Senin, 08 Oktober 2012
Dampak Masturbasi Terhadap Kesehatan Mental
Masturbasi adalah sebuah fenomena umum dan sering didiskusikan yang terdapat di mana-mana.. Pelakunya pun tidak terbatas pada jenis kelamin, usia maupun latar belakang sosial. Sebenarnya gejala masturbasi pada usia pubertas dan remaja, banyak sekali terjadi. Hal ini disebabkan oleh kematangan seksual yang memuncak dan tidak mendapat penyaluran yang wajar; lalu ditambah dengan rangsangan-rangsangan ekstern berupa buku-buku dan gambar porno, film biru, meniru kawan dan lain-lain
Oleh sebagian orang, masturbasi dianggap sebagai sebuah kebiasaan yang menyenangkan. Tetapi pada kelompok lain justru dianggap merupakan aktivitas penodaan diri yang dapat menimbulkan kelainan psikosomatik dan aneka dampak buruk lainnya.
Pada sebuah penelitian terungkap bahwa 95% pria dan 89% wanita dilaporkan pernah melakukan masturbasi
Tujuan utama masturbasi adalah mencari kepuasan atau melepas keinginan nafsu seksual dengan jalan tanpa bersenggama. Akan tetapi masturbasi tidak dapat memberikan kepuasan yang sebenarnya. Berbeda dengan bersenggama yang dilakukan oleh dua orang yang berlawanan jenis. Mereka mengalami kesenangan, kebahagiaan, dan keasyikan bersama.
Istilah masturbasi berasal dari kata latin “manasturbo” yang berarti rabaan atau gesekan dengan tangan (manu). Masturbasi secara umum didefenisikan sebagai rangsangan disengaja yang dilakukan pada organ genital untuk memperoleh kenikmatan dan kepuasan seksual. Namun pada kenyataannya, banyak cara untuk mendapatkan kepuasaan diri (self-gratification) tanpa mempergunakan tangan (frictionless masturbation), sehingga istilah masturbasi menjadi kurang mengena. Oleh karena itu, istilah “autoerotism” adalah istilah yang lebih mengena untuk menggambarkan fenomena ini.
Berdasarkan cara melakukannya, masturbasi dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :
1. Masturbasi sendiri (auto masturbation); stimulasi genital dengan menggunakan tangan, jari atau menggesek-gesekkannya pada suatu objek.
2. Masturbasi bersama (mutual masturbation); stimulasi genital yang dilakukan secara berkelompok yang biasanya didasari oleh rasa bersatu, sering bertemu dan kadang-kadang meluaskan kegiatan mereka pada pencurian (stealing) dan pengrusakan (vandalism).
3. Masturbasi psikis; pencapaian orgasme melalu fantasi dan rangsangan audio-visual.
Sebagian besar pria yang melakukan masturbasi cenderung melakukannya lebih sering dibandingkan wanita, dan mereka cenderung menyatakan 'selalu' atau 'biasanya' mengalami orgasme ketika bermasturbasi (80 : 60). Ini adalah perilaku seksual yang paling umum nomor dua (setelah senggama), bahkan bagi mereka yang telah memiliki pasangan seksual tetap.
Menurut penelitian, mereka yang biasanya melakukan masturbasi berumur antara tiga belas hingga dua puluh tahun. Pada umumnya yang melakukan masturbasi adalah mereka yang belum kawin, menjanda, menduda atau orang-orang yang kesepian atau dalam pengasingan. Anak laki-laki lebih banyak melakukan masturbasi daripada anak perempuan.
Penyebabnya antara lain, pertama, nafsu seksual anak perempuan tidak datang melonjak dan eksplosit. Kedua, perhatian anak perempuan tidak tertuju kepada masalah senggama karena mimpi seksual dan mengeluarkan sperma (ihtilam) lebih banyak dialami laki-laki. Mimpi erotis yang menyebabkan orgasme pada perempuan terjadi jika perasaan itu telah dialaminya dalam keadaan terjaga.
DAMPAK TERHADAP KESEHATAN MENTAL
Impuls-impuls autoerotic (masturbasi) terdapat pada semua manusia. Perbedaannya hanya terletak pada bagaimana cara kita menyelesaikan dorongan-dorongan tersebut. Beberapa dari kita merepresikan dorongan tersebut untuk memuaskan dirinya, sementara yang lain mengekspresikan keinginannya untuk mendapatkan pemuasan seksual.
Salah satu dorongan manusia yang sering menyebabkan manusia mendapat kesulitan pribadi dan sosial adalah dorongan seksual, yang pada kenyataannya sering menghadapkan manusia kepada suatu keadaan yang mendesak dan sangat membujuk untuk memperoleh pemuasan seksual dengan segera. Adanya persoalan seksual pada individu dapat menyebabkan individu yang bersangkutan sering dihadapkan pada keadaan yang seolah-olah ada kecenderungan untuk jatuh ke tingkat yang immature atau infantil dan setiap usaha untuk bertingkah laku seksual yang matur terhambat karenanya.
Masturbasi memunculkan banyak mitos tentang akibatnya yang merusak dan memalukan. Citra negatif ini bisa dilacak jauh ke belakang ke kata asalnya dari bahasa Latin, mastubare, yang merupakan gabungan dua kata Latin manus (tangan) dan stuprare (penyalahgunaan), sehingga berarti “penyalahgunaan dengan tangan”.
Anggapan memalukan dan berdosa yang terlanjur tertanam disebabkan karena porsi “penyalahgunaan” pada kata itu hingga kini masih tetap ada dalam terjemahan moderen – meskipun para aparatur kesehatan telah sepakat bahwa masturbasi tidak mengakibatkan kerusakan fisik maupun mental. Tidak juga ditemukan bukti bahwa anak kecil yang melakukan perangsangan diri sendiri bisa mengalami celaka.
Yang terjadi adalah, sumber kepuasan seksual yang penting ini oleh beberapa kalangan masih ditanggapi dengan rasa bersalah dan kecemasan karena ketidaktahuan mereka bahwa masturbasi adalah kegiatan yang aman, juga karena pengajaran agama berabad-abad yang menganggapnya sebagai kegiatan yang berdosa. Terlebih lagi, banyak di antara kita telah menerima pesan-pesan negatif dari para orang tua kita, atau pernah dihukum ketika tertangkap basah melakukan masturbasi saat kanak-kanak.
Pengaruh kumulatif dari kejadian-kejadian ini seringkali berwujud kebingungan dan rasa berdosa, yang juga seringkali sukar dipilah. Saat di mana masturbasi menjadi begitu berbahaya adalah ketika ia sudah merasuk jiwa (kompulsif). Masturbasi kompulsif – sebagaimana perilaku kejiwaan yang lain – adalah pertanda adanya masalah kejiwaan dan perlu mendapatkan penanganan dari dokter jiwa.
Fase akhir jika masturbasi konfulsif tidak diselesaikan dengan tepat adalah munculnya fenomena sexual addicted, sebuah ketagihan akan kegiatan-kegiatan seksual.
Secara fisik, masturbasi dapat menyebabkan kelecetan atau rusaknya mukosa dan jaringan lain dari organ genitalia yang bersangkutan, baik akibat penggunaan alat bantu masturbasi atau hanya dengan menggunakan tangan dan jemari.
Masturbasi memerlukan pengobatan hanya apabila sudah ada gejala-gejala abnormal, bias berupa sikap yang tidak tepat dari orang tua yang telah banyak menimbulkan kecemasan, kegelisahan, ketakutan, perasaan bersalah/dosa, menarik diri atau adanya gangguan jiwa yang mendasari, seperti gangguan kepriadian neurosa, perversi maupun psikosa.
a. Farmakoterapi:
1. Pengobatan dengan estrogen (eastration)
Estrogen dapat mengontrol dorongan-dorongan seksual yang tadinya tidak terkontrol menjadi lebih terkontrol. Arah keinginan seksual tidak diubah. Diberikan peroral. Efek samping tersering adalah ginecomasti.
2. Pengobatan dengan neuroleptik
a) Phenothizine
Memperkecil dorongan sexual dan mengurangi kecemasan. Diberikan peroral.
b) Fluphenazine enanthate
Preparat modifikasi Phenothiazine. Dapat mengurangi dorongan sexual lebih dari dua-pertiga kasus dan efeknya sangat cepat. Diberikan IM dosis 1cc 25 mg. Efektif untuk jangka waktu 2 pekan.
3. Pengobatan dengan transquilizer
Diazepam dan Lorazepam berguna untuk mengurangi gejala-gejalan kecemasan dan rasa takut. Perlu diberikan secara hati-hati karena dalam dosis besar dapat menghambat fungsi sexual secara menyeluruh. Pada umumnya obat-obat neuroleptik dan transquilizer berguna sebagai terapi adjuvant untuk pendekatan psikologik.
b. Psikoterapi
Psikoterapi pada kebiasaan masturbasi mesti dilakukan dengan pendekatan yang cukup bijaksana, dapat menerima dengan tenang dan dengan sikap yang penuh pengertian terhadap keluhan penderita. Menciptakan suasana dimana penderita dapat menumpahkan semua masalahnya tanpa ditutup-tutupi merupakan tujuan awal psikoterapi. Pada penderita yang datang hanya dengan keluhan masturbasi dan adanya sedikit kecemasan, tindakan yang diperlukan hanyalah meyakinkan penederita pada kenyataan yag sebenarnya dari masturbasi.
Pada kasus-kasus adolescent, kadang-kadang psikoterapi lebih kompleks dan memungkinkan dilakukan semacam interview sex education. Psikotherapi dapat pula dilakukan dengan pendekatan keagamaan dan keyakinan penderita.
c. Hypnoterapi
Self-hypnosis (auto-hypnosis) dapat diterapkan pada penderita dengan masturbasi kompulsif, yaitu dengan mengekspose pikiran bawah sadar penderita dengan anjuran-anjuran mencegah masturbasi.
Gangguan Pada Kepribadian
A. Pengertian kepribadian
Terdapat berbagai definisi atau pengertian mengenai kepribadian. Kusumanto Setyonegoro mengatakan: kepribadian ialah expresi keluar dari pengetahuan dan perasaan yang dialami secara subyektif oleh seseorang. Definisi lain mengemukakan bahwa kepribadian ialah pola perilaku yang khas bagi seseorang yang menyebabkan orang itu dapat dikenal dari pola perilakunya itu. Atau kepribadian menunjuk pada keseluruhan pola pikiran, perasaan dan perilaku yang sering digunakan oleh seseorang dalam usaha adaptasi yang terus-menerus dalam hidupnya.
Jadi : kepribadian meliputi segala corak perilaku manusia yang terhimpun dalam dirinya dan yang digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan dirinya terhadap segala rangsang, baik yang datang dari lingkungannya (dunia luar-nya), maupun yang berasal dari dirinya sendiri (dunia dalam-nya), sehingga corak perilakunya itu merupakan suatu kesatuan fungsional yang khas bagi mereka itu.
Terdapat tiga kelompok pengertian kepribadian, yait pengertian popular, falsafat, dan empiric.
Kepribadian dalam arti kata popular sama dengan kualitas seseorang yang menyebabkan ia disenangi atau tidak disenangi oleh orang lain.
Kepribadian dalam arti falsafat ialah sesuatu yang rasional (dapat berfikir, mempunyai daya penalaran) dan individual (merupakan kesatuana yang dapat berdiri sendiri, mempunyai cirri-ciri khas). Kepribadian itu merupakan inti manusia yang mengatur dan mengawasi perilakunya secara tidak dapat dilihat oleh orang lain dan yang merupakan penyebab utama segala sesuatu yang berhubungan dengan manusia itu.
Kepribadian dalam arti empiris ialah jumlah perilaku yang dapat diamati dan yang mempunyai cirri-ciri biologic, psikologik, sosiologik dan moral yang khas baginya, yang dapat membedakannya dari kepribadian yang lain. Akan tetapi harus diingat bahwa jumlah perilaku atau jumlah sifat seseorang tidak sama dengan kepribadiannya yang sebenarnya. Perilaku dan sifat hanya merupakan manifestasi kepribadian orang itu. Dengan mempelajari perilaku atau sifat-sifat kepribadian seseorang, maka kita dapat menyelami kepribadian yang sebenarnya.
1. Berbagai jenis gangguan kepribadian
Klasifikasi gangguan kepribadian disini memakai pedoman penggolongan diagnose gangguan jiwa ke-1 (PPDGJ-1) sebagai berikut:
1. Kepribadian paranoid
Kepribadian paranoid ialah suatu gangguan kepribadian dengan sifat curiga yang menonjol; orang seperti ini mungkin agresif dan setiap orang yang lain dilihat sebagai seorang agresor terhadapnya, ia harus mempertahankan dirinya. Ia bersikap sebagai pemberontak dan angkuh untuk menahan harga diri, sering ia mengancam orang lain sebagai akibat proyeksi rasa bermusuhannya sendiri. Dengan demikian ia kehilangan teman-teman dan mendapatkan banyak musuh. Dalam kepribadian paranoid kita menemukan secara berlebihan kecenderungan yang sudah umum, yaitu suka melemparkan tanggung jawab kepada orang lain, menolak a priori sifat-sifat orang lain yang tidak memenuhi ukuran yang telah dibuatnya sendiri. Untuk mempertahankan rasa harga diri, dibuatnya keterangan yang tak masuk akal tentang kesalahan-kesalahannya, tetapi yang memuaskan emosinya sendiri. Sering di duganya bahwa orang lainlah yang tidak adil, bermusuhan dan agresif.
PPDGJ-1 menyebutkan dua sub-jenis dalam jenis kepribadian paranoid, yaitu:
1) Kepribadian yang mudah tersinggung, yang bereaksi terhadap pengalaman tertentu sehari-hari secara berlebihan dengan rasa menyerah dan rendah diri, serta cenderung untuk menyalahkan orang lain mengenai pengalaman itu.
2) Kepribadian yang lebih agresif dan kasar serta yang sangat peka terhadap apa yang dianggap haknya. Biasanya individu ini mudah sekali tersinggung bila hak-nya dilanggar dan sangat gigih mempertahankan hak-nya itu.
Persamaan utama kedua sub-jenis ini ialah sifat curiga serta terlalu lekas merasakan bahwa sesuatu hal tertuju pada dirinya dan mudah sekali tersinggung
2. Kepribadian afektif atau siklotimik
Yang menonjol pada kepribadian afektif atau siklomatik ialah afek yang berubah-ubah antara depresi dan efori. Perubahan-perubahan ini tidak langsung karena penyebab dari luar. Individu ini dapat menarik banyak teman karena sifatnya yang ramah tamah, hangat dan gembira, tetapi ia terkenal sebagai orang yang tak dapat diramalkan. Semangatnya dapat mendekati rasa keagungan, tetapi ia tidak menyadari hal ini dan karenanya jarang meminta pertolongan pengobatan. Dalam keadaan depresi ia cemas, khawatir, pesimistik dan nihilistic.
3. Kepribadian schizoid
Sifat-sifat kepribadian ini ialah pemalu, suka menyendiri, perasa, pendiam, menghindari hubungan jangka panjang dengan orang lain. Individu ini menunjukkan respons yang terbatas terhadap isyarat atau rangsangan social. Ciri utama cara menyesuaikan dan membela dirinya ialah menarik diri, mengasingkan diri, dan sering aneh (eksentrik). Terdapat juga cara pemikiran otistik, melamun berlebihan dan ketidak-mampuan menyatakan rasa permusuhan.
4. Kepribadian explosive
Individu dengan kepribadian ini memperlihatkan sifa yang lain dari perilakunya sehari-hari, yaitu ledakan-ledakan amarah dan agresivitas terhadap stress yang kecil saja. Segera sesudahnya ia menyesal atas kejadian itu, tetapi hanya sebentar. Pada waktu kejadian itu ia tidak dapat menguasai dirinya, sebab mungkin karena ledakan afektif itu terjadi disorganisasi pada persepsi, penilaian dan pemikirannya.
5. Kepribadian anankastik atau obsesi-kompulsif
Orang dengan kepribadia anankastik sering menangguhkan pernikahan karena harapan dan tuntutan yang berlebihan mengenai calon istri/suaminya dan juga karena ia sangat ragu-ragu dalam mengambil keputusan yang sangat penting (biasanya ia berani mengambil keputusan penting bila sudah merasa aman, tuntutan atau harapannya sangat tinggi). Bila ia sudah menikah, maka hidup emosi antara suami-istri sering terpisah jauh. Bila ia dipaksa bekerja dalam keadaan yang tidak dapat diawasinya, ia menjadi cemas, marah, benci dan curiga terhadap atasannya. Bila ia dilangkahi dalam promosi atau pujian, maka ia manjadi sangat iri-hati dan benciserta mengalami frustasi yang besar. Bila ia dinaikkan pangkat, ia mungkin menjadi bingung dalam menyerahkan tugas kepada orang lain yang kemampuannya dinilai kurang dari padanya.
