam tingkatan shahabat tidak memiliki syawahid karena hanya diriwayatkan oleh an-Nu’man ibn Basyir. Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa do’a adalah ibadah.Secara terminologis, pengertian ibadah terpetak-petak dengan rumusan yang bervariasi menurut berbagai disiplin ilmu. Menurut Ahli Tauhid dan Hadits ibadah adalah:
توحيد الله وتعظيمه غاية التعظيم مع التذلل والخضوع له
Mengesakan dan mengagungkan Allah sepenuhnya serta menghinakan diri dan menundukkan jiwa kepada-Nya.Dalam penjelasan lain yang merujuk pengertian ibadah dari sudut akhlak dan etika dalam kehidupan:
قَالَ النَبي ص.م. نَظر الرّجل الى والديه حبّا لهما عبادة (رواه السيوطى)
Terjemah: Nabi SAW bersabda: memandang ibu dan bapak karena cinta kepadanya adalah ibadah (HR. As-Suyuthi)
قال النبي ص.م. العبادة عشرة اجزاء تسعة منها فى طلب الحلال
Terjemah:Nabi SAW bersabda: Ibadah itu sepuluh bagian, sembilan bagian diantaranya terletak dalam mencari harta yamg halalSedangkan menurut ahli fiqih pengertian ibadah adalah:
ما أدّيت ابتغاء لوجه الله وطلبا لثوبه فى الآخرة
Segala bentuk ketaatan yang dikerjakan untu mencapai keridlaan Allah SWT dan mengharapkan pahalanya di akhirat.
Sepanjang penelusuran dalam penyusunan makalah ini, penulis belum dapat menemukan dan mencantumkan teks hadits yang menunjukkan adanya klasifikasi baik yang mahdlah maupun yang ghairu mahdlah bahkan hadits yang menunjukkan pengertian ibadah secara jelas, namun ketika lebih dikerucutkan pada term ibadah tertentu, banyak dijumpai hadits yang menjelaskan ibadah seperti tentang thaharah, shalat, puasa, zakat dll. Menurut Wahbah Zuhayli, ibadah mempunyai ruang lingkup yang sangat luas, yaitu mencakup segala amal kebajikan yang dilakukan dengan niat ikhlas.
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. Al-Baqarah : 186)
Ayat diatas menyiratkan perintah untuk selalu beribadah kepada Allah. Selanjutnya masih berkaitan dengan beberapa teks hadits diatas. TM Hasbi Ashshidieqi, membagi ibadah dalam dua arti menurut bahasa dan arti menurut istilah.
Secara etimologis, ibadah atau ibadat berarti: taat, menurut, mengikut dan sebagainya. Ibadah juga digunakan dalam arti doa.
Dari sisi terminologis, ibadah mempunyai arti berdasarkan istilah yang dipergunakan, antara lain: Menurut ahli tauhid, ibadah itu berarti mengesakan Allah, mentakzimkan-Nya dengan sepenuh-penuh takzim serta menghinakan diri kita dan menundukkan jiwa kepada-Nya. Ahli fiqh mengartikan ibadah dengan: apa yang dikerjakan untuk mendapat keridlaan Allah dan mengharap pahalaNya di akhirat.
العبادة هو اسم جامع لمن يحبه الله ويرضاه قولا كان او فعلا جليّا كان او خفياتعظيما له وطلبا لثوابه
Ibadah itu sendiri bisa dikelompokkan ke dalam kategori berdasarkan beberapa klasifikasi:
1. Pembagian ibadah didasarkan pada umum dan khusus (khashashah dan ‘ammah)
Ibadah ‘ammah, yakni semua pernyataan baik yang dilakukan dengan niat yang baik dan semata-mata karena Allah, seperti makan, minum, bekerja dan lain sebagainya dengan niat melaksanakan perbuatan itu untuk menjaga badan jasmaniah dalam rangka agar dapat beribadah kepada Allah.
Ibadah khashashah ialah ibadah yang ketentuannya telah ditetapkan oleh nash, seperti shalat, zakat, puasa dan haji.
2. Pembagian ibadah dari segi hal-hal yang bertalian dengan pelaksanaannya:
Ibadah jasmaniah, ruhiyah, seperti shalat dan puasa,
Ibadah ruhiyah dan amaliyah, seperti zakat,
Ibadah jasmaniah ruhiyah dan amaliyah, seperti mengerjakan haji.
3. Pembagian ibadah dari segi kepentingan perseorangan atau masyarakat:
Ibadah fardhi, seperti salat dan puasa,
Ibadah ijtima’i seperti zakat dan haji.
4. Pembagian dari segi bentuk dan sifatnya:
Ibadah yang berupa perkataan atau ucapan lidah, seperti membaca do’a, membaca Al Qur’an, membaca dzikir, membaca tahmid dan mendoakan orang yang bersin,
Ibadah yang berupa pekerjaan tertentu bentuknya meliputi perkataan dan perbuatan, seperti shalat, zakat, puasa, dan haji,
Ibadah yang sifatnya menggugurkan hak, seperti membebaskan hutang dan memaafkan orang yang bersalah,
Ibadah yang pelaksanaannya menahan diri, seperti ihram, puasa dan I’tikaf, dan menahan diri untuk berhubungan dengan istrinya,
Ibadah yang berupa perbuatan yang tidak ditentukan bentuknya, seperti menolong orang lain, berjihad, membela diri dari gangguan.
Dalam beribadah, terdapat dua syarat yang harus dipenuhi, yakni:
Sah, maksudnya amal itu dilakukan sesuai dengan kehendak syara’
Ikhlas, yakni semata-mata karena Allah.
Dalam konstruk ahli fiqih, sah ialah lawan batal. Perbuatan yang dihukumi sah, ila memenuhi rukun dan syarat-syaratnya. Dalam urusan perkawinan bila tidak terpenuhi rukun, disebut batal dan bila tidak memenuhi syarat-syaratnya maka fasid.
Tujuan Ibadah
Tujuan ibadah ada dua (baik itu ibadah mahdhah, maupun ibadah ghairu mahdhah). Pertama, untuk mencapai kesenangan hidup di dunia. Kedua, untuk mencapai ketenangan hidup di akhirat. Atau secara sederhananya yaitu untuk mencapai kesenangan dan ketenangan dunia dan akhirat. Berbagai macam kesenangan dunia kita lakukan tak lain adalah untuk meraih kesenangan dan ketenangan akhirat. Misalkan bekerja. Dengan bekerja, maka seseorang akan mendapatkan uang. Dengan uangnya tersebut, maka ia akan mendapatkan kesenangan dunia, dan juga akan semakin memudahkannya untuk melakukan ibadah mahdhah, misalkan berzakat ataupun menunaikan ibadah haji.
Rasulullah mengatakan, “Orang yang paling gampang masuk surga adalah orang kaya yang mau bersedekah.”
Mendengar itu, seorang sahabat berkata, “Ya Rasul, bagaimana kalau saya ini tidak kaya?”
Rasulullah kemudian menanyakan kepada sahabat tersebut, “Apakah kamu memiliki kurma?”
“Punya, ya Rasul,” jawab sahabat tersebut.
“Kalau kamu memang memiliki kurma, maka bagi dua-lah kurma tersebut. Setengahnya sedekahkan kepada orang lain, sedangkan setengahnya lagi untukmu. Setengah yang kamu bagikan kepada orang lain tersebut akan mengantarkan kamu untuk masuk surga bersama orang kaya yang suka bersedekah,” perjelas Rasulullah kepada sahabat tersebut.
Lalu ada lagi sahabat yang bertanya ketika itu, “Ya Rasul, saya tidak kaya dan tidak punya kurma. Kalau seperti ini, berarti saya susah masuk surga?”
Lalu Rasulullah bertanya kepada sahabat tersebut, “Apakah kamu mempunyai air satu gelas?”
“Punya, ya Rasul,” jawab sahabat tersebut.
“Kalau begitu, yang satu gelas tersebut kamu bagi dua. Setengahnya untuk kamu, sedangkan setengahnya lagi kamu sedekahkan kepada orang lain yang membutuhkan. Maka setengah yang kamu sedekahkan kepada orang lain itu akan mengantarkan kamu masuk surga bersama orang yang punya kurma yang dibagi dua tadi, dan juga bersama dengan orang kaya yang suka bersedekah.”
Lalu ada lagi yang bertanya, “Ya Rasul, saya ini tidak kaya, tidak punya kurma, dan juga tidak punya air satu gelas. Kalau begitu saya ini akan susah masuk surga?”
Lalu dijawab oleh Rasulullah, “Kalau kamu tidak mempunyai ketiga-tiganya itu, maka sedekahkanlah kepada saudaramu kalimat-kalimat yang baik, nasihat-nasihat yang baik, serta ucapan-ucapan yang baik.”
Nabi juga pernah mengatakan, “Hak seorang muslim itu adalah untuk didatangi pada saat ia sakit.” Jika itu adalah hak seorang muslim, maka muslim yang lainnya berkewajiban untuk mendatangi muslim yang sedang sakit tersebut.
Lalu Nabi juga pernah mengatakan, “Ketika kalian mendatangi orang yang sedang sakit, coba usap-usaplah dia dengan mengatakan, bersabarlah, karena ini ujian Allah.” Jadi, kita tidak perlu merasa berat untuk mendatangi dan menjenguk orang yang sedang sakit jika kita sedang tak memiliki apa-apa. Karena kita menjenguknya itu dalam rangka “kalimat thayyibah” kepada mereka yang sakit itu. Patut juga diketahui, kadang kala orang yang sakit itu kemudian menjadi sembuh lebih dikarenakan motivasi dari orang-orang yang ada di sekitarnya.
Semua kenikmatan itu diberikan oleh Allah karena kita diberikan kedudukan sebagai khalifatullah. Khalifatullah yang sangat efektif adalah khalifatullah yang menyadari dirinya, bahwa semua kenikmatan yang ada sekarang ini adalah kenikmatan yang diberikan oleh Allah, dan kita mensyukurinya hanya dengan jalan beribadah kepada-Nya.
Ibadah itu pada hakikatnya dalam rangka tiga hal:
Pertama, membina diri dengan baik.
Jika orang beribadah, tapi dirinya tidak terbina, sebenarnya ia belum mencapai tujuan itu. Misalkan, dia sering datang ke pengajian, tapi sifatnya tetap saja tidak pernah berubah. Ini berarti, bahwa dia menyimpang dari tujuan ibadah.
Mendidik dirinya itu adalah dalam rangka membina hubungan dengan sesama, dengan lingkungan, dan dengan Penciptanya. Jadi, kalau kita mendengarkan pengajian, dan pengajian itu adalah ibadah, maka seharusnya pembinaan diri tersebut menjadi meningkat. Misalkan, kita mengetahui bahwa minuman yang memabukkan itu diharamkan oleh agama, yang hal tersebut kita ketahui setelah mendengarkan ceramah agama. Namun setelah itu, ternyata kita tetap mengkonsumsi minuman yang memabukkan tersebut. Jika seperti ini, berarti kita belum sempurna membina diri kita dalam rangka mencapai ibadah.
Kedua, dalam rangka mensucikan diri kita.
Mensucikan diri yang dimaksud adalah: Pertama, mensucikan diri dari sifat-sifat yang kotor. Kedua, mensucikan diri dari perbuatan-perbuatan kotor. Sifat kotor akan mendorong kita melakukan perbuatan-perbuatan kotor. Makanya, perbuatan kotor itu kita minimalkan, bahkan kita hilangkan dari diri kita sendiri. Ketiga, membersihkan diri dari perbuatan-perbuatan dosa. Jika kita pernah melakukan perbuatan dosa, maka kemudian kita bertobat kepada Allah dan beristighfar. Itulah tujuan dari ibadah yang kita lakukan.
Ketiga, mengisi diri dengan sifat yang terpuji, mengisi diri dengan perbuatan baik, dan mengisi diri dengan perbuatan yang berpahala.
Kalau begitu, sasaran ibadah itu pada hakikatnya adalah untuk membina diri, mensucikan diri, dan mengisi diri.
Di dalam kehidupan kita sebagai khalifah Allah, maka ada dua hal yang harus kita perhatikan. Pertama, ada yang harus dijaga. Kedua, ada yang harus dihindari.
Yang harus dijaga tersebut ada empat hal: Pertama, menjaga hubungan baik dengan diri sendiri. Kedua, menjaga hubungan dengan sesama manusia. Ketiga, menjaga hubungan dengan lingkungan. Keempat, menjaga hubungan dengan Allah.
Yang harus dihindari tersebut juga ada empat hal, yaitu: penzaliman terhadap diri sendiri, terhadap sesama manusia, terhadap lingkungan, dan terhadap Allah.
KESIMPULAN
Berbagai pembagian ibadah di atas telah dijelaskan bahwa ibadah khashasah (dapat dipahami sebagai ibadah mahdlah) ialah yang ditentukan bentuk ketentuan dan pelaksanannya. Sedang ibadah ‘ammah (dipahami sebagai ibadah ghairu mahdlah) adalah semua perbuatan yang mendatangkan kebaikan dan dilaksanakan dengan niat semata-mata karena Allah. Pernyataan diatas, seakan-akan niat merupakan kriteria pada ibadah ‘ammah dan tidak merupakan kriteria pada ibadah mahdhah, padahal niatpun ada pada ibadah mahdlah. Sebagian berpendapat niat adalah rukun, sebagian berpendapat merupakan syarat.
Jika kita sudah menyadari bahwa diri kita sebagai “Khalifah Allah”, kemudian penciptaan kita itu adalah dalam rangka beribadah kepada Allah, semua ibadah yang kita lakukan dalam rangka menjaga empat hubungan tadi dan menghindari empat hubungan tadi, maka manusia tersebut menjadi manusia yang muttaqin sejati.
Jadi, kalau kita ingin mendapatkan predikat orang yang bertaqwa sejati, maka sebenarnya ajaran-ajaran tersebutlah yang harus kita laksanakan. Orang yang bertakwa secara sejati, maka akan ada keseimbangan di dalam hidupnya. Dia selalu menjaga hubungannya dengan dirinya, dengan sesamanya, dengan alam, dan dengan Tuhannya.
Kalau manusia sudah seperti itu, pasti dia akan hasanatan fiddunya wa hasanatan fil akhirah. Di dalam tasawuf, manusia seperti inilah yang dinamakan insanul kamil, yaitu manusia yang sudah mencapai derajat para Nabi, terutama mencapai derajat Rasulullah Muhammad SAW. Derajat para Nabi yang dimaksud adalah derajat dalam hal amal ibadah, bukan sebagai Nabinya.
DAFTAR PUSTAKA
Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi, al-Lu’lu’ wa al-Marjan. terj. Salim Bahreisy, Surabaya: Bina Ilmu, 1995
Rahman Ritonga dkk., Fiqih Ibadah, Jakarta: Gama Media Persada, 2002
Shahih Buchari, terj. Zainuddin Hamidy, Jakarta: Widjaya. 1969
Wahbah Zuhayli, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, Jilid I, Dar al-Fikr, 1989
Mughniyah, Muhammad Jawad, Fiqih Lima Mazhab, Jakarta: PT Lentera Basritama. 2002
Agama adalah suatu sistem nilai yang diakui dan diyakini kebenarannya dan merupakan jalan menuju keselamatan hidup. Agama merupakan suatu hakikat eksternal, dapat dikatakan agama merupakan kumpulan hukum dan ketentuan ideal yang mendiskripsikan sifat-sifat dari kekuatan Ilahiah itu dan kumpulan kaidah-kaidah praktis yang menggariskan cara beribadah kepada-Nya.
Islam berasal dari kata aslama, yuslimu yang berarti menyerah, tunduk dan damai. Islam dalam arti terminologi berarti agama yang ajaran-ajarannya diberikan oleh Allah kepada manusia melalui para Rasul-Nya untuk keselamatan hidup manusia. Dalam al-Quran dikatakan bahwa agama Allah adalah Islam yang telah diturunkan melalui perantara para Rasul.
Agama merupakan ibadah dan konsekuensi ibadah manusia hanya kepada Allah. Islam dijelaskan dalam Al Qur’an sebagai agama. Kata ini merupakan bentuk masdhar dari dana-yadinu, yang memiliki beberapa arti yaitu: taat atau patuh, wara’, agama, mazhab, keadaan, cara, atau kebiasaan, raja’, paksaan dan pembalasan atau perhitungan.
Apabila makna-makna di atas dikaitkan dengan arti yang dikandung oleh Islam, maka hubungan yang erat terdapat pada makna kepatuhan atau ketaatan. Dengan demikian, seorang muslim (pemeluk agama Islam) adalah orang yang telah menyatakan tunduk dan patuh kepada perintah Allah. Dalam makalah ini akan dibahas beberapa hal yang berkaitan dengan ibadah yang didasari oleh hadits dan ayat al-Qur’an.
PEMBAHASAN
Tentang Ibadah
Pilar islam yang pertama yaitu akidah dan pilar Islam yang kedua adalah ibadah. Ibadah berasal dari kata ‘abada, ya’budu, yang berarti menghamba atau tunduk dan patuh. ‘abdun berarti budak atau hamba sahaya, alma’bad berarti mulia dan agung, ‘abada bih berarti selalu mengikutinya, alma’budberarti yang memiliki, yang dipatuhi dan diagungkan. Jika makna kata-kata tersebut diurutkan akan menjadi susunan kata-kata yang logis, yaitu: “Jika seseorang menghambakan diri terhadap yang lain, ia akan mengikuti, mengagungkan, memuliakan, mematuhi dan tunduk“
.حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْه
Terjemah: Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu tergantung pada niatnya dan dianggap bagi tiap manusia apa yang dia niatkan. Maka yang hijrahnya tulus ikhlas kepada Allah dan Rasulnya maka akan diterima. Sedangkan yang hijrahnya untuk dunia “kekayaan” maka itulah yang akan diperoleh. Atau wanita yang akan dinikahi maka hijrah itu terhenti pada niat hijrah yang dia tuju.
Hadits diatas marfu’ dan ittishal sanad kepada Nabi, akan tetapi hadits tersebut tergolong hadits ahad karena pada tingkatan hanya diriwayatkan oleh shahabat Umar ibn al-Khattab sehingga Umar tidak memiliki syawahid. Pada riwayat Bukhari ini ditemukan 7 [tujuh] sanad namun rangkaian sanad tersebut memiliki mutabi’ pada tingkatan tabi’in maupun tabi’ tabi’in.Dijelaskan dalam fath al-Bari syarh Shahih Bukhori, bahwa niat merupakan kunci dari semua ibadah dan perbuatan. Bahwa niat menentukan segala perbuatan yang dilakukan dan melandasi setiap bentuk ibadah baik yang nampak maupun yang tidak nampak. Dalam riwayat yang lain:
حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ ذَرٍّ عَنْ يُسَيِّعٍ الْكِنْدِيِّ عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قَوْلِهِ وَقَالَ رَبُّكُمْ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ قَالَ الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ وَقَرَأَ وَقَالَ رَبُّكُمْ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِلَى قَوْلِهِ دَاخِرِينَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
Hadits diatas di kutip dari Turmudzi. Dilihat dari sanadnya merupakan hadits marfu’ dan ittishal kepada Nabi. Akan tetapi dalam tingkatan shahabat tidak memiliki syawahid karena hanya diriwayatkan oleh an-Nu’man ibn Basyir. Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa do’a adalah ibadah.Secara terminologis, pengertian ibadah terpetak-petak dengan rumusan yang bervariasi menurut berbagai disiplin ilmu. Menurut Ahli Tauhid dan Hadits ibadah adalah:
توحيد الله وتعظيمه غاية التعظيم مع التذلل والخضوع له
Mengesakan dan mengagungkan Allah sepenuhnya serta menghinakan diri dan menundukkan jiwa kepada-Nya.Dalam penjelasan lain yang merujuk pengertian ibadah dari sudut akhlak dan etika dalam kehidupan:
قَالَ النَبي ص.م. نَظر الرّجل الى والديه حبّا لهما عبادة (رواه السيوطى)
Terjemah: Nabi SAW bersabda: memandang ibu dan bapak karena cinta kepadanya adalah ibadah (HR. As-Suyuthi)
قال النبي ص.م. العبادة عشرة اجزاء تسعة منها فى طلب الحلال
Terjemah:Nabi SAW bersabda: Ibadah itu sepuluh bagian, sembilan bagian diantaranya terletak dalam mencari harta yamg halalSedangkan menurut ahli fiqih pengertian ibadah adalah:
ما أدّيت ابتغاء لوجه الله وطلبا لثوبه فى الآخرة
Segala bentuk ketaatan yang dikerjakan untu mencapai keridlaan Allah SWT dan mengharapkan pahalanya di akhirat.
Sepanjang penelusuran dalam penyusunan makalah ini, penulis belum dapat menemukan dan mencantumkan teks hadits yang menunjukkan adanya klasifikasi baik yang mahdlah maupun yang ghairu mahdlah bahkan hadits yang menunjukkan pengertian ibadah secara jelas, namun ketika lebih dikerucutkan pada term ibadah tertentu, banyak dijumpai hadits yang menjelaskan ibadah seperti tentang thaharah, shalat, puasa, zakat dll. Menurut Wahbah Zuhayli, ibadah mempunyai ruang lingkup yang sangat luas, yaitu mencakup segala amal kebajikan yang dilakukan dengan niat ikhlas.
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. Al-Baqarah : 186)
Ayat diatas menyiratkan perintah untuk selalu beribadah kepada Allah. Selanjutnya masih berkaitan dengan beberapa teks hadits diatas. TM Hasbi Ashshidieqi, membagi ibadah dalam dua arti menurut bahasa dan arti menurut istilah.
Secara etimologis, ibadah atau ibadat berarti: taat, menurut, mengikut dan sebagainya. Ibadah juga digunakan dalam arti doa.
Dari sisi terminologis, ibadah mempunyai arti berdasarkan istilah yang dipergunakan, antara lain: Menurut ahli tauhid, ibadah itu berarti mengesakan Allah, mentakzimkan-Nya dengan sepenuh-penuh takzim serta menghinakan diri kita dan menundukkan jiwa kepada-Nya. Ahli fiqh mengartikan ibadah dengan: apa yang dikerjakan untuk mendapat keridlaan Allah dan mengharap pahalaNya di akhirat.
العبادة هو اسم جامع لمن يحبه الله ويرضاه قولا كان او فعلا جليّا كان او خفياتعظيما له وطلبا لثوابه
Ibadah itu sendiri bisa dikelompokkan ke dalam kategori berdasarkan beberapa klasifikasi:
1. Pembagian ibadah didasarkan pada umum dan khusus (khashashah dan ‘ammah)
Ibadah ‘ammah, yakni semua pernyataan baik yang dilakukan dengan niat yang baik dan semata-mata karena Allah, seperti makan, minum, bekerja dan lain sebagainya dengan niat melaksanakan perbuatan itu untuk menjaga badan jasmaniah dalam rangka agar dapat beribadah kepada Allah.
Ibadah khashashah ialah ibadah yang ketentuannya telah ditetapkan oleh nash, seperti shalat, zakat, puasa dan haji.
2. Pembagian ibadah dari segi hal-hal yang bertalian dengan pelaksanaannya:
Ibadah jasmaniah, ruhiyah, seperti shalat dan puasa,
Ibadah ruhiyah dan amaliyah, seperti zakat,
Ibadah jasmaniah ruhiyah dan amaliyah, seperti mengerjakan haji.
3. Pembagian ibadah dari segi kepentingan perseorangan atau masyarakat:
Ibadah fardhi, seperti salat dan puasa,
Ibadah ijtima’i seperti zakat dan haji.
4. Pembagian dari segi bentuk dan sifatnya:
Ibadah yang berupa perkataan atau ucapan lidah, seperti membaca do’a, membaca Al Qur’an, membaca dzikir, membaca tahmid dan mendoakan orang yang bersin,
Ibadah yang berupa pekerjaan tertentu bentuknya meliputi perkataan dan perbuatan, seperti shalat, zakat, puasa, dan haji,
Ibadah yang sifatnya menggugurkan hak, seperti membebaskan hutang dan memaafkan orang yang bersalah,
Ibadah yang pelaksanaannya menahan diri, seperti ihram, puasa dan I’tikaf, dan menahan diri untuk berhubungan dengan istrinya,
Ibadah yang berupa perbuatan yang tidak ditentukan bentuknya, seperti menolong orang lain, berjihad, membela diri dari gangguan.