6. Kepribadian histerik
Kepribadian histerik (atau histrionik) biasanya sombong, egosentrik, tidak stabil emosinya, menarik perhatian dengan afek yang labil, lekas tersinggung, tetapi dangkal. Perilakunya yang dramatis dan menarik perhatian dapat mengakibatkan ia berdusta serta menunjukkan psedologia fantastika (menceritakan sesuatu secara luas dan terperinci tanpa dasar fakta). Ia sadar akan sex dan kelihatan provoaktif, menggairahkan, menggoda, tetapi ia mungkin disngin (frigid) dan menuntut secara dependent dalam hubungan antar-manusia. Dalam keadaan stress ia mungkin menunjukkan gangguan daya menguji kenyataan, fantasi yang hebat dan keyakinan tentang motif lain yang sudah mendekati waham. Ia tidak dapat menyatakan perasaan secara tepat dan sering menggunakan gerakan badaniah dalam komunikasi. Kepribadian lebih sering terjadi pada kaum wanita.
7. Kepribadian astenik
Tidak terdapat gairah untuk menikmati kehidupan pada orang ini. Ia seumur hidup merasa lelah, lesu, tak bertenaga dan lemah untuk memulai sesuatu. Terdapat abulia (kekurangan kemauan) dan anhedonia (kekurangan kemampuan menikmati sesuatu). Orang ini tidak sanggup menahan hidup yang normal sehari-hari. Vitalitas, emosionalitas dan motilitasnya sangat kurang. Libidonya lemah. Karir pekerjaan atau pernikahan dielakkan atau hanya dengan susah payah dipertahankan.
8. Kepribadian antisocial
PPDGJ-1 memberikan pengertian individu dengan kepribadian antisocial sebagai orang yang pada dasarnya tidak tersosialisasi. Perilakunya berulang-ulang membawanya ke dalam konflik dengan masyarakat. Ia tidak mempunyai loyalitas terhadap kelompoknya ataupun terhadap norma-norma social. Ia pada umumnya egosentrik, tidak bertanggung jawab, impulsive, tidak mampu mengubah diri, baik karena pengalaman maupun karena hukuman. Toleransinya terhadap kekecewaan rendah dan cenderung menyalahkan orang lain atau member alas an yang masuk akal mengenai perilakunya.
9. Kepribadian pasif-agresif
Dalam jenis ini terdapat dua sub-jenis, yaitu : pasif-dependent dan pasif-agresif. Orang yang pasif-dependent senantiasa berfikir, bertindak dan merasa bahwa kebutuhannya akan ketergantungan itu akan dipenuhi secara menakjubkan. Orang yang pasif-agresif merasa bahwa kebutuhannya akan ketergantungan tidak pernah dipenuhi. Ia menunjukkan penangguhan (penundaan) dan sikap keras, agar diterima dan diberi dengan murah hati apa yang diharapkannya dengan sangat. Kepribadian pasif-agresif ini di tandai oleh sifat pasif dan agresif. Agresivitas ini dapat dinyatakan secara pasif dengan cara menghambat, bermuka-asam, malas, menyabot dan keras kepala. Perilakunya biasanya merupakan pencerminan rasa permusuhan yang tidak pernah dinyatakan secara terang-terangan atau pencerminan rasa tidak puas terhadap seseorang ataupun situasi yang padanya individu sangat menggantungkan dirinya.
10. Kepribadian inadequate
Penderita dengan gangguan kepribadian ini berkali-kali tidak memenuhi harapan para teman dan kenalannya dalam hal respons terhadap tuntutan emosional, intelektual, social dan fisik. Menurut penderita sendiri kemampuannya yang rendah ini wajar dan tidak dapat dielakkan. Penilaian penderita ini sering kurang, ia tidak dapat membuat rancangan jangka panjang dan tak mampu melaksanakan tugas. Penyesuian dirinya pada taraf perbatasan, sering ia pindah pekerjaan dengan hanya sedikit keprihatinan tentang masa depannya atau ia tetap pada satu pekerjaan yang tidak mempunyai tuntutan terlalu banyak.
B. Sistematika dalam melakukan teknik analisa terhadap berbagai bentuk gangguan kepribadian.
a) Diagnosis
a. Kepribadian paranoid
Kepekaan berlebihan terhadap kegagalan dan penolakan
Kecenderungan untuk tetap menyimpan dendam, misalnya menolak untuk memaafkan suatu penghinaan dan luka hati atau masalah kecil
Kecurigaan dan kecenderungan yang mendalam untuk mendistorsi-kan pengalaman dengan menyalah-artikan tindakan orang lain yang netral atau bersahabat sebagai suatu sikap permusuhan atau penghinaan.
Perasaan bermusuhan dan ngotot tentang hak pribadi tanpa memperhatikan situasi yang ada (actual situation)
Kecurigaan yang berulang, tanpa dasar (justification), tentang kesetiaan seksual dari pasangannya
Kecenderungan untuk merasa dirinya penting secara berlebihan, yang bermanifestasi dalam sikap yang selalu merujuk ke diri sendiri (self-referential attitude)
Preokupasi dengan penjelasan-penjelasan yang bersekongkol dan tidaknsubstantif dari suatu peristiwa, baik yang menyangkut diri pasien sendiri maupun dunia pada umumya.
b. Kepribadian afektif
Gangguan ini tersifat oleh episode berulang (sekurang-kurangnya dua episode) dimana afek pasien dan tingkat aktivitasnya jelas terganggu, pada waktu tertentu terdiri dari peningkatan afek disertai penambahan energy dan aktivitas (mania atau hipomania), dan pada waktu lain berupa penurunan afek disertai pengurangan energy dan aktivitas (depresi).
c. Kepribadian schizoid
Sedikit (bila ada) aktivitas yang memberikan kesenangan
Emosi dingin, afek mendatar atau tak peduli (detachment)
Kurang mampu untuk meng-ekspresi-kan kehangatan, kelembutan atau kemarahan terhadap orang lain
Tampak nyata ketidak-pedulian baik terhadap pujian maupun kecaman
Kurang tertarik untuk mengalami pengalaman seksual dengan orang lain (perhitungan usia penderita)
Hamper selalu memilih aktivitas yang dilakukan sendiri
Preokupasi dengan fantasi dan introspeksi yang berlebihan
Tidak mempunyai teman dekat atau hubungan pribadi yang akrab (kalau ada hanya satu) dan tidak ada keinginan untuk menjalin hubungan seperti itu
Sangat tidak sensitive terhadap norma dan kebiasaan social yang berlaku
d. Kepribadian explosive
Terjadinya ledakan-ledakan amarah dan agresivitas terhadap stress yang kecil saja
Penyesalan yang bersifat sesaat
Terdapat kecenderungan yang mencolok untuk bertindak secara impulsive tanpa mempertimbangkan konsekuensinya, bersamaan dengan ketidak-stabilan emosi
Dua varian yang khas adalah berkaitan dengan impulsivitas dan kekurangan pengendalian diri.
e. Kepribadian anankastik atau obsesi-kompulsif
Perasaan ragu-ragu dan hati-hati yang berlebihan
Preokupasi dengan hal-hal yang yang rinci (details), peraturan, daftar, urutan, organisasi atau jadwal
Perfeksionisme yang mempengaruhi penyelesaian tugas
Ketelitian yang berlebihan, terlalu berhati-hati, dan keterikatan yang tidak semestinya pada produktivitas sampai mengabaikan kepuasan dan hubungan interpersonal
Keterpakuan dan keterikatan yang berlebihan pada kebiasaan social
Kaku dan keras kepala
Pemaksaan yang tak beralasan agar orang lain mengikuti persis caranya mengerjakan sesuatu, atau keengganan yang tak beralasan untuk mengizinkan orang lain mengerjakan sesuatu
Mencampur-adukan pikiran atau dorongan yang memaksa dan yang enggan.
f. Kepribadian histerik
Ekspresi emosi yang dibuat-buat (self-dramatization), seperti bersandiwara (thatricality), yang dibesar-besarkan (exaggerated)
Bersifat sugestif, mudah dipengaruhi oleh orang lain atau oleh keadaan
Keadaan afektif yang dangkal dan labil
Terus-menerus mencari kegairahan (excitement), penghargaan (appreciation) dari orang lain, dan aktivitas dimana pasien menjadi pusat perhatian.
Penampilan atau perilaku merangsang (seductive) yang tidak memadai
Terlalu peduli dengan daya tarik fisik.
g. Kepribadian astenik
Tidak memiliki gairah dalam menikmati kehidupan
Sering merasa lelah, lesu, tak bertenaga dan lemah dalam melakukan sesuatu
Kurang memiliki kemauan menikmati sesuatu
Vitalitas, emosionalitas dan motilitas sangat kurang
Daya seksualnya lemah.
h. Kepribadian antisocial
Bersikap tidak peduli dengan perasaan orang lain
Sikap yang amat tidak bertanggung jawab dan berlangsung terus menerus, serta tidak peduli terhadap norma, peraturan, dan kewajiban social
Tidak mampu memelihara suatu hubungan agar berlangsung lama, meskipun tidak ada kesulitan untuk mengembangkannya.
Toleransi terhadap frustasi sangat rendah dan ambang yang rendah untuk melampiaskan agresi, termasuk tindakan kekerasan.
Tidak mampu mengalami rasa salah dan menarik manfaat dari pengalaman, khususnya dari hukuman.
Sangat cenderung menyalahkan orang lain, atau menawarkan rasionalisasi yang masuk akal, untuk perilaku yang membuat pasien konflik dengan masyarakat.
i. Kepribadian pasif-agresif
Kepribadian pasif-agresif ini di tandai oleh sifat pasif dan agresif. Agresivitas ini dapat dinyatakan secara pasif dengan cara menghambat, bermuka-asam, malas, menyabot dan keras kepala. Perilakunya biasanya merupakan pencerminan rasa permusuhan yang tidak pernah dinyatakan secara terang-terangan atau pencerminan rasa tidak puas terhadap seseorang ataupun situasi yang padanya individu sangat menggantungkan dirinya.
j. Kepribadian inadequate
Kecenderungan senantiasa tidak bisa memenuhi harapan teman dan kenalannya terhadap tuntutan emosional, intelektual, social, dan fisik
Merasa kemampuannya rendah
Kecenderungan kurang bisa membuat rancangan jangka panjang
Kurang bisa meyelesaikan tugas
Mempunyai sifat yang tidak menuntut terlalu banyak pekerjaan.
b) Assesment
Kepribadian paranoid
Psikoterapi suportif (sugesti dapat menghilangkan gejala-gejala secara dramatis), menemukan konflik, memakai dan menganalisa transferensi, pengertian tentang keadaan dan psikodinamikanya ditambah dengan tranquilaizer dapat membantu menghilangkan sebagaian besar kecurigaan. Penjaminan kembali hipnosa, terapi kelompok dan manipulasi lingkungan.
Kepribadian afektif
Psikoterapi suportif dan pendidikan.
Kepribadian schizoid
Psikoterapi suportif yang dalam hal ini penderita dibantu menjadi lebih bebas dalam perbuatannya supaya memiliki rasa percaya diri.
Kepribadian explosive
Psikoterapi suportif
Kepribadian anankastik atau obsesi-kompulsif
Psikoterapi suportif, penerangan dan pendidikan serta terapi perilaku.
Kepribadian histerik
Psikoterapi suportif
Kepribadian astenik
Psikoterapi suportif
Kepribadian antisocial
Terapi individual maupun terapi kelompok
Kepribadian pasif-agresif
Bimbingan, penerangan dan pendidikan
Kepribadian inadequate
Terapi individual maupun terapi kelompok, bimbingan, penerangan dan pendidikan.
c) Treatment
Kepribadian paranoid
Bila diminta bantuan, maka dalam bimbingan dititik-beratkan pada pengalaman subyektif dalam pribadinya dan pada interaksi dengan dokter.
Kepribadian afektif
Psikoterapi suportif dan pendidikan. yang dalam hal ini penderita perlu dibantu menjadi lebih percaya pada diri sendiri, dan bebas dalam perbuatannya
Kepribadian schizoid
Psikoterapi suportif, bimbingan dalam cara hidup, anjuran untuk mengambil bagian dalam kegiatan social dan hubungan antar manusia.
Kepribadian explosive
Individu ini sukar memahami bahwa perilakunya tidak wajar, rasa menyesalnya hanya sepintas lalu segera sesudah ledakan itu. Ia sering merasionalisasikan perilakunya dan menentang campur tangan orang lain. Hal ini semua menghambat pengobatan dan membuat prognosa menjadi jelek. Pada waktu episoda akut, bila perlu dimasukkan rumah sakit. Dengan bimbingan, anjuran, ventilasi, nasehat dan obat anti-cemas ada kemungkinan penderita pelan-pelan menjadi lebih matang.
Kepribadian anankastik atau obsesi-kompulsif
Individu seperti ini sama sekali tidak merasa ia sakit, abnormal atau menyimpang. Ia tidak dapat dibawa untuk berobat oleh orang-orang di lingkungan yang menderita karenanya, juga karena perilakunya sering berguna dalam masyarakat atau pekerjaan. Bila ia mengalami gangguan badaniah atau gangguan psikiatrik yang lain sehingga ia mengunjungi seorang dokter, maka hubungan pasien dokter ini dapat dijadikan hubungan yang dependent pada dokter dalam jangka panjang. Dan dengan nasehat-nasehat serta efek placebo obat apa saja, maka paling sedikit keadaannya dan akibat pada lingkungannya dapat dicegah jangan sampai bertambah buruk.
Kepribadian histerik
Dokter harus waspada bila pada permulaan pengobatan sudah kelihatan perbaikan, karena ini mungkin hanya untuk menyenagkannya. Karena kemampuan komunikasinya kurang, maka yang dibimbing ialah perilaku yang nyata saja. Perlu dibedakan dfari nervosa histerik yang timbul sesudah suatu stres.
Kepribadian astenik
Perlu dibedakan dengan gangguan fisik yang dapat menyebabkan kelesuan umum, juga dengan nerosa nerastenik yang dimulai dengan suatu stress. Dilakukan manipulasi lingkungan agar lingkungan hidup penderita sesuai dengan daya tahan stresnya. Sugesti dan persuasi dapat menambah sedikit kemampuannya, tetapi dokter harus ingat akan keterbatasannya. Dapat dipakai obat stimulant. Bila terdapat depresi atau gejala-gejala skizofrenia, maka diberi anti depressant atau neroleptik.
Kepribadian antisocial
Belum diketahui pengobatan yang optimal, tetapi dokter dapat membantu penderita dan keluarganya dalam mengambil keputusan tentang penanganan. Bila perlu dapat diadakan institusionalisasi untuk sementara waktu. Pada umumnya dapat dianjurkan kedua-duanya, baik terapi individual, maupun terapi kelompok.
Kepribadian pasif-agresif
Nasehat dan bimbingan perilaku sehari-hari dapat mengurangi akibatnya pada diri sendiri dan lingkungannya. Bila perlu dapat diberi antidepressant atau obat neroleptik.
Kepribadian inadequate
Kemampuan individu ini terbatas dan ia sering tidak mau berusaha untuk mengubah cara hidupnya. Psikoterapi individual dapat menimbulkan kecemasan yang tidak dapat ditahan dengan baik olehnya.
d) Terminasi
Dalam hal ini terapis berusaha untuk melepaskan penderita dalam terapinya. Artinya bahwa terapis disini dituntut supaya menjauhkan diri dari penderita, dan hal ini tidak semata-mata terapis sudah selesai dalam tugasnya. Akan tetapi terapis disini masih dituntut untuk memantau penderita yang sudah dilepaskan tanpa selalu ditemani oleh terapis. Hal ini diharapkan agar penderita tidak mengalami ketergantungan terhadap terapis dan supaya penderita sedikit demi sedikit bisa mandiri dan pastinya diharapkan bisa memperoleh progress dalam perkembangan selanjutnya.