Dalam beribadah, terdapat dua syarat yang harus dipenuhi, yakni:
Sah, maksudnya amal itu dilakukan sesuai dengan kehendak syara’
Ikhlas, yakni semata-mata karena Allah.
Dalam konstruk ahli fiqih, sah ialah lawan batal. Perbuatan yang dihukumi sah, ila memenuhi rukun dan syarat-syaratnya. Dalam urusan perkawinan bila tidak terpenuhi rukun, disebut batal dan bila tidak memenuhi syarat-syaratnya maka fasid.
Tujuan Ibadah
Tujuan ibadah ada dua (baik itu ibadah mahdhah, maupun ibadah ghairu mahdhah). Pertama, untuk mencapai kesenangan hidup di dunia. Kedua, untuk mencapai ketenangan hidup di akhirat. Atau secara sederhananya yaitu untuk mencapai kesenangan dan ketenangan dunia dan akhirat. Berbagai macam kesenangan dunia kita lakukan tak lain adalah untuk meraih kesenangan dan ketenangan akhirat. Misalkan bekerja. Dengan bekerja, maka seseorang akan mendapatkan uang. Dengan uangnya tersebut, maka ia akan mendapatkan kesenangan dunia, dan juga akan semakin memudahkannya untuk melakukan ibadah mahdhah, misalkan berzakat ataupun menunaikan ibadah haji.
Rasulullah mengatakan, “Orang yang paling gampang masuk surga adalah orang kaya yang mau bersedekah.”
Mendengar itu, seorang sahabat berkata, “Ya Rasul, bagaimana kalau saya ini tidak kaya?”
Rasulullah kemudian menanyakan kepada sahabat tersebut, “Apakah kamu memiliki kurma?”
“Punya, ya Rasul,” jawab sahabat tersebut.
“Kalau kamu memang memiliki kurma, maka bagi dua-lah kurma tersebut. Setengahnya sedekahkan kepada orang lain, sedangkan setengahnya lagi untukmu. Setengah yang kamu bagikan kepada orang lain tersebut akan mengantarkan kamu untuk masuk surga bersama orang kaya yang suka bersedekah,” perjelas Rasulullah kepada sahabat tersebut.
Lalu ada lagi sahabat yang bertanya ketika itu, “Ya Rasul, saya tidak kaya dan tidak punya kurma. Kalau seperti ini, berarti saya susah masuk surga?”
Lalu Rasulullah bertanya kepada sahabat tersebut, “Apakah kamu mempunyai air satu gelas?”
“Punya, ya Rasul,” jawab sahabat tersebut.
“Kalau begitu, yang satu gelas tersebut kamu bagi dua. Setengahnya untuk kamu, sedangkan setengahnya lagi kamu sedekahkan kepada orang lain yang membutuhkan. Maka setengah yang kamu sedekahkan kepada orang lain itu akan mengantarkan kamu masuk surga bersama orang yang punya kurma yang dibagi dua tadi, dan juga bersama dengan orang kaya yang suka bersedekah.”
Lalu ada lagi yang bertanya, “Ya Rasul, saya ini tidak kaya, tidak punya kurma, dan juga tidak punya air satu gelas. Kalau begitu saya ini akan susah masuk surga?”
Lalu dijawab oleh Rasulullah, “Kalau kamu tidak mempunyai ketiga-tiganya itu, maka sedekahkanlah kepada saudaramu kalimat-kalimat yang baik, nasihat-nasihat yang baik, serta ucapan-ucapan yang baik.”
Nabi juga pernah mengatakan, “Hak seorang muslim itu adalah untuk didatangi pada saat ia sakit.” Jika itu adalah hak seorang muslim, maka muslim yang lainnya berkewajiban untuk mendatangi muslim yang sedang sakit tersebut.
Lalu Nabi juga pernah mengatakan, “Ketika kalian mendatangi orang yang sedang sakit, coba usap-usaplah dia dengan mengatakan, bersabarlah, karena ini ujian Allah.” Jadi, kita tidak perlu merasa berat untuk mendatangi dan menjenguk orang yang sedang sakit jika kita sedang tak memiliki apa-apa. Karena kita menjenguknya itu dalam rangka “kalimat thayyibah” kepada mereka yang sakit itu. Patut juga diketahui, kadang kala orang yang sakit itu kemudian menjadi sembuh lebih dikarenakan motivasi dari orang-orang yang ada di sekitarnya.
Semua kenikmatan itu diberikan oleh Allah karena kita diberikan kedudukan sebagai khalifatullah. Khalifatullah yang sangat efektif adalah khalifatullah yang menyadari dirinya, bahwa semua kenikmatan yang ada sekarang ini adalah kenikmatan yang diberikan oleh Allah, dan kita mensyukurinya hanya dengan jalan beribadah kepada-Nya.
Ibadah itu pada hakikatnya dalam rangka tiga hal:
Pertama, membina diri dengan baik.
Jika orang beribadah, tapi dirinya tidak terbina, sebenarnya ia belum mencapai tujuan itu. Misalkan, dia sering datang ke pengajian, tapi sifatnya tetap saja tidak pernah berubah. Ini berarti, bahwa dia menyimpang dari tujuan ibadah.
Mendidik dirinya itu adalah dalam rangka membina hubungan dengan sesama, dengan lingkungan, dan dengan Penciptanya. Jadi, kalau kita mendengarkan pengajian, dan pengajian itu adalah ibadah, maka seharusnya pembinaan diri tersebut menjadi meningkat. Misalkan, kita mengetahui bahwa minuman yang memabukkan itu diharamkan oleh agama, yang hal tersebut kita ketahui setelah mendengarkan ceramah agama. Namun setelah itu, ternyata kita tetap mengkonsumsi minuman yang memabukkan tersebut. Jika seperti ini, berarti kita belum sempurna membina diri kita dalam rangka mencapai ibadah.
Kedua, dalam rangka mensucikan diri kita.
Mensucikan diri yang dimaksud adalah: Pertama, mensucikan diri dari sifat-sifat yang kotor. Kedua, mensucikan diri dari perbuatan-perbuatan kotor. Sifat kotor akan mendorong kita melakukan perbuatan-perbuatan kotor. Makanya, perbuatan kotor itu kita minimalkan, bahkan kita hilangkan dari diri kita sendiri. Ketiga, membersihkan diri dari perbuatan-perbuatan dosa. Jika kita pernah melakukan perbuatan dosa, maka kemudian kita bertobat kepada Allah dan beristighfar. Itulah tujuan dari ibadah yang kita lakukan.
Ketiga, mengisi diri dengan sifat yang terpuji, mengisi diri dengan perbuatan baik, dan mengisi diri dengan perbuatan yang berpahala.
Kalau begitu, sasaran ibadah itu pada hakikatnya adalah untuk membina diri, mensucikan diri, dan mengisi diri.
Di dalam kehidupan kita sebagai khalifah Allah, maka ada dua hal yang harus kita perhatikan. Pertama, ada yang harus dijaga. Kedua, ada yang harus dihindari.
Yang harus dijaga tersebut ada empat hal: Pertama, menjaga hubungan baik dengan diri sendiri. Kedua, menjaga hubungan dengan sesama manusia. Ketiga, menjaga hubungan dengan lingkungan. Keempat, menjaga hubungan dengan Allah.
Yang harus dihindari tersebut juga ada empat hal, yaitu: penzaliman terhadap diri sendiri, terhadap sesama manusia, terhadap lingkungan, dan terhadap Allah.
KESIMPULAN
Berbagai pembagian ibadah di atas telah dijelaskan bahwa ibadah khashasah (dapat dipahami sebagai ibadah mahdlah) ialah yang ditentukan bentuk ketentuan dan pelaksanannya. Sedang ibadah ‘ammah (dipahami sebagai ibadah ghairu mahdlah) adalah semua perbuatan yang mendatangkan kebaikan dan dilaksanakan dengan niat semata-mata karena Allah. Pernyataan diatas, seakan-akan niat merupakan kriteria pada ibadah ‘ammah dan tidak merupakan kriteria pada ibadah mahdhah, padahal niatpun ada pada ibadah mahdlah. Sebagian berpendapat niat adalah rukun, sebagian berpendapat merupakan syarat.
Jika kita sudah menyadari bahwa diri kita sebagai “Khalifah Allah”, kemudian penciptaan kita itu adalah dalam rangka beribadah kepada Allah, semua ibadah yang kita lakukan dalam rangka menjaga empat hubungan tadi dan menghindari empat hubungan tadi, maka manusia tersebut menjadi manusia yang muttaqin sejati.
Jadi, kalau kita ingin mendapatkan predikat orang yang bertaqwa sejati, maka sebenarnya ajaran-ajaran tersebutlah yang harus kita laksanakan. Orang yang bertakwa secara sejati, maka akan ada keseimbangan di dalam hidupnya. Dia selalu menjaga hubungannya dengan dirinya, dengan sesamanya, dengan alam, dan dengan Tuhannya.
Kalau manusia sudah seperti itu, pasti dia akan hasanatan fiddunya wa hasanatan fil akhirah. Di dalam tasawuf, manusia seperti inilah yang dinamakan insanul kamil, yaitu manusia yang sudah mencapai derajat para Nabi, terutama mencapai derajat Rasulullah Muhammad SAW. Derajat para Nabi yang dimaksud adalah derajat dalam hal amal ibadah, bukan sebagai Nabinya.
DAFTAR PUSTAKA
Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi, al-Lu’lu’ wa al-Marjan. terj. Salim Bahreisy, Surabaya: Bina Ilmu, 1995
Rahman Ritonga dkk., Fiqih Ibadah, Jakarta: Gama Media Persada, 2002
Shahih Buchari, terj. Zainuddin Hamidy, Jakarta: Widjaya. 1969
Wahbah Zuhayli, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, Jilid I, Dar al-Fikr, 1989
Mughniyah, Muhammad Jawad, Fiqih Lima Mazhab, Jakarta: PT Lentera Basritama. 2002
MANFAAT ALAT KONTRASEPSI
Berita tentang meningkatnya kasus-kasus HIV/AIDS di berbagai daerah di Indonesia saat ini, bukanlah hal yang mengejutkan bagi petugas medis yang selama ini mengikuti, mendalami, serta menangani pasien-pasien AIDS. Karena angka-angka yang diutarakan itu hanyalah sebagai puncak gunung pada ‘Fenomena Gunung Es’ yang dikenal selama ini. Kalau kita mau berbicara fakta, angka-angka itu seharusnya lebih dari dua kali lipat tingginya. Kenapa?. Jawabnya adalah:
1. Sumber penularannya adalah manusia, sehingga virus HIV yang menjadi penyebab penyakit menyebar di semua golongan umur, dari janin dalam kandungan sampai usia tertua. Juga tidak ada bangsa, ras, etnis, dan suku yang kebal terhadap penularan virus ini.
2. Penularannya berlangsung sepanjang masa, tidak dipengaruhi oleh iklim, musim, dan kondisi lingkungan lainnya.
2. Penyebaran kasus terjadi di semua wilayah, tanpa memandang keadaaan geografi tertentu. Setiap jengkal tanah yang dihuni manusia dapat menjadi tempat penyebaran virus HIV.
3. Infeksi virus terjadi seumur hidup, sehingga pengidap HIV menjadi sumber penularan selagi ia masih hidup.
4. Pengobatannya di Indonesia masih terbatas pada persediaan obat yang ada, belum pada tahap mencari standard yang terbaik, dan harus dilakukan dalam jangka yang sangat panjang, bahkan sampai saat ini masih dianut pengobatan seumur hidup.
5. Belum ditemukannya vaksin yang efektif untuk mencegah penularan HIV.
6. Diskriminasi internal dalam penanggulangan terjadi akibat kebijakan yang dijalankan oleh Pemerintah/Departemen Kesehatan RI dengan menentukan hanya Rumah Sakit Pemerintah yang bertanggung jawab untuk merawat pasien AIDS.
7. Masih dirahasiakannya kasus-kasus pengidap HIV di masyarakat, sehingga stigma tidak dapat dihapuskan, yang membuat diskriminasi eksternal tidak dapat dihilangkan.
8. Dana penanggulangan yang masih belum optimal, sehingga kita masih bergantung pada pihak luar/asing, yang membatasi kita untuk membuat sistim penanggulangan yang mandiri.