C. Facilitating dan restraining force pada gangguan kepribadian
Berbicara terkait dengan hal-hal apa saja yang menjadi pendukung dan penghambat gangguan kepribadian ada begitu banyak, diantaranya sebagai berikut :
1. perkembangan badaniah yang salah
perkembangan badaniah mempunyai suatu urut-urutan tertentu. Suatu halangan dalam hal ini dapat mengakibatkan gangguan perkembangan. Perilaku kita berdasarkan juga pada kualitas dan keutuhan fungsi susunan saraf dan perlengkapan badaniah lain. Setiap factor yang mengganggu perkembangan badaniah yang normal dapat dianggap sebagai suatu factor yang dapat menjadi penyebab perilaku yang abnormal. Factor-faktor ini mungkin dari :
1) factor keturunan
gangguan yang berhubunga dengan kromosom sex dikatakan terikat pada sex, artinya bahwa defek genetic itu hanya terdapat pada kromosom sex. Kaum wanita ternyata lebih kurang peka terhadap gangguan yang terikat pada sex., karena mereka mempunyai dua kromosom X : bila satu tidak baik, maka yang lain biasanya akan melakukan pekerjaannya. Akan tetapi seorang pria hanya mempunyai satu kromosom X dan satu kromosom Y, dan bila salah satu tidak baik, maka terganggulah ia.
2) factor konstitusi
hal ini pada umumnya menunjukkan kepada keadaan biologic seluruhnya, termasuk baik yang diturunkan, maupun yang didapati kemudian; umpamanya bentuk badan, sex. Tempramen, fungsi endokrin dan urat saraf serta jenis darah.
3) cacat congenital
cacat congenital atau sejak lahir dapat mempengaruhi perkembangan anak, terlebih yang berat, seperti retardasi mental yang berat. Gangguan badaniah dapat mengganggu fungsi biologic atau psikologik secara langsung atau dapat mempengaruhi daya tahan terhadap stres. Akan tetapi pada umumnya pengaruh cacat ini tergantung pada individu itu, bagaimana ia menilai dan menyesuaikan diri terhadap keadaan hidupnya yang cacat.
2. perkembangan psikologik yang salah
pada umumnya perkembangan psikologik yang salah mencakup :
a. ketidakmatangan atau fiksasi, yaitu individu gagal berkembang lebih lanjut ke fase berikutnya
b. tempat-tempat lemah yang ditinggalkan oleh pengalaman yang traumatic sebagai kepekaan terhadap jenis stress tertentu
c. distorsi, yaitu bila individu mengembangkan sikap atau pola reaksi yang tidak sesuai atau gagal mencapai integrasi kepribadian yang normal.
Deprivasi dini
Deprivasi maternal atau kehilangan asuhan ibu di rumah sendiri, terpisah dengan ibu atau di asrama, dapat menimbulkan perkembangan yang abnormal. Deprivasi rangsangan umum dari lingkungan bila sangat berat, ternyata berhubungan dengan retardasi mental. Deprivasi atau frustasi dini dapat menimbulkan tempat-tempat yang lemah pada jiwa, dapat mengakibatkan perkembangan yang salah ataupun perkembangan yang berhenti. Untuk perkembangan psikologik rupanya ada masa-masa gawat. Dalam masa ini rangsangan dan pengalaman belajar yang berhubungan dengannya serta pemuasan berbagai kebutuhan sangat perlu bagi urut-urutan perkembangan intelektual, emosional dan social yang normal.
Pola keluarga yang patogenik
Dalam masa kanak-kanak keluarga memegang peranan penting dalam pembentukan kepribadian. Hubungan orang tua anak yang salah atau interaksi yang patogenik dalam keluarga sering merupakan sumber gangguan penyesuaian diri. Kadang-kadang orang tua berbuat terlalu banyak untuk anak dan tidak memberi kesempatan anak itu berkembang sendiri. Ada kalanya orang tua berbuat terlalu sedikit dan tidak merangsang anak itu atau tidak member bimbingan dan anjuran yang dibutuhkannya. Akan tetapi pengaruh cara asuhan anak tergantung pada keadaan social secara keseluruhan dimana hal itu dilakukan. Dan juga, anak-analk bereaksi secara berlainan terhadap cara yang sama dan tidak semua akibat adalah tetap; kerusakan dini sering diperbaiki sebagian oleh pengalaman di kemudian hari. Akan tetapi beberapa jenis hubungan orangtua-anak sering terdapat dalam latar belakang anak-anak yang terganggu, umpamanya penolkaan, perlindungan berlebihan, manja berlebihan, tuntutan perfeksionistik, standart moral yang kaku dan tidak realistic, disiplin yang salah, persaingan antarsaudara yang tidak sehat, contoh orang tua yang salah, ketidaksesuaian perkawinan dan rumahtangga yang berantakan, tuntutan yang bertentangan.
3. factor sosiologik dalam perkembangan yang salah
Dalam kehidupan modern terdapat tidak sedikit bahaya terhadap pengarahan diri yang baik. Sukar untuk memperoleh dan mempertahankan identitas diri yang stabil di tengah-tengah perubahan-perubahan yang kompleks dan cepat. Alfin Toffler mengemukakan bahwa yang paling berbahaya di zaman modern, ialah kecepatan perubahan dan pergantian yang semakin cepat dalam hal ke-sementara-an, ke-baru-an dan ke-aneka-ragaman. Dengan demikian individu menerima rangsangan yang berlebihan sehingga kemungkinan terjadinya kekacauan mental lebih besar. Karena hal ini lebih besar kemungkinannya dalam masa depan, maka dinamakannya shock masa depan (future shock). Telah diketahui bahwa seseorang yang mendadak berada di tengah-tengah kebudayaan asing, dapat mengalami gangguan karena pengaruh kebudayaan yang serba baru dan asing baginya. Hal ini dinamakan shock kebudayaan (culture shock).
Lebih ringkasnya factor-faktor yang mendukung dan menghammbat terjadinya gangguan dipengaruhi oleh dan saling mempengaruhi, diantaranya :
1. factor-faktor somatic (somatogenik)
1.1 neroanatomi
1.2 nerofisiologi
1.3 nerokimia
1.4 tingkat kematangan dan perkembangan organic
1.5 faktor-faktor pre-dan peri-natal
2. factor-faktor psikologik (psikogenik)
2.1 interaksi ibu-anak : normal (rasa percaya dan rasa aman) atau abnormal berdasarkan kekurangan, distorsi dan keadaan yang terputus (perasaan tak percaya dan kebimbangan).
2.2 peranan ayah
2.3 persaingan antar saudara kandung
2.4 intelegensi
2.5 hubungan dalam keluarga, pekerjaan, permainan dan masyarakat
2.6 kehilangan yang menakibatkan kecemasan, depresi, rasa malu atau rasa salah
2.7 konsep dini : pengertian identitas diri sendiri lawan peranan yang tidak menentu
2.8 ketrampilan, bakat dan kreativitas
2.9 pola adaptasi dan pembelaan sebagai reaksi terhadap bahaya
2.10 tingkat perkembangan emosi
3. factor-faktor sosio-budaya (sosiogenik)
3.1 kestsabilan keluarga
3.2 pola mengasuh anak
3.3 tingkat ekonomi
3.4 perumahan : perkotaan lawan pedesaan
3.5 masalah kelompok minoritas yang meliputi prasangka dan fasilitas kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan yang tidak memadai
3.6 pengaruh rasial dan keagamaan
3.7 nilai-nilai
D. Konsep gangguan kepribadian menurut teori psikologi
Ditinjau dari sudut pandang teori psikologi, maka gangguan kepribadian dapat dikategorikan atau diklasifikasikan ke dalam berbagai teori psikologi, diantarnya :
1. Sigmund freud memelopori dengan teori psikoanalisanya yang berkisar pada libido sebagai pendorong utama pada perilaku manusia. Freud mengemukakan pula suatu model topografik dan structural tentang kepribadian itu.
2. Beberapa murid freud, yang kemudian tidak setuju dengan tempat utama yang diberikan kepada libido itu, mengemukakan teori mereka itu sendiri, misalnya Adler dengan psikologi individualnya dan Jung dengan alam tak-sadar pribadi dan tipologinya.
3. Karen Horney, Sullivan dan Erick Fromm memasukkan unsure kebudayaan dan unsure hubungan antar-manusia ke dalam teori mereka, sebagai hal yag sangat penting dalam membangkitkan motivasi perilaku manusia.
4. Adolf Meyer mengetengahkan interpretasi psikologiknya yang melihat gejala-gejala gangguan jiwa sebagai reaksi terhadap lingkungan atau pengalaman.
5. Psikologi existensial mengemukakan konsep “ada-di-dunia” dan “keaslian ada-di-situ” yang berarti “keberanian untuk ada”.
6. Teori Allport yang menganggap sifat sebagai elemen dasar kepribadian; Kurt Lewin yang melihat manusia sebagai suatu system energy yang kompleks; Maslow dengan hirarki kebutuhan dan teori stimulus-respons (S-R) yang menganggap kebiasaan itu sebagai elemen structural utama padakepribadian serta tidak akan adsa respons, bila tidak ada stimulus.
DAFTAR PUSTAKA
Maramis, W.F. 2005. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press .
Maslim, Rasdi. 2001. Diagnosis Gangguan Jiwa. Jakarta: PT Nuh Jaya.
Sumadi, Suryabrata. 1990. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajawali Press
Pemimpin dan Kepemimpinan
A. PENGERTIAN PEMIMPIN DAN KEPEMIMPINAN
Istilah “Kepemimpinan” merupakan terjemahan dari “Leadership” kata ini sering kita jumpai didalam percakapan sehari-hari.
Pemimpin adalah seseorang yang dapat mempengaruhi kelompok yang dipimpinnya untuk menyerahkan usaha bersama guna mencapai sasaran atau tujuan yang telah ditentukan.
Menurut “Ensklopedia Administrasi” menyebutkan bahwa kepemimpinan adalah proses pengaruh-mempengaruhi antar pribadi atau orang dalam suatu situasi tertentu, melalui proses komunikasi yang terarah untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Jadi kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi mengorganisasi, menggerakkan, mengarahkan atau mempengaruhi orang lain(bawahan) untuk melaksanakan sesuatu dalam rangka mencapai tujuan.
Menurut Drs. Pandji Anoraga dalam bukunya “Psikologi Kepemimpinan” mengatakan bahwa, seseorang pemimpin adalah seorang yang mempunyai wewenang untuk memerintah orang lain. Sebagai seorang pemimpin ia mempunyai peranan yang aktif dan senantiasa ikut campur tangan dalam segala masalah yang berkenaan dengan kebutuhan anggota kelompoknya. Sedangkan kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain. Keberhasilan seorang pemimpin tergantung kepada kemampuannya untuk mempengaruhi itu. Dengan kata lain kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain, melalui komunikasi baik langsung maupun tidak langsung dengan maksud untuk menggerakkan orang-orang tersebut agar dengan penuh pengertian, kesadaran dan senang hati bersedia mengikuti kehendak-kehendak pemimpin itu.
Kepemimpinan lebih berhubungan dengan efektivitas, sedangkan memanajemeni lebih berhubungan dengan efisiensi. Bennis mengatakan bahwa pemimpin do the right things, sedangkan manajer do the things right.
Kepemimpinan merupakan sesuatu yang penting bagi manajer. Para manajer merupakan pemimpin (dalam organisasi mereka), sebaliknya pemimpin tidak perlu menjadi manajer.
Seorang manajer, menurut Drucker (1966) adalah seorang ‘pekerja berpengetahuan’ (knowledge worker), yaitu: the man who puts to work what he has between his ears rather than the brawn of his muscles or the skill of his hands.
Pemimpin adalah pribadi yang dimiliki kecakapan khusus, dengan atau tanpa pengangkatan resmi dapat mempengaruhi kelompok yang dipimpinnya, untuk melakukan usaha bersama mengarah pada pencapaian sasaran-sasaran tertentu.
Kepemimpinan merupakan pengertian yang meliputi segala macam situasi yang dinamis, yang berisi:
a. Seorang manajer sebagai pemimpin yang mempunyai wewenang untuk memimpin.
b. Bawahan yang dipimpin, yang membantu manajer sesuai dengan tugas mereka masing-masing.
c. Tujuan atau sasaran yang harus dicapai oleh manajer bersama-sama dengan bawahannya.
B. UNSUR-UNSUR DALAM KEPEMIMPINAN DAN KEGIATAN PEMIMPIN
Unsur-unsur yang penting dalam kepemimpinan:
1. Tujuan dan cita-cita
Inti kepemimpinan adalah fungsi atau tugas. Dia ada demi sesuatu yang lain. Bukan demi dirinya sendiri. Titik perhatiannya adalah tujuan dan cita-cita yang dicapai. Bukan kepentingannya sendiri.
2. Organisasi kerja
Sadar bahwa tujuan dan cita-cita itu demi kesejahteraan orang banyak, seorang pemimpin berusaha mempengaruhi, mengajak, mengumpulkan dan menggerakkan banyak orang untuk bersama-sama bekerja mencapai tujuan dan cita-cita itu.
Kalau pemimpin beserta seluruh orang yang ada di bawah kepemimpinannya sudah yakin akan kebaikan tujuan dan cita-cita itu bagi kehidupan bersama, mereka dapat membentuk suatu organisasi kerja. Dalam bentuk organisasi, kegiatan para anggota yang sepakat mengenai kepentingan tujuan dan cita-cita itu dipersatukan.
3. Kepribadian dan keahlian
Pada pokoknya, sifat-sifat kepribadian dan macam-macam keahlian dituntut agar dalam diri mereka yang dipimpinnya tumbuh kepercayaan. Kepercayaan itu baik berhubungan tujuan dan cita-cita maupun dengan pemimpin sendiri. Pemimpin yang mempunyai kepribadian yang baik dan keahlian yang unggul menciptakan kepercayaan dalam hati mereka yang dipimpinnya.
C. GAYA KEPEMIMPINAN
Pada umumnya gaya kepemimpinan dapat dibagi menjadi 3 jenis:
1. Kepemimpinan OTOKRATIK.
Yaitu kepemimpinan yang berdasarkan atas kekuasaan mutlak segala keputusan berada di satu tangan. Gaya kepemimpinan ini sering membuat pengikutnya tidak senang dan sering frustasi.
2. Kepemimpinan DEMOKRATIK.
Yaitu kepemimpinan berdasarkan Demokrasi, dalam arti bukan dipilihnya si pemimpin itu secara demokratik, melainkan cara yang dilaksanakan sipemimpin yang demokratik. Sipimpinan melaksanakan kegiatan sedemikian rupa sehingga setiap keputusan merupakan hasil musyawarah.
3. Kepemimpinan BEBAS.
Bahwa seorang pemimpin sebagai penonton bersifat pasif.
4. Gaya kepemimpinan Kontinum.
Pertama pemimpin menggunakan otoritasnya, disini baawahan belum banyak diikutkan dalam pembuatan keputusan. Kedua pemimpin menunjukkan gaya yang demokratis (pemimpin dan bawahan bekerja sama dalam pembuatan keputusan.
5. Gaya Managerial Grid.
Gaya kepemimpinan ini tidak secara langsung berhubungan dengan efektivitas.
6. Gaya Kepemimpinan Tiga Dimensi.
Gaya kepemimpinan yang mempunyai pengaruh terhadap lingkungan.
D. WEWENANG KEPEMIMPINAN
Berbagai studi tentang kepemimpinan bisa dikelompokkan menjadi tiga pendekatan, yaitu yang mendasarkan atas traits (sifat, perangai) atau kualitas yang diperlukan seseorang untuk menjadi pemimpin, kedua yang mempelajari perilaku (behavior) yang diperlukan untuk menjadi pimpinan yang efektif.
Apabila seorang pemimpin ingin mencapai tujuannya, dengan efektif, maka ia haruslah mempunyai wewenang untuk memimpin para bawahannya dalam usaha untuk mencapai tujuan tersebut. Wewenang ini disebut wewenang kepemimpinan, yang merupakan hak untuk bertindak atau mempengaruhi tingkah laku orang yang dipimpinnya.
Mengenai hal ini paling sedikit ada dua pendapat tentang sumber wewenang yaitu:
1. Top down authority. Wewenang ini berasal dari atasan yang berarti seorang Presiden Direktur misalnya menunjuk seseorang yang dianggap mampu untuk menjadi kepala bagian penjualan, dan kemudian diberi wewenang apa yang dianggap perlu untuk seseorang kepala bagian penjualan. Jadi di dalam hal ini seorang pimpinan diberi wewenang untuk memerintah dari atasannya.
2. Bottom up authority. Wewenang ini berasal sari bawahan yaitu pimpinan (diterima) oleh karena yang akan menjadi bawahannya. Apabila seseorang diterima sebagai pimpinan diberi wewenang untuk memimpin, maka para bawahan akan menghargai wewenang itu sebab mereka punya respek pribadi untuk menghargai orang tersebut atau orang tersebut merupakan seorang wakil yang mewakili nilai-nilai yang mereka anggap penting.
E. KRITERIA UNTUK MEMILIH SEORANG PEMIMPIN
1. Keinginan untuk menerima tanggung jawab
Apabila seorang pemimpin menerima kewajiban untuk mencapai suatu tujuan berarti ia bersedia untuk bertanggung jawab kepada pimpinannya terhadap apa yang dilakukan bawahannya.
2. Kemampuan untuk bisa “perceptive”
Perception (persepsi) menunjukkan kemampuan untuk mengamati atau menemukan kenyataan dari suatu lingkungan.
3. Kemampuan untuk bersikap objektif
Objektivitas adalah kemampuan untuk melihat suatu peristiwa atau masalah secara rasional.
4. Kemampuan untuk menentukan prioritas
Kemampuan ini sangat diperlukan karena pada kenyataannya sering masalah-masalah yang harus dipecahkan bukanlah datang satu persatu, tetapi bersamaan dan berkaitan antara satu dengan lainnya.
5. Kemampuan untuk berkomunikasi
Seorang pemimpin adalah orang yang bekerja dengan menggunakan bantuan orang lain. Karena itu pemberian perintah, penyampaikan informasi kepada orang lain mutlak perlu dikuasai.
F. KEPEMIMPINAN DALAM ORGANISASI
Dalam mempelajari Kepemimpinan di dalam organisasi tidak terlepas dari manajemen untuk memberikan rumusan tentang yang dipelajari tadi seharusnya mencakup total sistem daripada organisasi yang menjadi obyek untuk dipimpin oleh manajer.
Tujuan daripada organisasi adalah untuk memperoleh hasil guna dan daya guna untuk itu manajer harus berfikir secara rasional. Tergantung pada situasinya, maka manajer dapat bertindak secara otoriter atau demokratis. Bagaimana cara bertindak seorang manajer akan dipengaruhi kekuatan-kekuatan yang ada pada dirinya sendiri, bawahan yang harus dipimpinnya dan lingkungannya.
G. SEBAB-SEBAB TIMBULNYA SEORANG PEMIMPIN
Ada 3 teori yang menjelaskan munculnya kepemimpinan yaitu:
1. Teori Genetis
Menyatakan sebagai berikut: Pemimpin itu tidak dibuat, akan tetapi lahir jadi pemimpin oleh bakat-bakatnya yang luar biasa sejak lahir.
2. Teori Sosial
Menyatakan sebagai berikut: Pemimpin-pemimpin itu harus disiapkan dan dibentuk, tidak terlahirkan saja. Setiap orang dapat menjadi pemimpin, melalui usaha penyiapan dan pendidikan.
3. Teori Ekologis
Menyatakan sebagai berikut: Seseorang akan sukses menjadi pimpinan, bila sejak lahirnya dia telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan dan bakat-bakat ini sempat dikembangkan melalui pengalaman dan usaha pendidikan, sesuai dengan tuntutan lingkungannya.
H. CARA MEMILIH PEMIMPIN
Sebagai seorang pimpinan, seringkali dituntut untuk memilih siapa yang akan menjadi pembantu-pembantunya untuk memimpin kelompok-kelompok kerja di bidang, bagian, seksi atau urusan yang merupakan bagian dari organisasi yang di pimpinnya.
Seorang pemimpin menerima tanggung jawab untuk mencapai juga harus menerima risiko-risiko yang mungkin timbul. Setiap pemimpin perlu mempunyai daya pengamatan terhadap semua bawahan, agar pemimpin dapat melihat kemampuan, kelemahan dan semangat yang ada pada para bawahan, sehingga dapat memberikan perhatian atas pelaksanaan kerja para bawahan.
Bila ada suatu keputusan, maka pemimpin akan mengetahui alternatif mana yang dipilih. Kemampuan untuk memberi dan menerima informasi dengan cara yang baik dan berguna menjadi suatu keharusan bagi seorang calon pemimpin.
I. KEPEMIMPINAN YANG EFEKTIF
Pemimpin-pemimpin yang efektif merupakan orang-orang yang bermotivasi tinggi. Untuk menjadi pemimpin yang baik sesuai dengan apa yang akan dibahas yaitu bagaiman seseorang dapat menjadi seorang pemimpin yang dapat mempengaruhi pihak lain untuk bekerja sama secara sukarela dalam usaha mengerjakan tugas-tugas yang berhubungan untuk mencapai apa yang diharapkan dan dapat mengembangkan kelompok yang dipimpinnya, harus memenuhi syarat-syarat seperti apa yang disebutkan di bawah ini:
1. Realistis
2. Banyak akal
3. Merupakan seorang komunikator yang terampil
4. Percaya pada diri sendiri
5. Emosional stabil
6. Dapat mengambil inisiatif
7. Partisipasi dalam bidang sosial
J. CORAK INTERAKSI PEMIMPIN DENGAN BAWAHANNYA
1. Kepemimpinan Transaksional
Dalam bentuk kepemimpinan ini pemimpin berinteraksi dengan bawahannya melalui proses transaksi. Bass dan Avolio (1994) membahas empat macam transaksi, yaitu:
a. Contigent Reward
b. Management By Exception-Active
c. Management By Exception-Passive
d. Laissez-Faire
2. Kepemimpinan Transformasional
Interaksi antara pemimpin dan pengikutnya, manajer dengan bawahannya ditandai oleh pengaruh pemimpin/bawahannya menjadi seseorang yang merasa mampu dan bermotivasi tinggi dan berupaya mencapai prestasi kerja yang tinggi dan bermutu. Pemimpin mengubah bawahannya, sehingga tujuan kelompok kerjanya dapat dicapai bersama.
Lima aspek kepemimpinan tranformasional ialah:
a. Attributed Charisma
b. Inspirational Leadership/Motivation
c. Intellectual Stimulation
d. Individualized Consideration
e. Idealized Influence
K. TEORI-TEORI KEPEMIMPINAN
Stephen J. Carrol dan Henry L. Tosi, mengungkapkan tiga macam pendekatan teori kepemimpinan, yaitu:
1. Pendekatan Sifat-sifat.
Menurut teori ini, seseorang menjadi pemimpin karena sifat-sifatnya yang dibawa sejak lahir, bukan karena dibuat atau dilatih, karena itu teori ini menyatakan bahwa seorang pemimpin itu dilahirkan bukan dibuat, dilatih atau dibentuk. Keberhasilan atau kegagalan seorang pemimpin banyak ditentukan atau dipengaruhi oleh sifat-sifat yang dimiliki oleh pribadi pemimpin.
2. Pendekatan Perilaku.
Merupakan teori yang berdasarkan pemikiran bahwa keberhasilan atau kegagalan pemimpin ditentukan oleh sikap dan gaya kepemimpinan yang dilakukan pemimpin yang bersangkutan, dimana sikap dan gaya kepemimpinan itu tampak dalam kegiatan sehari-hari, dalam hal bagaimana cara pemimpin itu memberi perintah, membagi tugas dan wewenang, cara berkomunikasi, cara memotivasi, cara memimbing dan mengawasi, mengambil keputusan, dll.
3. Pendekatan Situasional.
Teori ini sering juga disebut teori kontingensi(kemungkinan). Teori ini didasarkan pada asumsi (anggapan) bahwa keberhasilan kepemimpinan suatu organisasi atau lembaga tidak hanya bergantung pada atau dipengaruhi perilaku dan sifat-sifat pemimpin saja, tapi juga dipengaruhi oleh situasi.
Teori ini menyatakan bahwa suatu kepemimpinan akan berhasil bila pemimpin itu menggunakan perilaku(gaya) yang sesuai dengan situasi, organisasi.
L. PENTINGNYA KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan sangat dibutuhkan manusia, karena adanya suatu keterbatasan dan kelebihan-kelebihan tertentu pada manusia. Di satu sisi manusia terbatas kemampuannya untuk memimpin, sisi lain ada yang mempunyai kelebihan kemampuan untuk memimpin.
Pentingnya pemimpin dan kepemimpinan dalam suatu kelompok adalah bisa terjadi konflik atau perselisihan di antara orang-orang dalam kelompok, maka orang-orang mencari penyelesaiannya supaya terjamin keteraturan dan dapat ditaati bersama. Dari hal ini akan terbentuk aturan-aturan atau norma-norma tertentu untuk ditaati agar konflik tidak terulang. Oleh karena itu peranan pemimpin sangat dibutuhkan.
Kepemimpinan diartikan sebagai pelaksanaan otorita danpembuatan keputusan. Atau dapat juga merupakan kegiatan untuk mempengaruhi agar bisa tercapai tujuan organisasi. Jadi agar dapat mencapai tujuan organisasi harus melewati suatu proses kegiatan kepemimpinan, kegiatan demikian dinamakan manajemen dan pelaksanaan manajemen itu berbeda dalam tanggung jawab manajer.
Karena itulah tugas seorang manajer/pemimpin adalah mengatur dan mengkoordinir karyawan agar bisa diintegrasikan secara efektif ke dalam berbagai yang diperlukan oleh perusahan, sehingga dapat merumuskan suatu tata kerja organisasi yang baik menuju kearah efisiensi dan kerja yang maksimun.
Fungsi-fungsi atau tugas seorang pemimpin yaitu umumnya melaksanakan fungsi-fungsi manajemen, antara lain:
a. Fungsi perencanaan.
b. Fungsi pengorganisasian.
c. Fungsi pengarahan dan motivasi.
d. Fungsi memandang kedepan.
e. Fungsi pengembangan loyalitas.
f. Fungsi pengawasan.
g. Fungsi mengambil keputusan.
h. Fungsi memberi hadiah, dll.
Fungsi-fungsi manajemen ini secara sederhana, dapat disingkat POAC (Planning, Organizing, Actuating dan Controlling).
Sedangkan peranan seorang pemimpin dalam kepemimpinannya, yaitu sebaiknya berperan:
1. Sebagai seorang pencipta.
2. Sebagai seorang perencana.
3. Sebagai seorang wakil kelompok.
4. Sebagai seorang ahli.
5. Sebagai seorang pengawas.
6. Sebagai seorang wasit.
7. Sebagai seorang penanggung jawab kelompok.
8. Sebagai seorang ayah.
9. Sebagai seorang korban atau tumpuan kesalahan.
10. Sebagai seorang pendidik.
DAFTAR PUSTAKA
Anorogo, Panji, Ninik Widiyanti. 1993. Psikologi Dalam Perusahaan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Anorogo, Pandji. 1992. Psikologi Kepemimpinan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Munandar, Ashar Sunyoto. 2006. Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press).
Selasa, 02 Oktober 2012
Kepribadian Dalam Perspektif Hadits
BAB I
PENDAHULUAN
Kata "kepribadian" (personality) sesungguhnya berasal dari kata latin: persona. Pada mulanya, kata persona ini menunjuk pada topeng yang biasa digunakan oleh pemain sandiwara di zaman Romawi dalam memainkan peranan-peranannya. Pada saat itu, setiap pemain sandiwara memainkan peranannya masing-masing sesuai dengan topeng yang dikenakannya. Lambat laun, kata persona (personality) berubah menjadi satu istilah yang mengacu pada gambaran sosial tertentu yang diterima oleh individu dari kkelompok atau masyarakatnya, kemudian individu tersebut diharapkan bertingkah laku berdasarkan atau sesuai gambaran social (peran) yang diterimanya.
Allport mendefinisikan kepribadian sebagai berikut:
Personality is the dynamic organization within the individual of those psycophysical system that determine his unique adjustmenst to his environment (kepribadian adalah organisasi-organisasi dinamis dalam sistem-sistem psikofisik dalam indifidu yang turut menentukan cara-caranya yang unik/khas dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya).
Dengan demikian, bedasarkan definisi di atas, kepribadian memiliki beberapa unsure, yakni berikut ini :
1. Kepribadian itu merupakan organisasi yang dinamis. Dengan kata lain, ia tidak statis, tetapi senantiasa berubah setiap saat.
2. Organisasi tersebut terdapat dalam diri individu. Jadi, tidak meliputi hal-hal yang berada di luar diri individu.
3. Organisasi itu berdiri atas sistem psikis, yang menurut Allport meliputi, antar lain, sifat dan bakat, serta system fisik yang saling terkait.
4. Organisasi itu menentukan corak penyesuaian diri yang unik dari tiap individu terhadap lingkungannya.
Definisi deterministik menganggap kepribadian sebagai keadaan internal individu, sebagai organisasi proses dan struktur dalam diri seseorang: "kepribadian adalah apa yang menentukan perilaku dalam situasi yang ditetapkan dan dalam kesadaran jiwa yang ditetapkan" (cattel, 1965:27)
BAB II
PEMBAHASAN
Dalam pembahasan ini akan di bahas bagaimana mengintegrasikan pengertian kepribadian dalam perspektif psikologi dengan pengertian kepribadian dalam prespektif hadits, denagn demikian akan diperoleh sebuah pemahaman baru tentang kepribadian dalam prespektif Islam.
A. Definisi Kepribadian
Menurut Allport, "kepribadian terletak dibalik tindakan tertentu dan dalam individu;dan sistem yang menyusun kepribadian dalam segala hal adalah kecenderungan yang menentukan". Jika didefinisikan seperti itu, kepribadian adalah :
1. seperangkat kecenderungan kecondongan internal yang terorganisasi untuk berperilaku dengan cara tertentu.
2. Keberadaan tersendiri yang disimpulkan dari perilaku, bukan yang langsung dapat diamati.
3. Agak stabil dan konsisten dalam perjalanan waktu dan dipicu oleh rangsangan yang fungsinya sepadan.
4. Kekuatan yang menjadi penengah di antara penghargaan seseorang kepada dunia dan kegiatan dalam suatu situasi.
5. Membantu individu dalam menyaring realitas, mengungkapkan perasaan, dan mengidentifikasikan diri kepada orang lain.
Menurut para psikolog, istilah "kepribadian" mempunyai arti yang lebih daripada sekadar sifat menarik. Kepribadian seseorang itu tersusun dari semua sifat yang dimilikinya. Sifat itu bermacam-macam, antara lain berikut ini:
a. Ada yang berkenaan dengan cara orang berbuat, seperti tekun, tabah, dan cepat.
b. Ada yang menggambarkan sikap, seperti sosiabilitas dan patriotisme.
c. Ada yang berhubungan dengan minat, seperti estestis, atletis, dan sebagainya.
d. Yang terpenting ialah temperamen emosional, meliputi optimisme, pesimisme, mudah bergejolak, dan tenang.
B. Teori-Teori Kepribadian Dalam Psikologi
Seorang antropolog dan seorang psikolog, Clyde kluckhohn dan Henry murray (1954), pernah menyatakan bahwa setiap orang dalam segi-segi tertentu adalah (a) seperti semua orang lain, (b) seperti sejumlah orang lain, (c) seperti tak seorang lain pun. Dari ketiga kondisi tersebut, yang terakhir lah terutama yang telah merangsang usaha mengambangkan teori-teori kepribadian dibidang psikologi.
Seandainya, dalam semua segi, setiap orang sama seperti kebanyakan atau bahkan semua orang lain, kita bias tahu apa yang diperbuat seseorang dalam situasi tertentu berdasarkan pengalaman diri kita sendiri. Kenyataannya, dalam banyak segi, setiap orang adalah unik, khas. Akibatnya, yang lebih sering terjadi adalah kita mengalami salah paham dengan orang lain.
Dalam makalah ini, kita akan membahas empat teori kepribadian utama yang satu sama lain tentu saja berbeda, yakni teori kepribadian psikoanalisis, teori-teori sifat, teori kepribadian behaviorisme, dan teori psikologi kognitif.
1. Teori kepribadian psikoanalisis
Dalam mencoba memahami sistem kepribadian manusia, Freud membangun model kepribadian yang saling berhubungan dan menimbulkan ketegangan satu sama lain. Konflik dasar dari ketiga sistem kepribadian tersebut menciptakan energi psikis individu. Energi dasar ini menjadi kebutuhan instink individu yang menuntut pemuasan. Tiga sistem tersebut adalah id, ego, dan superego. Meskipun memiliki cirri-ciri, prinsip kerja, fungsi dan sifat yang berbeda, ketiga sistem ini merupakan satu tim yang saling bekerja sama dalam memengaruhi perilaku manusia.
Id bekerja menggunakan prinsip kesenangan, mencari pemuasan segera impuls biologis; ego mematuhi pinsip realita, menunda pemuasan sampai bias dicapai dengan cara yang diterima masyarakat, dan superego (hati nurani; suara hati) memiliki standar moral pada individu.