9. Hingga saat ini prostitusi masih menjadi lapangan kerja bagi komunitas tertentu dan menjadi komoditi bisnis di seluruh Kabupaten/Kota, terutama kota besar dan daerah tujuan wisata. Itulah sebabnya pelacuran tidak bisa dihapuskan di negeri ini.
10. Peredaran narkotik suntik memberikan sumbangan yang sangat besar dalam penyebaran virus HIV dikalangan pemakainya. Sementara narkotik di Indonesia masih melanda kaum muda, bahkan kaum remaja, dan belum dapat dikendalikan. Penanggulangan peredaran narkotik suntik sampai saat ini belum menunjukkan penurunan yang signifikan, bahkan terkesan semakin bertambah, karena kaitannya dengan bisnis yang menggiurkan.
Faktor Penghambat
Sama seperti pandangan zaman dahulu terhadap pasien kusta atau sakit jiwa, masih terdapatnya sikap diskriminasi masyarakat terhadap pengidap HIV dan penderita AIDS, sehingga dukungan untuk pasien sangat kurang di kalangan keluarga. Pasien layaknya orang yang terkutuk, tak bermoral, dan harus dijauhi. Padahal, dengan menangani satu pengidap HIV, berarti kita sudah menangani satu sumber penularan, dan dapat mencegah penularannya kepada orang lain.
Diskriminasi di kalangan medis sendiri, dimana rumah sakit swasta selalu menolak merawat pasien AIDS dan merujuk hanya ke rumah sakit pemerintah saja. Kelompok pengidap HIV sendiri tanpa mereka sadari telah membuat diskriminasi terhadap kelompoknya, dengan menuntut berbagai fasilitas di dalam pelayanan medis, tidak mau datang kontrol dengan teratur dengan berbagai alasan. Masih ada instansi/perusahaan yang menolak orang-orang yang diketahui mengidap HIV untuk bekerja, atau malah memecat karyawan yang diketahui HIV positip. Luasnya kelompok masyarakat yang menentang sosialisasi kondom bagi kelompok risiko tinggi tertular. Karena mereka langsung menuduh tindakan sosialisasi kondom sebagai tindakan sosialisasi seks bebas.
Oleh karena itulah, penanggulangan infeksi HIV di masyarakat memerlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari generasi muda, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, organisasi, lembaga swadaya masyarakat dan yang tak kalah pentingnya keterlibatan dari pemimpin masyarakat dan para pengambil keputusan dan kebijakan.
Yang Perlu Diubah
Untuk menanggulangi penyebaran virus HIV ini, diperlukan tindakan medis dan non medis. Sementara tindakan medis masih dalam tahap perkembangan dan penelitian, masalah non medis menjadi penghalang dalam upaya pencegahan penularannya di masyarakat. Masalah non medis ini terletak pada manusia, meliputi pola fikir yang tidak berubah dari manusia itu, sementara lingkungannya sudah berubah. Masyarakat Indonesia masih belum mampu menerima keberadaan virus HIV dan pengidap virus HIV ini. Termasuk petugas kesehatan yang masih ada yang belum mau dan belum mampu memahami virus HIV dan penyakit AIDS. Sudah saatnya kita merubah sikap terhadap pengidap HIV dan penderita AIDS, dengan cara:
1. Membuka tabir kerahasiaan pengidap HIV, dan memperlakukan infeksi virus HIV sama dengan infeksi virus dan penyakit infeksi lainnya. Dengan demikian masyarakat diharapkan menerima fakta fenomena penyakit yang berkaitan dengan perilaku ini.
2. Seluruh unit layanan kesehatan memperlakukan pengidap HIV dan pasien AIDS sama dengan pasien lainnya dan tidak dipisahkan tersendiri. Tidak boleh Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta menolak merawat pasien AIDS.
3. Memasukkan materi HIV/AIDS dalam kurikulum sekolah mulai pendidikan dasar melalui mata pelajaran Ilmu Kesehatan dan Perilaku Hidup Sehat, sehingga anak sudah mendapat pengetahuan sederhana tentang infeksi HIV sejak dini.
4. Sosialisasi kondom kepada kelompok-kelompok risiko tinggi tertular HIV, yaitu Pekerja Seks Komersil dan pelanggannya. Sosialisasi kondom jangan diartikan sebagai sosialisasi seks bebas, tapi sebagai benteng terakhir setelah sosialisasi pendidikan moral dan agama yang paling utama tidak berhasil. Kondom harus dipandang sebagai alat pelindung, sedangkan sasaran pengendaliannya adalah pada ’alat’ yang dilindungi kondom itu.
5. Meningkatkan program Harm Reduction (penggunaan jarum suntik steril) bagi pecandu narkotik suntik yang diawasi oleh petugas atau substitusi Methadone secara oral. Oleh karena itulah, penanggulangan infeksi HIV di masyarakat membutuhkan keterlibatan dan kesepakatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari generasi muda, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, organisasi, lembaga swadaya masyarakat dan yang tak kalah pentingnya keterlibatan dari pemimpin masyarakat dan para pengambil keputusan dan kebijakan.
6. Tidak harus menunggu, karena memang tidak ada yang ditunggu. Kekhawatiran untuk mengungkapkan fakta dan merahasiakan kasus infeksi menular HIV karena takut dikucilkan karena tidak bermoral, hanya mencerminkan kedangkalan wawasan dan akan menyembunyikan sumber penularan yang potensial. Fakta menunjukkan bahwa, meskipun kasus pengidap HIV dirahasiakan, namun perilaku berisiko tinggi tidak dapat dihentikan, terutama prostitusi dan seks bebas serta penggunaan narkotika suntik. Kepedulian dan kesiapan membuka tabir rahasia ini harus ”dipaksa” agar terjadi perobahan dalam pola fikir, dan pola tindak.
Tantangan dan hambatan sudah pasti ada. Tapi semuanya harus dihadapi dan diterobos, bukan dihindari, karena tantangan itu pada hakekatnya adalah anugerah. Yang akan kita tanggulangi ke depan ini adalah bayi-bayi yang dilahirkan dengan status HIV positip yang ditularkan dari ibunya yang mungkin tidak tahu sudah tertular dari suaminya yang berperilaku risiko tinggi. Lahirnya bayi dengan HIV positip harus dicegah untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa ini.
Maka dari itu, kami mencoba dan pengaplikasian teori sehat terhadap masyarakat Malang, khususnya di daerah Sumbersari. Karena kami beragapan bahwa, kemungkian masyarakat belum memahami apa kendala dari hubungan seks bebas atau bahaya HIV/AIDS. Karena itu, dengan sedikit memberikan penyuluhan dan pembagian alat kontrasepsi ini kami bisa mencoba untuk mengurangi penyebaran virus HIV/AIDS.
Dan dari hasil kerja aksi disana, ternyata banyak masyarakat yang antusias dan memahami bahaya virus HIV/AIDS, karena sewaktu membagikan alat kontrasepsi kami sedikit memberikan penjelasan tentang bahaya virus HIV walau hanya sedikit masyarakat yang ada pada saat itu. Mungkin disini kami akan menjelaskan urutan acara yang terjadi disana.
Kami sebagai para praktikan disana kami menunggu pegawai PUSKESMAS dan masyarakat Sumbersari. Karena kekurangan komunikasi dan jaringan, hanya sedikit masyarakat yang hadir pada saat pembagian alat kontrasepsi. Kira-kira pada pukul 10.00 baru kita dapat memulai acara. Acara yang pertama, masih diambil alih oleh para pegawai PUSKESMAS dengan tujuan kita dapat berkenalan langsung sebelum acara inti dimulai.
Setelah acara pembukaan dari pegawai PUSKESMAS dan perkenalan. Kami baru maju kedepan audiens dan memberitahukan tujuan kami kepada masyarakat. Dan memberi penjelasan tentang bahaya AIDS dan manfaat alat kontra sepsi sebagai alat pembantu KB (keluarga berencana).
Setelah penjelasan dari kami, pihak dari PUSKESMAS juga ikut serta menjelaskan apa guna KONDOM bagi masyarakat. Dan apa saja yang di serang oleh virus HIV bagi pengidapnya. Dengan bantuan beberapa foto-foto orang yang mengidap virus HIV. Setelah penjelasan kami membagikan alat kontrasepsi tersebut kepada pihak PUSKESMAS, dan membantu membagikannya pada masyarakat yang sedang mengikuti acara itu.
Setelah acara selesai, kita berpamitan untuk pulang dan sebelum pulang kita bersalam-salaman dengan masyarakatk sebagai tanda perpisahan. Dan setelah itu, kita berpamitan ke beberapa petugas PUSKESMAS karena sudah diperkenakan untuk melakukan tugas yang telah diberikan oleh dosen pembimbing mata kuliah Psikiatri.
1. Sumber penularannya adalah manusia, sehingga virus HIV yang menjadi penyebab penyakit menyebar di semua golongan umur, dari janin dalam kandungan sampai usia tertua. Juga tidak ada bangsa, ras, etnis, dan suku yang kebal terhadap penularan virus ini.
2. Penularannya berlangsung sepanjang masa, tidak dipengaruhi oleh iklim, musim, dan kondisi lingkungan lainnya.
2. Penyebaran kasus terjadi di semua wilayah, tanpa memandang keadaaan geografi tertentu. Setiap jengkal tanah yang dihuni manusia dapat menjadi tempat penyebaran virus HIV.
3. Infeksi virus terjadi seumur hidup, sehingga pengidap HIV menjadi sumber penularan selagi ia masih hidup.
4. Pengobatannya di Indonesia masih terbatas pada persediaan obat yang ada, belum pada tahap mencari standard yang terbaik, dan harus dilakukan dalam jangka yang sangat panjang, bahkan sampai saat ini masih dianut pengobatan seumur hidup.
5. Belum ditemukannya vaksin yang efektif untuk mencegah penularan HIV.
6. Diskriminasi internal dalam penanggulangan terjadi akibat kebijakan yang dijalankan oleh Pemerintah/Departemen Kesehatan RI dengan menentukan hanya Rumah Sakit Pemerintah yang bertanggung jawab untuk merawat pasien AIDS.
7. Masih dirahasiakannya kasus-kasus pengidap HIV di masyarakat, sehingga stigma tidak dapat dihapuskan, yang membuat diskriminasi eksternal tidak dapat dihilangkan.
8. Dana penanggulangan yang masih belum optimal, sehingga kita masih bergantung pada pihak luar/asing, yang membatasi kita untuk membuat sistim penanggulangan yang mandiri.
9. Hingga saat ini prostitusi masih menjadi lapangan kerja bagi komunitas tertentu dan menjadi komoditi bisnis di seluruh Kabupaten/Kota, terutama kota besar dan daerah tujuan wisata. Itulah sebabnya pelacuran tidak bisa dihapuskan di negeri ini.
10. Peredaran narkotik suntik memberikan sumbangan yang sangat besar dalam penyebaran virus HIV dikalangan pemakainya. Sementara narkotik di Indonesia masih melanda kaum muda, bahkan kaum remaja, dan belum dapat dikendalikan. Penanggulangan peredaran narkotik suntik sampai saat ini belum menunjukkan penurunan yang signifikan, bahkan terkesan semakin bertambah, karena kaitannya dengan bisnis yang menggiurkan.
Faktor Penghambat
Sama seperti pandangan zaman dahulu terhadap pasien kusta atau sakit jiwa, masih terdapatnya sikap diskriminasi masyarakat terhadap pengidap HIV dan penderita AIDS, sehingga dukungan untuk pasien sangat kurang di kalangan keluarga. Pasien layaknya orang yang terkutuk, tak bermoral, dan harus dijauhi. Padahal, dengan menangani satu pengidap HIV, berarti kita sudah menangani satu sumber penularan, dan dapat mencegah penularannya kepada orang lain.
Diskriminasi di kalangan medis sendiri, dimana rumah sakit swasta selalu menolak merawat pasien AIDS dan merujuk hanya ke rumah sakit pemerintah saja. Kelompok pengidap HIV sendiri tanpa mereka sadari telah membuat diskriminasi terhadap kelompoknya, dengan menuntut berbagai fasilitas di dalam pelayanan medis, tidak mau datang kontrol dengan teratur dengan berbagai alasan. Masih ada instansi/perusahaan yang menolak orang-orang yang diketahui mengidap HIV untuk bekerja, atau malah memecat karyawan yang diketahui HIV positip. Luasnya kelompok masyarakat yang menentang sosialisasi kondom bagi kelompok risiko tinggi tertular. Karena mereka langsung menuduh tindakan sosialisasi kondom sebagai tindakan sosialisasi seks bebas.
Oleh karena itulah, penanggulangan infeksi HIV di masyarakat memerlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari generasi muda, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, organisasi, lembaga swadaya masyarakat dan yang tak kalah pentingnya keterlibatan dari pemimpin masyarakat dan para pengambil keputusan dan kebijakan.
Yang Perlu Diubah
Untuk menanggulangi penyebaran virus HIV ini, diperlukan tindakan medis dan non medis. Sementara tindakan medis masih dalam tahap perkembangan dan penelitian, masalah non medis menjadi penghalang dalam upaya pencegahan penularannya di masyarakat. Masalah non medis ini terletak pada manusia, meliputi pola fikir yang tidak berubah dari manusia itu, sementara lingkungannya sudah berubah. Masyarakat Indonesia masih belum mampu menerima keberadaan virus HIV dan pengidap virus HIV ini. Termasuk petugas kesehatan yang masih ada yang belum mau dan belum mampu memahami virus HIV dan penyakit AIDS. Sudah saatnya kita merubah sikap terhadap pengidap HIV dan penderita AIDS, dengan cara:
1. Membuka tabir kerahasiaan pengidap HIV, dan memperlakukan infeksi virus HIV sama dengan infeksi virus dan penyakit infeksi lainnya. Dengan demikian masyarakat diharapkan menerima fakta fenomena penyakit yang berkaitan dengan perilaku ini.
2. Seluruh unit layanan kesehatan memperlakukan pengidap HIV dan pasien AIDS sama dengan pasien lainnya dan tidak dipisahkan tersendiri. Tidak boleh Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta menolak merawat pasien AIDS.
3. Memasukkan materi HIV/AIDS dalam kurikulum sekolah mulai pendidikan dasar melalui mata pelajaran Ilmu Kesehatan dan Perilaku Hidup Sehat, sehingga anak sudah mendapat pengetahuan sederhana tentang infeksi HIV sejak dini.
4. Sosialisasi kondom kepada kelompok-kelompok risiko tinggi tertular HIV, yaitu Pekerja Seks Komersil dan pelanggannya. Sosialisasi kondom jangan diartikan sebagai sosialisasi seks bebas, tapi sebagai benteng terakhir setelah sosialisasi pendidikan moral dan agama yang paling utama tidak berhasil. Kondom harus dipandang sebagai alat pelindung, sedangkan sasaran pengendaliannya adalah pada ’alat’ yang dilindungi kondom itu.
5. Meningkatkan program Harm Reduction (penggunaan jarum suntik steril) bagi pecandu narkotik suntik yang diawasi oleh petugas atau substitusi Methadone secara oral. Oleh karena itulah, penanggulangan infeksi HIV di masyarakat membutuhkan keterlibatan dan kesepakatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari generasi muda, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, organisasi, lembaga swadaya masyarakat dan yang tak kalah pentingnya keterlibatan dari pemimpin masyarakat dan para pengambil keputusan dan kebijakan.
6. Tidak harus menunggu, karena memang tidak ada yang ditunggu. Kekhawatiran untuk mengungkapkan fakta dan merahasiakan kasus infeksi menular HIV karena takut dikucilkan karena tidak bermoral, hanya mencerminkan kedangkalan wawasan dan akan menyembunyikan sumber penularan yang potensial. Fakta menunjukkan bahwa, meskipun kasus pengidap HIV dirahasiakan, namun perilaku berisiko tinggi tidak dapat dihentikan, terutama prostitusi dan seks bebas serta penggunaan narkotika suntik. Kepedulian dan kesiapan membuka tabir rahasia ini harus ”dipaksa” agar terjadi perobahan dalam pola fikir, dan pola tindak.
Tantangan dan hambatan sudah pasti ada. Tapi semuanya harus dihadapi dan diterobos, bukan dihindari, karena tantangan itu pada hakekatnya adalah anugerah. Yang akan kita tanggulangi ke depan ini adalah bayi-bayi yang dilahirkan dengan status HIV positip yang ditularkan dari ibunya yang mungkin tidak tahu sudah tertular dari suaminya yang berperilaku risiko tinggi. Lahirnya bayi dengan HIV positip harus dicegah untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa ini.
Maka dari itu, kami mencoba dan pengaplikasian teori sehat terhadap masyarakat Malang, khususnya di daerah Sumbersari. Karena kami beragapan bahwa, kemungkian masyarakat belum memahami apa kendala dari hubungan seks bebas atau bahaya HIV/AIDS. Karena itu, dengan sedikit memberikan penyuluhan dan pembagian alat kontrasepsi ini kami bisa mencoba untuk mengurangi penyebaran virus HIV/AIDS.
Dan dari hasil kerja aksi disana, ternyata banyak masyarakat yang antusias dan memahami bahaya virus HIV/AIDS, karena sewaktu membagikan alat kontrasepsi kami sedikit memberikan penjelasan tentang bahaya virus HIV walau hanya sedikit masyarakat yang ada pada saat itu. Mungkin disini kami akan menjelaskan urutan acara yang terjadi disana.
Kami sebagai para praktikan disana kami menunggu pegawai PUSKESMAS dan masyarakat Sumbersari. Karena kekurangan komunikasi dan jaringan, hanya sedikit masyarakat yang hadir pada saat pembagian alat kontrasepsi. Kira-kira pada pukul 10.00 baru kita dapat memulai acara. Acara yang pertama, masih diambil alih oleh para pegawai PUSKESMAS dengan tujuan kita dapat berkenalan langsung sebelum acara inti dimulai.
Setelah acara pembukaan dari pegawai PUSKESMAS dan perkenalan. Kami baru maju kedepan audiens dan memberitahukan tujuan kami kepada masyarakat. Dan memberi penjelasan tentang bahaya AIDS dan manfaat alat kontra sepsi sebagai alat pembantu KB (keluarga berencana).
Setelah penjelasan dari kami, pihak dari PUSKESMAS juga ikut serta menjelaskan apa guna KONDOM bagi masyarakat. Dan apa saja yang di serang oleh virus HIV bagi pengidapnya. Dengan bantuan beberapa foto-foto orang yang mengidap virus HIV. Setelah penjelasan kami membagikan alat kontrasepsi tersebut kepada pihak PUSKESMAS, dan membantu membagikannya pada masyarakat yang sedang mengikuti acara itu.
Setelah acara selesai, kita berpamitan untuk pulang dan sebelum pulang kita bersalam-salaman dengan masyarakatk sebagai tanda perpisahan. Dan setelah itu, kita berpamitan ke beberapa petugas PUSKESMAS karena sudah diperkenakan untuk melakukan tugas yang telah diberikan oleh dosen pembimbing mata kuliah Psikiatri.
Sabtu, 04 September 2010
Analisis penyebab perilaku beresiko remaja putri remaja
1. pubertas awal. Pubertas awal memberikan peluang yang besar kepada remaja putri untuk terlibat dengan berbagai perilaku beresiko ( mis; prilaku merokok, drugs, depresi, gangguan makan, over demanding tentang kebebasan, memilki teman2 yg lebih tua , tubuh mereka cenderung mengundang laki2 untuk berkencan shg seringkali mengalami pengalaman seksual lebih cepat (hamil di luar nikah, tertular penyakit kelamin).
Note : remaja putri yg mengalami kemasakan seksual terlalu cepat diasosiasikan dengan berbagai masalah di atas karena implikasi dari ketidak dewasaan emosi social dan kognitif mereka, dikombinasikan dengan perkembangan fisik yang terlalu cepat menyebabkan mereka mudah terlibat dengan tingkah laku bermasalah, kurang memahami efek jangka panjang yang mungkin terjadi selanjutnya.
2. hilangnya figure dan peran ayah dalam perkembangan remaja. Ayah memiliki peran yang besar dalam kehidupan seorang anak, terutama berkaitan perkembangan social anak. Ayah memperkenalkan anak dengan lingkungan, mengarahkan aktifitas anak dengan dunia luar, memperkenalkan tuntutan social, bagaimana harus bersikap, bagaimana melakukan antisipasi dan problem solving, menghadirkan rasa aman, dll. Hadirnya peran ayah dalam kehidupan anak akan sangat mempengaruhi anak dalam menghadapi perubahan social dan perkembangan kognit. Figur ayah juga dibutuhkan oleh remaja putri terutama terkait dengan usaha untif yang optimaluk mempelajari lawan jenisnya
3. egosentrisme remaja. Remaja awal memandang diri mereka tidak terkalahkan, kebal fisik, kebal sangsi hukum yang dikenakan pada orang lain.
4. pola negativitas yang berkembang pada diri remaja.
5. meningkatnya penalaran hipotetik deduktif remaja yang menyertai perkembangan kognitif operasional formal seharusnya membantu remaja untuk lebih mampu memahami resiko sebuah perilaku, memikirkan perilaku mereka, mempertimbangkan akibat jangka panjang dan memahami makna simbolik. Namun sayang, kemampuan berpikir abstrak dan minat terhadap makna simbolis remaja membuatnya lebih mudah terpengaruh iklan yang secara simbolik mengaitkan produk-produk yang tidak sehat; mis: rokok, alcohol, dengan daya tarik, penerimaan teman sebaya dan status kedewasaan
6. idealisme remaja. Remaja memiliki bayangan tentang dunia ideal yang bebas dari keburukan dunia nyata, hingga seakan-akan dunia nyata harus mengalah pada skema idealistic daripada kepada system nyata itu sendiri.
Note : remaja putri yg mengalami kemasakan seksual terlalu cepat diasosiasikan dengan berbagai masalah di atas karena implikasi dari ketidak dewasaan emosi social dan kognitif mereka, dikombinasikan dengan perkembangan fisik yang terlalu cepat menyebabkan mereka mudah terlibat dengan tingkah laku bermasalah, kurang memahami efek jangka panjang yang mungkin terjadi selanjutnya.
2. hilangnya figure dan peran ayah dalam perkembangan remaja. Ayah memiliki peran yang besar dalam kehidupan seorang anak, terutama berkaitan perkembangan social anak. Ayah memperkenalkan anak dengan lingkungan, mengarahkan aktifitas anak dengan dunia luar, memperkenalkan tuntutan social, bagaimana harus bersikap, bagaimana melakukan antisipasi dan problem solving, menghadirkan rasa aman, dll. Hadirnya peran ayah dalam kehidupan anak akan sangat mempengaruhi anak dalam menghadapi perubahan social dan perkembangan kognit. Figur ayah juga dibutuhkan oleh remaja putri terutama terkait dengan usaha untif yang optimaluk mempelajari lawan jenisnya
3. egosentrisme remaja. Remaja awal memandang diri mereka tidak terkalahkan, kebal fisik, kebal sangsi hukum yang dikenakan pada orang lain.
4. pola negativitas yang berkembang pada diri remaja.
5. meningkatnya penalaran hipotetik deduktif remaja yang menyertai perkembangan kognitif operasional formal seharusnya membantu remaja untuk lebih mampu memahami resiko sebuah perilaku, memikirkan perilaku mereka, mempertimbangkan akibat jangka panjang dan memahami makna simbolik. Namun sayang, kemampuan berpikir abstrak dan minat terhadap makna simbolis remaja membuatnya lebih mudah terpengaruh iklan yang secara simbolik mengaitkan produk-produk yang tidak sehat; mis: rokok, alcohol, dengan daya tarik, penerimaan teman sebaya dan status kedewasaan
6. idealisme remaja. Remaja memiliki bayangan tentang dunia ideal yang bebas dari keburukan dunia nyata, hingga seakan-akan dunia nyata harus mengalah pada skema idealistic daripada kepada system nyata itu sendiri.
PERKEMBANGAN KOGNITIF DEWASA MUDA
• Menurut Piaget, remaja dan dewasa awal sama-sama berada pada tahap operasional formal tetapi tingkat kualitasnya lebih baik pada masa dewasa awal
• Menurut W. Perry : remaja berfikir dualistic, dewasa awal berpikir dengan pola relativisme total.