2. Teori-Teori Sifat
Yang dimaksud dengan teori-teori sifat pada dasarnya meliputi "psikologi individu" Gordon Willyard Allport, "psikologi konstitusi" William Sheldon, dan "teori faktor" Raymond Cattell. Teori-teori sifat ini juga dikenal sebagai teori-teori tipe yang menekankan aspek kepribadian yang bersifat relative stabil atau menetap. Tepatnya, teori-teori ini menyatakan bahwa manusia memiliki sifat atau sifat-sifat tertentu. Sifat-sifat yang stabil ini menyebabkan manusia bertingkah laku relative tetap dari situasi ke situasi.
Selanjutnya, Allport, membagi sejumlah perbedaan diantara berbagai jenis sifat, yaitu:
1. Sifat-sifat kardinal. Sifat-sifat ini merupakan karakteristik yang meresap dan domoinan dalam kehidupan seseorang, dan bias dikatakan sebagai motif utama, sifat utama.
2. Sifat-sifat sentral. Sifat-sifat ini merupakan karakteristik yang kurang mengontrol atau memotivasi perilaku individu, namun tidak kalah penting.
3. Sifat-sifat sekunder. Sifat-sifat ini merupakan karakteristik peripheral dalam inidividu. Sifat ini tampaknya berfungsi lebih terbatas, kurang menentukan dalam deskripsi kepribadian, dan lebih terpusat (khusus) pada respons-respons yang didasarinya serta perangsang-perangsang yang disukainya.
3. Teori kepribadian Behaviorisme
Menurut Skinner, individu adalah organisme yang memperoleh perbendaharaan tingkah lakunya melalui belajar. Dia bukanlah agen penyebab tingkah laku, melainkan tempat kedudukan atau suatu poin yang factor-faktor lingkungan dan bawaan yang khas secara bersama-sama menghasilkan akibat (tingkah laku) yang khas pula pada individu tersebut.
4. Teori Psikologi Kognitif
Pandangan teori kognitif menyatakan bahwa organisasi kepribadian manusia tidak lain adalah elemen-elemen kesadaran yang satu sama lain saling terkait dalam lapangan kesadaran. Dalam teori ini, unsur psikis dan fisik tidak dipisahkan lagi, karena keduanya termasuk dalam kognisi manusia.
C. Eksplorasi Hadist Terhadap Kepribadian
Ada beberapa hadits yang bisa dijadikan sebagai acuan yang kemudian dieksplorasikan dengan kepribadian. Islam telah menggambarkan cara yang benar untuk membentuk kepribadian, hati, akal, pikiran, dan perilaku seseorang supaya ia bias menjadi manusia yang sehat tubuh, akal dan jiwanya, menjadi sebuah kekuatan dan unsur positif yang patut bagi masyarakatnya yang luas, dan menjadi pejuang pemberani yang tidak dapat dikalahkan dimedan perang karena kegigihannya dalam membela agama, kehormatan dan tanah airnya.
Islam juga menggambarkan cara untuk membentuk masyarakat insani yang utama dan ideal. Dan untuk itu, isla menyiapkan semangat yang kondusif untuk pertumbuhan yang sehat dan pendidikan yang baik, sebagaimana islam juga menyiapkan kesempatan-kesempatan yang memungkinkannya untuk sanggup memperlihatkan kemampuan-kemampuannya yang tersimpan. Hadits tentang kepribadian sangat banyak, diantaranya ada beberapa hadits hadits yang kami angkat sebagai contoh dengan permasalaahannya. Dapat dilihat dalam bentuk bagan sebagai berikut:
A.
A. Hadits Tentang Kepribadian
1. Tentang Keutamaan Berbuat Kebajikan:
عن ابن مسعود عقبة بن عمرو الانصاري رضي الله عنه قال:قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من دل على خير فله مثل اجرفاعله. رواه مسلم.
Artinya: Ibnu Mas'ud (Uqbah bin Amr) al-Anshari al-Badari r.a meriwayatkan bahwasanya Rasulullah saw bersabda:"Barang siapa yang memberi petunjuk pada (jalan) kebaikan, baginya pahala sebesar pahala orang yang melakukannya."
2. Tentang menjaga hubungan baik dengan sesama:
لا يؤمن احدكم حتى يحب لاخيه ما يحب لنفسه. متفق عليه.
"TIdaklah beriman salah seorang dari kalian, sebelum ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri."HR. al-Bukhari dan Muslim.
3. Tentang bersikap jujur, dan berbuat kebaikan (tidak dzalim):
المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده والمهاجر من هجرمانهىالله عنه. رواه بخارى.
"Orang muslim adalah orang yang orang-orang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya. dan orang yang berhijrah yaitu orang yang menjauhi apa-apa yang telah dilarang oleh Allah SWT."
4. Tentang tiga tanda orang yang munafik:
“Tanda-tanda orang yang munafik itu ada tiga; Apabila ia berbicara ia berbohong, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila dipercaya ia berkhianat." muttafaq alaih.
5. Tentang meninggalkan ibadah wajib dalam haji
“Dari Ibnu Abbas ra., dia berkata: Nabi saw bersabda: “barang siapa meninggalkan ibadah wajib, maka wajib baginya dam”. (H.R Baihaqi)
B. Hadits Punishment Negatif
6. Tentang hukuman bagi orang yang mencuri:
“Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi saw. Beliau bersabda: “Allah telah melaknat pencuri yang mencuri sebutir telur hingga di potong tangannya, dan mencuri seutas tali hingga di potong tangannya” . (H.R Bukhari).
7. Tentang
Pemberian punishment pada setiap kali individu melakukan perilaku yang tidak dinginkan juga memberikan efek penurunan perilaku yang tidak dinginkan dengan syarat, pemberian punishment harus secara intensif, setiap kali individu melakukan perilaku yang tidak diinginkan. Misalnya saja, seorang anak yang sering menggangu temannya diberikan teguran agar tidak mengulangi perbuatannya itu.
Pemberian punishment juga membawa dampak yang negatif, terutama pada pemberian punishment yang bersifat melukai secara fisik maupun mental, contohnya: pukulan, makian, dan sebagainya. Individu bisa merasakan ketakutan dan cemas ketika tidak bisa melakkan respon yang diinginkan jika sering diberikan punishment yang bersifat melukai. Adapun pengaruh punishment adalah berkurangnya minat terhadap sesuatu. Misalnya, guru memberikan pengumuman bahwa akan memasang nama anak-anak yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Untuk beberapa anak, kegiatan tersebut bisa memacu untuk terus mengerjakan pekerjaan rumah, namun ada beberapa anak yang malah tidak mau mengerjakannya sama sekali.
Tabulasi
No Teks Hadist Muncul Sifat Bentuk Terjadi
Internal
Eksternal + - Empirik Non Empirik Langsung Tak langsung
1. Pertama
2. Ke_2
3. Ke_3
4. Ke_4
5. Ke_5
6. Ke_6
7. Ke_7
8. Ke_8
9. Ke_9
10. Ke_10
11. Ke_11
12. Ke_12
13. Ke_13
14. Ke_14
15. Ke_15
C. Tujuan Penghukuman
Apabila berbicara mengenai penghukuman, maka pertanyaan yang kerapkali muncul adalah apakah tujuan hukuman itu dan siapakah yang berhak menjatuhkan hukuman. Pada umumnya telah disepakati bahwa yang berhak menghukum (hak puniendi) adalah di dalam tangan negara (pemerintah). Pemerintah dalam menjatuhkan hukuman selalu dihadapkan pada suatu paradoksalitas, yang oleh Hazewinkel-Suringa dilukiskan sebagai berikut : Pemerintah negara harus menjamin kemerdekaan individu, menjaga supaya pribadi manusia tidak disinggung dan tetap dihormati. Tapi kadang-kadang sebaliknya, pemerintah negara menjatuhkan hukuman, dan karena menjatuhkan hukuman itu maka pribadi manusia tersebut oleh pemerintah negara sendiri diserang, misalnya yang bersangkutan dipenjarakan. Jadi pada satu pihak pemerintah negara membela dan melindungi pribadi manusia terhadap serangan siapapun juga, sedangkan dipihak lain pemerintah negara menyerang pribadi manusia yang hendak dilindungi dan dibela itu.
C. Upaya Penanggulangan
Kebijakan penaggulangan kejahatan atau yang biasa disebut dengan istilah “politik kriminal' dapat meliputi ruang lingkup yang cukup luas. Menurut G. Peter Hoefnagels upaya penanggulangan kejahatan dapat ditempuh dengan :
a. penerapan hukum pidana (criminal law application)
b. pencegahan tanpa pidana (prevention without punishment)
c. mempengaruhi pandangan masyarakat mengenai kejahatan dan pemidanaan lewat mass media (influencing views of society on crime and punishment/mass media).
Dengan demikian upaya penanggulangan kejahatan secara garis besar dapat dibagi dua, yaitu lewat jalur “penal' (hukum pidana) dan lewat jalur “non penal' (bukan/diluar hukum pidana). Dalam pembagian GP. Hoefnagels tersebut diatas upaya-upaya yang disebut dalam (b) dan (c) dapat dimasukkan dalam kelompok upaya non penal.
Secara kasar dapatlah dibedakan, bahwa upaya penanggulangan kejahatan lewat jalur penal lebih menitikberatkan sedangkan jalur non penal lebih menitikberatkan pada sifat preventif sebelum kejahatan terjadi. Dikatakan sebagai perbedaan secara kasar, karena tindakan represif pada hakikatnya juga dapat dilihat sebagai tindakan preventif dalam arti luas. Mengingat upaya penanggulangan kejahatan lewat jalur non penal lebih bersifat akan pencegahan untuk terjadinya kejahatan, maka sasaran utamanya adalahmenangani faktor-faktor kondusif penyebab terjadinya kejahatan. Faktor-faktor kondusif itu antara lain berpusat pada masalah-masalah atau kondisi-kondisi sosial yang secara langsung atau tidak langsung dapat menimbulkan atau menumbuhsuburkan kejahatan. pada sifat represif sesudah kejahatan terjadi, sedangkan jalur non penal lebih menitikberatkan pada sifat preventif sebelum kejahatan terjadi. Dikatakan sebagai perbedaan secara kasar, karena tindakan represif pada hakikatnya juga dapat dilihat sebagai tindakan preventif dalam arti luas.
Mengingat upaya penanggulangan kejahatan lewat jalur non penal lebih bersifat akan pencegahan untuk terjadinya kejahatan, maka sasaran utamanya adalah menangani faktor-faktor kondusif penyebab terjadinya kejahatan. Faktor-faktor kondusif itu antara lain berpusat pada masalah-masalah atau kondisi-kondisi sosial yang secara langsung atau tidak langsung dapat menimbulkan atau menumbuhsuburkan kejahatan.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat kami simpulkan bahwa punishment yang ada dalam teori psikologi dalam kajian Islam juga ada dalam hadits. Hal itu menunjukkan bahwa dalam kehidupan ini manusi tidak lepas dari dua hal yang menjadi pedoman hidupnya, yaitu al-qur’an dan al hadits. Teori-teoti apapun yaang kita pelajari jika dikaji dengan baik pasti akan selalu terkait dengan dua hal itu. Punisment juga tidak lepas dari reward, dan selalu berhubungan.
REFERENSI
Ust. Labib, MZ; 1994, Saamudra Pilihan Hadits Shohih Bukhari, P.T. Anugerah, Surabaya.
Dr. C. Boeree, George; 2007, Personality Theories, Prishmasophie.
Drs. Shabir, Muslich; 1989, Terjemah Riyadlus Shalihin, CV. Toha Putra, Semarang.
Drs.Sobur , Alex, M.Si.; 2003, Psikologi Umum, Pustaka Setia, Bandung.
Abi Syuja’.1978, Tazhib, Malang.
Pengertian Tentang Diri
Diri Depresi:Apakah Diri Depresi karena Ada yang Salah dengan Dirinya, atau Apakah Depresi Justru adalah respon Normal terhadap Dunia yang Sudah Gila.
Didalm beberapa kejadian yang banyak terjadi di dunia ini, seperti kasus bunuh diri dan hal lainnya yang di akibatkan oleh Depresi. Dalam pembahasan ini terdapat dua pertanyaan besar.
Pertanyaan (I): Apakah orang mengalami depresi meskipun mempunyai banyak sekali kesempatan yang tak pernah diperoleh di masa sebelumnya, dalam hal pendidikan,pekerjaan,pengembangan diri,pengkayaan budaya, wisata dan rekreasi
(a) Sebab kehidupan modern jauh lebih sulit, lebih kompleks, lebih membuat tertekan, ketimbang kehidupan yang sudah-sudah?
(b) Sebab, bagi para pria, kompetisi dalalm pasar bebas jauh lebih dahsyat ketimbang yang sudah-sudah?
(c) Sebab, bagi para wanita, kehidupan sebagai ibu rumah tangga ternyata jauh lebih sepi dari yang sudah-sudah, apalagi dengan hilangnya komunitas tradisional ibu-ibu yang berkumpul di teras rumah, tau bergosip di pagar rumah?
(d) Sebab, bagi orang-orang muda, pendidikan kini standarnya jauh lebih rendah dari yang sudah-sudah, sehingga lulusannya tak siap menghadapi dunia nyata?
(e) Sebab, kepercayaan terhadap Tuhan dan agama telah mulai runtuh, dan bersama itu runtuh pula keyakinan orang akan posisi dirinya dalam jagat raya, dalam dunia makhluk ciptaan lainnya, dan dalam relasinya dengan yang lain?
(f) Sebab, diri belakangan ini telah berorientasi pada pihak lain(other-directed) dari pada berorientasi pada batinnya sendiri (inner-directed) sehingga harga dirinya bergantung pada persepsinya atas bagaimana orang lain menilainya seperti seorang pengemis dalam kerumunan dengan tangan menengadah?
(g) Sebab, diri meski mempunyai segala kemakmuran yang lebih dari cukup, dalam kenyataannya justru termiskinkan dan sengsara, seperti Lazarus menderita kesengsaraan yang mendasar serta hilangnya kedaulatan? Dengan kemajuan teknologi yang belipat ganda serta kenaikan para pakar disegala kehidupan,diri terpaksa menyetujui pengambilalihan segala sector kehidupanya oleh para pakarnya yang sesuai bahkan pengambilalihan dari kehidupan dirinya sendiri.
(h) Sebab, kehidupan modern itu sendiri sudah cukup untuk membuat depresi setiap orang? Setiap orang, pria, wanita, atau anak-anak, yang tidak mengalami depresi dari beberapa faktor, justru ia sendiri yang sudah sinting.
Pertanyaan (II): Mengapa begitu banyak remaja, dan bahkan anak-anak yang lebih mudah lagi, menggunakan obat-obatan terlarang?
(a) Sebab ada tekanan dari kelompok sosialnya, kegagalan berkomunikasi, gangguan psikologis, pemberontakan terhadap orang tua, dan kemunduran nilai-nilai religious.
(b) Sebab hidup itu sulit, membosankan, mengecewakan, dan tidak membahagiakan, namun obat-obatan membuat kita merasa lebih baik.
Dari beberapa kasus tentang banyaknya depresi, dapat dikatakan bahwa obat yang bisa menghilangkan depresi adalah bunuh diri.
Diri Termiskinkan: Bagaimana Diri Bisa Menjadi Miskin Dengan Kaya
BUNDA TERESA dari Kalkutta permah mengatakan sesuatu tentang beberapa orang Barat yang pernah beliau temui, yang hidupnya penuh berlimpah kemakmuran termasuk orang Amerika, Eropa, kapitalis, Marxis – bahwa mereka bagi beliau kelihatan murung dan miskin, bahkan lebih miskin ketimbang orang miskin Kalkutta, yang termiskin diantara yang termiskin, yang dilayani oleh beliau.
Pertanyaan: Kemiskinan semacam apa yang bisa dinisbatkan kepada warga masyarakat teknologis Barat dalam pandangan kemakmuran yang jelas nyata dalam masyarakat semacam itu dalam hal-hal seperti makanan, tempat tinggal, barang-barang, pelayanan, pendidikan, teknologi, serta institusi budaya?
(a) Tak ada kemurungan dan kemiskinan semacam itu.
(b) Kemurungan dan kemiskinan itu memang ada, setidaknya sebagian akibat lenyapnya penghargaan atas kehidupan manusia seperti yang terbukti bukan hanya melalui penerimaan masyarakat Barat terhadap aborsi tapi juga melalui meningkatnya kasus penganiayaan anak, euthanasia, serta rendahnya kepedulian terhadap penderitaan sesama manusia.
(c) Terdapat kemurungan dan kemiskinan semacam itu karena dalam masyarakat yang berlimpah kemakmuran, dimana lahir kejenuhan terhadap berbagai barang dan layanan, muncul semacam devaluasi yang berkaitan dengan hal itu.
(d) Sebab orang miskin dalam hati mereka diberkati, yakni, menerima Warta Ilahi, sementara orang kaya mungkin memperoleh seluruh kekayaan yang ada di dunia namun kehilangan jiwa mereka.
(e) Sebab masyarakat modern terbentuk dari sekumpulan prinsip kekuasaan dan manipulasi serta mementingkan kepentingan diri sendiri, dengan mengorbankan nilai-nilai dalam masyarakat, kasih sayang, kepolosan, kesederhanaan, dan semua nilai yang dijumpai dalam masa kanak-kanak maupun dalam masyarakat yang non-agresif.
(f) Sebab masyarakat Barat sendiri adalh tanah gersang yang terabaikan, nilai-nilainya semakin buruk, komunitasnya terfragmentasi, moralnya rusak, kota-kotanya berantakan.
(g) Tak satu pun di antaranya. Seluruh argumen antara pandangan ilmiah tradisional manusia sebagai organism, tempat kebutuhan dan dorongan, serta pandangan Kristen atas manusia sebagai makhluk spiritual bukan saja tak terselesaikan pada taraf diskursus ini, namun juga sangat luar biasa membosankan – contributor utama terhadap kejemuan dan kemuraman masyarakat Barat secara umum kini. Bahkan, yang disebut-sebut sebagai rekonsiliasi antara “Sains” dan “Agama” jauh lebih sopan.
Diri Transenden: Bagaimana Diri secara Khas Menempatkan Dirinya dalam Berhadapan dengan Dunia, Khususnya melalui Modus Transendensi dan Imanensi
Beberapa orang yang menokohi dalam upacara ritual Corn Dance merasa bahwa mereka mentransendensi (melebihi) yang lainnya. Artinya, ada beberapa orang yang merasa bahwa karena pendidikan tertentu, karena kebijaksanaan tertentu, karena Pengalaman spiritual tertentu, ia berada dalam posisi tertentu yang mengakibatkan relasinya dengan yang lainnya sedemikian rupa sehingga ia bisa memahami mereka dan mereka tak akan bisa memahaminya.
Misalnya, sastrawan Inggris itu barangkali bisa dikatakan mentransendensi wisatawan dari Illionois, karena ia merasa memahami wisatawan dan kameranya – malah, sudah bisa menulis sesuatu tentangnya – dalam berbagai aspek di mana wisatawan itu tak akan bisa memahami sang sastrawan.
Ada tiga pertanyaan yang perlu senantiasa diingat sambil membaca ringkasan selanjutnya tentang berbagai modus transendensi dan imanensi dari kesepuluh tokoh ini nanti.
Pertanyaan (I): Apakah ada semacam logika dimana bisa dikatakan dengan sebenarnya bahwa tokoh ini atau itu memang mentransendensi atau melebihi tokoh yang lainnya? Atau apakah kesepuluh tokoh ini tak lebih dan tak kurang sebagaimana telah dideskripsikan, sama-sama sekedar tokoh, sehingga tak bisa diperoleh penilaian yang objektif tentang keunggulan transenden atau keminderan imanen diantara mereka?
Pertanyaan (II): Tapi, dalam suatu drama tentu bisa dikatakan bahwa satu tokoh lebih baik atau lebih buruk ketimbang yang lain. Lagi pula, tentu pada akhirnya ada ornag yang baik dan yang buruk. Maka, apakah Anda bisa katakan bahwa beberapa tokoh ini lebih baik atau lebih buruk ketimbang tokoh lainnya? Jika demikian, apakah yang terbaik itu juga merupakan yang paling transenden, paling melebihi yang lainnya?
Pertanyaan (III): Tokoh mana yang Anda kenali paling mirip dengan Anda? Anda ingin menjadi tokoh yang mana?
(a) Seorang fisikawan nuklir: seorang ilmuwan yang tampak masih muda, bekerja pada Manhattan Project di Los Alamos. Ia sedang mengalami – meminjam ungkapan Freeman Dyson (fisikawan AS) – masa paling cemerlang dalam hidupnya, mengawali karir pada proyek paling rahasia di pelosok paling terpencil bersama kalangan ilmuwan yang paling elit diantara yang paling elit, para pemikir sains paling pandai di Barat, meskipun ia tahu ia sedang membuat sanjata yang nyaris bisa dipastikan bakal membunuh ribuan manusia, dan sangat besar kemungkinannya mentakdirkan penghancuran terakhir umat manusia. Tapi, bagaimanapun juga, ia bukn seorang ilmuwan denga pendidikan yang sempit dan picik. Jangkuan minatnya sangat luas. Ia sedang mencoba menjadi seorang etnolog amatir, mempelajari filsafat Timur, dengan gemar bermain music bersama kelompok string quartet yang cukup kompoten, jika tak dibilang professional. Ia bisa bicara tentang Ramakrishna dan komposisi quartet terakhir Beethoven sama lancarnya dengan bicara soal Planck dan Fermi.
(b) Asistennya, seorang gadis pirang yang tinggi semampai, mahasiswa pasca sarjana dari Berkeley yang punya ketertarikan yang sama terhadap semua minat sang fisikawan.
Kedua conoth ini memberikan kita cara bagaimana menepatkan diri dalamberhadapan dengan dunia, khususnya melalui transendensi dan Imanensi.
Diri Orbit: Persoalan Re-entri Diri Transenden, atau Mengapa Para Seniman dan Sastrawan, Beberapa Teknokrat, dan Sebetulnya Kebanyakan Orang, Begitu Bermasalah Hidup di Dunia Biasa
Di ERA sains kini, para ilmuwan adalah pangerannya. Para seniman bukan. Jadi, meskipun ilmuwan maupun seniman mencapai transendensi melampui dunia biasa melalui sains dan seni mereka, hanya sang ilmuwan yang didukung dalam transedensinya oleh pengagungan spirit kejayaan sains dan melalui komunitasnya sendiri.
Barangkali bukan kebetulan bahwa pada saat kebangkitan fisika modern abad ke-19 dan awal abad ke-20, para fisikawan revolusioner besar – seperti misalnya, Faraday, Maxwell, Bohr, Einstein – juga dikenal sebagai tokoh dengan integritas yang luar biasa dan karakter utuh dengan kehidupan yang tampak bahagia.
Dengan lenyapnya berbagai mitos kosmologis kuno serta kemunduran kepercayaan Yudeo-Kristiani dan bangkitnya diri otonom, maka sains dan seni – yang pertama mengkaji sebab-sebab sekunder, yang lain pembantu ornamental dalam ritual dan agama – diambil alih dan diangkat menuju jalan transendensinya utama dalam dirinya sendiri. Transendensi semacam itu tersedia bukan hanya bagi para ilmuwan dan seniman itu sendiri tapi juga bagi komunitas sesama ilmuwan dan para pelajar, dan bagi para pembaca dan pendengar dan penonton yang menjadi sasaran kemana berbagai pernyataan seni, musik, dan sastra itu ditujukan.
Namun, satu hal yang umumnya terluput untuk dikenali adalah bahwa suksesnya peluncuran diri menuju orbit transendensi meniscayakan hadirnya persoalan re-entri.
Satu-satunya pengecualian dari hokum gravitasi psikis ini tampaknya bukan hanya para fisikawan besar dipuncak perkembangan fisika modern, namun juga setiap ilmuwan yang tersedot dalam sainsnya ketika pemujaan terhadap sains mempertahankan seseorang dalam orit transendensi yang kurang-lebih permanent – atau barangkali beberapa kasus langka seperti Schubert yang ketika santap makannya menulis komposisi lieder di taplak meja atau Picasso di restoran yang ketimbang memakan rotinya yang lebih asyik mengukirnya menjadi patung-patung kecil.
Tapi berbagai persoalan yang paling spektakuler terkait pulang kembali (re-entry) ini tampaknya dialami oleh para seniman dan sastrawan. Mereka, apalagi yang terakhir, tampaknya lebih banyak menjadi korban – dari pada kebanyakan orang lainnya – terhadap keterpisahan dari masyarakat sekitar mereka, terhadap neurosis, psikosis, alkoholisme, ketergantungan obat bius, epilepsi, perilaku seksual warna-warni, keterpencilan, depresi, kecendrungan prilaku agresif, dan bunuh diri.
Diri Luput:Mengapa Ilmuwan Tidak Harus Mengingat Diri Mereka Sendiri dan Diri Lainnya dalam Sains Mereka dan Beberapa Persoalan yang Muncul Ketika Mereka Harus Melakukannya
MENGAPA PARA Ilmuwan agaknya kurang menyukai fakta, bahwa Homo sapiens sapiens muncul baru-baru ini saja dan secara begitu tiba-tiba, dalam beberapa ratus ribu tahun, kurang/lebih masa Pleistosen Akhir, atau malah mungkin kurang – ringkasnya, dalam waktu yang lebih singkat, berbicara dalam skala waktu kosmologis, ketimbang waktu yang dibutuhkan waktu untuk menceritakan kisah penciptaan Biblikal.
Dua dogma:
Satu, teori neo-Darwinian: Manusia muncul melalui pertemuan kebetulan antarmolekul serta keberlangsungan dari gabungan molekul-molekul tersebut, yakni, berbagai organisme yang melalui akumulasi acak dari berbagai mutasi kecil menjadi terlengkapi secara paling baik untuk hidup dalam lingkungan yang berubah-ubah.
Dua, yang sering disebut kreasionisme ilmiah: nenek moyang spesies tidak muncul melalui evolusi selama jutaan tahun namun melalui tindakan Tuhan tersendiri.
Darwin betul soal fakta evolusi, dan kontribusinya tak tersandingi. Evolusi bukanlah teori namun fakta. Faktanya, manusia muncul dari hominid yang lebih primitive. Namun, teori evolusi saat ini masih punya banyak masalah dalam menjelaskan berbagai fakta evolusi.
Pertanyaan: Mengapa fakta bahwa Homo sapiens sapiens, makhluk berbahasa dan berkesadaran, tampaknya muncul secara tiba-tiba dan relative baru, malah membuat para ilmuwan merasa tidak nyaman – justru ketika para ilmuwan sendiri mengaku tertarik pada faktanya, yakni, bukti itu?
(a) Sebab para ilmuwan begitu jijik, bisa dimaklumi, dengan teoru penciptaan khusus manusia oleh Tuhan, dalam waktu Biblikal, katakanlah 6004 S.M. pukul 11 pagi hari Rabu.
(b) Sebab para ilmuwan menganggap sebagai hal yang wajar untuk mengurusi interaksi materi dan pertukaran energi, dan tak tahu mesti diurusi dengan cara bagaimana barang-barang semacam kesadaran, diri, dan symbol, dan bahkan mereka terkadang menolak bahwa barang-barang semacam itu memang ada, meskipun mereka, para ilmuwan itu, bertingkah persis memperlihatkan bahwa mereka adalah diri yang berkesadaran dan menghabiskan hidup mereka bertransaksi dengan simbol-simbol.
(c) Sebab para ilmuwan selalu merasa tidak nyaman dengan diskontinuitas, bahkan meskipun ada bukti eksistensi diskontinuitas semacam itu dalam kemunculan manusia dengan segala perbedaanya. Agama wahyu punya dogmanya masing-masing.
(d) Sebab para ilmuwan dalam praktik metode ilmiah, suatu pengetahuan yang tak radikal tentang interaksi materi, seringkali tidak puas dengan ketakradikalan metode ilmiah sehingga mendapati diri mereka berada dalam sikap transendensi diam-diam atas data mereka, yang dengan gerak yang sama ditaruh pada dunia imanensi. Sehingga, para ilmuwan bekerja dalam orbit transendensi yang tidak cukup untuk diurusi oleh sains mereka.
Bagaimana mungkin suatu teori evolusi yang imanen, yang disimpan dari posisi sains yang transenden, bisa menjelaskan munculnya di Jagat Raya suatu makhluk asing, yang berjaya, seperti dewa, yang sangat rumit, satu-satunya makhluk asing di Jagat Raya, Homo sapiens sapiens, yakni, sang ilmuwan itu sendiri?
Dengan kata lain, Darwin memang seorang ilmuwan yang sangat hebat, bahwa Wallace agak sedikit sinting, kadang agak klenik dan menjengkelkan, tapi pada akhirnya mungkin lebih dekat dengan kebenaran tentang manusia.
Diri Kesepian: Mengapa Diri Otonom Merasa Begitu Kesepian di Jagat Raya, Sehingga Ia akan Berupaya dengan Segala Cara untuk Bisa Mengobrol dengan Simpanse, Lumba-lumba, dan Ikan Paus Bongkok
DALAM BEBERAPA tahun belakangan ini sejumlah upaya dan dana yang sangat besar telah dialokasikan oleh pemerintah AS dan para pakar hewan primate dalam usaha untuk memperlihatkan bahwa simpanse dan kera lainnya bisa mempelajari bahasa manusia. Ketika berbagai upaya untuk mengajari simpanse berbicara telah gagal, upaya ini diganti dengan bahasa tanda. Beberapa keberhasilan yang memunculkan harapan telah dilaporkan. Beberapa simpanse menjadi terkenal.
Namun beberapa evaluasi terkini yang dilakukan oleh para ilmuwan yang lebih bertanggung jawab menyimpulkan bahwa para pakar hewan primate itu telah menipu diri mereka sendiri atau, setidaknya, membuat klaim yang dibesar-besarkan. Kini jelas bahwa semua simpanse itu selama ini ternyata tidak menggunakan bahasa, namun lebih pada menggunakan berbagai tanda dan respons untuk memperoleh hadiah. Berbagai unsure dasar bahasa tak dijumpai disini. Bahkan kini beberapa di antara para pakar primatologi yang paling antusias sekalipun telah mengubah klaim mereka.
Singkat cerita, ternyata simpanse tak bisa bicara, baik dengan suara mereka ataupun dengan tangan mereka. Atau, seperti dikatan Sebeok, hewan memiliki komunikasi namun bukan bahasa.
Pertanyaan: Mengapa orang secara umum ingin mempercayai bahwa simpanse dan lumba-lumba dan ikan paus bisa berbicara, dan mengapa beberapa ilmuwan secara khusus begitu ingin mempercayai bahwa simpanse bisa bicara sampai mereka bersedia mengkompromikan sains mereka sendiri?
(a) Sebab siapa pun yang telah menginvestasikan reputasi, upaya keras luar biasa, waktu, dan uang dalam suatu eksperimen ingin eksperimen itu sukses.
(b) Sebab tiga ratus tahun terakhir ini telah menjadi saksi penjungkirbalikkan singgasana manusia dari apa yang ia yakini sebagai posisi sentralnya di Jagat Raya menjadi planet kecil yang tiada artinya(oleh Copernicus, Galileo), dari keunikannya di antara spesies lain sebagai satu-satunya makhluk yang memiliki jiwa dan yang diciptakan Tuhan dalam citra-Nya(oleh Darwin), dan bahkan dari kedaulatannya atas kesadarannya sendiri(oleh Freud).
(c) Sebab manusia adalah spesies yang kesepian dan banyak masalah, yang tak tahu siapa dirinya atau apa yang mesti ia lakukan dengan dirinya sendiri, merasa dirinya entah bagaimana berbeda dari makhluk lain, baik superior maupun inferior – superior karena, lagi pula, ia meneliti hewan-hewan lain dan menulis berbagai makalah ilmiah tentang mereka, sedangkan hewan-hewan itu tidak meneliti dirinya; inferior karena ia bukanlah hewan yang baik, seringkali bodoh, irasional, serta cenderung menghancurkan dirinya sendiri – dan menyendiri di Jagat Raya.
(d) Sebab seorang pakar primatologi sedang bersaing dengan pakar primatologi lainnya sehingga merasa sendirian bahkan ketika berada di antara para koleganya. Jika ia sukses bercakap-cakap dengan simpansenya, ia akan memperoleh yang terbaik dari kedua dunia itu: (1) mengalahkan ilmuwan lainnya, dan (2) punya kawan untuk diajak bercakap-cakap.
Diri Kesepian (II): Mengapa Carl Sagan Begitu Ingin Menjalin Komunikasi dengan ETI(Extraterrestrial Intelligence)
CRAL SAGAN sudah benar dalam upayanya mencela pseudo-sains absurd yang kini begitu populer. Ia patut dikagumi dalam pembelaannya terhadap sains sebagai metode yang bisa diandalkan dan bisa memperbaiki dirinya sendiri(self-correcting) dalam rangka mencapai kebenaran.
Pertanyaan: Mengapa orang belakangan ini secara umum tak terlalu menghiraukan sains tapi justru bersedia mempercayai setiap klaim absurd apa pun dan setiap bajingan yang mengemukakannya.