• Menurut Warner Schaie
Schaie memformulasikan tahap-tahap perkembangan kognitif dalam 7 tahap, yakni:
1. Acquisitive(menguasai)stage ( 6- 25 th) : mencari, menguasai pengetahuan dan ketrampilan melalui jalur pendidikan.
2. Achieving (menuju keberhasilan)stage (24 – 34 th) : masa pencapaian prestasi; kemampuan untuk mempraktekkan seluruh potensi intelektual, bakat minat, pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki selama masa akuisitif kedalam dunia karir.
3. Responsibility (pertangguang jawaban)stage : mempertanggung jawabkan segala tindakannya secara etika moral kepada masyarakat
4. Executive (pelaksana)stage : biasanya individu telah mencapai puncak karir, sehingga ia memiliki pekerjaan, peran dan tanggung jawab yang lebih besar dalam suatu system organisasi yang dibina sejak masa dewasa muda sebelumnya.
5. Reorganizational stage : individu mulai memasuki masa pension, sehingga ia mengatur ulang (reorganisasi) seluruh kemampuan intelektual, ketrampilan, dan pengalaman hidupnya untuk mencari makna /arti/nilai pekerjaan alam kehidupannya.
6. Reintegrative stage : individu mulai melepaskan diri dan merenungkan kembali apa yang telah dicapai sebelumnya, serta mengolah kembali segala pengalaman yang berhasil maupun yang gagal sepanjang perjalanan hidupnya untuk memperoleh arti dan makna kehidupan.
7. Legacy creating(membuat pewarisan) stage : menjelang akhir hidup, seseorang membuat sebuah disposisi ulang terhadap berbagai pengalaman yang diperoleh, bersedia mengungkapkan kembali pengalaman hidupnya pada orang lain lewat lisan atau tulisan untuk manfaat kepada masyarakat luas. Dengan demikian dapat diketahui kompetensi kognitif apa yang diperlukan untuk menangani suatu jenis pekerjaan tertentu.
• Menurut Turner & Helms.
Perkembangan kognitif dewasa muda berada pada post formal reasoning/penalaran post formal. Kemampuan ini ditandai dengan pemikiran yang bersifat dialektikal (dialectical thought), yaitu kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mencari titik temu dari ide-ide, gagasan- gagasan, teori-teori, pendapat-pendapat dan pemikiran-pemikiran yang bersifat kontradiktif, sehingga individu mampu mensintesiskannya dalam pemikiran baru dan kreatif.
• Menurut Jan Sinot.
Perkembangan dewasa muda berada pada tahap post formal, yang ditandai dengan karakteristik-karakteristik berikut :
1. Shifting gears : kemampuan mengaitkan penalaran abstrak dengan hal-hal yang bersifat praktis. Artinya individu bukan hanya mampu berfikir abstrak, tapi juga mampu menjelaskan/menjabarkan hal-hal abstrak (konsep/ide) menjadi sesuatu yang praktis yang dapat diterapkan secara langsung.
2. Multiple causality, multiple solutions: kemampuan untuk memahami suatu masalah dari berbagai factor (multiple factor) & mencari / menghadirkan berbagai alternative solusi
3. Pragmatism : individu dengan pemikiran post formal adalah individu yang pragmatis, artinya mampu menyadari dan memilih solusi terbaik dalam menyelesaikan suatu masalah (bersifat goal oriented), namun dapat menghargai pilihan solusi orang lain yang berbeda dengan dirinya.
4. Awareness of paradox : Kesadaran bahwa dalam memutuskan permasalahan dapat berakibat pada munculnya hal-hal yang bersifat paradoksal (bertentangan), misalnya positif negative / untung rugi, namun individu yang awareness of paradox memiliki keberanian dan ketegasan untuk menghadapi konflik tanpa harus melanggar prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan..
• Menurut W. Perry : remaja berfikir dualistic, dewasa awal berpikir dengan pola relativisme total.
• Menurut Warner Schaie
Schaie memformulasikan tahap-tahap perkembangan kognitif dalam 7 tahap, yakni:
1. Acquisitive(menguasai)stage ( 6- 25 th) : mencari, menguasai pengetahuan dan ketrampilan melalui jalur pendidikan.
2. Achieving (menuju keberhasilan)stage (24 – 34 th) : masa pencapaian prestasi; kemampuan untuk mempraktekkan seluruh potensi intelektual, bakat minat, pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki selama masa akuisitif kedalam dunia karir.
3. Responsibility (pertangguang jawaban)stage : mempertanggung jawabkan segala tindakannya secara etika moral kepada masyarakat
4. Executive (pelaksana)stage : biasanya individu telah mencapai puncak karir, sehingga ia memiliki pekerjaan, peran dan tanggung jawab yang lebih besar dalam suatu system organisasi yang dibina sejak masa dewasa muda sebelumnya.
5. Reorganizational stage : individu mulai memasuki masa pension, sehingga ia mengatur ulang (reorganisasi) seluruh kemampuan intelektual, ketrampilan, dan pengalaman hidupnya untuk mencari makna /arti/nilai pekerjaan alam kehidupannya.
6. Reintegrative stage : individu mulai melepaskan diri dan merenungkan kembali apa yang telah dicapai sebelumnya, serta mengolah kembali segala pengalaman yang berhasil maupun yang gagal sepanjang perjalanan hidupnya untuk memperoleh arti dan makna kehidupan.
7. Legacy creating(membuat pewarisan) stage : menjelang akhir hidup, seseorang membuat sebuah disposisi ulang terhadap berbagai pengalaman yang diperoleh, bersedia mengungkapkan kembali pengalaman hidupnya pada orang lain lewat lisan atau tulisan untuk manfaat kepada masyarakat luas. Dengan demikian dapat diketahui kompetensi kognitif apa yang diperlukan untuk menangani suatu jenis pekerjaan tertentu.
• Menurut Turner & Helms.
Perkembangan kognitif dewasa muda berada pada post formal reasoning/penalaran post formal. Kemampuan ini ditandai dengan pemikiran yang bersifat dialektikal (dialectical thought), yaitu kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mencari titik temu dari ide-ide, gagasan- gagasan, teori-teori, pendapat-pendapat dan pemikiran-pemikiran yang bersifat kontradiktif, sehingga individu mampu mensintesiskannya dalam pemikiran baru dan kreatif.
• Menurut Jan Sinot.
Perkembangan dewasa muda berada pada tahap post formal, yang ditandai dengan karakteristik-karakteristik berikut :
1. Shifting gears : kemampuan mengaitkan penalaran abstrak dengan hal-hal yang bersifat praktis. Artinya individu bukan hanya mampu berfikir abstrak, tapi juga mampu menjelaskan/menjabarkan hal-hal abstrak (konsep/ide) menjadi sesuatu yang praktis yang dapat diterapkan secara langsung.
2. Multiple causality, multiple solutions: kemampuan untuk memahami suatu masalah dari berbagai factor (multiple factor) & mencari / menghadirkan berbagai alternative solusi
3. Pragmatism : individu dengan pemikiran post formal adalah individu yang pragmatis, artinya mampu menyadari dan memilih solusi terbaik dalam menyelesaikan suatu masalah (bersifat goal oriented), namun dapat menghargai pilihan solusi orang lain yang berbeda dengan dirinya.
4. Awareness of paradox : Kesadaran bahwa dalam memutuskan permasalahan dapat berakibat pada munculnya hal-hal yang bersifat paradoksal (bertentangan), misalnya positif negative / untung rugi, namun individu yang awareness of paradox memiliki keberanian dan ketegasan untuk menghadapi konflik tanpa harus melanggar prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan..
Rabu, 25 Agustus 2010
Internasionalisasi dan Globalisasi
Internasionalisasi dan globalisasi adalah ibarat kembar siam yang hampir sama bentuk fisiknya tetapi berbeda sifat dan wataknya. Atau dapat juga ditamsilkan sebagai orang yang memiliki kepribadian ganda. Yang pertama, kepribadian yang baik, sopan, dan santun. Yang kedua, kepribadian yang jahat, brutal, dan gragas alias tamak. Dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, telah lama, atau bahkan sejak awal kelahirannya telah berkenalan baik dengan internasionalisasi, kalau tidak mau mengatakan bahwa pendidikan tinggi adalah buah dari internasionalisasi ilmu pengetahuan, seni, dan budaya. Karena menyadari manfaat besar dan positif dari internasionalisasi, hamper tidak ada Negara yang secara sadar mau memisahkan dirinya dari arus internasionalisasi. Bahkan dalam Pembukaan UUD 1945, tercantum jelas bahwa salah satu tujuan pendirian Republik Indonesia amat dijiawai semangat internasionalisme, yairu
ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan social
Globalisasi, menurut stiglitz (2003), merupakan interdependensi yang tidak simetris antarnegara, lembaga, dan aktornya. Karena itu, interdependesi antar negara yang seperti tersebut lebih menguntungkan negara yang memiliki keunggulan ekonomi dan teknologi. Padahal, globalisasi awalnya bertujuan untuk membuka peluang bagi negara-negara berkembang untuk meningkatkan kesejahteraannya melalui perdagangan global. Globalisasi yang dimotori fundamentalisme psar, beberapa peranyaan sangat perlu memperoleh perhatian dari dunia pendidikan tinggi. Pertama, apa peran yang harus Dimainkan pendidikan tinggi ketika ekspansi globalisasi kapitalisme neoliberal telah menjadi kenyataan? Kedua, benarkah globalisasi kapitalisme yang oleh Robetson (2003) disebut sebagai globalisasi gelombang ketika ketika itu menawrkan peluang yang lebih menjanjikan bagi pendidikan tinggi Indonesia untuk mewujudkan pendidikan bermutu internasional sebagaimana yang mungkin diyakini banyak ahli ekonomi? Logika yang mendasari ekspansi globalisasi gelombang ketiga diturunkan dari iedeologi neoliberalisme, yang di dalam filsafat politik kontemporer memiliki afinitasnya dengan ideologi libertarianisms yang direntang melampaui batasnya yang ekstrem. Seperti halnya dengan libertarianism yang membela kebebasan pasar dan menuntut peran negara yangterbatas (Kymlyca, 1999: 95), neoliberalisme percaya pada pentingnya institusi kepemilikan privat dan efek distributif dari ekspropriasi kemakmuran yang tidak terbatas oleh korporasi-korporasi transnasional, pada superioritas hukum pasar sebagai mekanisme distribusi sumber daya, kekayaan dan pendapatan yang paling efektif, dan pada keunggulan pasar bebas, sebagai mekanisme-mekanisme sangat penting untuk menjamin kemakmuran dan peningkatan kesejahteraan semua orang dan indivisu (Gelina, op.cit, 2003: 24). Bekerja melalui regulasi yang dilakukan oleh tiga lembaga multilateral yang oleh Ricard Peet (2002) disebut sebagai The Unholy Trinity (IMF, Bank Dunia dan WTO), di bawah tekanan ekspansi globalisasi gelombang ketiga, perlahan-perlahn akan tetapi pasti, segala sesuatu yang berharga tidak dapat dipertahankan dari komodifikasi dan komersialisasi sistem ekonomi global: termasuk air, bahan pangan, kesehatan, karya seni, dan ilmu pengetahuan, apalagi teknologi. Semua itu terjadi terutama melalui proses marjinalisasi kekuasaan dan otoritas negara-negara Dunia Ketiga di dlam pengaturan ekonomi nasional mereka, yang terjadi dalam lima tahapan perkembangan berikut (Gelinas ibid: 31). 1) Deregulasi sistem keuangan internasional Bretton Woods yang terjadi sejak 1971, dan yang telah mengubah semua aset keuangan dunia ke dalam kapitas spekulatif. (2) Deregulasi ekonomi Dunia Ketiga secara sistematis dan bertahap, yang terjadi sejak tahun 1980-an melaluui program-program penyesuaian struktural (Structural adjustment)di bawah pengawalan IMF dan Bank Dunia untuk mengintergrasikan negara-negara sedang berkembang ke dalam sistem pasar global. 2) Deregulasi stock markets yang terjadi sejak 1986 untuk mengatur deregulasi semua stocks markets di seluruh dunia. (4) Deregulasi produksi pertanian dan komersialisasi jasa yang timbul sebagai konsekuensi dari perjanjian-perjanjian internasional. (5) Proliferasi kemudahan-kemudahan pajak dan perbankan (tax dan bangking havens) sejak pertengahan 1990-an yang telah menghasilkan separuh dari seluruh aliran keuangan dunia terjadi melalui kemudahan-kemudahan bebas hambatan dari semua netuk kendala legal oleh karena kekuasaan publik mengikuti ketidakpedulian kebijakan-kebijakan publik. Menurut pengamatan Stiglitz (2003, ch.3) globalisasi berwajah fundamentalisme pasar yang dalam manifestasinya mengambil bentuk pasar bebas dengan berbagai isntrumennya, telah ditolak masyarakat Amerika Serikat dan perumus kebijakan pada masa Pemerintahan Clinton. Namun, globalisasi seperti itulah yang justru dipaksakan kepada negara-negara berkembang. Korban dari kebijakan tersebut sudah berjatuhan karena industri pertanian negara berkembang dan negara-negara Eropa Timur mengalami kemuduran yang amat besar karena tidak mampu bersaing dengan sektor pertanian negara-negara maju yang diproteksi pemerintahnya.
MANFAAT AIR
Air adalah salah satu sumber kehidupan manusia untuk dapat bertahan hidup di bumi. Begitupula dengan manfaatnya yang sangat luar biasa, terutama di bidang kesehatan. Akhir-akhir ini banyak penyakit yang bermunculan, dari penyakit yang ringan sampai penyakit yang parah. Dimana hal tersebut salah satu faktor penyebabnya adalah air yang sudah tercemar.
Kita bisa mengibaratkan diri kita seperti tanaman.
Dimana tubuh kita akan layu bila kekurangan air. Mengingat hal tersebut, subhanallah Allah telah menciptakan air yang sangat bermanfaat bagi umat-Nya di muka bumi. Sebagaimana telah kita ketahui, air sangat berguna bagi kesehatan kita, diantaranya:
1. Air putih; dapat membuat kulit menjadi halus, melangsingkan badan dan menyehatkan jantung.
2. Hidroterapi; menyembuhkan dan meredakan berbagai macam penyakit ringan dengan cara yang berbeda dan sifat-sifat penyembuhan yang berbeda.
3. Fisioterapi; menyembuhkan orang-orang yang baru pulih dari luku-lukaserius yang menimbulkan persoalan kerusakan otot.
4. Air panas; dapat meredakan nyeri persendian dan otot, dan peradangan dengan cara mandi air panas.
5. Air dingin; bermanfaat untuk memperbaiki aliran darah ke organ-organ dan jaringan-jaringan internal dan juga mengurangi pembengkakan dengan cara mandi air dingin, dan lain-lain.
Setelah mengetahui bahwa air memiliki banyak manfaat untuk kesehatan kita, maka perlu ditanganinya pencemaran air yang akhir-akhir ini sangat mengkhawatirkan. Hal itu berdampak pada kesehatan masyarakat baik secara langsung maupun tak langsung. Dimana air yang seharusnya sangat bermanfaat bagi manusia, menjadi sesuatu yang membahayakan kesehatan manusia, karena adanya pencemaran air yang tidak bisa terkontrol apabila tidak ada kesadaran pada diri yang bersangkutan.
Hidroterapi salah satunya dapat digunakan untuk menetralisir rasa marah seseorang, misalnya dengan berwudhu atau dengan berendam air hangat dan lain-lain. Dalam masalah ini lebih ditujukan kepada anak SMP yang tidak lulus UAN.
Baru-baru ini pengumuman hasil UAN untuk anak tingkat SMP telah diumumkan, dan di Indonesia sendiri anak yang tidak lulus UAN tingkat SMP mengalami kenaikan. Dan bagi anak yang tidak lulus tidak semuanya dapat menerima hasil UAN yang telah keluar. Sebagian mereka melampiaskannya dengan emosi yang berbeda-beda, seperti menangis, berteriak histeris, memukul-mukul benda di sekitarnya, mengolok-olok guru, dan lain-lain.
Banyak faktor yang mempengaruhi emosi yang dialami oleh siswa yang tidak lulus tersebut, seperti kondisi keluarganya, orang tuanya yang tidak terlalu memberikan perhatian yang lebih untuk pendidikan anaknya.
Untuk meredakan emosi (rasa marah) yang dialami oleh para siswa dapat dilakukan dengan hidroterapi. Dengan melakukan wudhu atau berendam air hangat, mungkin seseorang akan merasa lebih tenang dan nyaman.
Kita bisa mengibaratkan diri kita seperti tanaman.
Dimana tubuh kita akan layu bila kekurangan air. Mengingat hal tersebut, subhanallah Allah telah menciptakan air yang sangat bermanfaat bagi umat-Nya di muka bumi. Sebagaimana telah kita ketahui, air sangat berguna bagi kesehatan kita, diantaranya:
1. Air putih; dapat membuat kulit menjadi halus, melangsingkan badan dan menyehatkan jantung.
2. Hidroterapi; menyembuhkan dan meredakan berbagai macam penyakit ringan dengan cara yang berbeda dan sifat-sifat penyembuhan yang berbeda.
3. Fisioterapi; menyembuhkan orang-orang yang baru pulih dari luku-lukaserius yang menimbulkan persoalan kerusakan otot.
4. Air panas; dapat meredakan nyeri persendian dan otot, dan peradangan dengan cara mandi air panas.
5. Air dingin; bermanfaat untuk memperbaiki aliran darah ke organ-organ dan jaringan-jaringan internal dan juga mengurangi pembengkakan dengan cara mandi air dingin, dan lain-lain.
Setelah mengetahui bahwa air memiliki banyak manfaat untuk kesehatan kita, maka perlu ditanganinya pencemaran air yang akhir-akhir ini sangat mengkhawatirkan. Hal itu berdampak pada kesehatan masyarakat baik secara langsung maupun tak langsung. Dimana air yang seharusnya sangat bermanfaat bagi manusia, menjadi sesuatu yang membahayakan kesehatan manusia, karena adanya pencemaran air yang tidak bisa terkontrol apabila tidak ada kesadaran pada diri yang bersangkutan.
Hidroterapi salah satunya dapat digunakan untuk menetralisir rasa marah seseorang, misalnya dengan berwudhu atau dengan berendam air hangat dan lain-lain. Dalam masalah ini lebih ditujukan kepada anak SMP yang tidak lulus UAN.
Baru-baru ini pengumuman hasil UAN untuk anak tingkat SMP telah diumumkan, dan di Indonesia sendiri anak yang tidak lulus UAN tingkat SMP mengalami kenaikan. Dan bagi anak yang tidak lulus tidak semuanya dapat menerima hasil UAN yang telah keluar. Sebagian mereka melampiaskannya dengan emosi yang berbeda-beda, seperti menangis, berteriak histeris, memukul-mukul benda di sekitarnya, mengolok-olok guru, dan lain-lain.
Banyak faktor yang mempengaruhi emosi yang dialami oleh siswa yang tidak lulus tersebut, seperti kondisi keluarganya, orang tuanya yang tidak terlalu memberikan perhatian yang lebih untuk pendidikan anaknya.
Untuk meredakan emosi (rasa marah) yang dialami oleh para siswa dapat dilakukan dengan hidroterapi. Dengan melakukan wudhu atau berendam air hangat, mungkin seseorang akan merasa lebih tenang dan nyaman.
Anjing yang Mengerti Tuannya
Seorang laki memencet bel pagar rumah kenalannya dengan harapan agar si tuan rumah
segera keluar untuk menyambutnya. Ketika bel berbunyi, yang datang justru seekor
anjing lucu.
"Mana Tuanmu?" tanya laki-laki tersebut setengah bercanda.
"Guk-guk-guk!" sahut si anjing.
"Istrinya?" tanyanya lagi dengan perasaan heran.
"Guk-guk!"
"Apa ya yang mereka kerjakan?" gumamnya di hadapan anjing.
"Hah-hah-hah...heeeeh..., .nguuuk..." jawab anjing seolah mengerti.
segera keluar untuk menyambutnya. Ketika bel berbunyi, yang datang justru seekor
anjing lucu.
"Mana Tuanmu?" tanya laki-laki tersebut setengah bercanda.
"Guk-guk-guk!" sahut si anjing.
"Istrinya?" tanyanya lagi dengan perasaan heran.
"Guk-guk!"
"Apa ya yang mereka kerjakan?" gumamnya di hadapan anjing.
"Hah-hah-hah...heeeeh..., .nguuuk..." jawab anjing seolah mengerti.
MANFAAT MATA UNTUK PEMBELAJARAN
Pada dasarnya komunikasi digunakan untuk menciptakan atau meningkatkan aktivitas hubungan antarmanusia atau kelompok. Jenis komunikasi terdiri dari komunikasi verbal menggunakan kata-kata dan komunikasi nonverbal atau disebut dengan istilah bahasa tubuh.
Komunikasi Verbal mencakup beberapa aspek. Pertama aspek vocabulary (perbendaharaan kata-kata). Komunikasi tidak akan efektif bila pesan disampaikan dengan kata-kata yang tidak dimengerti, karena itu olah kata menjadi penting dalam berkomunikasi. Kedua, racing (kecepatan). Komunikasi akan lebih efektif dan sukses bila kecepatan bicara dapat diatur dengan baik, tidak terlalu cepat atau terlalu lambat. Ketiga, intonasi suara akan mempengaruhi arti pesan secara dramatik sehingga pesan akan menjadi lain artinya bila diucapkan dengan intonasi suara yang berbeda. Intonasi suara yang tidak proposional merupakan hambatan dalam berkomunikasi.
Keempat, humor dapat meningkatkan kehidupan yang bahagia. Dugan (1989), memberikan catatan bahwa dengan tertawa dapat membantu menghilangkan stress dan nyeri. Tertawa mempunyai hubungan fisik dan psikis dan harus diingat bahwa humor adalah merupakan satu-satunya selingan dalam berkomunikasi. Kelima adalah singkat dan jelas. Komunikasi akan efektif bila disampaikan secara singkat dan jelas, langsung pada pokok permasalahannya sehingga lebih mudah dimengerti. Aspek keenam adalah timing (waktu yang tepat) , yaitu hal kritis yang perlu diperhatikan karena berkomunikasi akan berarti bila seseorang bersedia untuk berkomunikasi, artinya dapat menyediakan waktu untuk mendengar atau memperhatikan apa yang disampaikan.
Komunikasi nonverbal (tanpa suara) dapat digunakan untuk menyampaikan isi pesan sepenuhnya. Komunikasi nonverbal dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pertama dengan ekspresi wajah. Wajah merupakan sumber yang kaya dengan komunikasi, karena ekspresi wajah merupakan cerminan suasana emosi seseorang. Kedua, kontak mata, merupakan sinyal alamiah untuk berkomunikasi. Dengan mengadakan kontak mata selama berinterakasi atau tanya jawab berarti orang tersebut terlibat dan menghargai lawan bicaranya dengan kemauan untuk memperhatikan bukan sekedar mendengarkan. Melalui kontak mata juga memberikan kesempatan pada orang lain untuk mengobservasi yang lainnya. Ketiga, sentuhan adalah bentuk komunikasi personal mengingat sentuhan lebih bersifat spontan dari pada komunikasi verbal. Beberapa pesan seperti perhatian yang sungguh-sungguh, dukungan emosional, kasih sayang atau simpati dapat dilakukan melalui sentuhan.
Cara keempat dalam melakukan komunikasi nonverbal adalah gaya berjalan dan pengaturan postur tubuh. Cara seseorang berjalan, duduk, berdiri dan bergerak memperlihatkan ekspresi dirinya. Postur tubuh dan gaya berjalan merefleksikan emosi, konsep diri, dan tingkat kesehatannya. Kelima, suara (sound). Rintihan, menarik nafas panjang, dan tangisan juga salah satu ungkapan perasaan dan pikiran seseorang yang dapat dijadikan komunikasi. Bila dikombinasikan dengan semua bentuk komunikasi nonverbal lainnya sampai desis atau suara dapat menjadi pesan yang sangat jelas. Terakhir, yang keenam adalah gerak isyarat yang dapat mempertegas pembicaraan. Menggunakan isyarat sebagai bagian total dari komunikasi seperti mengetuk-ngetukkan kaki atau menggerakkan tangan selama berbicara menunjukkan seseorang dalam keadaan stress bingung atau sebagai upaya untuk menghilangkan stress.