(a) Sebab terdapat semacam kebutuhan manusia akan mitos, dan symbol, untuk menafsirkan serta menata lingkungan yang tampak memusuhi dan membingungkan – sama seperti kebutuhan akan makan, air, tempat berlindung, dan seks – sedangkan kebenaran abstrak dalam sains tidak menyediakan mitos ini.
(b) Sebab, seperti pernah dikatakan oleh Chesterton, ketika manusia berhenti mempercayai Tuhan, ia akan mempercayai apa pun juga.
Sagan sudah benar ketika mengatakan bahwa meskipun ada berbagai klaim tentang penampakan dan perjumpaan dengan UFO, makhluk ekstraterestrial, dan sebangsanya, namun tak ada satu artefak pun tentang keberadaan UFO tersebut. Tapi Sagan justru menulis sekian buku yang mengajukan gagasan peluang akan adanya kehidupan berkecerdasan di milyaran planet yang mengorbit milyaran dan milyaran bintang di galaksi kita.
Pertanyaan: Mengapa Carl Sagan meras begitu kesepian?
(a) Sebab sebagai pengikut setia sains, suatu metode yang mulia dan bisa diandalkan untuk mencapai pengetahuan, ia merasa semakin terisolir dalam dunia kita.
(b) Sebab, setelah pengharapan yang begitu besar, ia belum juga menjumpai ETI di Jagat Raya, karena para hewan primate (simpanse) tak bisa diajak bercakap-cakap, dan ia pun belum pernah mendengar apa pun selain derau acak dari Jagat Raya, dan sebab Viking 1 dan 2 gagal bahkan sekedar untuk menemukan bukti akan adanya kehidupan organic yang paling sederhana di tanah planet Mars.
(c) Sebab, segera setelah segala sesuatu di Jagat Raya, termasuk manusia, direduksi ke dalam dunia imanensi, materi yang berinteraksi, tak ada lagi satu pun yang tertinggal untuk diajak bercakap-cakap kecuali kecerdasan transenden lain dari dunia lain.
Diri Kesurupan Ruh: Mengapa Diri Otonom Kesurupan Ruh Erotis dan CInta Rahasia pada Kekerasan, dan Sayang Hal Ini Mesti Berlangsur pada Zaman Nuklir
SOREN KIERKEGAARD pernah membuat satu pernyataan yang sangat aneh. Ia mengatakan bahwa Kristianitas adalah yang pertama kali membawa ruh erotis ke dunia. Dalam gayanya yang misterius, yang seringkali tampaknya sengaja ia rencanakan untuk membingungkan sama halnya untuk mencerahkan pembacanya, ia menulis: “Sensualisme, dipandang dari sudut pandang Ruh, pertama kali dirancang oleh Kristianitas.” Dengan kata lain, bukan artinya sensualitas belum ada di dunia seperti halnya dalam budaya paganisme, malah barangkali ekspresinya yang paling sempurna adalah dalam budaya Yunani Kuno, “namun bukan sebagai suatu kategori spiritual/ruhaniah.”
Ekspresi tertinggi dari kecerdasan erotis-sensual, dalam pandangan Kierkegaard, adalah opera Don Giovanni karya Mozart: “Mozart adalah komponis klasik yang terbesar dan Don Giovanni layak menempati posisi tertinggi diantara seluruh karya seni klasik lainnya.”
Sejarah Singkat Tentang Ruh Erotis
Rasul Paulus: Kemengan Ruh atas tubuh, namun masih terganggu “duri dalam daging”.
Santo Agustinus: Kemenangan cinta ilahiah di kotaTuhan, atas syahwat di kota manusia, namun – “Berilah hamba kemampuan untuk nerpantang, tapi jangan dulu.”
Al Farabi
Biografi Tokoh
Abū Nasir Muhammad bin al-Farakh al-Fārābi (870-950, Bahasa Persia: محمد فارابی ) atau Abū Nasir al-Fārābi (dalam beberapa sumber ia dikenal sebagai Muhammad bin Muhammad bin Tarkhan bin Uzalagh al-Farabi), juga dikenal di dunia barat sebagai Alpharabius, Al-Farabi, Farabi, dan Abunasir adalah seorang filsuf Islam yang menjadi salah satu ilmuwan dan filsuf terbaik di zamannya. Ia berasal dari Farab, Kazakhstan. Sampai umur 50, ia tetap tinggal di Kazakhstan. Tetapi kemudian ia pergi ke Baghdad untuk menuntut ilmu di sana selama 20 tahun. Lalu ia pergi ke Alepo (Halib), Suriah untuk mengabdi kepada sang raja di sana.
AL-FARABI ADALAH SEORANG KOMENTATOR FILSAFAT YUNANI YANG SANGAT ULUNG DI DUNIA ISLAM. MESKIPUN KEMUNGKINAN BESAR IA TIDAK BISA BERBAHASA YUNANI, IA MENGENAL PARA FILSUF YUNANI; PLATO, ARISTOTELES DAN PLOTINUS DENGAN BAIK. KONTRIBUSINYA TERLETAK DI BERBAGAI BIDANG SEPERTI MATEMATIKA, FILOSOFI, PENGOBATAN, BAHKAN MUSIK. AL-FARABI TELAH MENULIS BERBAGAI BUKU TENTANG SOSIOLOGI DAN SEBUAH BUKU PENTING DALAM BIDANG MUSIK, KITAB AL-MUSIQA. IA DAPAT MEMAINKAN DAN TELAH MENCIPTAKAN BEBAGAI ALAT MUSIK.
AL-FARABI MUDA BELAJAR ILMU-ILMU ISLAM DAN MUSIK DI BUKHARA. SETELAH MENDAPAT PENDIDIKAN AWAL, AL_FARABI BELAJAR LOGIKA KEPADA ORANG KRISTEN NESTORIAN YANG BERBAHASA SURYANI, YAITU YUHANNA IBN HAILAN. PADA MASA KEKHALIFAHAN AL-MUTA'DID (892-902M), AL-FARABI DAN YHANNA IBN HAILAN PERGI KE BAGHDAD DAN AL-FARABI UNGGUL DALAM ILMU LOGIKA. AL-FARABI SELANJUTNYA BANYAK MEMBERI SUMBANGSIHNYA DALAM PENEMPAAN FILSAFAT BARU DALAM BAHASA ARAB. PADA KEKAHLIFAHAN AL-MUKTAFI (902-908M) DAN AWAL KEKHALIFAHAN AL-MUQTADIR (908-932M) AL-FARABI DAN IBN HAILAN MENINGGALKAN BAGHDAD MENUJU HARRAN. DARI BAGHDAD AL-FARABI PERGI KE KONSTANTINOPEL DAN TINGGAL DI SANA SELAMA DEALAPAN TAHUN SERTA MEMPELAJARI SELURUH SILABUS FILSAFAT.
AL-FARABI DIKENAL SEBAGAI "GURU KEDUA" SETELAH ARISTOTELES. DIA ADALAH FILOSOF ISLAM PERTAMA YANG BERUPAYA MENGHADAPKAN, MEMPERTALIKAN DAN SEJAUH MUNGKIN MENYELARASKAN FILSAFAT POLITIK YUNANI KLASIK DENGAN ISLAM SERTA BERUPAYA MEMBUATNYA BISA DIMENGERTI DI DALAM KONTEKS AGAMA-AGAMA WAHYU. KARYANYA YANG PALING TERKENAL ADALAH AL-MADINAH AL-FADHILAH (KOTA ATAU NEGARA UTAMA)YANG MEMBAHAS TETANG PENCAPAIAN KEBAHAGIAN MELALUI KEHIDUPAN POLITIK DAN HUBUNGAN ANTARA REZIM YANG PALING BAIK MENURUT PEMAHAMAN PLATO DENGAN HUKUM ILAHIAH ISLAM. FILSAFAT POLITIK AL-FARABI, KHUSUSNYA GAGASANNYA MENGENAI PENGUASA KOTA UTAMA MENCERMINKAN RASIONALISASI AJARAN IMAMAH DALAM SYI'AH.
Nama sebenarnya Abu Nasr Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu Tarkhan Ibnu Uzlaq Al Farabi. Beliau lahir pada tahun 874M (260H) di Transoxia yang terletak dalam Wilayah Wasij di Turki. Bapanya merupakan seorang anggota tentera yang miskin tetapi semua itu tidak menghalangnya daripada mendapat pendidikan di Baghdad. Beliau telah mempelajari bahasa Arab di bawah pimpinan Ali Abu Bakr Muhammad ibn al-Sariy.
Selepas beberapa waktu, beliau berpindah ke Damsyik sebelum meneruskan perjalanannya ke Halab. Semasa di sana, beliau telah berkhidmat di istana Saif al-Daulah dengan gaji empat dirham sehari. Hal ini menyebabkan dia hidup dalam keadaan yang serba kekurangan.
Al-Farabi terdidik dengan sifat qanaah menjadikan beliau seorang yang amat sederhana, tidak gilakan harta dan cintakan dunia. Beliau lebih menumpukan perhatian untuk mencari ilmu daripada mendapatkan kekayaan duniawi. Sebab itulah Al-Farabi hidup dalam keadaan yang miskin sehingga beliau menghembuskan nafas yang terakhir pada tahun 950M (339H).
Walaupun Al-Farabi merupakan seorang yang zuhud tetapi beliau bukan seorang ahli sufi. Beliau merupakan seorang ilmuwan yang cukup terkenal pada zamannya. Dia berkemampuan menguasai pelbagai bahasa.
Selain itu, dia juga merupakan seorang pemuzik yang handal. Lagu yang dihasilkan meninggalkan kesan secara langsung kepada pendengarnya. Selain mempunyai kemampuan untuk bermain muzik, beliau juga telah mencipta satu jenis alat muzik yang dikenali sebagai gambus.
Kemampuan Al-Farabi bukan sekadar itu, malah beliau juga memiliki ilmu pengetahuan yang mendalam dalam bidang perubatan, sains, matematik, dan sejarah. Namun, keterampilannya sebagai seorang ilmuwan yang terulung lebih dalam bidang falsafah. Bahkan kehebatannya dalam bidang ini mengatasi ahli falsafah Islam yang lain seperti Al-Kindi dan Ibnu Rusyd.
Terdapat dua buku tidak dapat disiapkan oleh Al-Farabi di zamannya. Buku-buku itu ialah "Kunci Ilmu" yang disiapkan oleh anak muridnya yang bernama Muhammad Al Khawarismi pada tahun 976M dan "Fihrist Al-Ulum" yang diselesaikan oleh Ibnu Al-Nadim pada tahun 988M.
Teori teori
Dalam membicarakan teori politiknya, beliau berpendapat bahawa akal dan wahyu adalah satu hakikat yang padu. Sebarang percubaan dan usaha untuk memisahkan kedua-dua elemen tersebut akan melahirkan sebuah negara yang pincang serta masyarakat yang kacau-bilau. Oleh itu, akal dan wahyu perlu dijadikan sebagai dasar kepada pembinaan sebuah negara yang kuat, stabil serta makmur.
Al-Farabi banyak mengkaji mengenai falsafah dan teori Socrates, Plato, dan Aristotle dalam usahanya untuk menghasilkan teori serta konsep mengenai kebahagiaan. Maka tidak hairanlah, Al-Farabi dikenali sebagai orang yang paling memahami falsafah Aristotle. Dia juga merupakan seorang yang terawal menulis mengenai ilmu logik Yunani secara teratur dalam bahasa Arab.
Pemikiran, idea, dan pandangan Al-Farabi mengenai falsafah politik terkandung dalam karyanya yang berjudul "Madinah al-Fadhilah". Perbicaraan mengenai ilmu falsafah zaman Yunani dan falsafah Plato serta Aristotle telah disentuhnya dalam karya " Ihsa* al-Ulum" dan "Kitab al-Jam".
Kelebihan dari Teori
Meskipun pemikiran falsafahnya banyak dipengaruhi oleh falsafah Yunani tetapi beliau menentang pendapat Plato yang menganjurkan konsep pemisahan dalam kehidupan manusia.
Menurut Al-Farabi, seorang ahli falsafah tidak seharusnya memisahkan dirinya daripada sains dan politik. Sebaliknya perlu menguasai kedua-duanya untuk menjadi seorang ahli falsafah yang sempurna.
Tanpa sains, seorang ahli falsafah tidak mempunyai cukup peralatan untuk diekspolitasikan untuk kepentingan orang lain. Justeru, seorang ahli falsafah yang tulen tidak akan merasai sebarang perbezaan di antaranya dengan pemerintah yang tertinggi kerana keduanya merupakan komponen yang saling lengkap melengkapi. Dalam hal ini beliau mencadangkan agar diwujudkan sebuah negara kebajikan yang diketuai oleh ahli falsafah.
Pandangan falsafahnya yang kritikal telah meletakkannya sebaris dengan ahli falsafah Yunani yang lain. Dalam kalangan ahli falsafah Islam, beliau juga dikenali sebagai Aristotle kedua. Bagi Al-Farabi, ilmu segala-galanya dan para ilmuwan harus diletakkan pada kedudukan yang tertinggi dalam pemerintahan sesebuah negara.
Pandangan Al-Farabi ini sebenarnya mempunyai persamaan dengan falsafah dan ajaran Confucius yang meletakkan golongan ilmuwan pada tingkat hierarki yang tertinggi di dalam sistem sosial sesebuah negara.
Di samping itu, Al-Farabi juga mengemukakan banyak pandangan yang mendahului zamannya. Antaranya beliau menyatakan bahawa keadilan itu merupakan sifat semula jadi manusia, manakala pertarungan yang berlaku antara manusia merupakan gejala sifat semula jadi tersebut.
Al-Farabi juga telah menghasilkan sebuah buku yang mengandungi pengajaran dan teori muzik Islam, yang diberikan judul "Al-Musiqa" dan dianggap sebagai sebuah buku yang terpenting dalam bidang berkenaan.
Sebagai seeorang ilmuwan yang tulen, Al-Farabi turut memperlihatkan kecenderungannya menghasilkan beberapa kajian dalam bidang perubatan. Walaupun kajiannya dalam bidang ini tidak menjadikannya masyhur tetapi pandangannya telah memberikan sumbangan yang cukup bermakna terhadap perkembangan ilmu perubahan di zamannya.
Salah satu pandangannya yang menarik ialah mengenai betapa jantung adalah lebih penting berbanding otak dalam kehidupan manusia. Ini disebabkan jantung memberikan kehangatan kepada tubuh sedangkan otak hanya menyelaraskan kehangatan itu menurut keperluan anggota tubuh badan.
Sesungguhnya Al-Farabi merupakan seorang tokoh falsafah yang serba boleh. Banyak daripada pemikirannya masih relevan dengan perkembangan dan kehidupan manusia hari ini. Sementelahan itu, pemikirannya mengenai politik dan negara banyak dikaji serta dibicarakan di peringkat universiti bagi mencari penyelesaian dan sintesis terhadap segala kemelut yang berlaku pada hari ini.
Kekurangan Teori
Kekurangan dari teorinya yaitu dapat dilihat dari pemahaman Al-Farabi tentang falsafah yang sempurna. Beliau menganggap seorang falsafah tidak harus memisahkan diri dari politik dan sains. Padahal sains tidak dapat dipadukan dengan politik. Karena politik tidak dapat dimasukkan ke dalam ilmu filsafat jadi memang seorang filsafat harus mengetahui sains dan politik. Tetapi harus bias membedakan antara sains dengan politik.
PERKEMBANGAN EMOSI PADA ORANG DEWASA
A. Definisi Dewasa
Kedewasaan adalah kata yang sering kita dengar. Definisi tentang hal ini pun menjadi sesuatu yang diperdebatkan. Diperdebatkan tentang bagaimana mendefinisikan seseorang disebut sebagai sudah dewasa atau anak-anak (belum dewasa). Hal ini tentu akan terkait dengan sistem pendidikan yang diterapkan dan penempatan sikap serta penuntutan kewajiban atas seseorang. Pendidikan, penempatan sikap dan tuntutan kewajiban atas seseorang tentu tidak bisa disamakan antara yang belum dewasa serta yang sudah dewasa.
Jika kita mengkategorikan seseorang sebagai orang dewasa dengan tingkat usianya, tentunya harus ada batas minimum untuk seseorang dikelompokkan sebagai dewasa. Namun jika kita mengkategorikan seseorang sebagai orang dewasa dengan kemapanan intelektual, emosional dan spiritualnya, tentunya harus ada batasan minimum tingkat kecerdasan dari masing-masing komponen tersebut.
Standar seseorang dikelompokkan sebagai orang dewasa berdasarkan tingkat usianya, menurut Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (UUPA) pada Pasal 1 disebutkan bahwa anak adalah orang yang belum berusia 18 tahun. Seperti kita ketahui penetapan usia 18 tahun sebagai standar usia orang dewasa diadopsi dari Konvensi Hak Anak Dewan Umum PBB pada 20 November 1989 yang diratifikasi oleh perwakilan Indonesia pada tahun 1990 melalui Konvensi Hak Anak (KHA). Karenanya jangan heran kalau sekarang sudah tidak ada lagi petunjuk “film untuk 17 tahun keatas”. Jadi yang ada sekarang adalah “film untuk 18 tahun keatas” untuk kategori film untuk penonton dewasa.
Namun, pada umumnya psikologi menetapkan status kedewasaan sekitar usia 20-45 tahun. Namun, tingkat kedewasaan seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan usianya. Sedangkan tingkat perkembangan emosional, kecerdasan dan spiritual seseorang lebih ditentukan oleh pribadi masing-masing. Dari seluruh suku bangsa dan agama yang ada di Indonesia, menerapkan standar kedewasaan manusia berdasarkan nilai-nilai emosi, intelektual, serta spiritualnya.
1. Intelektual
Dari segi ini kita dikatakan dewasa dilihat dari kemampuan kita membentuk pendirian. Artinya, kita punya pendirian atau prinsip yang jelas sehingga tidak mudah terombang- ambing oleh situasi yang menuntut kita untuk bersikap. Tapi, tetap memerhatikan pendapat orang lain walaupun tidak bersandar pada pendapat itu. Kemampuan mengambil keputusan sendiri dengan tegas dan bebas berdasarkan bukti, alasan nyata, dan nasihat baik dari orang lain, serta bertanggung jawab dengan segala keputusan kita. Tidak bingung kalau ada masalah, tapi dianalisis sebab-sebabnya sehingga bisa dicari kemungkinan-kemungkinan penyelesaiannya
2. Emosional
Kita dikatakan sebagai orang dewasa secara emosional ditandai dengan kemampuan menerima emosi dan menguasainya secara wajar. Artinya, apa pun emosi yang sedang kita alami, kita tetap bisa menguasai dan mengelolanya dengan baik. Tidak dipengaruhi rasa takut dan gelisah. Kita bisa mengontrol emosi sehingga tidak merugikan orang lain. Dari sini dapat dilihat bahwa orang dewasa juga punya kecerdasan emosi yang cukup tinggi.
3. Spiritual
Kedewasaan dari segi ini bisa dilihat dari cara berkeyakinan yang tidak sempit. Kita mampu bergaul dan membina hubungan baik dengan orang- orang yang keyakinannya berbeda dari diri kita. Kalau sudah mencapai hal itu, kita mampu mencintai orang lain tanpa batas-batas agama, ras, suku, atau golongan.
Mereka yang lebih tua belum tentu lebih dewasa. Kita dikatakan sebagai orang dewasa secara emosional ditandai dengan kemampuan menerima emosi dan menguasainya secara wajar. Artinya, apa pun emosi yang sedang kita alami, kita tetap bisa menguasai dan mengelolanya dengan baik. Tidak dipengaruhi rasa takut dan gelisah. Kita bisa mengontrol emosi sehingga tidak merugikan orang lain. Dari sini dapat dilihat bahwa orang dewasa juga punya kecerdasan emosi yang cukup tinggi.
B. Karakteristik Kedewasaan.
a) Pribadi yang dewasa menerima dirinya sebagaimana Tuhan menciptakannya. Dia tidak merasa rendah diri dengan kekurangannya atau egosi terhadap kelebihannya. Dia mengenal tubuh, otak, dan kemampuannya diberikan kepadanya oleh Tuhan hanya untuk melakukan tujuannya. Karena itu dia tidak sombong atau terpuruk oleh kegagalannya.
b) Seorang pribadi yang dewasa diuntungkan dari kesalahannya dan usulan orang lain. Pribadi yang tidak dewasa mencoba mencari alasan kegagalan mereka. Mereka menyalahkan orang lain atau Tuhan. Saat mereka dikritik, mereka melihatnya sebagai serangan terhadap pribadi, menyerang balik dengan kemarahan seperti, berkata: “Baik, kamu juga tidak sehebat itu!”. Emosi yang masih bayi lebih mementingkan mempertahankan ego sendiri daripada bertumbuh. Dipihak lain, pribadi yang dewasa dengan baik menerima kritik, jujur menilai hidupnya. Dia melihat usulan orang lain sebagai bagian dari rencana Tuhan untuk mendewasakan dia. Jelas, pribadi dewasa juga hati-hati dalam mengusulkan sesuatu. Dia akan menunggu sebentar untuk saat yang tepat, menjaga sikap kasih dan menghargai, dan usulannya ditemani dengan pujian dan dorongan.
c) Pribadi yang dewasa menyesuaikan diri terhadap hal yang tidak bisa diubah. Mereka mampu menerima dunia nyata sebagai bagian dari rencana Tuhan untuk menolong mereka bertumbuh.
d) Pribadi yang dewasa menerima hal buruk, kekecewaan, atau tekanan dengan tenang dan stabil. Dia tahu hidupnya didalam tangan Tuhan, apapun yang Tuhan ijinkan adalah baik. Pribadi yang dewasa menjaga control diri saat keadaan tidak seperti yang diinginkan. Kadang, hal yang terkecil mengganggu kita dan menyebabkan kita bertindak egois dan tidak dewasa.
e) Pribadi yang dewasa menerima dan memenuhi tanggung jawabnya.
Kedewasaan melibatkan kemandirian. Pekerjaan yang tidak selesai, janji yang tidak dipenuhi, dan maksud baik yang tidak dilakukan merupakan contoh ketidak mandirian. Pribadi yang tidak dewasa tidak bisa melakukan tugas dengan baik yang merupakan tanggung jawabnya. Dia mengeluh, tidak puas atau tidak menikmati pekerjaannya.
f) Pribadi yang dewasa kepuasan terbesarnya adalah membuat orang lain bahagia. Kita tidak pernah menemukan kebahagiaan dengan mencarinya. Makin kita mencari, makin kita frustrasi dan kecewa. Mencari kesenangan sendiri hanya menghasilkan ketidak bahagiaan. Hanya bayi dan anak kecil yang menuntut apa yang mereka inginkan disaat itu juga. Mereka hidup untuk saat itu, menuntut cara mereka dalam setiap keadaan. Pribadi yang dewasa sering mengorbankan kesenangan pribadi agar bisa mendatangkan kesenangan bagi orang lain. Secara paradoks, ini juga akan membawa kebahagiaan bagi yang memberi.
Pelajaran penting ini butuh waktu untuk dipelajari. Kita semua kadang merasa memiliki hak untuk memuaskan keegoisan kita. Kita sudah lama melakukan itu, jadi kenapa mengubahnya sekarang? Tapi semakin sering kita berespon terhadap situasi itu, makin mudah praktek itu dan semakin cepat kita dewasa. Ketika kanak-kanak, kita berkata-kata seperti kanak-kanak, kita merasa seperti kanak-kanak, dan kita berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah menjadi dewasa, kita meninggalkan sifat kanak-kanak itu dan bersifat sebagaimana orang dewasa.
C. Perkembangan Emosi
Semula kita memang bertingkah laku sebagai anak-anak, ketika kita dalam tahap usia anak-anak, kemudian menjadi remaja, lalu serta-merta orang dewasa memosisikan kita bisa berperilaku dewasa, menyesuaikan diri dengan peran-peran dewasa dan melepaskan diri dari peran-peran sebagai anak-anak. Di sinilah titik pangkal yang menyebabkan kita berada dalam kondisi yang sulit. Maka, timbullah kebutuhan kita, misalnya akan identitas diri, individualitas bahkan kebutuhan akan kemandirian.
Emosi anak mirip dengan orang dewasa, tapi cara berpikir anak-anak dan orang dewasa berbeda. Anak menafsirkan peristiwa-peristiwa yang terjadi disekelilingnya dengan cara yang berbeda dengan orang dewasa. Jika dikaji lebih dalam, menurut ilmu psikologi, ekspresi seperti marah, frustasi, cemburu, iri hati, sedih, gembira, sayang adalah macam-macam emosi. Mengenali dan mampu mengendalikan emosi, adalah salah satu ciri manusia dewasa dan berkepribadian matang. Anak-anak belum punya kecakapan ini. Karena itu, wajar saja jika ada anak yang menunjukkan emosinya dengan meletup-letup, seperti menangis meraung-raung di tengah keramaian jika keinginannya tak terpenuhi.
Orang yang dewasa secara emosional mampu mengelola dan menguasai emosi secara wajar. Artinya, betapa pun letupan emosi yang sedang kita alami, namun tetap bisa mengendalikannya dengan baik. Tidak dipengaruhi rasa takut dan gelisah. Kita bisa mengontrol emosi sehingga tidak merugikan orang lain. Dari sini dapat dilihat bahwa orang dewasa juga punya kecerdasan emosi yang cukup tinggi.
Orang dewasa mempunyai kecenderungan mempunyai kesadaran dan kontrol yang lebih baik terhadap emosinya daripa anak-anak. Mereka mampu menahan emosi disaat yang tidak tepat atau menyalurkannya dengan cara yang lebih baik. Contoh, orang dewasa tidak akan menangis meraung-raung jika tidak mendapatkan keinginannya atau melompat-lompat jika keinginannya terpenuhi seperti yang dilakukan anak-anak.
Betapa besar pengaruh atau peran yang dimainkan oleh faktor emosi seseorang
di dalam melakukan aktivitas kognitif dan kinerja pada umumnya. Dengan demikian, seseorang akan mendapat gambaran yang lebih luas bahwa dalam menjalankan suatu tugas, keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh kapasitas kognitif (misalnya kecerdasan atau daya ingat) yang dimiliki, tetapi juga oleh keadaan emosi yang sedang dialami pada waktu itu. Keadaan emosi dapat mempengaruhi proses-proses kognitif dalam bentuk-bentuk atau cara-cara yang sangat penting, bahkan berakibat fatal. Oleh sebab itu, adalah suatu hal yang esensial bagi psikologi untuk memahami apa dan bagaimana emosi mempengaruhi aktivitas kognitif seseorang.
Orang-orang lebih cenderung mengingat informasi yang sesuai atau sama seperti keadaan suasana hati yang sedang dialami pada waktu mereka mempelajari suatu materi atau memproses informasi. Dengan begitu, orang yang dalam keadaan bahagia (happy) cenderung mengingat materi atau informasi yang berisikan hal-hal yang menyenangkan dari pada materi yang berhubungan dengan kesedihan. Sebaiknya, orang yang mengalami kesedihan (unhappy) cenderung mengingat materi belajar atau informasi yang mengandung kesedihan dari pada kesenangan.
D. Pengendalian Emosi
Menurut Peter Salovey dan John Mayer, psikolog dari Universitas Harvard dan New Hampshire di AS, kemampuan mengenali dan mengendalikan emosi itulah yang dinamakan kecerdasan emosi atau emotional intelligence (EI). Jadi, orang dewasa yang tidak dapat mengenali dan mengendalikan emosinya sendiri adalah orang-orang dengan EI rendah. Untuk pemetaan lebih jelas, ada lima wilayah kecerdasan emosi, yaitu: (1) mengenali emosi sendiri, (2) mampu mengelola emosi itu sesuai situasi dan kondisi, (3) bisa memotivasi diri dengan emosinya, (4) bisa mengenali emosi orang lain, dan (5) mampu membina hubungan baik dengan orang lain.
Emosi adalah sesuatu yang liar dalam diri manusia, karena itu harus dikendalikan. Pengendalian emosi dalam konteks ini bukan berarti menekan bahkan menghilangkan emosi, tapi bagaimana memenej emosi dengan baik. Caranya yaitu, pertama, dengan belajar menghadapi sesuatu dengan pertimbangan matang. Setiap kejadian harus dipikirkan plus minusnya. Jangan sekali-kali bertindak dengan asal-asalan tanpa landasan yang kokoh. Kedua, memberikan respons terhadap situasi yang dihadapi dengan pikiran maupun emosi yang proporsional. Emosi itu harus sesuai dengan situasi dan diekspesikan dengan cara yang dapat diterima lingkungan sosial. Jangan seenaknya sendiri. Kegagalan pengendalian emosi biasanya terjadi karena kita kurang mau bersusah payah menimbang sesuatu dengan “kepala dingin”.
Proses evaluasi pembelajaran, juga, berpotensi meningkatkan kecerdasan emosi. Secara garis besar ada dua hal utama dalam kecerdasan emosi, yaitu mengenali dan mengelola emosi. Apabila anak sedari dini usia telah sering dilatih untuk peka dalam mengenali emosi, maka semakin dewasa akan semakin mudah mengenali emosi, dan akhirnya dapat menyesuaikan sikapnya dengan situasi emosi yang ada.
Menurut Definisi yang dilontarkan oleh dua orang ahli, dalam bukunya mengenai EQ dan IQ? 1995, Daniel Goldman, Kecerdasan Emosi adalah:
1. Kemampuan untuk bisa mengenali emosi diri sendiri.
Mengenali emosi diri sendiri merupakan syarat utama untuk memahami 4 point lainnya. Mengenali emosi diri berarti mewaspadai terhadap suasana hati kita atau terhadap pikiran tentang suasana hati kita sendiri, artinya harus memosisikan diri kita sebagai pengontrol emosi, bukan kita yang dikontrol emosi. Diri kita ada di atas aliran emosi, bukan berada di dalam aliran emosi, sehingga tidak membuat kita terhanyut.
2. Mengelola dan mengekspresikan emosi diri dengan tepat.
Ketika kita mampu mengelola dan mengekspresikan emosi, maka keuntungannya kita akan mampu lebih cepat menguasai perasaan, dan kembali membangkitkan kehidupan emosi yang normal.
3. Memotivasi diri sendiri.
Diharapkan dapat memotivasi diri sendiri untuk dapat bekerja mencapai tujuan. Dalam suatu penelitian pada anak-anak, mereka yang mampu mengendalikan diri, atau bersabar untuk mencapai hasil yang lebih besar, terdapat korelasi dengan kesuksesan anak-anak tersebut di masa depan. Tidak mudah hancur, tidak mudah mengeluh, lebih rapih, lebih bahagia, lebih bisa berhubungan dengan orang lain, dan sebagainya. Dalam hal pekerjaan pun lebih berprestasi, dan lebih cakap.
4. Mengenali emosi orang lain.
Ketika kita bisa mengenali emosi diri sendiri, insya Allah kita akan bisa juga mengenali emosi orang lain. Bisa berempati, bisa merasakan apa yang orang lain rasakan tanpa harus terhanyut. Ini merupakan hal mendasar dan cukup penting, ketika kita ingin membangun kehidupan bersosial, bertetangga atau berorganisasi. Juga dalam hubungan suami-istri.
Emosi jarang terungkap dalam bentuk verbal. Jarang kita lihat orang yang sedang marah bisa mengatakan bahwa saya lagi marah atau lagi senang. Biasanya akan lebih mudah terlihat dari bahasa non-verbal yang mencakup sekitar hampir 90%. Bahasa non-verbal ini juga lebih bisa dipercaya. Ketika kita bisa mengenali emosi orang lain, merupakan modal kita untuk bisa hangat dengan orang lain, lebih peka, dan lebih bias menyesuaikan diri.
Untuk bisa mengenali emosi orang lain, bisa dimulai dengan mencoba sering mengomunikasikan perasaan kita pada anak-anak. Begitu pun sebaliknya. Misalnya beritahukan bahwa kita sedang sedih atau bahagia. Juga tanyakan apakah kakak atau adik sedang sedih, sedang gembira? kenapa sedih? dan seterusnya.
5. Membina hubungan dengan orang lain.
Jika keempat point di atas sudah bisa dilaksanakan dengan baik, akan lebih mudah untuk point yang terakhir ini yaitu membina hubungan dengan orang lain. Dalam hal ini point terpenting adalah mengajarkan prinsip-prinsip pada anak kita. Jangan takut untuk berbeda, bebeda itu tidak selamanya buruk. Jangan selalu berkorban atau mengalah untuk kepentingan orang lain. Saat besar nanti, jangan mengorbankan prinsip kita hanya untuk menyenangkan orang lain. Misalnya ikut-
ikutan merokok, minum-minum, dan lain sebagainya. Ajarkanlah pada anak tentang kejujuran. Utamakan ketulusan, kejujuran pada perasaan diri sendiri, dan pentingnya menghadirkan prinsip "menjadi diri sendiri".
Langganan:
Komentar (Atom)