Berdasarkan pernyataan Konfusius lebih dari 2400 tahun yang lalu, Melvin L. Silberman (2004: 15) mengemukakan Paham Belajar Aktif sebagai berikut:
Yang saya dengar, saya lupa.
Yang saya dengar dan lihat, saya sedikit ingat.
Yang saya dengar, lihat, dan pertanyakan atau diskusikan dengan orang lain,saya mulai pahami.
Dari yang saya dengar, lihat, bahas, dan terapkan, saya dapatkan pengetahuan dan keterampilan.
Yang saya ajarkan kepada orang lain, saya kuasai.
Pernyataan Melvin L. Silberman tersebut didasarkan atas kenyataan bahwa sebagian besar orang cenderung lupa atas apa yang didengarnya. Hal itu berhubungan dengan tingkat kecepatan guru berbicara dan tingkat kecepatan pendengaran siswa. Jika siswa berkonsentrasi penuh, mereka hanya mampu mendengarkan dengan penuh perhatian setengah dari apa yang dibicarakan guru.
Pollio (1984) dalam penelitiannya sampai pada kesimpulan bahwa dalam perkuliahan gaya ceramah, mahasiswa kurang menaruh perhatian selama 40 % dari seluruh waktu kuliah, sedangkan penelitian McKeachie (1986) menghasilkan kesimpulan bahwa mahasiswa mampu mengingat materi kuliah sebesar 70 % pada sepuluh menit pertama dan hanya 20 % pada sepuluh menit terakhir (Melvin L. Silberman, 2004: 16-17)
Rose, Colin dan Malcolm J. Nicholl menyatakan, secara rata-rata manusia mampu mengingat 20 % dari yang dibaca, 30 % dari yang didengar, 40 % dari yang dilihat, 50 % dari yang dikatakan, 60 % dari sesuatu yang dikerjakan, dan meningkat menjadi 90 % apabila dilihat, didengar, dikatakan, dan sekaligus dikerjakan (Ichsan S. P. dan Ariyanti P., 2005: 29).
Serangkaian hasil penelitian tersebut menempatkan mata sebagai prasyarat bagi keberhasilan proses pembelajaran. Tanpa melibatkan mata, proses pembelajaran tidak akan berjalan sempurna seperti yang diharapkan. Namun, secara alamiah maupun akibat kelalaian manusia, fungsi mata semakin berkurang. Nutrisi makin diyakini perannya dalam membantu mempertahankan daya penglihatan, sehingga olah vitamin menjadi pilihan menarik.
Makanan berikut sangat dianjurkan untuk dikonsumsi, baik anak-anak maupun orang dewasa dengan segala keunggulan yang dipunyainya. Pertama, jeruk. Kaya vitamin C, berfungsi sebagai antioksidan yang berkhasiat melumpuhkan radikal bebas penyebab penuaan sel, sehingga berguna untuk mencegah katarak Kedua, Anggur. Ekstrak biji anggur mengandung proantosianidin. Lebih kuat dari vitamin C dan E, antioksidan ini bahkan bisa memperbaiki penglihatan dan mengembalikan fungsi retina, terutama yang rusak akibat perdarahan pembuluh darah di mata dan ketidakseimbangan gula darah. Ketiga, Nenas. Vitamin dan mineral utama yang terkandung dalam nenas adalah vitamin C, vitamin B-kompleks, beta-karoten (pro-vitamin A), Fe, Mg, Ca, Cu, Zn, Mn, dan K.
Selain buah-buahan tersebut, yang keempat adalah ubi jalar. UNICEF dan WHO menyarankan agar wanita dan anak-anak mengonsumsi ubi jalar merah secara rutin, untuk menangkal akibat buruk dari kekurangan vitamin A. Kelima, adalah ikan laut. Ikan sardin dan tuna adalah sumber DHA (docosahexaenoid acid), salah satu jenis asam lemak omega 3, yang berperan penting dalam pembentukan retina mata (http://www.kompas.com).
Manajemen cahaya dalam suatu ruangan kelas pun harus mempertimbangkan kecukupan sinar untuk membaca. Membaca atau bekerja dalam ruangan dengan penerangan yang buruk dapat menyebabkan sakit mata, begitu juga sebaliknya. Dan yang tidak kalah penting adalah mengistirahatkan mata sesering mungkin saat siswa atau guru bekerja di depan komputer, karena saat di depan komputer mata berkedip 25 % lebih sedikit, sehingga mata menjadi kering (Diyah Triarsari, 2007).
Komunikasi Verbal mencakup beberapa aspek. Pertama aspek vocabulary (perbendaharaan kata-kata). Komunikasi tidak akan efektif bila pesan disampaikan dengan kata-kata yang tidak dimengerti, karena itu olah kata menjadi penting dalam berkomunikasi. Kedua, racing (kecepatan). Komunikasi akan lebih efektif dan sukses bila kecepatan bicara dapat diatur dengan baik, tidak terlalu cepat atau terlalu lambat. Ketiga, intonasi suara akan mempengaruhi arti pesan secara dramatik sehingga pesan akan menjadi lain artinya bila diucapkan dengan intonasi suara yang berbeda. Intonasi suara yang tidak proposional merupakan hambatan dalam berkomunikasi.
Keempat, humor dapat meningkatkan kehidupan yang bahagia. Dugan (1989), memberikan catatan bahwa dengan tertawa dapat membantu menghilangkan stress dan nyeri. Tertawa mempunyai hubungan fisik dan psikis dan harus diingat bahwa humor adalah merupakan satu-satunya selingan dalam berkomunikasi. Kelima adalah singkat dan jelas. Komunikasi akan efektif bila disampaikan secara singkat dan jelas, langsung pada pokok permasalahannya sehingga lebih mudah dimengerti. Aspek keenam adalah timing (waktu yang tepat) , yaitu hal kritis yang perlu diperhatikan karena berkomunikasi akan berarti bila seseorang bersedia untuk berkomunikasi, artinya dapat menyediakan waktu untuk mendengar atau memperhatikan apa yang disampaikan.
Komunikasi nonverbal (tanpa suara) dapat digunakan untuk menyampaikan isi pesan sepenuhnya. Komunikasi nonverbal dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pertama dengan ekspresi wajah. Wajah merupakan sumber yang kaya dengan komunikasi, karena ekspresi wajah merupakan cerminan suasana emosi seseorang. Kedua, kontak mata, merupakan sinyal alamiah untuk berkomunikasi. Dengan mengadakan kontak mata selama berinterakasi atau tanya jawab berarti orang tersebut terlibat dan menghargai lawan bicaranya dengan kemauan untuk memperhatikan bukan sekedar mendengarkan. Melalui kontak mata juga memberikan kesempatan pada orang lain untuk mengobservasi yang lainnya. Ketiga, sentuhan adalah bentuk komunikasi personal mengingat sentuhan lebih bersifat spontan dari pada komunikasi verbal. Beberapa pesan seperti perhatian yang sungguh-sungguh, dukungan emosional, kasih sayang atau simpati dapat dilakukan melalui sentuhan.
Cara keempat dalam melakukan komunikasi nonverbal adalah gaya berjalan dan pengaturan postur tubuh. Cara seseorang berjalan, duduk, berdiri dan bergerak memperlihatkan ekspresi dirinya. Postur tubuh dan gaya berjalan merefleksikan emosi, konsep diri, dan tingkat kesehatannya. Kelima, suara (sound). Rintihan, menarik nafas panjang, dan tangisan juga salah satu ungkapan perasaan dan pikiran seseorang yang dapat dijadikan komunikasi. Bila dikombinasikan dengan semua bentuk komunikasi nonverbal lainnya sampai desis atau suara dapat menjadi pesan yang sangat jelas. Terakhir, yang keenam adalah gerak isyarat yang dapat mempertegas pembicaraan. Menggunakan isyarat sebagai bagian total dari komunikasi seperti mengetuk-ngetukkan kaki atau menggerakkan tangan selama berbicara menunjukkan seseorang dalam keadaan stress bingung atau sebagai upaya untuk menghilangkan stress.
Berdasarkan pernyataan Konfusius lebih dari 2400 tahun yang lalu, Melvin L. Silberman (2004: 15) mengemukakan Paham Belajar Aktif sebagai berikut:
Yang saya dengar, saya lupa.
Yang saya dengar dan lihat, saya sedikit ingat.
Yang saya dengar, lihat, dan pertanyakan atau diskusikan dengan orang lain,saya mulai pahami.
Dari yang saya dengar, lihat, bahas, dan terapkan, saya dapatkan pengetahuan dan keterampilan.
Yang saya ajarkan kepada orang lain, saya kuasai.
Pernyataan Melvin L. Silberman tersebut didasarkan atas kenyataan bahwa sebagian besar orang cenderung lupa atas apa yang didengarnya. Hal itu berhubungan dengan tingkat kecepatan guru berbicara dan tingkat kecepatan pendengaran siswa. Jika siswa berkonsentrasi penuh, mereka hanya mampu mendengarkan dengan penuh perhatian setengah dari apa yang dibicarakan guru.
Pollio (1984) dalam penelitiannya sampai pada kesimpulan bahwa dalam perkuliahan gaya ceramah, mahasiswa kurang menaruh perhatian selama 40 % dari seluruh waktu kuliah, sedangkan penelitian McKeachie (1986) menghasilkan kesimpulan bahwa mahasiswa mampu mengingat materi kuliah sebesar 70 % pada sepuluh menit pertama dan hanya 20 % pada sepuluh menit terakhir (Melvin L. Silberman, 2004: 16-17)
Rose, Colin dan Malcolm J. Nicholl menyatakan, secara rata-rata manusia mampu mengingat 20 % dari yang dibaca, 30 % dari yang didengar, 40 % dari yang dilihat, 50 % dari yang dikatakan, 60 % dari sesuatu yang dikerjakan, dan meningkat menjadi 90 % apabila dilihat, didengar, dikatakan, dan sekaligus dikerjakan (Ichsan S. P. dan Ariyanti P., 2005: 29).
Serangkaian hasil penelitian tersebut menempatkan mata sebagai prasyarat bagi keberhasilan proses pembelajaran. Tanpa melibatkan mata, proses pembelajaran tidak akan berjalan sempurna seperti yang diharapkan. Namun, secara alamiah maupun akibat kelalaian manusia, fungsi mata semakin berkurang. Nutrisi makin diyakini perannya dalam membantu mempertahankan daya penglihatan, sehingga olah vitamin menjadi pilihan menarik.
Makanan berikut sangat dianjurkan untuk dikonsumsi, baik anak-anak maupun orang dewasa dengan segala keunggulan yang dipunyainya. Pertama, jeruk. Kaya vitamin C, berfungsi sebagai antioksidan yang berkhasiat melumpuhkan radikal bebas penyebab penuaan sel, sehingga berguna untuk mencegah katarak Kedua, Anggur. Ekstrak biji anggur mengandung proantosianidin. Lebih kuat dari vitamin C dan E, antioksidan ini bahkan bisa memperbaiki penglihatan dan mengembalikan fungsi retina, terutama yang rusak akibat perdarahan pembuluh darah di mata dan ketidakseimbangan gula darah. Ketiga, Nenas. Vitamin dan mineral utama yang terkandung dalam nenas adalah vitamin C, vitamin B-kompleks, beta-karoten (pro-vitamin A), Fe, Mg, Ca, Cu, Zn, Mn, dan K.
Selain buah-buahan tersebut, yang keempat adalah ubi jalar. UNICEF dan WHO menyarankan agar wanita dan anak-anak mengonsumsi ubi jalar merah secara rutin, untuk menangkal akibat buruk dari kekurangan vitamin A. Kelima, adalah ikan laut. Ikan sardin dan tuna adalah sumber DHA (docosahexaenoid acid), salah satu jenis asam lemak omega 3, yang berperan penting dalam pembentukan retina mata (http://www.kompas.com).
Manajemen cahaya dalam suatu ruangan kelas pun harus mempertimbangkan kecukupan sinar untuk membaca. Membaca atau bekerja dalam ruangan dengan penerangan yang buruk dapat menyebabkan sakit mata, begitu juga sebaliknya. Dan yang tidak kalah penting adalah mengistirahatkan mata sesering mungkin saat siswa atau guru bekerja di depan komputer, karena saat di depan komputer mata berkedip 25 % lebih sedikit, sehingga mata menjadi kering (Diyah Triarsari, 2007).
Langganan:
Komentar (Atom)